List of feeds URL

Barcelona 2 – 1 Real Madrid: Barca Menikam Madrid Yang Masih Mencari Bentuk

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

El Clasico pertama musim ini berjalan lebih menarik secara permainan walaupun masing-masing tim dinahkodai pelatih baru, Carlo Ancelotti dan Tata Martino. Keduanya sama-sama banyak melakukan in-game change tactics, tapi Barcelona yang lebih terstruktur bisa menekuk Madrid walaupun tidak dengan mudah.

bm

Kontes yang cukup menarik yang ditampilkan oleh dua pelatih baru, terutama dari formasi dan line-up Carlo Ancelotti. Ini kali ketiga Ancelotti memakai 4-3-3 untuk menyusun permainan Madrid, mereka juga menggunakan formasi yang sama di laga sebelumnya ketika melawan Juventus. Yang unik adalah ketika Sergio Ramos di posisikan sebagai gelandang bertahan dan juga pemilihan Carvajal daripada Arbeloa di fullback kanan untuk menghindari Neymar overrun di posisi itu. Di depan seperti yang sudah diprediksi, Bale akan menemani Ronaldo dan Di Maria.

Dari Tata Martino yang menarik adalah pemilihan Fabregas daripada Alexis Sanchez sebagai pelengkap Messi dan Neymar. Di awal laga Messi diplot sebagai outside forward kanan dan bukan lagi sebagai false 9. Cukup beralasan karena di beberapa El Clasico terakhir positioning Messi sebagai false 9 bisa tercover dengan baik oleh Madrid, seperti ketika Mourinho menempatkan Pepe sebagai gelandang bertahan. Kebetulan Ancelotti juga memakai pendekatan serupa, Tata Martino memberi peran Fabregas sebagai false 9 dan Messi di kanan menyerang sisi terlemah Madrid yang dihuni Marcelo.

Neymar Role

Bermain dengan banyak bola horizontal tanpa memakai pemain seperti Alexis Sanchez sebagai forward runner tentu bukan taktik yang bagus. Tapi beruntung Tata Martino mempunyai Neymar yang mampu diberi peran itu tanpa dia harus meninggalkan peran utamanya sebagai outside forward kiri. Peran baru Neymar serupa dengan peran Sanchez, tapi ada sedikit perbedaan dalam aplikasinya. Kalau Sanchez lebih diutamakan untuk menarik pemain belakang lawan out of position dan memberi ruang masuk buat Messi, Neymar lebih sebagai opsi umpan ke depan dan menyelesaikannya sendiri.

Neymar bergerak sporadis dari kanan ke tengah sampai kiri dan terus menguji offside line Madrid. Bukan karena posisi pemain Madrid yang buruk ketika penyusun offside trap, tapi timing Neymar ketika berlari sangat bagus sehingga sering lolos. Neymar memanfaatkan space yang dibuat Fabregas ketika turun dan menarik Pepe keluar dan juga ketika Iniesta menusuk naik dan menarik Carvajal masuk seperti momen gol pertama Barcelona.

Di sisi lain movement Messi sebagai outside forward kanan ternyata tidak terlalu eksplosif. Dia sering mulai cut-in masuk ketika masih jauh dari kotak penalti dan mengembalikan bola ke tengah. Marcelo cukup baik melakukan marking terhadap Messi, sejak dari tengah ketika Messi membawa bola sudah langsung berhadapan dengan Marcelo. Hanya sekali Messi lolos dan tendangannya melenceng. Tapi efek buruknya buat Madrid, Marcelo tertahan di belakang ketika mereka menyerang.

Terkait:  Inter Milan 0 - 3 AS Roma: Efisiensi Permainan AS Roma

Pressing Madrid

Babak pertama pressing yang dilakukan Madrid tidak terorganisir dengan baik. Tiga forward Madrid seperti kebingungan harus menekan siapa, antara backfour atau gelandang Barcelona. Beberapa kali ketika mereka mencoba melakukan pressing terhadap Pique maupun Mascherano, bola masih saja lolos karena di belakang mereka tidak melakukan pressing terhadap gelandang Barcelona.

Ketika bertahan di posisi lebih dalam, Ancelotti menyusun dua baris pertahanan Madrid dalam pola 4-5-1 cukup rapat bahkan memakai high defensive line jika bola di tengah. Tapi kerapatan yang di bentuk jadi tidak berfungsi ketika mereka tidak menekan pemain yang ada di depan mereka terutama Xavi. Ruang yang di dapat Xavi memudahkannya memberi through pass ke Neymar dan Fabregas yang terus bergerak. Kondisi ini diperparah dengan kartu kuning yang diperoleh Sergio Ramos yang membuat dia sangat lunak, seperti ketika dia membiarkan Iniesta masuk pada prosesi gol pertama.

 

Video defensive block Madrid tapi tanpa pressure

Serangan Madrid

Madrid memakai Ronaldo sebagai false 9 dan Bale dari kiri masuk ke tengah mencari celah. Tapi di awal skema ini tidak berjalan baik karena Ramos tidak terlalu banyak berfungsi ketika Madrid build-up serangan dan membuat Modric kesulitan mendapat opsi umpan. Hal ini juga membuat Ronaldo turun terlalu jauh dan serangan Madrid pun sering berakhir lewat umpan panjang karena kurangnya opsi di depan.

Setelah tertinggal mulai menit 24 Ancelotti merubah posisi Di Maria untuk lebih ke tengah, Bale ke kanan dan bergerak ke tengah. Komposisi ini membuat Modric tidak harus bergerak naik dan bisa mengontrol serangan dari posisi yang lebih dalam. Ramos sendiri sekarang lebih aktif bergerak dan mudah ditemukan.

Madrid mulai mendapatkan ritme dari serangan yang mereka susun. Di Maria yang overload ke tengah dan Ronaldo yang turun membuat situasi 5 vs 4 dengan trio tengah Barcelona yang dibantu Fabregas. Tapi penguasan bola Madrid hanya memberi sedikit peluang karena serangannya menjadi narrow dan mereka tidak mendapat sudut umpan yang bagus di depan. Hanya sekali Ronaldo mendapat kesempatan menusuk dari flank kiri dan jadi peluang bagus buat Khedira di depan gawang Valdes.

Terkait:  Garuda Jaya Miskin Taktik Dan Mental Karena Buruknya Persiapan

Sekitar menit 38 Tata Martino mengembalikan Messi ke tengah dan mencoba mengambil lagi dominasi dari Madrid di lini paling vital itu. Posisi Messi di tengah juga merupakan elemen utama buat Barcelona dalam skema counter attack yang mereka kembangkan akhir-akhir ini. Madrid pun akhirnya gagal menyamakan kedudukan sebelum jeda.

Perbaikan Ancelotti

Di babak kedua Ancelotti memperbaiki hampir semua kekurangan Madrid di babak pertama. Perubahan yang membuat permainan Madrid lebih positif untuk mengejar ketertinggalan. Ancelotti mengembalikan posisi Di Maria kembali ke kanan dan tidak lagi di tengah seperti akhir babak pertama. Tapi tidak seperti awal laga, kali ini dua wide forward Madrid mempunyai posisi cukup melebar untuk menghindari serangan menjadi narrow lagi. Beberapa kali trio forward Madrid bertukar posisi, tapi mereka tetap menjaga jarak masing-masing.

Perubahan yang lebih penting ada pada high up pressing yang lemah di babak pertama. Kali ini Madrid melakukan pressing lebih terorganisir, tiga forward langsung menekan backfour Barcelona, Modric dan Kheidira menekan Busquets dan Xavi serta Ramos bertugas melakukan intercept jika bola lepas. Barcelona sangat tertekan dengan kondisi ini, jika bola berhasil naik ke depan pun serangan mereka jadi lebih direct dan bola cepat didorong ke depan daripada berlama-lama di tengah.

Perubahan lebih tajam dilakukan Ancelotti dengan mengganti Ramos dan Bale dengan Illarramendi dan Benzema. IllarramendiĀ selain lebih bebas dari Ramos dalan melakukan tackle karena belum tersandera kartu kuning, dia juga lebih baik dalam membagi bola dari belakang. Hal yang diperlukan oleh Madrid karena Modric yang memerankan role ini sekarang lebih berkonsentrasi di depan melakukan pressing. Benzema yang menggantikan Bale pun membuat Madrid lebih positif. Benzema lebih bisa terkoneksi dengan baik dengan Ronaldo dan rekannya yang lain. Dia juga tidak canggung di tengah seperti Bale dan ini memberi waktu lebih banyak buat Ronaldo di flank kiri dimana Ronaldo lebih bisa lepas dari marking.

Tempo yang dipakai Madrid cukup cepat, swap posisi antar pemainnya juga tidak bisa tercover dengan baik oleh gelandang tengah Barcelona yang seringkali menyisakan space di kedua flank yang akhirnya membuat dua fullback Madrid juga naik. Dari ketiga gelandang Barcelona biasanya Busquets yang melakukan pressing hampir dimanapun posisi bola, tapi di babak kedua ini dia lebih terdorong ke belakang. Busquets sendiri tidak bisa dengan baik menutup backfour, dia sering out of position seperti ketika tendangan jarak jauh Benzema dari luar kotak penalti menghantam mistar gawang Valdez.

Terkait:  Indonesia U19 2 - 0 Filipina U19: Dominasi Penuh Tapi Minim Gol

Tata Martino Sudah Siap

Jika filosofi dasar tiki taka adalah penguasaan bola yang begitu dominan, Tata Martino menambahkannya dengan tim yang lebih baik jika harus bermain bertahan dan mengandalkan counter attack sebagai satu-satunya opsi serangan. Barcelona sudah pernah melakukannya ketika melawan Valladolid dan menang 4-0, jadi situasi ini bukan hal baru buat mereka.

Di awali dengan kembalinya Messi ke tengah. Sosok Messi yang bisa menarik berapa bek lawan keluar bisa membuka ruang untuk jalan masuk counter attack. Yang kedua dengan mengganti Fabregas dengan Alexis Sanchez yang lebih cepat dan Sanchez mengambil posisi di outside forward kanan. Sekarang Barcelona punya dua pemain yang masing-masing bisa cepat menusuk masuk dari flank ketika melakukan counter attack. Gol kedua Barcelona adalah contoh ketika Messi menarik Pepe out of position dan Sanchez melakukan sprint dari kanan masuk dari ruang yang terbuka itu. Sedangkan untuk melapisi Busquets yang kelihatan belepotan menutup backfour, Tata Martino memasukkan Song menggantikan Iniesta.

Kesimpulan

Walaupun Ancelotti pernah bilang jika Madrid adalah tim paling bertalenta yang pernah ditanganinya, sayang sekali dia belum menemukan skema terbaik. Di awal musim sempat memakai 4-2-2-2 ketika menyerang, tapi kesulitan mengeluarkan kemampuan terbaik Ronaldo karena terlalu narrow. Memakai 4-3-3 seperti di laga ini sebenarnya sudah cukup bagus terutama di babak kedua, sayang starting line-up yang dipakai malah menghambat potensi terbaik timnya.

Tata Martino menata Barcelona yang memang merupakan tim yang sudah jadi dengan cukup bijaksana. Dia tidak melakukan perubahan drastis terhadap cara main El Barca, dia hanya menambahkan sedikit pragmatisme yang digunakan di saat yang tepat. Dua kali dia berhasil mengantisipasi taktik Ancelotti, dengan menjauhkan Messi dari Ramos untuk mengindari attack Barcelona stack di babak pertama dan memindah lagi Messi ke tengah ketika Madrid sedang total menyerang dan berhasil mencuri satu gol tambahan.

 

Cuplikan gol cantik Alexis Sanchez

Apa Pendapatmu?