List of feeds URL

Kenapa Timnas U-23 Kesulitan Memperbaiki Permainannya?

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Tinggal kurang dari dua bulan ajang Sea Games akan dimulai, tapi tim yang dipersiapkan oleh pelatih Rahmad Darmawan (RD) belum juga tampil meyakinkan. Dari sejak pertandingan ujicoba melawan Brunei, berlaga di ajang Islamic Solidarity Games, ujicoba melawan tim lokal seperti PSS Sleman dan Persibat Batang serta yang terakhir ujicoba melawan Timor Leste U-23, pasukan Garuda muda tidak berhasil meningkatkan level permainannya.

Note: Artikel ini adalah video analysis. Tanpa melihat video, akan sulit memahami keseluruhan ide yang coba disampaikan. 

Masalah Yang Ada

Sejak ditunjuk untuk menukangi tim ini, RD berulang kali mengeluhkan tentang performa lini depan yang seret dalam menghasilkan gol. Dalam setiap serangan yang coba dibangun, Timnas yang sering memakai satu striker selalu kesulitan memasukkan banyak pemain di dalam kotak penalti untuk menandingi superioritas jumlah bek lawan. Seperti ketika pertandingan melawan Brunei dimana Aldaeir yang berposisi sebagai gelandang serang terus bergerak ke flank dan meninggalkan Syamsir Alam sendirian di depan.

Di beberapa laga setelahnya RD terus mencoba pemain lain di posisi penyerang tengah, diantaranya adalah Sunarto, Aldaeir, Agung Supriyanto dan Fandi Eko Utomo. Tapi tak satupun dari mereka memenuhi kriteria striker yang diperlukan dalam sistem yang dibawa RD. Yang terakhir RD mencoba memasukkan Yandi Sofyan ke dalam timnya serta mencoret Syamsir Alam dan Agung Suprianto dari skuad Timnas Sea Games.

“Kita akan maksimalkan skuat yang ada. Skema tentu saja beda dengan dua tahun lalu, ketika kita ada sosok seperti Titus Bonai, Patrich Wanggai, Yongki Aribowo atau Ferdinand Sinaga,” ujar RD kepada salah satu media online nasional. “Dulu kita bisa memainkan pola kombinasi dan kerja sama satu dua, saat ini kita harus mengubahnya. Kemungkinan kita akan memainkan pola kombinasi,” tambahnya.

Melihat bagaimana RD menyusun Timnas Sea Games dua tahun lalu atau klub Arema musim lalu, sebenarnya cukup jelas jika dia membutuhkan striker yang mempunyai power cukup bagus seperti Patrich Wanggai, Yongki Aribowo, Greg Nwokolo ataupun Cristian Gonzales. Pola permainan yang dikembangkan pun untuk memaksimalkan tipe striker seperti itu, dengan bola direct cepat ke depan memanfaatkan power dari striker untuk menyelesaikan sisanya. Atau dengan mencoba masuk lewat flank dan menutup serangan dengan crossing.

Tapi dari semua pemain yang masuk seleksi untuk Sea Games tahun ini, RD tidak mendapati pemain dengan tipe seperti itu. Di pertandingan melawan Timor Leste ini Fandi Eko Utomo menjadi pilihan pertama sebagai penyerang tengah diapit Bayu Gatra di kiri dan Feri Pahabol di kanan dalam formasi 4-3-3. Kombinasi lain di babak kedua adalah Bayu Gatra, Feri Pahabol, Andik Vermansyah dan Aldaeir dalam formasi 4-2-3-1. Yang terakhir Andik Vermansyah, Aldaeir, Okto Maniani dan Sunarto juga memakai 4-2-3-1. Dari begitu banyak kombinasi pemain dan formasi yang dipakai, Timnas masih kesulitan membobol gawang Timor Leste.

Terkait:  Kerinduan Kepada Striker Brazil

Memaksa Masuk Lewat Flank

 

 

Melakukan build up serangan lewat fullback dan sayap tampak sekali terlihat dalam permainan Timnas U-23. Tercatat minimal 14 kali percobaan yang dilakukan dan gagal seperti dalam video. Timor Leste menggunakan 4-4-2 dengan tiga pemain belakang melakukan man marking terhadap tiga forward Timnas sedangkan satu pemain lagi bertindak sebagai sweeper untuk menyapu bola yang lepas. Di tengah dua winger mereka juga melakukan man marking terhadap dua fullback Timnas sejak build up serangan dilakukan.

Dengan pendekatan seperti ini Timor Leste selalu bisa mempersempit ruang jika Timnas mencoba masuk lewat flank. Kombinasi umpan cepat dan overlap dari fullback Timnas juga tercover dengan baik dan satu spareman di belakang sangat efektif memotong bola jika sedikit saja melewati man marking yang dipakai.

 

Permainan Direct Dan Cepat

 

 

Selain mencoba masuk lewat flank, Timnas juga mencoba menerapkan serangan langsung dengan tempo cukup cepat seperti di video. Model serangan pertama adalah dengan bola panjang yang coba dikirimkan dari belakang langsung ke trio pemain depan. Karena Timor leste menggunakan satu pemain belakang menjadi sweeper, mereka tidak menerapkan offside trap untuk bertahan. Sistem man marking dan sweeper yang dipakai Timor Leste menjadikan bola langsung Timnas menjadi sangat tidak efektif. Selain sulit menempatkan bola di belakang defensive line Timor Leste, ketiadaan striker dengan power yang cukup untuk duel udara membuat model serangan Timnas ini hanya membuang ball possession yang didapat.

Model serangan direct kedua adalah dengan mencoba melakukan kombinasi umpan cepat dari sayap ke penyerang tengah untuk melewati barikade pertahanan lini tengah dan masuk ke jantung pertahanan Timor Leste. Sekali lagi Timnas sering tidak berhasil overrun man marking lawan dan sweeper yang dipakai Timor Leste menyulitkan through pass yang coba dilepaskan. Di model serangan ini kecenderungan yang sangat tampak adalah Timnas mencoba menerapkan ini sejak bola masih di tengah dan belum masuk terlalu jauh ke pertahanan lawan.

Terkait:  Cardiff 3 - 2 Manchester City: Telat Panas Harus Dibayar Mahal Pellegrini

 

Tidak Memanfaatkan Lini Tengah

Dari dua video di atas bisa dilihat jika Timnas tidak coba memaksimalkan peran pemain tengah ketika menyerang. Padahal dari formasi yang dipakai kedua tim seharusnya Timnas unggul satu pemain di tengah baik ketika memakai 4-3-3 atau 4-2-3-1 karena Timor Leste yang memakai 4-4-2 hanya punya dua pemain sentral permainan.

Di video pertama saya coba freeze dan memberi tanda biru untuk pemain di tengah yang seharusnya bisa menjadi opsi umpan untuk lepas dari pressure di flank dan tanda merah untuk pemain di tengah yang tidak dalam posisi yang baik. Dari sekian banyak kesempatan, lebih banyak hadir pemain dengan tanda biru daripada merah, yang artinya sebenarnya penguasan bola bisa dijaga jika lebih baik dalam memutuskan arah serangan daripada terus memaksa masuk lewat flank yang berulang kali gagal dan mengganggu ritme yang coba dikembangkan.

Di video kedua juga menunjukkan Timnas kurang baik memakai pemain tengah untuk menyusun serangan. Di model bola panjang dari belakang ke depan yang dipakai sudah jelas membuat pemain tengah tidak terlibat dalam serangan. Sedangkan di model kombinasi umpan cepat vertical dari sayap ke depan menunjukkan mereka memilih cara yang sulit hanya untuk melewati lini tengah lawan. Serangan yang sangat prematur karena bola masih di sekitar garis tengah dan jauh dari gawang tapi sudah memakai opsi yang beresiko kehilangan bola. Posisi Ramdhani ataupun Rizky Pellu sendiri sebenarnya mudah ditemukan. Catatan dari Labbola sendiri menegaskan hal ini, pemain yang paling banyak melakukan passing di laga ini bukanlah pemain tengah tapi Bayu Gatra yang merupakan sayap kiri.

Bermain dengan hanya satu striker apalagi bukan bertipe poacher, seharusnya timnas menjaga ball possession dengan baik. Bahkan Arsenal yang memakai satu striker bertipe poacher seperti Giroud sekalipun akan mencoba menguasai ball possession lebih untuk mencegah permainan menjadi end to end. Dengan ball possession lebih banyak, Timnas bisa melakukan attack with numbers, menyerang dengan lebih banyak orang dan memperbesar peluang mencetak gol. Penguasaan bola yang lebih membutuhkan lebih banyak bola horizontal dan ini membutuhkan peran penting pemain tengah. Bola horizontal akan mendelay tempo dan memberi kesempatan pemain lain mengambil posisi menyerang yang bagus di area lawan.

Terkait:  Rahmad Darmawan Menguji Mourinho

 

Serangan Yang Berhasil Masuk

 

 

Di video serangan Timnas yang berhasil masuk di atas ada dua kesempatan di peroleh ketika Timnas mendapat break setelah pemain Timor Leste melakukan kesalahan. Sedangkan sisanya hasil dari build up serangan yang bagus dan perpindahan sisi serangan yang memaksa defence Timor Leste melakukan transisi. Tapi sayangnya skema seperti ini bukan skema utama serangan Timnas yang akhirnya terlalu sedikit peluang bersih yang tercipta untuk menjadi gol.

Skema serangan yang tersusun baik ini terlihat jelas bagaimana pemain tengah terlibat didalamnya. Dengan terlibatnya pemain tengah, peran kedua flank pun jadi lebih efektif daripada dari awal memaksa masuk lewat flank. Ketika bola berada di tengah, defence Timor Leste terpaksa menjadi narrow dan melepas man marking yang diterapkan. Hal ini membuat ruang yang cukup di kedua flank dan ketika fullback melakukan overlap, seringkali hanya dalam posisi 1 vs 1 dan punya kesempatan lebih baik untuk crossing daripada terjadi situasi 2 vs 2. Memindahkan sisi serangan yang banyak dilakukan oleh pemain tengah juga sukses menghasilkan lubang-lubang pada posisi yang menjanjikan di defence Timor Leste saat melakukan transisi.

Kesimpulan

Dari tiga video di atas sepertinya sudah jelas bagaimana seharusnya tim ini dibangun. Model serangan cepat yang dipakai sudah seharusnya ditinggalkan RD, karena memang skema yang dipakai tidak menggunakan dua striker yang bisa mendukung sistem seperti itu. Serangan dengan tempo cepat juga kelihatan lebih membingungkan tim sendiri daripada lawan karena pemain di lapangan terlihat tidak nyaman dengan tempo yang dipakai. Menyerang dengan tempo yang dikontrol dengan baik oleh pemain tengah terlihat sangat efektif dan cukup menjanjikan jika terus diasah.

Karena turnamen sudah dekat, ada baiknya tim pelatih Timnas U-23 segera memutuskan sistem dasar yang dipakai dan menajamkannya. Karena nanti detail-detail kecil yang ada di setiap laga dengan lawan yang mempunyai cara main beragam harus sempat dipikirkan karena akan sangat mempengaruhi hasil akhir.

 

2 Responses to Kenapa Timnas U-23 Kesulitan Memperbaiki Permainannya?

  1. muhammad faisal says:

    secara individu,pemain kita udah bagus
    tapi skema secara tim masih belum rapi

    • dribble9 says:

      Secara teknis skuad U23 ini memang mungkin yang paling bagus yang ada di kelompok usianya. Semoga permainannya segera membaik.

Apa Pendapatmu?