List of feeds URL

Melihat Cara Jurgen Klopp Mematikan Serangan Bayern

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Sejak tiga musim terakhir Dortmund menjelma menjadi tim yang menakutkan walaupun dengan skuad yang tidak mewah. Jurgen Klopp berhasil membangun tim yang efisien dalam menyerang dan punya sistem pertahanan yang sangat baik.

Sangat sukar untuk menyebut Hummels atau Subotic sebagai pemain bertahan terbaik dunia. Klopp tidak menggantungkan pada satu atau dua individu untuk membangun sistem defence-nya, mereka bertahan dengan 10 pemain, sebagai satu kesatuan. Skuad Dortmund mempunyai disiplin sangat tinggi dan energi luar biasa besar untuk melakukan pressing. Walaupun di final UCL mereka sudah habis di babak kedua, mungkin karena telah melewati musim yang panjang.

Klopp memang belum pernah menghadapi Barcelona ataupun Guardiola, tapi sangat beruntung dia bertemu tim dari Guardiola yang baru jadi. Klopp memakai 4-4-2 untuk bertahan dan menginstruksikan khusus Gundogan untuk dekat dengan Thiago Alcantara. Midfielders dari kiri ke kanan: Reus, Sahin, Bender dan Kuba. Defender diisi oleh Schmelzer, Hummels, Subotic dan Grosskreutz.

Bentuk Dasar

image

Two banks of four menjadi bentuk dasar pertahanan Dortmund. Diperkuat dengan Gundogan yang terus bergerak kesisi dimana bola berada. Berita bagusnya hal yang sama juga dilakukan oleh Thiago untuk memastikan passing Bayern lancar.

Syarat terpenting dari bentuk dasar ini adalah jarak antara defenders dan midfielders yang maksimal seperti gambar diatas, tidak sampai 20 meter. Sebelum bola masuk diatara mereka, maka tugas Gundogan yang memprovokasi pemain lawan untuk melakukan kesalahan.

Hal lain yang penting adalah jika dua fullback Bayern, Alaba dan Lahm menerima bola, harus winger Dortmund yang menghadapi yaitu Kuba dan Reus. Hal ini untuk menghindari terekspos nya backfour mereka. Beberapa kali hal ini terjadi dan menjadi peluang untuk Bayern.

Terkait:  Susah Payah Ancelotti Mengantar Madrid Meraih La Decima

Defence Line

image

Dortmund set defence line pertama kali cukup tinggi dan mulai bergerak kebelakang dengan koordinasi yang bagus. Seberapa jauh mereka bergerak juga di tentukan oleh posisi midfielder yang juga turun berusaha di belakang bola dan defender menyesuaikan biar tidak overlap dan menjaga jarak sesuai bentuk dasar. Kalau Bayern melakukan umpan balik ke belakang, defence line juga akan naik lagi dan menjaga tetap compact.

Batas mereka mundur adalah di ujung kotak pinalti dan ini adalah line yang bagus untuk menghadapi lawan seperti Bayern. Hal ini juga pernah diterapkan AC Milan untuk mengalahkan Barcelona di San Siro musim lalu. Bukan dengan parkir bus atau menumpuk orang di kotak pinalti. Tapi menyisakan sedikit ruang yang sulit jika lawan memaksakan umpan terobosan karena terlalu sempit. juga cukup padat sehingga menyulitkan tembakan jarak jauh.

image

Pertahanan semacam ini memang sulit dibongkar dan Bayern pun masuk lewat flank dan dipaksa memakai crossing. Robben di kanan dan Mandzukic di kiri pun selalu gagal ketika melakukan cut in ke tengah karena dua lapis pertahanan Dortmund. Apabila bola berhasil masuk, dua baris pertahanan menjadi flat dan tetap menjaga offside line agar penyerang Bayern tidak terlalu dekat kiper.

Pressing

image

Selain Lewandowski dan Gundogan yang bergantian dekat dengan Thiago, tidak ada man marking khusus kepada pemain Bayern. Beberapa pemain melakukan covering standar sesuai posisinya. Reus vs Lahm, Kuba vs Alaba, Grosskreutz vs Mandzukic dan Schmelzer vs Robben. Subotic dan Hummels cover pemain yang overload ke tengah seperti Muller dan Mandzukic.

Dua lapis pertahanan sudah sangat baik melindungi serangan Bayern dari tengah. Jika ada pemain Bayern menerima bola di antara mereka, Dortmund langsung menjepit mereka dari belakang dan depan. Atau juga memaksa pemain Bayern backpass lagi karena cover dari Hummels atau Subotic tidak memberi kesempatan pemain Bayern itu balik badan. Satu-satunya jalan masuk dan memaksa defence line Dortmund mundur adalah lewat flank.

Jika serangan Dortmund berhasil dipatahkan, dua pemain terdekat dengan bola akan ngotot untuk merebut kembali. Selain bermaksud mendapatkan break, hal ini juga memberi waktu pemain lain untuk membentuk kembali formasi bertahan. Kedisiplinan ini yang benar-benar membuat Bayern kehilangan akal.

 

Kesalahan

image

Walaupun sistem berjalan baik, Dortmund melakukan beberapa kesalahan ketika babak kedua. Hal ini disebabkan oleh Robben yang pindah ke kiri dan Lahm sendirian di kanan. Hal ini membuat bentuk pertahanan berubah dan Lahm langsung berhadapan dengan Schmelzer. Dua kali umpan Lahm di kanan menjadi gol.

 

Pertandingan yang sangat menarik, bisa dilihat disini. Pasukan Guardiola masih terlalu prematur dengan sistem baru. Tidak juga ada pemain yang diperintahkan untuk mengacaukan defence line Dortmund seperti yang diperankan oleh Alexis Sanchez di Barcelona. 

Jika ada pendapat berbeda, silahkan kirim komentar atau sumbang artikel disini.

Apa Pendapatmu?