List of feeds URL

Profesionalisme Dalam Membina Talenta Muda

Author: febiaji (twitter: @Ajifebi)

Udara dingin menyelimuti suasana diteras rumah, dengan segelas teh pait panas membuat suasana semakin tenang dan sedikit rileks setelah melakukan aktivitas yang lumayan melelahkan. Semenjak meninjakan kaki di bandung setelah menyelesaikan kuliah di Yogyakarta perasaan hati ini sangat senang, gembira sekaligus sedih.

 

Perasaan senang dan gemira itu muncul karena berhasil menyelesaikan studi dengan waktu yang lumayan cepat serta sedihnya karena harus meninggalkan teman-teman yang sudah dianggap seperti saudara sendiri, susah senang semua terlewati bersama-sama sampai akhirnya kita semua harus berpisah untuk melanjutkan mimpi-mimpi yang akan dicapai pada tahap selanjutnya.

Begitupun saya yang ingin melanjutkan mimpi saya menjadi orang yang berguna bagi semua orang khususnya berguna dalam hal olahraga sepakbola. Mimpi saya yang sangat ingin menjadi kenyataan menjadi pelatih sepakbola yang bias membimbing anak-anak menjadi pemain yang professional, untuk mewujudkan mimpi itu saya harus selalu belajar pada anak latih serta lingkungan bahkan belajar dari orang tua anak latih karena ilmu itu tidak serta merta berasal dari ruangan sekolah tetapi masih banyak ilmu harus harus di pelajari diluar ruangan sekolah.

Berbicara tentang profesional, semua pekerjaan di tuntut untuk bekerja professional. Apa itu artinya professional? menurut saya pribadi professional itu bisa menjalankan pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki dengan penuh tanggung jawab tidak ada embel-embel yang mengatasnamakan teman, sodara ataupun saudara, jika memang “bagus” ya bilang “bagus”, sebaliknya jika “jelek” ya bilang “jelek”.

Begitu juga dalam dunia olahraga khususnya cabang olahraga sepakbola harus mengedepankan profesional agar tidak ada yang merasa dirugikan, jika tidak ada yang merasa dirugikan maka kerja juga akan nyaman dan tentram. Tetapi banyak yang mengartikan professional selalu berurusan dengan uang. Menurut saya iya memag tidak munafik jika professional di sangkut pautkan dengan uang, tetapi ketika berkerja jangan memikirkan hanya uang tetapi bagaiman kapasitas diri kita, apakah kita bisa, ahli, dan mampu dalam pekerjaan itu, apa yang bisa kita berikan untuk pekerjaan itu.

Terkait:  Gol ‘Mutlak’: Ketika Penjaga Gawang Menjadi Tak Dianggap

Belum lama ini saya dihadapkan dengan situasi yang menjadi pengalaman dimana harus bersikap professional. Singkat cerita pada waktu itu dipercaya untuk menjadi pelatih usia 11 tahun di salah satu Sekolah Sepakbola di Bandung. Pada waktu itu tim yang saya tangani akan menghadapi turnamen dan yang paling menantang ialah ketika itu yang memilih pemain bukan saya sendiri karena pada waktu itu saya baru masuk menjadi staff pelatih.

Setelah berjalannya beberapa pertandingan dan hasilnya memang tidak memuaskan untuk para pemain khususnya untuk para orang tua banyak yang kecewa, tetapi kecewa orang tua bukan dari hasil pertandingan tapi dari pembagian dan pemilihan pemain. Waktu itu memang saya sedikit kaget dengan respon orang tua, wajar karena tidak baru masuk menjadi staff pelatih dan belum mengerti karakter setiap anak-anak.

Terlepas dari saya yang baru masuk menjadi staff pelatih, saya selalu evaluasi semua hasil pertandingan terutama evaluasi dengan para orang tua. Karena itu bagian dari tanggung jawab saya pada pekerjaan, setelah menyampaiakan evaluasi ternyata respon para orang tua bisa mengerti dan menerima hasil pertandingan. Tidak sampai dengan evaluasi saja tetapi tugas saya masih banyak, salah satunya membantu anak-anak untuk memperbaiki perfoma mereka.

Setelah beberapa bulan kemudian saya mulai mengetahui karakter masing-masing anak-anak. Ternyata bukan jaminan ketika sudah mengetahui karakter anak-anak untuk menjadi tim yang solid, banyak masalah yang saya harus dihadapi. Saya sadar karena setiap pekerjaan itu pasti ada masalah yang harus diselesaikan dan setiap pasti ada solusinya asalkan kita mau berfikir dan bekerja keras.

Beberapa minggu kemudian saya dikabari bahwa ada gelaran festival sepakbola usia 11 tahun, tim saya latih di proyeksikan untuk mengikuti festival tersebut. Setelah mengetahui kabar tersebut saya segera mempersiapkan tim, saya langsung memilih pemain yang menurut saya memang layak dan pantas untuk menjadi bagian tim.

Terkait:  Quote: Mourinho

Dalam memilih pemain saya selalu objektif, dengan alasan pembinaan saya memilih pemain yang sering mengikuti latihan walaupun yang sering latihan jika di nilai secara teknik memang belum mampu tapi saya masukin kedalam tim karena saya sangat mengapresiasi anak yang sering latihan karena mereka mempunyai semangat untuk menjadi lebih baik.

Walaupun ada pemain yang bagus tetapi jarang atau bahkan tidak pernah latihan tapi pada waktu mendekati pertandingan datang untuk menikuti latihan. Saya tetep tidak akan memasukan pemain tersebut karena jika pemain yang begitu tidak mempunyai motivasi untuk belajar jadi lebih baik lagi dan akan mengacaukan sistem permainan.

Karena tujuan saya hanya membina anak-anak untuk menjadi manusia yang bisa lebih baik lagi melalui sepakbola. Setelah bersikap seperti itu banyak sekali yang heran kenapa saya tidak memasukan pemain yang di anggap bagus. Selain anak-anak, orangtua pun terheran dengan keputusan saya.

Banyak yang bertanya-tanya kenapa? Ko gak masuk? Banyak pertanyaan yang menghampiri, dari sini lah menurut saya tantangan untuk menjadi pelatih khususnya pelatih sepakbola. Dengan rasa tanggung jawab yang mencoba menjelaskan yang  menjadi alasan dari keputusan yang saya buat.

Saya bersyukur alasan saya masih bisa di terima oleh pemain dan orang tua walaupun memang hasilnya tidak memuaskan untuk saya pribadi, tetapi saya bangga dengan perjuangan anak-anak. Dalam catatan saya anak-anak bermain bagus dan sedikit meningkat dari sebelumnya. Sedikit kemajuan merupakan kebanggaan bagi saya seorang pelatih.

Apa Pendapatmu?