List of feeds URL

Manchester City 0 – 2 Barcelona: Sedikit Celah City Dan Faktor Demichelis

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Pertandingan awal babak 16 besar Liga Champions Eropa mempertemukan dua klub dengan torehan gol luar biasa di liga masing-masing. Sekilas laga Manchester City melawan Barcelona ini akan banjir gol, tapi Pellegrini dan Tata Martino sedikit merubah skema terbaik timnya untuk menahan daya rusak dari serangan masing-masing rival.

Dari starting eleven kedua tim, masing-masing melakukan perubahan yang cukup menarik, kedua pelatih mempunyai visi yang berbeda tentang cara menahan gempuran dari lawan. Walaupun display keduanya adalah kelebihan dalam menyerang, dalam fase knockout sebuah turnamen, tidak cukup hanya dilihat dari total memasukkan gol. Peraturan seperti gol away sedikit banyak menyita waktu para pelatih untuk berkonsentrasi terhadap pertahanan timnya terlebih dahulu.

Di pihak City, Pellegrini memilih memakai 4-2-3-1 daripada 4-4-2. Sebelumnya di fase grup, mereka dikalahkan Bayern Munchen di tempat yang sama ketika memakai 4-4-2, namun berhasil membalas di Allianz Arena dengan memakai 4-2-3-1. Karena Bayern yang ditangani Pep Guardiola memakai sistem yang serupa dengan Barcelona, Pellegrini tidak perlu berpikir panjang untuk memakai 4-2-3-1. Yang agak rumit adalah siapa saja pemain yang akan menjalankan sistem itu.

Pellegrini memilih memakai Navas dan Kolarov sebagai winger, dalam hal ini pelatih berkebangsaan Chile ini ingin memakai classic winger di kedua sisi sayap. Fernandinho yang sudah sembuh dari cedera menemani Yaya Toure di belakang David Silva. Yang agak mengejutkan adalah pemilihan Demichelis untuk mendampingi Kompany, daripada Lescott atau Javi Garcia. Sebelumnya Demichelis tidak cukup cepat menghentikan Eden Hazard di saat City bertemu Chelsea di lanjutan Liga Inggris. Hal serupa terjadi lagi dan menjadi titik balik laga ini ketika dia terlambat menutup Messi dan dengan ceroboh menjatuhkannya yang berakhir dengan kartu merah dan hukuman penalti.

Pendekatan Pellegrini dengan dua natural winger dimaksudkan untuk mendapat defensive width yang cukup buat menahan serangan Barcelona. Navas dan Kolarov akan bergantian sejajar dengan backfour untuk membentuk backline berisi lima pemain. Depannya berdiri empat gelandang yang mengambil posisi narrow (menyempit) untuk menahan serangan lawan dari tengah. Ide ini cukup sukses di babak pertama, El Barca hanya membuat tiga tembakan dan hanya satu yang menemui target. Lima orang di belakang juga sukses menghalau sembilan crossing dan tiga diantaranya berhasil digagalkan sebelum bola masuk area penalti.

Di lain pihak, sang tamu juga sedang menyusun rencana terbaik mereka untuk bertahan, walaupun secara kasat mata sulit dilihat demikian. Tata Martino memilih Iniesta untuk mengisi wide forward kiri, daripada Pedro atau Neymar. Sedangkan untuk mengisi gelandang kiri, pelatih asal Argentina ini memilih Cesc Fabregas. Posisi lain tidak ada perubahan dan klub Catalan ini bisa memainkan komposisi terbaik.

Terkait:  Fiorentina 4 - 2 Juventus: Conte Gagal Menangkap Perubahan Montella

Memakai Iniesta dan Fabregas bersamaan, Tata Martino mencoba membuat timnya memiliki jaminan untuk menguasai lini tengah. Dengan menumpuk pemain di tengah lebih banyak, dia berusaha mengurangi intercept pemain City karena posisi pemainnya bisa lebih rapat. Jaminan penguasaan bola inilah bentuk penyesuaian taktik dari Tata Martino atas kebutuhan untuk bertahan membendung serangan City. Saya menyebut ini taktik bertahan Barcelona karena memang mereka harus mengorbankan vertikalitas dan attacking width dengan terlalu banyak pemain bertipe pengumpan (passer) di tengah.

Dengan empat pemain di tengah dan hanya Alexis Sanchez yang menemani, Messi kesulitan mendapatkan ruang di antara blok pertahanan rendah City. Barcelona juga kehilangan peran Pedro sebagai runner yang biasa mengajak beberapa bek lawan pindah posisi dengan pergerakan off ball-nya. Sementara di kanan Sanchez tidak berperan banyak karena posisinya cukup statis, berbeda dengan role yang diberikan Guardiola di musim pertamanya di Barcelona. Tanpa runner yang cukup, sulit mengharap Messi bisa lepas dari pressure ketika mendapat bola, Iniesta selalu terlalu jauh di belakang untuk melakukan sprint ke depan.

Ketika tidak sedang menguasai bola, Barcelona kesulitan mengantisipasi serangan City dengan dua classic wingernya secara langsung atau tidak langsung. Ketika mereka coba menutup dua winger City yang mengambil posisi menyentuh touchline, berarti mereka memberi ruang yang luar bisa longgar bagi Yaya Toure, Silva dan Negredo untuk menusuk dari tengah. Toure selalu sukses menyelinap dari marking Fabregas dan membuat Busquets kesulitan menutupnya beserta Silva sekaligus.

Dilema lain ketika Barcelona mencoba merapatkan pertahanan di tengah, Crossing dari kedua sisi sayap City terus masuk dengan akurasi luarbiasa bagus, lima dari enam crossing menemui sasaran. Tidak heran jika Dani Alves harus berusaha dengan segala cara, termasuk pelanggaran berbuah kartu kuning untuk menutup Kolarov secepat mungkin ketika masuk areanya. Enam tembakan dan dua on target di babak pertama oleh City menjadi gambaran tersiksanya Barcelona ketika tidak menguasai bola. Pendekatan Pellegrini untuk menyeimbangkan kebutuhan menyerang dan bertahan lebih sukses daripada milik Tata Martino di babak pertama.

Terkait:  Chelsea 1 - 3 Atletico Madrid: Manuver Tak Terbendung Simeone Untuk Mourinho

Babak Kedua

Di awal babak kedua, klub berjuluk The Citizen ini tidak mau kehilangan momentum yang mereka dapat di babak pertama. City langsung mencoba melakukan pressing sejak bola di area lawan. Barcelona kesulitan keluar dari tekanan City jika harus melakukan build-up attack dari belakang. Dipaksa harus bertahan, Tata Martino sepertinya menemukan celah dari cara lawannya menyerang untuk memaksimalkan serangan balik yang didapat.

Tata Martino memanfaatkan mulai agresifnya Zabaleta untuk naik melakukan overlap ataupun pressing. Dia menginstruksikan pemain terdekat untuk selalu cepat melalukan sprint di belakang Zabaleta ketika melakukan counter attack. Di kesempatan pertama through pass Messi berhasil menemukan Fabregas bebas di dalam kotak penalti, namun sayang sentuhan pertamanya tidak sempurna. Di kesempatan kedua, Busquets berhasil menarik pressing Zabaleta atas Iniesta dan membebaskannya untuk melakukan through pass kepada Messi yang berujung pelanggaran oleh Demichelis.

Tertinggal satu gola dan kehilangan satu pemain tidak membuat Pellegrini menyerah begitu saja. Sisa waktu 30 menit rupanya tidak dipakainya untuk mempertahankan selisih satu gol dengan bertahan total, melainkan ingin menyamakan kedudukan walaupun kalah jumlah pemain. Beberapa perubahan menarik dilakukannya untuk membuat hal ini terjadi, ide ini berjalan cukup baik sampai akhirnya Dani Alves mencetak gol kedua di penghujung laga.

Pellegrini menarik kedua classic winger-nya dan memasukkan Lescott untuk menambal posisi Demichelis serta Nasri untuk mengisi sayap kanan namun bebas untuk bergerak ke tengah. Penyegaran dilakukan di posisi Negredo yang digantikan oleh Dzeko. Sedangkan Silva sekarang sedikit digeser ke kiri ketika bertahan. Dengan perubahan ini praktis City bermain 4-4-1 dengan dua winger yang terus bergerak ke tengah ketika menyerang.

Memakai skema ini ternyata City berhasil merepotkan Barcelona walaupun hanya memakai sepuluh pemain. Ketika melakukan counter attack, Silva dan Nasri yang bergerak masuk ke tengah membuat Dani Alves dan Jordi Alba kesulitan melakukan tracking. Jika mereka mengikuti ke tengah, fullback City di belakangnya langsung naik mengambil ruang kosong yang ditinggalkan untuk menyerang dari flank. City masih bisa mendapatkan tiga tembakan dan terlihat cukup berbahaya sampai akhir.

Terkait:  Definisi Ulang Peran Double Pivot Oleh Pellegrini Di Manchester City

Dua narrow winger yang dipakai City sekarang membuat Pellegrini harus merubah bentuk timnya ketika bertahan. Jika sebelum insiden kartu merah mereka memakai winger untuk mendapatkan defensive width ketika bertahan, kali ini City memakai Fernandinho untuk sangat dekat dengan bek tengah. Positioning Fernandinho ini dimaksudkan agar dua fullback lebih agresif melakukan pressing karena sekarang dua winger lebih ke tengah dan tidak selalu bisa melindungi mereka.

Taktik ini berhasil meredam Barcelona dengan hanya mendapat tambahan satu shot on goal, tapi tidak terlindunginya fullback memberi masalah serius kepada The Citizen. Ancaman terbesar ada di sisi Clichy karena Dani Alves agresif sekali naik. Di kesempatan pertama, Clichy dibuat bingung karena harus melakukan covering terhadap Sanchez dan Alves sekaligus. Alves berhasil masuk tidak terkawal dan sial tendangannya masih melenceng tipis. Kesempatan kedua berlangsung hampir serupa, namun kali ini Alves ditemani Neymar menyerang Clichy. Alves kembali lolos dan sekarang dia berhasil menjaringkan bola ke gawang Joe Hart.

Kesimpulan

Sebelum peluit awal pertandingan, game ini sudah menunjukkan bakal ada duel taktikal menarik dari perubahan yang dilakukan kedua pelatih. Pellegrini menunjukkan bahwa idenya lebih manjur dari milik Tata Martino di babak pertama. Tata tertekan di awal babak kedua namun keberhasilannya cepat menemukan celah di pertahanan City menentukan kesuksesan timnya di laga ini. Keberanian Pellegrini dengan mencoba mengejar gol dengan sepuluh pemain patut dipuji, taktik yang digunakan juga bisa dikatakan brilian. Tapi perjudiannya menjadikan peluang lolos City sangat kecil, statistik Liga Champions mengatakan 98% tim yang telah unggul dua gol di laga away fase knockout berhasil lolos babak selanjutnya.

Apa Pendapatmu?