List of feeds URL

Revival Patrice: Tentang Sinar Terang Evra Di Tanah Italia

Author: Aun Rahman (twitter: @aunrrahman)

Musim panas tahun 2014, Serie A menjadi tujuan eksodus para pemain lini belakang yang diklaim tenanganya sudah tidak lagi dibutuhkan oleh klub lamanya di Liga Premier Inggris.

Bek Chelsea Ashley Cole mendarat di AS Roma, Micah Richards dipinjamkan ke Fiorentina, Kapten Manchester United sejak 2010, Nemanja Vidic ambil bagian dalam mega proyek pengusaha asal Indonesia yang mengakuisisi Inter Milan, Erick Thohir. Dan deputi Vidic di United, Patrice Evra hijrah ke Juventus Stadium.

Diantara keempat nama tersebut Patrice Evra bisa dibilang satu satunya yang berhasil beradaptasi di Sepakbola Italia. Nemanja Vidic permainannya mulai membaik akan tetapi dirinya sering membuat kesalahan pada awal musim, termasuk dua major error pada 5 laga awalnya bersama La Beneamata.

Cole bermain baik pada startnya di Serie A, namun makin hari Rudi Garcia lebih sering memasang Jose Holebas atau Vasilis Torosidis di posisi bek kiri. Micah Richards mungkin yang paling tidak bersinar, dirinya hingga saat ini baru memainkan tujuh laga Serie-A untuk Vincenzo Montella.

Dibawah arahan Max Allegri, Evra justru tampil sebagai salah satu pemain kunci. Dirinya yang sekarang memakai nomor punggung 33, bahkan menggeser Kwadwo Asamoah yang memiliki peran vital dari tim Juventus yang meraih Juara Serie-A tiga kali beruntun dibawah arahan Antonio Conte. Asamoah yang sejatinya adalah gelandang sayap, sering terlihat canggung apabila dipasang sebagai bek sayap. Evra terlihat lebih stabil dalam memainkan peran di formasi Allegri yang dimana bisa berubah sewaktu waktu dari 3-5-2 menjadi 4-3-1-2.

Di musim terakhirnya bersama Manchester United, Evra sudah mulai senja, kecepatannya dianggap sudah tidak akan bisa lagi mengejar penyerang penyerang cepat Liga Inggris, memang musim lalu, Evra beberapa kali terlihat santai untuk turun ke belakang setelah dirinya melakukan overlap, dan hal ini yang disebut sebut sebagai lubang di pertahanan United.

Terkait:  Juventus 2 - 2 Real Madrid: Membongkar Solid Defensive Block

Akan tetap yang terjadi di musim ini memperlihatkan sesuatu yang lain. Seperti yang dilansir oleh Squawaka.com, Evra tidak hanya stabil dalam bertahan dimana sepanjang musim ini dirinya mencatatkan 45 Intersep, 53 cleareance, dan 53% menang duel udara. Tapi juga berperan terhadap penyerangan Juventus, dirinya terlibat dalam 25 peluang gol di Serie-A dan 11 di Kompetisi Eropa.

Ditambah dirinya sudah mencatatkan 3 Assist dan 23 key pass sepanjang musim ini. Bersama bek sayap asal Swiss, Stephan Lichsteiner, Evra menjadi senjata mematikan Juventus musim ini, yang teranyar adalah ketika keduanya membuat sayap sayap Real Madrid frustasi, sekaligus memastikan tiket final Liga Champions untuk Juventus.

Sistem permainan Serie-A yang harus diakui tidak secepat Liga Premier, lambannya Serie-A dikarenakan duel taktikal antar tim lebih terasa, dibanding Liga Premier yang mengutamakan kemampuan fisik. Juventus tidak hanya mendapatkan pengalaman dan mental juara Evra, tetapi juga kecerdasan dan kemampuan taktikal Evra, dan sekali lagi, Juventus telah membangitkan seseorang dari kematian, setelah sebelumnya Andrea Pirlo yang sudah dianggap habis di AC Milan.

Andai 6 Juni 2015 nanti Evra dan Pirlo berhasil membawa Juventus meraih gelar Liga Champions di Olympiastadion Berlin, maka mereka benar benar mementahkan seluruh pendapat yang menyebutkan bahwa dirinya telah habis.

Di sisi lain klub lama Evra justru sedang kesulitan dengan posisi bek kiri, Luke Shaw yang didatangkan dari Southampton, lebih banyak cedera musim ini, begitu pula dengan Marcos Rojo yang terkadang dimutasi menjadi bek kiri padahal sejatinya berposisi sebagai bek tengah, atau ketika sangat terpaksa Van Gaal akan menempatkan gelandang bertahan Daley Blind di posisi bek kiri.

One Response to Revival Patrice: Tentang Sinar Terang Evra Di Tanah Italia

  1. ryan tank says:

    Setuju dgn tulisan ini. 2 bek kiri dari BPL tapi beda pencapaian di Serie A. Evra makin berperan, Ashley makin “hilang”.

Apa Pendapatmu?