List of feeds URL

Arsenal 1 – 0 Tottenham: Wenger Bisa Membuat Arsenal Main Beda Dan Menang

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Derby London Utara antara Arsenal vs Tottenham Hotspurs berlangsung menarik. Spurs dengan high defensive line berhasil memberi mereka pressing yang bagus saat bertahan tapi juga jadi bencana saat menerima counter attack. Arsenal kehilangan kontrol di tengah, sit back, counter attack cepat dan menang.

186

Tempo Cepat Arsenal

Villas-Boas musim ini bisa menampilkan formasi favoritnya sejak di Porto dan Chelsea 4-3-3. Musim kemarin Spurs tidak punya pemain jangkar yang cocok untuk memainkan formasi ini hingga akhirnya memakai 4-2-3-1 dengan Dembele dan Scott Parker jadi double pivot. Didatangkan dari FC Toulouse, Etienne Capoue diharapkan menjadi DM agar Spurs bisa memainkan 4-3-3. Paulinho yang didatangkan dari Corinthians duet dengan Dembele menjadi CM dan Soldado di depan menjadi paket yang lengkap untuk memainkan vertical football ala Villas-Boas.

Arsenal yang memakai 4-2-3-1 unsimetris dengan fluid double pivot yang dimainkan Ramsey dan Wilshere mencoba memainkan tempo cepat pada 15 menit awal. Arsenal melakukan high up pressing dengan defense line tinggi seperti biasanya ketika bertahan. Arsenal bisa mendapat empat attempt sedangkan Spurs hanya satu.

Spurs ketika diharuskan bertahan mereka melakukannya cukup bagus. Defence line tinggi dan man marking terhadap lima pemain tengah Arsenal membuat pertahanan mereka tidak mudah ditembus. Dari empat peluang Arsenal cuma satu yang dari open play sedangkan tiga dari bola mati.

Spurs Positional Play

Setelah 15 menit Spurs mulai melambatkan tempo dan menguasai lini tengah. Mereka mulai memainkan positional play dengan menahan bola di tengah, tidak langsung kirim bola ke tiga forward. Spurs menaikkan dua fullbacknya (Walker dan Rose) dan memaksa Walcott beserta Rosicky untuk covering mereka. Dua outside forward Spurs (Chadli dan Townsend) ambil posisi sangat lebar untuk menarik dua fullback Arsenal terpisah dari bek tengahnya.

Dembele dan Paulinho tidak naik tapi tetap di area tengah lapangan  dan dekat dengan Capoue. Trio tengah tersisa Arsenal (Wilshere, Ramsey dan Cazorla) sekarang harus menghadapi trio tengah Spurs plus dua centerback-nya (Dawson dan Vertonghen). Dengan mudah Arsenal kehilangan kontrol atas ball possession.

Terkait:  Celtic 0 - 1 Barcelona: Performa Bagus Rusak Oleh Kartu Merah

Ada beberapa cara agar bola bisa masuk ke defence Arsenal. Salah satunya dengan memanfaatkan lambatnya transisi defence Arsenal dari kanan ke kiri atau sebaliknya. Salah satu centerback Spurs, Dawson cukup baik mengirim umpan diagonal ke salah satu winger Spurs yang sedang bebas. Cara lainnya dengan memanfaatkan kelemahan sistem Zonal Marking dengan salah satu winger Spurs turun ambil bola lalu dribble bola naik. Fullback Arsenal yang menjaganya tentu tidak bisa ikut terlalu jauh untuk cover. Babak pertama 10 dari 13 dribble Spurs berhasil dilakukan.

Tapi sayangnya di babak pertama Spurs kurang bisa memaksimalkan taktik ini. Ketika bola bisa masuk defence Arsenal yang seringkali lewat flank, winger Spurs terlalu tergesa-gesa melakukan crossing kepada Soldado yang sendirian. 10 crossing Spurs tidak ada yang menemui Soldado, hanya tembakan hasil cut-in dari Townsend yang on target. Babak pertama Spurs hanya mencatatkan empat attempt dan dua on target.

Arsenal Drop Deep Dan Problem Lama Villas-Boas

Tidak bisa mengontrol lini tengah dan kesulitan menahan serbuan Spurs lewat flank, Arsene Wenger sekarang mengurangi pressing terhadap tiga pemain tengah Spurs. Hanya Giroud dan satu pemain tengah yang naik pressing sedangan di belakang membuat defensive block dengan two bank of four. Situasi ini juga menyesuaikan dengan Wilshere yang cedera dan digantikan oleh Flamini

Pemain-pemain baru Spurs secara skill individu cukup baik melihat catatan dribbling-nya yang bagus. Tapi mungkin karena belum lama bersama, team play mereka buruk sekali. Tercatat Arsenal berhasil melakukan 19 intercept dan yang lebih bagus buat Arsenal, kebanyakan dilakukan di area tengah.

Mempunyai pemain-pemain yang bagus dalam melakukan tusukan secara vertikal seperti Rosicky dan Cazorla juga pelari cepat seperti Walcott dan Ramsey, Arsenal bisa mendapat banyak sekali kesempatan emas mencetak gol. Arsenal sangat terbantu dengan buruknya koordinasi defender Spurs dan Capoue sebagai DM ketika menghadapi counter attack.

Terkait:  Belajar Taktik: Membangun Tembok Kokoh 4-4-2 Ala Diego Simeone

Tidak jelas siapa yang harus menutup si pembawa bola ketika Capoue harus menutup space dari salah satu fullback yang naik. Bahkan beberapa kali walaupun backfour Spurs lengkap Capoue tidak berada di posisi yang seharusnya. Rosicky, Cazorla atau Ramsey dengan leluasa mengatur ritme counter attack dari tengah dan seringnya mencari Walcott dan mengirim bola di depannya. Gol Arsenal adalah contoh paling nyata bagaimana Rose dan Capoue sama-sama holding the line dari pada salah satu menutup Rosicky.

Memakai high defense line atau menghadapi situasi counter attack dulu di Chelsea juga menjadi masalah buat Villas-Boas. Tidak semua defender di develop sejak awal untuk biasa melakukan covering dengan space yang cukup luas di belakangnya. Sama seperti situasi di Barcelona, mereka tidak mudah mencomot pemain bertahan karena high defense line mereka yang ekstrem perlu pemain yang betul-betul menguasai situasi itu. Dan situasi ini sampai sekarang masih menghantui Villas-Boas.

Babak Kedua

Butuh gol dan sedang menguasai tempo pertandingan, Villas-Boas ingin menambah box presence Spurs yang sebelumnya kekurangan. Dia mendorong Paulinho lebih naik dan membuat Soldado lebih aktif bergerak ke flank untuk buka space. Paulinho cukup baik mencari posisi yang memang hanya ada Flamini saja di dekatnya.

Lebih baik tapi belum bisa menemukan gol, sekarang dua outside forward-nya ikut masuk ke dalam memberi ruang buat dua fullback Spurs naik. Arsene Wenger mengikuti alur permainan Spurs, Rosicky dan Walcott tidak jarang sejajar dengan backfour mereka menjaga dua fullback Spurs.

Beruntung Wenger mempunyai pemain-pemain yang memiliki kecepatan. Walaupun harus bertahan cukup dalam, Arsenal bisa dengan baik melakukan counter attack dari error pemain Spurs yang belum juga ada perbaikan.

Terkait:  Indonesia U19 0 (7) - (6) 0 Vietnam U19: Timnas Lebih Sabar Dan Akhirnya Membawa Kemenangan

Spurs Jadi 4-4-2

Villas-Boas merubah skema Spurs di pertengahan babak kedua. Dia memasukkan Defoe, Sandro dan Lamela menggantikan Dembele, Capoue dan Townsend. Spurs sekarang memainkan 4-4-2 dengan Sandro berduet dengan Paulinho di tengah.

Diantara tiga pemain Spurs yang baru masuk, cuma Lamela yang memberikan level permainan yang lebih baik. Lamela lebih bagus dalam mencari posisi dari pada Townsend. Wenger memasukkan Monreal menggantikan Rosicky untuk menahan agresifitas Lamela yang berduet dengan Walker di kanan. Walaupun biasa menempati leftback, Wenger memakai dia untuk jadi leftwing melihat posisinya yang selalu di depan Gibbs.

Sandro yang dipasang di tengah sepertinya diinstruksikan mengirim bola panjang langsung ke depan untuk mengejar defisit gol. Tapi sayangnya akurasi umpan Sandro cukup buruk, hanya 50% yang menemui sasaran. Sedangkan Defoe yang sering kali ambil posisi di bawah Soldado, kurang bisa melakukan link up serangan dan hanya melakukan sekali umpan. Dia juga hanya melakukan sekali shot dan on target yang harus dihentikan dengan susah payah oleh Szczesny.

Kesimpulan

Pasukan anyar Villas-Boas dan juga formasi 4-3-3 yang dia pakai bisa mendominasi Arsenal di Emirates merupakan awal yang bagus. Tapi buruknya cara mereka menghadapi counter attack bisa membuat mereka banyak kehilangan poin nantinya. Spurs juga harus memperbaiki kerjasama timnya sehingga tidak mengurangi nilai plus dari skillset para pemainnya yang bagus.

Yang saya suka dari Arsenal adalah ternyata mereka bisa bermain dengan cara yang lain. Respon Wenger terhadap taktik Villas-Boas tidaklah cantik tapi sangat efektif. Bila terus bisa menyesuaikan taktik dengan kondisi di lapangan, Arsenal bakal menjadi tim yang kuat mengarungi kompetisi dengan lawan yang mempunyai ciri khas masing-masing. Hal ini akan menjadi nilai plus Arsenal musim ini, terutama di kompetisi Eropa.

 

Apa Pendapatmu?