List of feeds URL

Oman U19 Memaksa Timnas U19 Menaikkan Level

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Dua kali bertanding melawan Oman U19, Evan Dimas dan kawan-kawan menderita satu kekalahan dan berhasil membalas dengan skor yang sama di laga selanjutnya. Kekalahan yang di derita Garuda Jaya ini adalah yang pertama sejak mereka dikalahkan Vietnam di Sidoarjo di fase grup AFF U19 2013. Tidak ada lagi pertandingan hiburan, Tur Timur Tengah ini adalah ujian sesungguhnya dengan semua lawan ada di level yang sama.

Setelah menyaksikan penampilan Timnas U19 dengan lawan yang cukup lemah selama Tur Nusantara, Oman berhasil memaksa anak asuh Indra Sjafri bermain di level yang setingkat lebih tinggi. Selama 90 menit, tidak banyak ruang bergerak dan waktu bernafas untuk trio lini tengah Timnas.  Mereka dipaksa bermain di area sendiri dan terus diteror untuk melakukan kesalahan. Sejak dikalahkan Vietnam tahun lalu, tidak ada tim yang bisa membuat trio Evan Dimas, Hargianto dan Zulfiandi begitu tertekan seperti ini.

Sebenarnya selama Tur Nusantara, tim Pra PON Jatim dan Mitra Kukar U21 juga mencoba melakukan pressing dengan power yang sama dengan Oman. Tapi negeri sultan Qaboos bin Said al Said ini mengeksekusi pressing-nya lebih bersih, rapi dan konstan sepanjang laga. Selain itu mereka juga sangat terorganisir ketika mendapat break, dengan striker berbadan kekarnya, Marwan Al Siab selalu bisa mendorong Hansamu Yama atau M. Sahrul terdorong ke dalam kotak penalti dan membuka peluang buat teman-temannya.

Skema Build-up Attack Yang Tidak Bekerja

Menyusun serangan dari belakang dan menguasai ball possession sebanyak mungkin adalah target objektif Indra Sjafri selama gelaran Tur Nusantara. Pelatih berusia 51 tahun ini beberapa kali mengungkapkannya ke media tentang hal ini. Walaupun sempat bermasalah di separuh laga awal karena tidak efisien dan terlalu lama di area sendiri, Timnas berhasil memperbaiki setelahnya dan menjadikan penguasaan bolanya lebih berpola serta tajam untuk dikonversi menjadi peluang.

Tapi di laga ini, hal itu kembali memudar. Bola tidak mudah melewati pressing Oman yang memakai 4-4-2 dan malah membuat lini belakang kerepotan menghadapi lawan yang mendapat break karena bola hilang di tengah. Keunggulan satu pemain di tengah karena Timnas memakai 4-3-3, tidak terlihat signifikan. Oman memutuskan berkonsentrasi kepada midfield trio Timnas ketika melakukan pressing dan memakai energi mereka untuk menutup backfour Timnas setelahnya.

Terkait:  Timnas Garuda Muda Yang Dipuji Tidak Terbang Dicaci Tidak Tumbang

Dua winger mereka tidak melakukan man marking terhadap Fatchurohman dan Putu Gede yang di touchline. Mereka mengambil posisi narrow dan hanya menutup passing lane ke dua fullback Timnas tersebut. Satu pivotnya naik melakukan pressing dan yang satu lagi menutup passing lane ke Muchlis Hadi Ning. Hal serupa juga dilakukan duet striker untuk menghalagi bola dari tengah agar tidak dikembalikan ke duet bek tengah.

Dengan situasi ini, Oman berhasil membuat posisi 5 vs 3 di tengah, walaupun sebenarnya sangat menguras stamina mereka karena juga harus menutup backfour Timnas. Tapi mereka berhasil melakukan selama 90 menit dan ini menunjukkan level kebugaran yang cukup baik, malah mungkin lebih baik dari Timnas yang jarang melakukan high up pressing seperti ini.

Upaya menekan lawan sedemikian ketat agar melakukan kesalahan, berhasil memberi Oman belasan peluang bagus. Hal ini memaksa Ravi Murdianto mengeluarkan semua kemampuannya untuk menahan gol Oman, walaupun akhirnya harus kebobolan dari set piece karena lemahnya marking di dalam kotak penalti.

Build-up attack dengan poros hanya tiga pemain tengah yang berdekatan ini adalah salah satu hal yang dicapai di Tur Nusantara tapi tidak bisa diaplikasikan ke level internasional.

 

Oman U19 High Press: vs Indonesia U19 2014

Masalah Bertahan Tanpa Jebakan Offside

Di awal gelaran AFF di Sidoarjo 2013 lalu, high up pressing merupakan trademark dari Timnas U19. Mereka sempat terlibat pressing battle ketika bertemu Myanmar karena memakai pendekatan yang sama. Tapi setelah kemenangan di final melawan Vietnam, Indra Sjafri sepertinya lebih nyaman timnya memakai garis pertahanan yang lebih dalam. High up pressing tetap sesekali dipakai tapi bukan display utama tim ini, apalagi jika lawan cukup tangguh.

Terkait:  Manchester City 0 - 2 Barcelona: Sedikit Celah City Dan Faktor Demichelis

Untuk membantu transisi dari menyerang ke bertahan dan mengembalikan pertahanan menjadi low block, mereka tidak menerapkan offside trap di belakang. Salah satu dari bek tengah akan menjadi sweeper dan menyapu bola jika lawan berusaha mengirim umpan panjang ke depan. Skema seperti ini cukup berhasil selama Tur Nusantara dan gawang Timnas hanya kebobolan sembilan gol dari 13 kali main.

Tapi di laga ini cerita berkata lain. Dua striker yang dipakai Oman cukup licin untuk terus mengambil ruang di belakang backfour, dan tanpa jebakan offside, serangan mereka terlihat begitu berbahaya. Tiga pemain tengah terus adu cepat untuk turun dengan defensive line Timnas, yang tidak bisa menahan bola direct lawan. Beberapa kali tendangan jarak jauh Oman berhasil menemui sasaran karena longgarnya proteksi di depan kotak penalti.

Efek buruk lain dari low block yang dipakai Timnas adalah mereka harus selalu menyusun ulang serangan dari awal di area sendiri. Mungkin hal ini tidak terlihat bermasalah di Tur Nusantara, tapi di laga ini dengan pressing Oman yang tidak pernah kendor, membuat bola lebih sering di area Timnas daripada lawan. Alhasil lebih banyak peluang oleh lawan daripada Timnas sendiri.

Bonus Dari Oman

Dengan mengandalkan pressing, Oman berhasil memainkan game yang mereka mau dan hal sebaliknya terjadi kepada Garuda Jaya. Tapi bukan berarti Oman merupakan tim yang komplit dan pantas berada di atas Timnas. Finishing mereka begitu buruk, terutama jika dari open play. Entahlah apa mereka kelelahan ketika melepaskan tembakan setelah melakukan pressing yang begitu ketat.

Oman juga tidak begitu bagus ketika di area mereka, dengan atau tanpa bola. Hal ini senada dengan Timnas yang juga sering kehilangan bola di area sendiri. Jadi game ini sebenarnya menjadi bola sedang di area siapa, maka lawan akan langsung dapat peluang.

Terkait:  AC Milan 1 - 1 Barcelona: Saling Tahu Dan Berakhir Imbang

Transisi menyerang ke bertahan Oman menimbulkan banyak masalah buat mereka, terutama jika Timnas berhasil memindah serangan ke flank yang berlawanan. Fullback mereka agresif sekali naik menutup areanya, yang akhirnya membuat tiga rekan lainnya di belakang bergeser ke tengah. Tapi sering kali mereka kurang bagus menakar jarak di antara mereka, yang akhirnya selalu membuka area di flank jauh.

Di babak pertama, Ilhamuddin sempat mendapat peluang di sisi kiri. Sedangkan gol kedua Timnas didapat dari prosesi serupa, namun diawali oleh bebasnya Septian David di sisi kanan. Bola di area siapa maka lawan akan langsung dapat peluang, namun sayang lebih sering di area sendiri daripada area lawan.

 

Buruknya Transisi Oman

Kesimpulan

Banyak hal yang tidak berjalan lancar buat Timnas selepas Tur Nusantara. Mereka harus bekerja lebih keras lagi untuk mencapai level terbaik mereka seperti ketika mengalahkan Korea Selatan. Tapi ada beberapa hal positif yang masih bisa dikantongi dari dua laga ini, mental bertanding yang cukup kuat untuk membalas kekalahan dan dua pemain baru yang menjadi penentu kemenangan, Septian David dan Dimas Drajat.

Masih banyak tersisa laga dari Tur Timur Tengah dan Tur Spanyol. Semoga kita bisa melihat level Timnas terus naik di tiap laga sampai menemui puncak permainan di ajang AFC U19 Championship di Myanmar nanti.

 

Highlights

 

Apa Pendapatmu?