List of feeds URL

Oh Rudi Garcia, Serie A Bukan Ilmu Pasti

Author: Arvian Bayu (twitter: @arvianbayu)

“Matematika itu Ilmu Pasti” atau bukan itu bukanlah suatu teorema. Itu hanyalah suatu filsafat.

Suatu filsafat perlukah dibuktikan? Misalkan, Edward T. Hall berpendapat bahwa kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan. Padahal jelas-jelas kita tahu bahwa komunikasi dan kebudayaan adalah sesuatu yang berbeda secara denotatif. Masihkah kita menentangnya? Ah, sudahlah ketika pertama kali mempelajari teori himpunan saya memutuskan untuk tidak tertarik dengan matematika.

Barangkali ketika pertama kali tertinggal oleh materi yang seajatinya penting untuk dipelajari, hal yang bisa dilakukan adalah mencari celah, mencari ruang untuk membuat nilai lebih. Bisa dengan mencontek, atau minta bantuan kawan.

Itulah yang saya lihat dari Rudi Garcia ketika pertama kali datang menangani AS Roma, juga tentang Julius Caesar dengan “Veni Vidi Vici“, saya datang, saya melihat taktik lawan dan membaca, dan saya menang. Prinsip itu sepertinya dipahami betul oleh Garcia. Dengan bukti bahwa 5 pertandingan awal kedatanganya musim 2013-2014, Roma selalu mencetak gol dibabak kedua, hal ini membuktikan bahwa Rudi Garcia ingin membaca dulu permainan lawan dan mencari kelemahanya. Dengan cara “counter attack” yang mengandalkan kecepatan Gervinho dan Florenzi di flank kanan dan kiri, keduanya bergantian mengisi posisi awal dengan sangat rapi. Dengan permainan yang sama anak asuh Garcia juga mencatatkan rekor 10 kemenangan beruntun di laga awal Serie A sebelum akhirnya dihentikan Torino di Giornata 11.

Namun musim ini adalah yang terburuk dari rentetan Giornata. Bagaimana tidak, kemenanganlaga kandang terakhir Roma di Serie A adalah saat menjamu Inter Milan, dan itu terjadi pada akhir November 2014, sudah sangat lama sekali, Om.

Om Rudi tentu ingat dengan performa Roma dimusim 2013-2014, dengan rekor yang Om Rudi buat mengalahkan pelatih senior macam Fabio Capello ketika menangani Juventus dengan melewati rekor kemenangan 9 kali beruntun dilaga awal pembuka Serie A.

Terkait:  Timnas U23 Menelan Malaysia U23 Walaupun Sempat Limbung

Om Rudi harus ingat itu, bahwa Om Rudi bisa mengacaukan dominasi Juventus waktu itu meski selisih poin juga masih banyak. Tapi untuk pelatih yang baru pertama kali menangani tim Serie A adalah sangat bagus torehan kala itu.

Menginjak musim kedua Om Rudi di Serie A, fans Roma sangat optimistis di musim 2014-2015. Dengan perombakan tim yang ada dan mendapat satu tempat di UCL sangat membuat fans girang. Apalagi dengan sepeninggal Antonio Conte di Juventus untuk beralih menangani Timnas Italia dan penggantinya adalah pelatih angin-anginan macam Massimilano Allegri, sangat membuat fans optimis tim kebanggaan mereka mampu memutus tren bagus yang dicapai Conte dengan Juventus untuk meraih title Scudetto yang terakhir kali mereka raih dimusim 2000-2001 bersama Fabio Capello.

Dimusim 2014-2015 Om Rudi membuat Roma matang dan yakin memainkan Ball Possessionsebagai senjata ampuh untuk mematikan lawan siapaun itu. Apa yang terjadi hingga saat ini membuat fans gelisah meski tim masih berada diperingkat kedua namun selisih poin dengan Juventus sebanyak dua digit angka, iya, 14 poin. Mental anak asuh Om Rudi mungkin akan kembali down, ketika yang membuntuti mereka adalah rival abadi mereka di kota Roma, Lazio.

Untuk menang di Olimpico saja susah, apa Om Rudi sudah ingin merasakan stadion baru Roma sehingga tim seperti ogah-ogahan main di Olimpico, atau juga para pemain sudah bosan dengan rumput Olimpico? Sabar Om, masih lama jadinya stadion baru Roma. Masih tahun 2017.

Saya yakin sebetulnya dalam pikiran Om Rudi sudah tidak ingin memasang Francesco Totti didalam line up, karena memang dengan Totti ditengah lapangan maka strategi yang bisa dimainkan oleh Om Rudi tak pernah berubah. This makes us very saturated!

Sebelum Om Rudi datang ke Trigoria, perlu diingat. Roma pernah ditangani pelatih macam Luiz Enrique yang sekarang sukses memadukan Suarez, Neymar, dan Messi, meski sebelumnya Luiz Enrique juga dicemooh fans karena strateginya tidak cukup baik. Luiz Enrique juga memainkan Possession Football pada waktu itu, dan hasilnya sangat mengecewakan untuk hasil di Serie A.

Terkait:  Belajar Taktik: Mendominasi Sepakbola Modern Memakai Formasi 3-4-2-1

Itu sebabnya Serie A bukan ilmu pasti, bukan permainan yang monoton, bukan pula tentang soerang Penyihir yang bisa menaklukkanya dengan jari kelingking sekalipun. Melainkan harus paham, maka dari itu Om Rudi harus mencontek, atau minta bantuan kawan untuk hasil yang lebih baik.

Maka dari itu, bikin Serie A menjadi ilmu pasti dengan kemampuan Om Rudi miliki, ya, pasti menang, dan masih pasti bermain dengan cara Om Rudi, dengan cara Gladiator-gladiator Roma. Apa yang Om Rudi inginkan harus diucapkan, meski ujung-ujungnya akan menjadi konflik ketika seorang Pangeran Roma harus duduk manis dibangku cadangan. Karena dari awal saya melihat Om Rudi hanya pakem ke formasi 4-3-3 saja, tak lebih.

Tapi akan lebih elegan jika Om Rudi masih memainkan Totti sebagai Gladiator tangguh, sesuai dengan keinginan Totti, Ia ingin bermain hingga usia 47 tahun.

No Totti No Party!
No Rudi No Veni Vidi Vici!

 

 

Apa Pendapatmu?