List of feeds URL

Juventus 2 – 2 Real Madrid: Membongkar Solid Defensive Block

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Jika melihat bagaimana kedua tim melakukan packing defensive block dengan dua baris yang sangat rapat dan tempo yang lebih lambat dari pertemuan sebelumnya, pertandingan ini bisa berjalan cukup ketat dan tanpa gol. Tapi beruntung kedua pelatih, Antonio Conte dan Ancelotti bisa menemukan celah di masing-masing defence lawannya dan membuat laga ini menghasilkan gol yang cukup banyak.

jm

 

Kedua pelatih masih memakai formasi 4-3-3 seperti di pertemuan mereka sebelumnya di Santiago Barnabeu. Keduanya juga melakukan perubahan, tapi perubahan yang dilakukan oleh Ancelotti lebih drastis dari yang dilakukan oleh Conte. Menyusul hukuman larangan bermain yang didapat Chiellini, Conte memasang Bonucci untuk berduet dengan Barzagli. Sedangkan Asamoah sekarang dipercaya untuk bermain sebagai fullback kanan karena eksperimen Conte dengan memakai Ogbonna sebelumnya, terhitung gagal.

Ancelotti merombak lini belakangnya dengan memasukkan Varane dan mencadangkan Arbeloa. Dengan susunan ini, Ramos sekarang menjadi fullback kanan, bukan lagi bek tengah. Ancelotti juga memberi tempat buat Alonso sekembalinya dari cedera panjang. Posisi gelandang bertahan memang salah satu posisi yang Ancelotti sendiri belum menemukan pemain yang pas. Di depan Bale menggantikan Di Maria setelah penampilan mengkilapnya melawan Sevilla dan Vallecano di liga lokal.

Masalah Defence Madrid

Kemasukan 10 gol dalam lima pertandingan terakhir menunjukkan betapa buruknya kinerja Madrid dalam bertahan. Kalau dilihat di laga ini, sebenarnya masalah defence Madrid ini bukan dari kiper, lini belakang ataupun lini tengah yang tidak mampu menjalankan tugasnya masing-masing. Masalahnya ketika mereka harus bertahan sebagai tim, mereka tidak bisa dengan baik menjalankan skema yang diinginkan Ancelotti.

Walaupun memakai 4-3-3 ketika menyerang, Madrid memilih 4-4-2 ketika bertahan dengan Benzema dan Ronaldo di depan. Skema bertahan seperti ini mungkin dimaksudkan agar tetap tajam ketika melakukan counter attack daripada harus memakai 4-5-1. Di babak pertama Madrid hanya melakukan high up pressing ketika Juventus melakukan short goal kick, selain itu mereka turun cukup dalam dan two bank of four-nya berusaha tetap compact di area sendiri. Role khusus disematkan kepada Benzema agar tetap menempel Pirlo. Tapi walaupun sering berdekatan, Benzema kesulitan mengikuti mobilitas Pirlo. Dia tidak bisa mencegah Pirlo menerima umpan ataupun mendikte permainan dengan umpan-umpannya.

Terkait:  Catatan Laga Timnas U19 Lawan Vietnam U19

Seperti saat melawan Barcelona, defensive block Madrid tidak melakukan pressing jika bola ada di depan mereka. Yang jadi masalah besar adalah bentuk pertahannya tidak bisa menutup lebar lapangan dan kesulitan mempertahankan bentuk jika ada pemain tengah Juventus bergerak masuk. Ketika Pogba dan Vidal mencoba masuk tanpa bola, terlihat banyak sekali lubang di depan backfour. Hal serupa juga terjadi ketika Juventus memindahkan sisi serangan dan menghasilkan banyak sekali peluang.

Di sisi lapangan yang lain terlihat jelas bentuk defence seperti apa yang diinginkan Ancelotti ketika Juventus sedang bertahan. Dengan sangat disiplin Juventus berusaha mempertahankan bentuk pertahanan dan defensive line dalam formasi 4-5-1. Walaupun jarang, beberapa kali pemain tengah tertarik untuk keluar dari posisi, tapi mereka cukup cepat untuk kembali ke posisi semula dan mempertahankan soliditas defence yang diterapkan. Tepat di tengah lapangan Madrid mencoba mengontrol serangan oleh Alonso, tapi tidak terlalu efektif karena Kheidira dan Modric kesulitan bergerak naik karena space yang terlalu penuh di depannya. Cukup statisnya Bale ketika tidak memegang bola juga berperan membuat serangan Madrid semakin buntu.

Pogba Workrate

Paul Pogba yang dipasang sebagai gelandang kiri bermain paling baik dari semua pemain di lapangan. Cukup baik ketika mengawal area kiri ketika bertahan. Tapi juga baik ketika harus naik untuk menyerang. Dia sangat cepat dan berusaha lepas dari Kheidira ketika melakukan counter attack.

Juventus menyerang lebih sabar daripada ketika bermain di kandang Madrid sebelumnya. Bola tidak langsung cepat dikirim ke Llorente atau Teves, disinilah peran Pogba dan Vidal sangat vital untuk melakukan link up. Pogba lebih cepat naik dari Vidal dan berusaha memberi ruang buat Teves. Pogba juga rajin turun lagi membantu Pirlo di tengah jika serangan di kiri buntu dan membantu memindah sisi serangan ke kanan. Kesabaran pemain Juventus inilah yang benar-benar membuat sulit defence Madrid yang terus terlihat berantakan menghadapi bola diagonal Juventus.

Terkait:  Menjadi Pemain Sepakbola Terbaik Dengan Visi Lebih Baik

Pogba adalah pemain pertama yang melakukan link up serangan Juventus di area lawan. Ketika dia naik, dia berusaha menekan Varane yang merupakan bek tengah. Kemudian bergerak ke flank menekan Ramos atau ke belakang menahan Kheidira. Dia melakukan semua dirty work untuk memberi Teves space buat cut in masuk ke tengah. Kombinasi mereka menghasilkan penalti ketika dia dilanggar Varane. Tapi sayang Teves yang menjadi rekannya di kiri bermain tidak maksimal dan membuang banyak bola.

Perubahan Madrid

Seperti kata Ancelotti setelah pertandingan usai jika pertahanan Madrid terlalu dalam, dia menginstruksikan pemainnya untuk melakukan high up pressing di babak kedua. Tidak lama taktik ini dipakai, Caceres langsung melakukan blunder seakan kaget dengan pressing Madrid yang tidak seperti babak pertama. Bola umpannya berhasil diintercept yang akhirnya menghasilkan gol penyama kedudukkan Madrid.

Conte dan pasukannya sedikit panik dengan situasi ini. Serangan mereka lebih direct dan malah tidak efektif. Juventus juga mencoba melakukan high up pressing untuk mengembalikan keunggulan dan meninggalkan 4-5-1 compact yang dipakai sebelumnya. Hasilnya mereka tidak bisa mengikuti kecepatan Madrid ketika melakukan counter attack dan kebobolan lagi.

Beruntung bagi Juventus karena Conte segera menyadari kesalahannya. Juventus kembali drop deep ketika bertahan dan mencoba lebih sabar ketika menyerang dengan lebih banyak bola horizontal dan diagonal. Llorente akhirnya menjadi penyelamat dengan gol yang diceploskan ke gawang Cassilas.

Tapi Juventus tidak lagi bisa dominan seperti babak pertama. Ancelotti membuat Madrid mengontrol serangan dari area yang lebih dalam. Situasi ini membuat sedikit kebingungan buat lima gelandang Juventus dengan positioningnya. Ketika mereka mencoba pressing naik, space di antara tengah dan bek terlalu lebar dan bisa dimanfaatkan oleh Madrid dengan baik.

Terkait:  PSG 2 - 1 Chelsea: Kemenangan Bermodal Narrow Attack

Kesimpulan

Sebenarnya Conte lebih berpeluang memenangi laga ini daripada Ancelotti. Semua taktiknya terlihat berjalan mulus dan bisa dengan baik mengontrol permainan di babak pertama. Tapi sekali lagi seperti ketika melawan Fiorentina, Conte kurang awas ketika lawan melakukan perubahan dan akhirnya bisa membalikkan keadaan. Di pertandingan ini terlihat jelas pada kepanikan anak asuhnya. Beruntung kali ini dia bisa lebih cepat membaca keadaan dan membuat Juventus kembali ke permainan awalnya serta terhindar dari kekalahan.

Apa Pendapatmu?