List of feeds URL

Indonesia U19 2 – 0 Filipina U19: Dominasi Penuh Tapi Minim Gol

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Timnas Indonesia U19 melalui pertandingan kedua babak kualifikasi AFC U19 Championship dengan mudah namun hasil yang diperoleh di luar ekspektasi. Ketika diharuskan menang dengan selisih lima gol dan hanya melawan Filipina yang kelasnya jauh dibawah, Garuda muda hanya berhasil mencetak dua gol sampai peluit akhir.

Di pertandingan kali ini Indra Sjafri tetap mempertahankan trio pemain tengah Hargianto, Evan Dimas dan Zulfiandi sebagai starter. Di depan tidak ada perubahan selain mencadangkan Maldini dan memakai Dinan di outside forward kanan. Di lini belakang cedera yang masih diderita M. Sahrul membuat Indra Sjafri kembali mendorong Putu Gede ke tengah dan Fahri Albaar kembali sebagai fullback kanan.

Jalannya pertandingan relatif mudah ditebak, Filipina akan kesulitan mengontrol lini tengah untuk menyerang dan berusaha meminimalisir gol yang akan mereka derita dengan turun jauh dan membendung Timnas di area mereka. Sudah agak lama Timnas tidak menemui lawan dengan gap kualitas yang jauh seperti ini. Terakhir Timnas bertemu lawan serupa ketika membantai Brunei Darussalam lima gol di laga pembukaan AFF.

Indra Sjafri pun sudah menyiapkan senjata perang anak asuhnya dengan dua fullback-nya kali ini bergantian naik sebagai solusi lebar lapangan, mainnya Fahri Albaar di kanan memungkinkan hal ini. Menghadapi lawan yang drop deep, Timnas sering melakukan tendangan jarak jauh, baik itu oleh pemain tengah ataupun pemain depan. Dari total 31 tembakan yang dilakukan, 17 diantaranya dilakukan dari luar kotak penalti.

 

Lini Tengah Terkunci

Tapi kenyataan di lapangan tidak berjalan semudah yang dibayangkan, detail-detail kecil yang terjadi ternyata menyulitkan Timnas untuk membuat banyak gol di pertandingan kali ini. Bertahan dengan 10 pemain, Pelatih Filipina Marlon Manos menyusunnya dengan formasi 4-1-4-1. Satu gelandang bertahan bertugas melindungi backfour-nya dari tiga forward Timnas, khususnya melapis fullback-nya jika salah satu fullback Timnas naik.

Terkait:  Cardiff 0 - 3 Arsenal: Cardiff Bermain Seperti Yang Diinginkan Wenger

Yang menyulitkan adalah positioning dari empat gelandang di depannya yang selalu berusaha di depan trio gelandang Timnas, Hargianto, Zulfiandi dan Evan Dimas. Ke empat pemain ini tidak terlalu agresif untuk merebut bola, mereka hanya berkonsentrasi dengan ruang diantara mereka agar tidak longgar. Itulah mengapa Timnas bisa menikmati ball possession sangat lama.

Masalah yang timbul dari kondisi ini adalah ketika Trio lini tengah Timnas telah diberi lisensi untuk melakukan tendangan jarak jauh, sedangkan Filipina dengan sangat baik melakukan covering dan membuat ruang tembak itu benar-benar crowded. Total pemain tengah melakukan 16 kali tembakan, sedangkan pemain depan hanya 11 kali. Dari 16 tembakan itu hanya lima kali mereka dalam ruang yang ideal untuk menembak, sisanya lebih karena dipaksakan.

Kekurangan Runner

Timnas memainkan sepakbola yang sangat cantik dengan intensitas passing sangat tinggi. Tapi sudah jadi rahasia umum kalau permainan seperti ini jadi mubadzir jika tidak ada pemain yang memainkan peran sebagai runner di belakang defence lawan untuk membuka ruang tembak dan dimensi serangan baru. Disinilah pemilihan Zulfiandi yang cenderung sebagai pembagi bola layak dipertanyakan. Ketika membantai Brunei sebelumnya, Indra Sjafri memiliki seorang Al Qomar yang bisa mengimbangi peran Evan Dimas yang sudah sebagai pembagi bola. Ketika dominasi sudah di depan mata, tentu kurang bijak memainkan dua playmaker sekaligus.

Selain tidak adanya runner dari lini tengah, Timnas juga kehilangan peran yang dimainkan oleh Muchlis Hadi sebagai pemain number 9. Muchlis lebih sedikit bergerak turun daripada ketika melawan Brunei, di pertandingan kali ini dia bisa dibilang statis. Tapi masalah sebenarnya buat Timnas, dia tidak melakukan tugas sebagai penyerang tengah yang terus mencoba cari ruang diantara bek lawan. Ada satu momen ketika pemain yang mengawal dia sudah naik menutup Zulfiandi dan bola diberikan kepadanya, Muchlis masih mengembalikan bola ke belakang lagi padahal dia sudah berdiri bebas. Tapi bukannya Muchlis tidak berperan apapun, pergerakannya dalam prosesi gol kedua membuat kiper bingung dan membantu Yabes Roni mencetak gol.

Terkait:  Definisi Ulang Peran Double Pivot Oleh Pellegrini Di Manchester City

Paulo Sitanggang

Paulo Sitanggang kembali masuk sebagai pemain pengganti sama seperti laga sebelumnya dan dia juga masih memainkan peran yang sama dengan terus di depan Evan Dimas. Menggantikan Zulfiandi dan lebih dinamis bergerak naik terutama ke kanan, Paulo adalah solusi runner yang sebenarnya lebih dibutuhkan Timnas di laga ini daripada Zulfiandi.

Pergerakan Paulo ke kanan mengacaukan marking fullback kiri Filipina, Crestal terhadap outside forward Timnas terutama ketika Yabes Roni masuk menggantikan Dinan. Berkali-kali Yabes tidak terkawal dan membahayakan gawang Filipina. Kombinasi Paulo dan Yabes akhirnya juga memberi Timnas satu gol tambahan di akhir pertandingan.

Kesimpulan

Pertandingan melawan tim yang bertahan total memang bisa mudah bisa sulit, kebetulan di laga kali ini Marlon Manos selangkah lebih baik dari Indra Sjafri dalam menebak jalannya pertandingan. Selain itu dari 31 tembakan, hanya 13 on target dan hanya dua gol membuat kekurangan lama Timnas tentang conversion rate yang buruk muncul lagi. Pertandingan lawan Korea Selatan tentu peluang yang didapat lebih sedikit, jika tidak efisien seperti ini akan sangat merugikan.

 

Note: Lihat video untuk menyaksikan semua peluang dan gol di pertandingan ini.

 

Apa Pendapatmu?