List of feeds URL

Ide Baru Ancelotti Untuk Real Madrid

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Ancelotti melatih Real Madrid dan mewarisi hampir semua pemain dan tim yang dulu pernah dibangun oleh Mourinho. Kita akan coba mendalami apa yang diinginkan Ancelotti dari skuad ini dari pre season terakhir mereka melawan Chelsea yang kebetulan sekarang diasuh Mourinho.

Formasi

image

Ada empat pemain baru yang didatangkan Madrid di musim panas ini, Illaramendi, Isco, Carvajal dan Casemiro. Tapi best eleven yang diusung Ancelotti tetap seperti yang dulu dipakai Mourinho, kecuali Isco yang menggantikan Di Maria. Dengan pemain yang hampir sama dengan yang biasa dipakai Mourinho dengan 4-2-3-1, Ancelotti menyusunnya dengan skema versinya sendiri, 4-2-2-2 atau 4-4-2.

Backfour tetap dipercayakan kepada kuartet Marcelo, Ramos, Pepe dan Arbeloa. Sedangkan double pivot diperankan oleh Modrid dan Kheidira. Satu level diatasnya, Don Carlo merombak menjadi lebih narrow dengan Ozil dan Isco yang tetap di tengah. Ronaldo dan Benzema di depan berdiri hampir selalu selevel.

Selain ini formasi yang sering dipakai Ancelotti ketiika dulu di Milan dan PSG, formasi ini juga menutupi beberapa kelemahan yang dulu ada di Madrid versi Mourinho.

 

Menyerang

image

Walaupun Modric dan Kheidira posisi awalnya hampir sejajar sebagai double pivot, tetapi mereka berdua mempunyai peran berbeda. Modric lebih dinamis sedangkan Kheidira lebih statis.

Disaat buildup attack Modric bisa turun sejajar dengan dua CB, Pepe dan Ramos. Isco turun sejajar dengan Kheidira dan mendorong dua fullback agak naik. Chelsea yang memakai 4-3-3 kesulitan untuk pressing Madrid dari atas. Dengan dua fullbacknya lebih ke depan, Madrid unggul pemain 4 vs 3 di tengah.

Kalau bola bisa ke depan, Modric akan naik lagi sejajar dengan Kheidira dan Isco sejajar dengan Ozil. Situasi ini juga menciptakan triangle yang solid antara Isco, Ozil dan Modric di lini tengah. Chelsea juga kalah pemain 3 vs 4 di kondisi ini karena Ronaldo dan Benzema mengambil posisi sama-sama di flank, mereka menahan dua fullback Chelsea untuk tidak ikut pressing. Sedangkan dua winger Chelsea, Oscar dan Hazard sudah mempunyai tugas menutup Marcelo dan Arbeloa.

Bermain dengan midfielder narrow alias tanpa winger, Madrid berhasil mendominasi lini tengah. Hal ini tentu sangat berbeda dengan yang dibentuk Mourinho dulu dengan dua winger dan satu second striker. Mourinho memang gemar dengan pola satu striker jangkar sebagai mercusuar yang dikelilingi tiga AM yang fluid. Sedangkan Ancelotti selain di Chelsea dulu, lebih sering memakai formasi narrow 4-4-2 diamond, 4-3-2-1 dan juga 4-2-2-2 seperti ini.

Dalam laga ini hampir tidak bisa ditemukan Ozil dari tengah bergerak ke flank dan menyisir touchline. Ronaldo juga tidak selalu di kiri seperti musim lalu. Dia memiliki free role dan sering switching position dengan Benzema di tengah, kanan atau kiri. Solusi lebar lapangan sebagai kekurangan formasi narrow seperti ini coba diperankan oleh dua forward yang memulai attack di flank dan juga Marcelo yang secara konstan naik.

 

Bertahan

image

Musim lalu menjadi musim yang buruk buat Mourinho karena hampir tanpa gelar. Puasa gelar Liga Champions harus bertambah panjang setelah takluk oleh Dortmund di semifinal. Dengan formasi 4-2-3-1, kelemahan yang paling mencolok adalah ketika Madrid harus melawan tim dengan power yang bagus dan gemar memakan habis lawannya di flank. Adalah Ronaldo yang sering menjadi sasaran cacian karena malas turun untuk membantu fullback yang sedang di overload lawan.

Terkait:  Oman U19 Memaksa Timnas U19 Menaikkan Level

Dengan formasi menyerang 4-2-2-2, Ancelotti dengan mudah memilih formasi 4-4-2 ketika harus bertahan. Dengan pola ini Ronaldo tak harus ikut turun jauh membantu Marcelo. Ozil dan Isco turun selevel dengan Modric dan Kheidira untuk membentuk two banks of four.

Formasi bertahan Madrid ini cukup solid. Jarak dari dua lapis pertahanannya cukup rapat. Defence line juga naik turun dengan cerdas untuk mengurangi space yang dimiliki pemain Chelsea. Ketika Chelsea bisa menembus lewat sayap, Kheidira lebih dekat dengan dua CB daripada Modric untuk antisipasi crossing.

Kesimpulan

Dengan banyak pemain yang memiliki karakter hampir mirip dengan Milan dulu, Ancelotti mempunyai alasan yang kuat untuk menghidupkan kembali skemanya di Madrid. Skema yang berhasil membuat Milan mendominasi Eropa di pertengahan dekade 2000-2010 dengan hampir berhasil memboyong tiga gelar Liga Champions.

Skema ini juga possession based, tidak aneh jika Chelsea kalah possession di laga ini. Madrid mungkin akan memiliki ball possession lebih banyak daripada musim lalu yang dicatat Whoscored hanya di urutan ke empat terbaik dengan 55.7% ball possession per laga di La Liga.

Tapi dari laga tersebut juga tampak kekurangan dari skuad Madrid untuk mengaplikasikan skema ini. Dengan midfielder narrow, Milan dulu mempunyai dua fullback yang sangat agresif dan konstan naik seperti kombinasi Cafu – Maldini atau Jankulovski – Oddo. Di Madrid hanya Marcelo yang agresif naik, sedangkan Arbeloa lebih sering di belakang. Serangan Madrid jadi tidak berimbang, dua open play goal hanya berawal dari sisi kiri. Pengganti Arbeloa, Carvajal juga belum begitu kelihatan kalau dia se-agresif Marcelo.

Apakah Ancelotti bisa menuai sukses dengan formasi ini? Entahlah, karena ini sepakbola.

Apa Pendapatmu?