List of feeds URL

Arsenal 0 vs 2 Bayern Munchen: The Gunners Melewatkan Momentum

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Setelah sebelumnya kita disuguhi duel Manchester City lawan Barcelona, kali ini kita menyaksikan duel yang hampir serupa, klub asal Inggris melawan tim berbasis tiki-taka. Yang menarik adalah dua game ini juga menghadirkan satu kartu merah untuk tuan rumah dan diakhiri dengan keunggulan tim tamu dua gol tanpa balas. Tapi hidangan di Emirates Stadium ini lebih sedikit atraksi taktikal tapi lebih banyak menyuguhkan drama.

Kita tidak bisa melihat dua tim yang sedang bertarung sama-sama ingin memainkan possession football dan keduanya mendapatkan yang diinginkan. Arsenal dan Bayern Munchen sama-sama menaruh pondasi permainan dengan rentetan umpan pendek, tapi kali ini Arsene Wenger lebih memilih jalan lain daripada harus ngotot tergantung pada penguasaan bola.

Game plan awal yang dicoba dimainkan Arsenal cukup jelas, dengan 4-2-3-1 menerapkan high up pressing dan coba memakai keunggulan kecepatan untuk masuk kotak penalti lawan. Pemilihan pemain oleh Wenger menggambarkan hal ini, dia memilih Yaya Sanogo daripada Giroud di depan. Sebagai winger kanan, manajer asal Perancis ini memilih Oxlade Chamberlain dan mendorong Wilshere ke tengah. Pemilihan Chamberlain dimaksudkan untuk menelan space yang ditinggal Alaba yang memang biasa overlap secara sporadis. Arteta yang mempunyai statistik umpan cukup bagus pun sekarang diparkir, Wenger memilih Flamini yang lebih cepat dan enerjik.

Apa yang ada di kepala Wenger tersaji indah di sepuluh menit awal. Tempo pertandingan menjadi sangat cepat dengan pressing agresif yang dilakukan the Gunners. Mereka berhasil mencegah Bayern mendikte permainan dengan Kroos dan Thiago Alcantara hanya membuat total 13 umpan.

Ketika menguasai bola, Ozil, Sanogo dan Chamberlain langsung mengambil posisi sejajar dengan backfour Bayern. Sedangkan Wilshere dan Cazorla memanfaatkan ketidaksiapan Bayern, mereka selalu mencari ruang di belakang Kroos dan Thiago ketika salah satu diantaranya coba menutup Flamini. Ritme cepat yang dipakai Arsenal tidak bisa diikuti Javi Martinez untuk menutup ruang kosong tersebut dan berakibat paniknya backfour Munchen ketika lawan mendapat bola di depannya. Offside trap yang coba disusun jadi sangat lemah, tidak kurang empat kali berhasil dilewati dan yang terakhir berujung penalti yang didapatkan Ozil.

Terkait:  Kemenangan Pertama Jacksen F Tiago Bersama Timnas

Entah karena drama penalti yang gagal atau memang sudah menjadi rencana sebelumnya, lewat sepuluh menit Arsenal sudah tidak melakukan high up pressing lagi. Mereka mulai packing pertahanannya di area sendiri memakai 4-4-2 dengan Ozil dan Sanogo tetap di depan. Efeknya langsung terasa, Kroos dan Thiago yang kali ini tidak menerima man marking, berdua mulai mendikte lini tengah dan mengembalikan tempo game menjadi milik timnya.

Pep guardiola sendiri sedikit melakukan perubahan di laga ini. Dia memilih Robben dan Gotze untuk turun daripada Muller. Javi Martinez menjadi gelandang bertahan dan Lahm untuk sementara kembali menjadi fullback kanan.

Yang unik adalah dua winger, Roben dan Gotze mengambil posisi narrow daripada melebar. Dengan posisi dua pemain ini, Bayern lebih tampak memakai 4-3-2-1 daripada 4-1-4-1 seperti biasanya. Sepertinya Pep mencoba eksploitasi posisi Flamini yang biasanya selalu sendirian ketika timnya menyerang, ini sudah jadi ciri khas Arsenal di musim ini.

Untuk menjaga lebar lapangan, Pep cuma mengandalkan overlap dari Alaba dan Lahm. Tanpa pemain depan melebar, serangan awal Bayern terlalu narrow. Ketika di awal laga bertepatan dengan tempo cepat yang dimainkan Arsenal, Kroos sekali mendapatkan ruang menembak di depan kotak penalti. Waktu itu Robben dan Gotze berhasil membuat sibuk Flamini. Tapi ketika Arsenal mulai drop deep, serangan dari tengah mulai tumpul karena Wilshere cukup baik melengkapi Flamini melindungi backfour Arsenal. Bayern bisa membuat enam tembakan tapi tidak ada yang menemui target, bahkan empat diantaranya berhasil diblok.

Merasa kesulitan dengan rencana awal, sekitar menit 25 Pep mulai memberi instruksi untuk mengintensifkan crossing. Yang menarik adalah bagaimana Arsenal merespon umpan silang sang rival. Klub yang berasal dari London utara ini memakai sampai enam pemain di dalam kotak penalti. Hasilnya cukup positif, dari 13 crossing Bayern hanya tiga yang sukses dan hanya satu yang menjadi peluang. Tapi ini jadi meminta konsekuensi dengan semakin sedikitnya pemain yang siap melakukan counter attack. Umpan panjang langsung ke Sanogo sekarang lebih sering dilakukan karena tidak ada pemain yang siap melakukan kombinasi umpan di tengah.

Terkait:  Manchester United 1 - 0 Arsenal: United Membendung Di Tengah Lalu Drop Deep

Sekitar menit 30 Bayern mulai merubah arah serangan. Pergantian Gibbs yang cedera dengan Monreal, coba dimanfaatkan oleh The Bavarian untuk mengambil keuntungan. Beberapa kali Gotze dan Robben bergerak bersama ke sisi itu bersama Lahm. Hasilnya sebuah dribbling ke dalam Robben dari flank tidak bisa diikuti Monreal dan diakhiri pelanggaran oleh Szczesny yang berbuah kartu merah dan penalti. Drama terjadi lagi dengan gagalnya Alaba mengkonversi kesempatan dari titik putih menjadi gol. Tapi Bayern masih beruntung bisa unggul pemain setelah insiden ini.

 

Babak Kedua

Harus bermain dengan 10 orang, Arsenal menemui situasi yang serupa dengan Manchester City sehari sebelumnya. Arsene Wenger juga menyusun pemainnya menjadi 4-4-1 dengan Ozil sekarang digeser ke kiri. Karena masih dalam kondisi draw, pelatih yang pernah menangani klub Jepang ini tidak mau berjudi seperti Pellegrini. Arsenal berniat bertahan total untuk menjaga peluang tetap terbuka di leg kedua.

Melihat sang lawan mulai bertahan total, Pep Guardiola merubah positioning dua wingernya dengan sekarang masing-masing dekat touchline. Gotze di kiri dan Roben di kanan memerankan role inverted winger. Perubahan ini untuk menarik secara horizontal defence Arsenal, karena ini cara paling efektif memecah defence tim yang tidak mau keluar menyerang. Tidak nyaman dengan kartu kuning yang didapat Boateng, pelatih berusia 43 tahun ini menggantikannya dengan Martinez. Lahm kembali sebagai pivot dan Rafinha dimasukkan sebagai fullback kanan.

Sial bagi Arsenal karena Bayern tidak butuh waktu lama untuk unggul. Walaupun sudah memakai semua pemain untuk bertahan, mereka mengulang cara menyusun pemain di babak pertama, yaitu terlalu banyak pemain untuk defence crossing dan tidak menyisakan pemain di depan kotak penalti. Mertesacker tidak sempat menutup shoting Kroos yang akhirnya menjadi gol.

Terkait:  Persebaya 3 - 4 Persib: Maung Bandung Manfaatkan Build Up Green Force yang Buruk

Masuknya Muller dan Pizzaro juga cukup menarik karena salah satu pemain yang digantikan adalah Thiago. Praktis Bayern memainkan 4-4-2 dengan dua pemain anyar tersebut sebagai ujung tombak. Cukup masuk akal karena Bayern butuh gol, tapi sekaligus unik karena tiki-taka dimainkan dengan dua striker. Kombinasi Pizzaro yang membuka ruang dan Muller yang mencetak gol berhasil membuat misi Arsenal lolos fase selanjutnya hampir mustahil.

Kesimpulan

Sayang sekali Arsenal tidak melanjutkan pressing agresifnya setelah penalti gagal Mesut Ozil, mendapatkan momentum membuat defence Bayern nervous tentu tidak mudah. Pressing model seperti ini memang menguras tenaga, tapi tempo 10 menit bisa dibilang terlalu sebentar. Beberapa tim seperti Bilbao bisa melakukannya 90 menit.

Pep Guardiola sendiri menunjukkan kejeliannya dengan beberapa kali merubah posisi dua winger-nya setelah tahu ide awal tidak berjalan, sampai menemukan skema yang efektif. Terasa sedikit aneh jika melihat Wenger melakukan hal yang sebaliknya.

 

Apa Pendapatmu?