List of feeds URL

Winger Indonesia Tidak Diundang Ke Pesta

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Sepakbola terus berkembang dan cara memainkannya pun terus berevolusi. Sepakbola dalam negeri juga mau tidak mau terimbas perubahan. Tapi apakah kita sudah benar-benar memahami apa saja yang berubah? Apakah cara kita memaknainya menghasilkan cara bermain yang lebih baik?

Setiap musim kita banyak disuguhi penampilan superior para klub juara Eropa di kompetisi masing-masing. Empat tahun sekali kita juga bisa melihat bagaimana beberapa negara bergantian menjadi juara dunia atau juara Eropa. Semua publik sepakbola pasti melihat dan mengamati bagaimana para juara ini bermain, karena memang tim-tim tersebut merupakan kiblat sepakbola dunia.

Dari cara bermain para juara inilah akan muncul tren, yang dalam waktu cepat atau lambat akan coba diduplikat banyak tim di belahan dunia lain. Tidak ada yang memberi komando, namun mereka seolah kompak untuk sepakat jika cara tersebut adalah cara bermain sepakbola yang benar.

Tapi tidak semua cara juga mereka setujui. Seperti jika Chelsea atau Inter Milan yang bermain bertahan ternyata bisa juara. Sama juga jika Italia yang terkenal dengan Catenaccio-nya merebut trofi Piala Dunia. Ada sensasi yang berbeda dengan bila sepakbola menyerang yang juara.

Tren Ball Possession

Tren terakhir yang pengaruhnya terasa luar biasa besar adalah pemahaman jika ball possession adalah kunci kemenangan. Tim yang paling berjasa mangangkat tren ini adalah Barcelona yang ketika itu masih ditukangi Pep Guardiola. Tidak salah juga karena dominasi El Barca saat itu benar-benar luar biasa. Belum juga permainan yang memanjakan mata, mudah membuat para penikmatnya terkagum-kagum.

Ketika ball possession sudah dianggap sebagai kunci, banyak tim di dunia berusaha bisa mencapainya. Mereka tahu jika poin untuk bisa unggul penguasaan bola adalah superioritas jumlah pemain di lini tengah. Tapi ada sedikit ganjalan untuk mayoritas tim. Hal ini dikarenakan tren sebelumnya yaitu formasi 4-4-2 flat, tidak memungkinkan superioritas di lini tengah terjadi.

Berbeda dengan negara-negara yang sudah sejak awal memakai 4-3-3 sebagai formasi standar. Para pengikut skema 4-4-2 flat diharuskan melakukan modifikasi yang tujuannya memperbanyak pemain di tengah, tapi tanpa harus kehilangan dua winger. Akhirnya hasil kompromi atas masalah ini adalah dengan memakai skema ideal 4-2-3-1.

Terkait:  Real Madrid 1 - 0 Bayern Munchen: Guardiola Kehilangan Ide Di Barnebeu

Satu striker dikorbankan agar bisa memainkan satu midfielder ekstra. Formasi ini berani diadu untuk berebut bola di lini tengah melawan skema 4-3-3 atau 3-5-2 untuk bisa unggul penguasaan bola. Mayoritas tim setuju. Sampai sekarang, 4-2-3-1 mungkin skema paling populer di dunia dan banyak dipakai tim-tim top level.

Pengaruh Di Dalam Negeri Dan Efek Samping

Informasi terus mengalir lewat berbagai jenis media yang ada. Akhirnya tren ini sampai juga ke dalam negeri. Tidak butuh waktu lama, 4-2-3-1 mulai diaplikasikan di liga lokal menggantikan 4-4-2, baik di ISL atau pun liga di bawahnya. Tidak ketinggalan juga, skema ini jadi yang paling sering dipakai Timnas, walaupun pelatihnya berganti-ganti.

Bisa dikatakan jika evolusi 4-2-3-1 adalah kali kedua di liga lokal, sejak  3-5-2 menjadi standar semua tim sebelum digantikan 4-4-2. Satu striker sekarang menjadi pakem baku dan mayoritas pelatih mengiyakan. Banyak tim merasa nyaman dengan skema ini. Tapi efek samping juga tidak bisa dihindari.

Single striker banyak dimaknai oleh klub dengan memakai jasa pemain asing di pos tersebut. Striker asing sudah umum dipakai sejak tren masih merujuk ke dua striker. Tapi ketika berganti ke satu striker, pemain asing lah yang dirasa memenuhi kebutuhan tim. Yang menjadi korban adalah para striker lokal milik kita. Bangku cadangan sekarang menjadi sangat akrab buat mereka.

Tidak kaget jika Timnas kesulitan menemukan pengganti selevel Bambang Pamungkas, Kurniawan atau Peri Sandria. Bahkan pemain naturalisasi seperti Cristian Gonzales yang sudah berumur 40 pun sekarang tidak memiliki pesaing di level yang sama.

Pestanya Para Pemain Sayap

Efek samping masalah striker ini sebenarnya tidak hanya di Indonesia, namun juga banyak terjadi di tempat lain. Sekarang sulit sekali menemukan striker yang bagus. Finalis terakhir pemain terbaik dunia yang seorang striker adalah Fernando Torres di tahun 2008. Sedangkan pemenang terakhir adalah Ronaldo Da Lima tahun 2002.

Terkait:  Indonesia 1 - 1 Malaysia: Goals And Full Highlight AFF U19 2013

Pemain yang berposisi natural sebagai winger mendominasi gelar tersebut, bergantian antara Ronaldinho, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Fenomena serupa juga terjadi di daftar top skorer liga-liga eropa. Pemain sayap jauh lebih subur daripada striker yang hanya sendiri di depan.

Tapi ada fakta yang berbeda yang terjadi di Indonesia. Walaupun kita mengikuti tren satu striker, tapi nyatanya penguasa top skor liga tetap di pegang oleh para striker. ISL terakhir mencatatkan nama Pacho Kenmogne sebagai pencetak gol terbanyak. Sedangkan dari pemain lokal, Boaz Salosa dan Cristian Gonzales menyumbang nama. Boaz sendiri bisa sangat subur mungkin dikarenakan Persipura yang masih sering memakai dua striker.

Lantas kemana winger kita? Kenapa mereka tidak ikut menikmati era pesta para pemain sayap seperti yang terjadi di kompetisi kiblat sepakbola saat ini?

Memaknai Peran Baru

Indonesia sebenarnya bisa dikatakan negara para winger. Mudah sekali menemukan talenta pemain sayap daripada pemain di posisi bek, fullback ataupun gelandang. Perawakan umum yang kecil namun cepat memang cukup nyaman jika ditaruh di flank, dimana mereka bisa memaksimalkan kecepatannya.

Tapi jadi ada yang tidak pas jika kita sudah ikuti tren, yang seharusnya berujung bersinarnya pemain sayap, tapi hal tersebut tidak terjadi. Mengikuti tren yang diharapkan permainan semakin membaik, namun hasilnya prestasi dan level Timnas justru menurun. Negara yang melimpah stok winger, tapi gagal membuat para pemain tersebut berpesta di eranya.

Kita harus melihat ke belakang, kembali memahami evolusi cara bermain sepakbola kita. Kita terus coba mengikuti tren, namun apakah kita hanya sekedar mengikuti atau memang benar-benar mengerti.

Dalam perjalanannya, sepakbola Indonesia berangkat ke 4-2-3-1 bermula dari skema 4-4-2. Awalnya dari memakai dua striker, berganti ke satu striker. Kita mengharapkan superioritas di lini tengah, tapi sepertinya lupa memaknai ulang peran pemain sayap.

Ketika di lini depan hanya ada satu penyerang, pemain sayap tidak bisa lagi bermain selayaknya mereka melayani dua penyerang. Karena di evolusi satu penyerang ini sendiri sebenarnya ada upgrade bahwa winger juga mempunyai peran tambahan sebagai forward. Winger juga bertugas membuat gol dan tidak bisa lagi hanya bergantung ke striker yang sekarang tanpa partner.

Terkait:  Utak Atik Skuat Timnas Untuk AFF 2014

Sangat sering kita jumpai mindset winger ketika menguasai bola, mereka akan mencari celah di flank agar bisa melakukan crossing. Hal ini bukan masalah ketika ada dua penyerang di box, tapi jadi tidak efektif jika hanya seorang.

Masih umum dua winger akan mengambil posisi sangat melebar ketika tim menguasai bola. Salah satu hukum ball possession memang kita harus membuat lapangan seluas mungkin. Tapi yang terjadi disini, umumnya winger akan melakukan dribbling vertikal di flank sesaat menerima bola.

Ini menimbulkan masalah efektifitas, karena mindset yang ada bagi winger harusnya dia meminta bantuan fullback atau gelandang agar dia bisa masuk ke kotak penalti, baik itu dengan atau tanpa bola. Winger adalah penyerang di era ini dan mereka seharusnya adalah pencetak gol yang lebih potensial daripada striker. Oleh karena itu mereka harus lebih sering di kotak penalti lawan.

Beberapa variasi peran winger juga mulai bermunculan, seperti inverted winger, menempatkan winger di flank yang berlawanan dengan kaki terkuat mereka. Ide ini sedikit membantu karena memaksa fullback lah yang bertugas untuk crossing. Tapi untuk efektifitasnya masih  dipertanyakan, karena akan kembali ke masalah winger mau masuk box atau tidak ketika crossing dilepas.

Berada di box akan memperbesar peluang winger mencetak gol. Dengan atau tanpa insting goal scorer, posisi lebih dekat dengan gawang akan memperbesar peluang mencetak gol. Kita bisa melatih keras para winger dalam hal finishing. Tapi tanpa membenahi posisi dan memaknai ulang peran mereka, mereka akan tetap sulit membuat gol. Sayang sekali jika tetap seperti ini, karena sekarang harusnya mereka berpesta.

Apa Pendapatmu?