List of feeds URL

Garuda Jaya Terburuk Yang Pertama Dan Semoga Yang Terakhir

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Timnas Indonesia U19 berhasil menampilkan performa tidak istimewa saat menghadapi Myanmar. Laga eksebisi dalam rangkaian persiapan menuju ajang Piala Asia U19 ini menggambarkan sejelas-jelasnya bahwa Garuda Jaya bisa dijinakkan jika lawan main dengan cara yang tepat, walaupun hanya berisikan pemain yang satu level di bawah secara kualitas. Timnas memulai dengan komposisi yang kurang tepat, merespon dengan kurang pas dan menutupnya dengan emosi berlebihan.

Pertandingan berawal manis, dengan gol cepat Muchlis Hadi memanfaatkan kurang rapinya Myanmar menyusun jebakan offside. Tapi setelah momen itu, anak asuh Gerd Friedrich Horst tersebut mengambil kontrol bagaimana game dimainkan, tanpa Timnas mampu merebutnya lagi sampai peluit akhir berbunyi.

Bentrok dua tim ini adalah contoh yang tepat untuk menunjukkan bahwa tim yang lebih fleksibel dalam pendekatan taktik, mempunyai peluang lebih besar untuk menang. Di pertemuan sebelumnya, Timnas berhasil mengalahkan Myanmar dengan skor 2-1 karena mau merubah high press yang dipakai kala itu, dengan drop deep dan coba meraih ruang di belakang bek mereka dengan umpan panjang. Begitu pula di laga ini, tapi dengan fleksibilitas lebih yang sekarang ada di tangan Myanmar.

Friedrich Horst membuat timnya melakukan high press di awal sampai babak pertama berakhir. Mereka berhasil membuat barisan tengah dan belakang Timnas sangat tidak nyaman dengan tekanan ini, sampai akhirnya mendapat gol balasan. Pressing membabi buta Myanmar sejak Timnas menyusun serangan dari bawah, membuat Garuda Jaya terus melakukan kesalahan demi kesalahan di belakang. Yang paling fatal dilakukan oleh Hansamu Yama, ketika dia salah mengambil posisi untuk melakukan pressing terhadap Yan Naing Do yang akhirnya berhasil memberikan assist untuk Aung Thu.

Terkait:  How The Engine Work? Indonesia U19 2013

Tidak mampu mengembangkan permainan di babak pertama, frustasi mulai menggerogoti mental Timnas dan mulai melakukan beberapa tackle kasar. Bahkan ketika pertahanan Myanmar mulai turun di babak kedua, Garuda Jaya tidak berhasil menemukan lagi winning rhythm seperti yang selama ini memberi mereka kesuksesan. Tidak tampak lagi sirkulasi bola di tengah yang cukup sabar dan lama, sehingga anak asuh Indra Sjafri gagal membebaskan winger mereka di flank dalam posisi 1 vs 1, yang membuat peluang-peluang yang didapat tidak terlalu nyaman untuk dieksekusi menjadi gol.

High Press Vs Timnas U19

Evolusi yang dilakukan Indra Sjafri terhadap cara main Timnas, membuat timnya berubah menjadi mesin-mesin otomatis yang bisa diandalkan di hampir semua laga. Pelatih kelahiran Lubuk Nyiur, Batang Kapas ini sekarang memakai rentetan umpan untuk menjadi urat nadi permainan. Skema passing yang mereka miliki sangat licin dan mematikan, sampai bisa dijadikan modal awal untuk membekap tim yang diatas kertas lebih baik.

Lanjut halaman: 1 2 3 4

Apa Pendapatmu?