List of feeds URL

Rudi Garcia, Julius Caesar Dan Roma Yang Baru

Author: Arvian Bayu (twitter: @arvianbayu)

“Perkenalkan, nama saya Rudi Garcia, seorang Prancis yang mempunyai misi Veni Vidi Vici. Namun bolehkah saya merubah sedikit arti kata yang dicetuskan oleh Julius Caesar tersebut, Julius Caesar menggunakan kalimat ini dalam pesannya kepada senat Romawi yang menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zel. Saya ingin membuat diri saya seperti Julius Caesar, bukan untuk perang melainkan untuk menghadapi  kerasnya benteng-benteng pertahanan klub di Serie A”. Saya datang, saya melihat taktik lawan dan membaca, dan saya menang.

Ketika usianya masih kecil, sepak bola adalah bagian dari kehidupan Rudi Garcia. Ayahnya, José, adalah seorang Spanyol yang bermain sepak bola profesional untuk Sedan dan Dunkerque. Ketika José menjadi pelatih tim lokal Corbeil – Essonnes, ia memasukan anaknya ke dalam tim, dimana Rudi dimainkan sampai tingkat junior.

Penulis ingin menggambarkan bagaimana seorang Rudi Garcia, pelatih yang baru datang di Serie A untuk AS Roma, untuk sebuah proyek sepak bola modern yang memang saat ini digencarkan oleh klub di Ibu Kota Italia tersebut.  AS Roma adalah klub pertama di Serie A yang dimiliki oleh orang dari luar Italia, hal ini akan sangat sulit terjadi mengingat bagi orang Italia sendiri tingkat strata sosial yang paling tinggi dinilai ketika seseorang warga negarnaya memiliki sebuah klub, itu sebabnya kenapa ketika sudah menjadi Presiden klub akan sulit melepaskanya ke tangan lain, biasanya mereka berikan kepada penerus di keluarganya.

Pada penampilan awal AS Roma membuat rekor baru dengan 10 kali  pertandingan beruntun selalu menang diawal musim, mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang oleh rival mereka Juventus yang berhenti diangka 9 di musim 1 dekade lalu. Pada pertadingan melawan AC milan semalam di Gionarta 35, Roma kembali mencatatkan rekor baru dengan 21 kali clean sheet. Pertandingan melawan AC Milan semalam juga mengembalikan Roma ke streaks panjanganya kedua setelah awal musim dengan torehan 10, kini mereka cetak 9 streaks. Lini belakang mereka juga sangat luar biasa, Roma hanya kemasukkan 19 gol dalam 35 gionarta. Catatan positif ini di top 5 liga Eropa hanya bisa disamai oleh klub dari ibu kota Prancis, PSG. PSG yang telah memastikan meraih gelar Ligue 1 ini juga hanya kemasukkan 19 gol sampai dengan pekan ke 34 Ligue 1.

Terkait:  Revival Patrice: Tentang Sinar Terang Evra Di Tanah Italia

Garcia mungkin sedang berada dalam ingatan ketika pertahanan AS Roma yang kuat pada saat diperkuat pemain-pemain dari Brazil mulai dari nama Aldair, Cafu, Emerson. Itu yang terjadi dengan pertahanan AS Roma sekarang yang mengandalkan pemain-pemain dari negeri Samba macam Maicon, Castan, Dodo, Toloi, yang membuat fans akan bernostalgia kala ketiga pemain senior dari Brazil itu mengantarkan Roma meraih Scudetto untuk yang ketiga kalinya pada musim 2000/2001.

Serigala Ibu Kota yang sekarang tertinggal 5 poin dari pemuncak klasmen saat ini Juventus, telah memastikan kembali ke UCL musim depan, Roma terakhir kali mengikuti UCL dimusim 2010/2011. Dengan hasil yang cukup memuaskan ini Sabatini, selaku Direktur olahraga tim langsung membentengi Garcia dari godaan klub-klub yang mengingingkan jasa pelatih berusia 50 tahun tersebut dan juga beberapa pemain kartu as seperti Miralem Pjanic, Mehdi Benatia, Adem Ljajic, maupun Mattia Destro yang menjadi top skorer tim dengan 13 golnya.

Lanjut halaman: 1 2

Apa Pendapatmu?