List of feeds URL

Final ISL 2014: Duel Dua Tim Yang Sama Brilian Ketika Tertinggal

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Drama tersaji di stadion Jakabaring Palembang mengiringi ditasbihkannya Persib Bandung menjuarai ISL edisi 2014. Persib dipaksa Persipura Jayapura bersusah payah berduel sampai adu penalti sebelum mengakhiri dahaga panjang 19 tahun sebagai yang terbaik di tanah air.

Maung Bandung bisa mengakhiri laga final ini lebih cepat jika mereka mau, setelah bek Persipura, Bhio Paulin, diusir wasit akibat dua kali mengganjal dribbling Ferdinand Sinaga. Tapi yang terjadi di lapangan tidak sesederhana itu. Keunggulan jumlah satu pemain oleh Persib berhasil dinihilkan oleh Persipura dan lambat laun justru permainan Persib yang semakin tenggelam.

Pertarungan di lapangan menyajikan semuanya yang ingin kita lihat di partai final. Mental, emosi dan fisik pemain  diadu dalam game berdurasi lebih dari 120 menit. Tidak ketinggalan juga duel taktik yang lumayan rumit untuk level liga Indonesia, antara Djajang Nurjaman melawan Mettu Duaramuri.

Persipura akhirnya dipaksa takluk lewat adu penalti dengan gagalnya eksekusi Nelson Alom.

Starter Kedua Tim

persib vs persipura

Persib Bandung menurunkan pemain yang hampir sama persis dengan ketika mereka mengalahkan Arema di semifinal. Satu perbedaan terletak digantikannya M. Taufiq dengan Hariono untuk mendampingi Firman Utina sebagai double pivot di depan empat bek.

Pendekatan Djanur (panggilan Djajang Nurjaman) ini sedikit berbeda dengan skema mereka di delapan besar. Sebelumnya, tiga pemain tengah ini sering dimainkan bersama untuk mendampingi Konate Makan yang sudah mendapatkan satu posisi permanen. Namun, sepertinya Djanur ingin mengakomodasi role M. Ridwan yang kembali bisa dimainkan.

Dengan memainkan Ridwan berarti Djanur ingin kedua winger aktif dari pada salah satu flank diisi bergiliran antara Firman dan Konate. Sisi positifnya, Persib memiliki natural width setiap kali menyerang, sekaligus juga hanya memakai tiga gelandang di tengah sebagai dampak negatif.

Di pihak lawan, Persipura juga tidak melakukan banyak perubahan pemain dari game mereka sebelumnya melawan Pelita Bandung Raya. Yustinus Pae dan Ruben Sanadi langsung menjadi pilihan utama lagi setelah sebelumnya absen. Sedangkan kiper asal Korea Selatan, Yoo Jae Hoon, masih harus menepi karena batasan penggunaan pemain asing.

Duaramuri masih merasa perlu untuk meneruskan skema warisan Jacksen F. Tiago, dengan menguasai area tengah memakai banyak pemain. Mutiara Hitam memakai 4 gelandang dan dua diantaranya pemain asing dalam formasi 4-3-1-2. Dengan komposisi ini, lini tengah Persipura menjadi jaminan akan penguasaan bola siapa pun lawannya di ajang ISL.

High Defensive Line Test

Kedua klub sama merupakan ball possession based team yang menjadikan penguasaan bola sebagai nyawa permainan. Tidak salah juga karena keduanya berisikan pemain-pemain tengah terbaik di liga. Tapi fakta babak pertama berbicara lain. Justru serangan balik adalah fitur paling mematikan bagi masing-masing.

Sudah jadi hukum alam jika membangun tim di atas pondasi ball possession, maka pemain bertahan harus lah memiliki kecepatan yang baik karena seringkali akan memainkan high defensive line. Dan kebetulan kedua finalis ini sama-sama tidak bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut.

Persipura unggul dini ketika Ian Louis Kabes menang adu cepat melawan Vladimir Vujovic dan Achmad Jufriyanto sejak garis tengah. Persib cepat membaca hal ini dengan tidak lagi memakai garis pertahanan tinggi, walaupun akhirnya harus mengorbankan ball possession. Setelah momen tersebut, mereka kembali ke format standar musim ini, defensive line langsung turun ke kotak penalti jika bola terlepas.

Terkait:  Cardiff 0 - 3 Arsenal: Cardiff Bermain Seperti Yang Diinginkan Wenger

Sama dengan di pihak berlawanan, Persib terus menghajar Persipura dengan memberikan bola diagonal ke Ferdinand Sinaga yang selalu bergerak dari tengah ke flank kiri ketika mengawali serangan balik. Persib tidak mendapat gol dari prosesi ini, tapi mereka sukses memaksa Persipura mendulang banyak kartu, termasuk akumulasi dua kartu kuning Bhio Paulin atas dua pelanggaran yang sama-sama kepada Ferdinand.

Ketidak mampuan para bek untuk bertahan dengan area kosong luas di belakangnya memang sepertinya sudah jamak terjadi di liga lokal. Dengan begitu, sangat jarang kita temui tim yang melakukan high block ketika bertahan, apalagi high press yang lebih ekstrim.

Hal yang sama juga menjadi penyebab tersingkirnya Persipura dari semifinal AFC Cup ketika bertemu Qadsia SC. High block yang disusun tidak pernah rapat karena defensive line tidak berani naik dan berusaha rapat dengan lini tengah, yang akhirnya selalu menghasilkan ruang kosong di depan bek.

Persipura Unggul 4 vs 3 Di Tengah

Selain untuk fase counter attack, Persipura menguasai penuh jalannya babak pertama. Hal ini didukung juga oleh Persib yang tidak lagi mau menaikkan garis pertahanannya, sehingga bola lebih sering bergulir di area mereka.

Persipura relatif nyaman di tengah dengan keunggulan jumlah satu pemain. Apalagi di satu pos gelandang Persib dihuni oleh Firman Utina yang mendampingi Hariono. Firman relatif pasif di tengah ketika bertahan dan hanya coba melindungi dua bek tengah di belakangnya. Sedangkan Hariono menjadi pemain terpenting di fase ini karena tidak pernah berhenti bergerak untuk terus mengikuti horizontal play sang lawan.

Duet Firman dengan Hariono relatif lebih solid dari pada dengan Taufiq, karena ternyata Djanur menginginkan Firman menjadi deep lying playmaker dari pada double pivot. Hariono yang bertipe destroyer lebih cocok untuk tugas ini dari pada Taufiq yang lebih elegan.

Selain Hariono, dua sayap Ridwan dan Tantan juga memegang peranan penting ketika bertahan. Tantan kadang turun sangat jauh melengkapi backline menjadi lima pemain. Sedangkan Ridwan tidak terlalu dalam turun, tapi sering bergerak masuk dan semakin merapatkan barisan tengah.

Model defence melebar di belakang dan merapat di tengah ini berhasil mencegah Persipura mendapat peluang di dalam box. Hal yang terpenting dari situasi ini, Persipura tidak mendapatkan sama sekali momentum untuk mulai masuk bersama ke dalam kotak penalti. Hole punch adalah trigger untuk inisiasi proses serangan Persipura, tapi Persib yang rapat di tengah minim sekali menghasilkan lubang.

Efek lainnya dari rapat di tengah adalah flank akan relatif terbuka dan Persipura akan selalu terpancing mengantar bola ke area itu. Tapi backline Persib yang melebar bisa cepat mencegah bola agar tidak masuk terlalu jauh lewat flank. Kemudian Persipura selalu terjepit jika defence Persib bergerak ke area itu ketika melakukan transisi horizontal.

Terkait:  Moyes Sukses Membuat Guardiola Tidak Tampak Jenius

Gambaran paling jelas dari situasi ini bisa dilihat dari positioning Robertino Pugliara yang lebih sering di flank dari pada di depan box. Tapi memang bukan masalah serius bagi Persipura karena memang waktu itu masih unggul, sampai bencana di akhir babak pertama mengubah peruntungan mereka.

Duel 10 vs 11

Keputusan cukup berani dilakukan oleh Duaramuri dengan tidak melakukan pergantian pemain setelah Bhio Paulin diusir pengadil. Dengan singkat Persib berhasil memaksimalkan situasi ini melalui gol Ridwan di menit 52. Tidak jelas siapa yang menggantikan peran Bhio karena lubang sangat jelas terlihat sebelum gol kedua Persib tercipta.

Setelah kecerobohan taktikal ini, Persipura baru melakukan perubahan di menit 62. Selanjutnya kita disuguhi peragaan luar biasa dari sang juara bertahan soal taktik, mental dan workrate, dalam misi hampir mustahil, 10 melawan 11 dengan situasi tertinggal.

Ian Kabes dan Gerard Pangkali keluar dan digantikan oleh Ferinando Pahabol dan Jaelani Aray. Nama terakhir mengisi fullback kanan dan menggeser Yustinus Pae untuk berduet dengan Dominggus Fakdawer di jantung pertahanan.

Robertino bermain dua peran kali ini dengan juga merangkap pos yang ditinggal Pangkali. Sedangkan sang kapten, Boaz Salosa, sekarang lebih sebagai trequartista dari pada left forward seperti sebelumnya. Pahabol bermain paling depan, namun cenderung ke kanan sebagai forward. Jadilah Persipura bermain 4-3-1-1 dengan hanya memakai satu flank.

Bermain hanya di satu sisi flank, sukses membuat Persipura untuk menghindari duel yang tidak perlu. Dengan cara ini mereka bisa menghiraukan kalahnya jumlah pemain dengan hanya berkonsentrasi menyerang di satu area. Situasi ini juga membuat mereka tidak lagi bergantung kepada horizontal play, yang di babak pertama relatif tidak bekerja.

Di pihak Maung Bandung, mereka justru tidak memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk memainkan ball possession sebagai upaya membunuh game. Mereka justru masih bertahan dengan posisi dalam dan mengandalkan serangan balik, walaupun secara kasat mata Persipura sekarang hanya memakai satu forward. Apalagi jika dilihat lebih detail, Persipura sebenarnya tidak memiliki pemain sayap ketika bertahan, yang tentunya menjadi makanan empuk para winger Persib jika menyerang.

Pahabol menjadi key player untuk Persipura karena dia lah pemain paling depan buat Persipura dan positioning darinya lah yang menentukan kemana arah serangan timnya. Selain itu sepertinya Pahabol tidak cukup jika hanya dikawal satu pemain saja.

Momentum datang ketika Tantan yang sebelumnya sangat efektif untuk bertahan, digantikan oleh Atep. Situasi ini memberi banyak kesempatan bagi Pahabol untuk terus menikmati duel 1 vs 1 melawan Tony Sucipto di area kanan. Satu gol balasan berhasil diciptakan Persipura, berawal dari tarian Pahabol di area ini dan diselesaikan oleh Boaz Salosa. Tidak ada pergantian pemain lagi dari Persib setelah ini.

Terkait:  Orkestra Tiki-Taka Yang Tidak Indah Di Camp Nou

Variasi Serangan Persib, Vujovic Striker?

Selepas waktu normal, Persipura tidak lagi melanjutkan strategi brilian seperti sebelumnya. Sepertinya mereka tidak lagi memiliki energi untuk mengulangnya dan memilih bermain bertahan dan melakukan serangan balik.

Boaz sekarang lebih turun dan menjadikan mereka bermain 4-4-1. Sedangkan Pahabol tidak lagi hanya di flank. Pemain mungil tersebut sekarang memulai di tengah dan bergeser ke flank jika umpan panjang dilepas rekannya di belakang. Rencana ini jauh dari efektif, namun taktik juga harus mengakomodasi sisa stamina pemain sebagai eksekutor.

Persib sekarang bisa keluar menyerang dan berusaha memburu gol di 30 menit tambahan. Djanur sama sekali tidak memasukkan amunisi baru untuk membantu upaya timnya. Entah instruksi ataupun inisiatif sendiri, Vujovic jadi lebih sering di kotak penalti Persipura untuk ikut menyambut crossing.

Mungkin bukan rencana yang buruk, mengingat tinggi Vujovic yang menjulang. Juga di belakang justru diperlukan pemain yang lebih cepat untuk mengantisipasi kecepatan Pahabol yang seorang diri. Tapi sayang Vujovic melakukan kesalahan yang tidak perlu yang membuatnya diusir wasit dan akhirnya membuat Persib terpaksa pasrah harus melewati adu penalti.

Kesimpulan

Kedua tim melakukan duel 120 menit yang menguras semua kualitas yang mereka miliki. Masing-masing memainkan taktik yang brilian di fase tertentu, namun melakukan blunder di fase yang lain.

Permainan pasif Persib ketika sudah unggul skor dan pemain patut dipertanyakan. Mereka bisa menang dengan cara yang lebih mudah jika lebih memanfaatkan keunggulan jumlah pemain di waktu yang tersisa. Beruntung mereka memenangi adu penalti. Jika tidak, pertanyaan tentang pendekatan ini akan terus menghantui Djajang Nurjaman.

Respon Persipura setelah tertinggal patut diacungi jempol karena tidak banyak dilakukan tim lain yang memiliki situasi serupa. Kalah jumlah pemain ternyata tidak harus direspon dengan bertahan total selayaknya sudah ditakdirkan kalah. Yang diperlukan hanya memilih area duel yang tepat dan juga memakai pemain yang sesuai.

Kedua tim adalah wakil Indonesia di ajang antar klub Asia musim depan. Kualitas penguasaan bola masih bisa diadu dengan wakil negara lain, tapi masih selalu kalah dalam hal intensitas di lini tengah. Di liga lokal hal ini tampak biasa saja, tapi di level yang lebih tinggi, hal ini membuat semua serba salah karena main bertahan pun terlihat ringkih.

Harapan saya, mereka mulai membangun tim dengan defensive line yang lebih fleksibel, yang bisa naik ataupun turun menyesuaikan kerapatan dengan lini tengah. Intensitas pemain tengah menjadi drop jika area main terlalu luas, dan di sini lah fungsi defensive line untuk mengontrol area tersebut.

Akhirnya, selamat buat Persib Bandung, angkat topi buat Persipura.

Apa Pendapatmu?