List of feeds URL

Persipura Dan Dominasi Yang Terus Terjaga

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Kunjungan Persela ke stadion Mandala Krida di Jayapura berakhir tidak menyenangkan. Tuan Rumah Persipura menenggelamkan mereka tiga gol tanpa balas dan tidak memberikan kesempatan memberikan perlawanan.


Laga ini merupakan laga pertama dari kompetisi ISL musim 2014 dan Persipura berhak menjalani laga pembuka karena mereka adalah juara bertahan dari musim sebelumnya. Tidak begitu menguntungkan bagi Persela yang menjadi lawan buat mereka. Menjalani laga awal melawan sang juara bertahan dan jarak tempuh yang cukup jauh, menyulitkan Persela mendapatkan start yang baik untuk musim ini.

Jalannya pertandingan mutlak jadi milik tuan rumah, Persela sangat kesulitan untuk keluar menyerang. Pemilihan strategi bertahan dengan mengorbankan winger untuk turun terlalu cepat, membuat Persela gagal menyusun counter attack yang bagus. Kemenangan telak ini juga seperti menajamkan kembali ingatan para rival yang mungkin sudah mulai lupa perkasanya Persipura musim lalu. Persipura memastikan juara sebelum kompetisi usai, unggul 16 poin dari peringkat dua dan hanya kalah dua kali dari 34 laga. Gelar musim lalu juga melengkapi catatan gemilang Jacksen F. Tiago bersama tim mutiara hitam yang berhasil meraih tiga kali juara dan dua kali runner-up dalam lima musim ISL terakhir.

Hengkangnya beberapa pilar seperti Ottavio Dutra dan Zah Rahan Krangar akan mengurangi kekuatan Persipura musim ini. Untungnya masalah ini bukan hal baru bagi Jacksen, karena setiap musim mereka juga kehilangan pemain kunci seperti Beto Goncalves, Hamka Hamzah ataupun Erol Iba, tapi performa tim masih stabil. Pemain bintang boleh datang dan pergi, tapi yang terpenting buat mereka adalah Jacksen masih disana dan sistem yang dibawanya masih efektif. Hal ini juga dimungkinkan berlimpahnya talenta muda di Papua yang seperti tidak pernah habis.

Jika melihat dominasi Persipura di ISL, kita bisa melihat sedikit kemiripan dengan dominasi Barcelona dan Juventus di negara masing-masing. Kedua klub itu memiliki sistem yang bisa eksploitasi kelemahan cara bermain sepakbola secara umum di negaranya dan bisa mudah meraih kemenangan demi kemenangan di setiap pekan.

Jika kita melihat sepakbola Spanyol yang sangat terasa aroma latin, mereka dianugrahi pemain-pemain dengan skillset yang sangat baik atau dengan kata lain para pemain Spanyol sangat baik jika sedang membawa bola. Lalu tiba di saat Barcelona mempunyai Xavi dan Deco di lini tengah, dilanjutkan dengan Busquets dan Iniesta, mereka mulai menampilkan obsesi terhadap ball possession yang hampir 70% per laga. Dengan penguasaan bola selama itu, mereka tidak memberi kesempatan kaki-kaki terampil pemain lawan untuk berkembang dengan tidak memberi kesempatan menguasai bola. Satu formula untuk membungkam sebagian besar lawan dan sedikit modifikasi untuk musuh yang lebih advance, berhasil membawa kejayaan El Barca di Spanyol sampai saat ini.

Terkait:  Garuda Jaya Terburuk Yang Pertama Dan Semoga Yang Terakhir

Cerita serupa dan berbeda cara juga terjadi di Serie A, Juventus sekarang memburu scudetto ketiga berturut-turut. Tapi jika ditarik semusim lebih lama lagi, Andrea Pirlo sedang memburu scudetto yang keempat berturut-turut karena sebelumnya dia sudah mendapatkan bersama AC Milan. Kemampuan Pirlo sebagai deep lying playmaker untuk mendikte serangan dari posisi yang cukup dalam, membantu timnya untuk membongkar tradisi kehebatan para pemain Italia untuk bertahan memakai low block. Diharuskan naik menutup Pirlo dan mempertahankan solid defensive block secara bersamaan sepertinya masih terlalu rumit buat para rival dan Juventus masih tak terbendung di puncak klasemen.

Dengan mempunyai sistem yang langsung mengincar kelemahan dari pemain secara umum di liga itu, agak sulit mengharapkan tim-tim ini terpeleset, terutama ketika lawan tim kecil yang vital untuk kejuaraan yang menggunakan sistem poin. Hal yang sama sedikit banyak juga dimiliki Persipura untuk tetap dominan di kompetisi lokal. Mari kita lihat dengan cara mereka mengalahkan Persela di laga ini.

 

Skema Serangan Persipura

Di pertandingan ini seperti biasa Persipura menggunakan skema 4-3-3 dan coba direspon Persela dengan skema 4-2-3-1. Seperti sudah menjadi tipikal tim asuhan Jacksen ketika melakukan build up, dua fullback yang diisi oleh Sanadi dan Yustinus Pae selalu ambil posisi agresif di area lawan dan mengajak dua winger Persela turun. Persipura mengontrol serangan dari area sendiri dengan membentuk satu blok berisikan empat sampai lima pemain. Tiga gelandang tengah Lim Jun Sik, Imanuel Wanggai dan Gerald Pangkali tetap di posisi yang dalam menemani duet bek tengah Andri Ibo dan Bio Paulin.

Lima pemain ini digunakan untuk memastikan dominasi mereka ketika menguasai bola dan menjaga superioritas walaupun lawan memakai high up pressing. Positioning yang cukup dalam dimaksudkan untuk menciptakan ruang yang cukup longgar di tengah, yang akan digunakan sebagai tempat pertarungan sesungguhnya. Bola cukup sabar diputar di blok ini dengan tempo yang sangat lambat untuk menarik sebanyak mungkin pemain tengah lawan naik.

Terkait:  Indonesia U19 3 - 1 Thailand U19: Duel Dua Gaya Yang Berbeda

Persela coba melakukan pressing ke blok ini hanya dengan dua pemain terdepannya, Lopicic dan Addison Alves. Sedangkan dua winger-nya, Arif Ariyanto dan Zainal Arifin lebih berkonsentrasi melakukan tracking dari movement dua fullback Persipura yang naik. Di tengah hanya tinggal duet pivot Jusmadi dan Catur Pamungkas yang tidak memiliki pemain untuk dijaga namun area yang harus dicover cukup luas. Beberapa kali Catur coba membantu melakukan pressing naik dan meninggalkan Jusmadi sendiri, tapi tidak terlalu sering.

Jika duet gelandang bertahan Persela ini masih juga terlalu dekat dengan backfour-nya, Ian Kabes sebagai penyerang tengah akan turun dan coba memancing salah satu atau kedua pemain Persela ini naik. Jika berhasil dan ada ruang tersedia untuk menerima bola di depan backfour Persela, dua pemain depan lain yaitu Pahabol dan Lukas Mandowen akan bergerak ke situ untuk menerima bola.

Dengan prosesi seperti ini penyerang Persipura bisa dengan nyaman menerima bola dalam posisi menghadap gawang lawan karena space yang longgar. Trio penyerang Persipura dibentuk sangat cair dan bisa saling mengisi posisi satu sama lain. Kebebasan untuk bergerak ini yang membuat sulit dua fullback lawan untuk melakukan marking dan membuat situasi sangat berbahaya jika penyerang Persipura mendapatkan bola langsung di depan backfour. Dalam fase ini Persipura menaikkan tempo menjadi sangat cepat untuk menjaga momentum tertinggalnya gelandang bertahan lawan. Ini adalah bentuk dominan Persipura di babak pertama dan menjadi awal banyaknya peluang yang didapat.

Tapi terkadang lawan merespon dengan cara lain namun Persipura tetap memiliki keuntungan dengan model ini. Jika winger Persela memilih melakukan pressing terhadap block tengah pemain Persipura daripada covering terhadap fullback, Persipura cukup cerdik mengalirkan bola lewat fullback yang bebas. Karena sistem ini memiliki wide forward, dengan cukup cepat fullback Persipura melakukan overload di flank. Dari sini baik itu dilanjutkan dengan crossing ataupun cut in dan mengembalikan bola ke depan penalti box, Persipura masih bisa mendapatkan momentum karena lawan dipaksa melakukan transisi di space yang cukup luas.

Terkait:  Manchester United 1 - 0 Arsenal: United Membendung Di Tengah Lalu Drop Deep

Di babak kedua Persela merubah formasi menjadi 4-3-3 dengan memasukkan Radikal Idealis dan menarik keluar Jusmadi. Defensive line sekarang lebih naik untuk meminimalkan space yang terlalu luas di tengah dan sekarang hanya dihuni satu gelandang bertahan. walaupun mendapat tambahan satu pemain untuk melakukan pressing di depan, Persela masih kesulitan menandingi superioritas lima pemain Persipura yang melakukan kontrol serangan di area sendiri. Persipura masih memakai tiga pemain depan dan mereka terus menguji offside trap Persela dengan terus mengirim bola ke belakang backfour.

Dari cara Persipura untuk menarik pertahanan lawan secara vertikal dengan mengontrol serangan dari posisi dalam dan membuat sibuk winger lawan dengan overlap dari fullback, Jacksen selalu berusaha membuat lubang di tengah pertahanan lawan. Area ini umumnya dihuni gelandang bertahan dan dengan sedikit trik, Persipura berusaha memindahkan mereka ke posisi menjauhi kuartet bek tengah. Disini bisa kita lihat jika Jacksen berusaha menguji intensitas para gelandang bertahan ini untuk menutup area yang cukup luas. Dan hasilnya sebagian besar membawa kesuksesan untuk Persipura, karena intensitas dan lemahnya rasa tanggung jawab dalam melakukan covering area merupakan kelemahan dari banyak pemain kita.

 

Video Pertandingan

Apa Pendapatmu?