List of feeds URL

Utak Atik Skuat Timnas Untuk AFF 2014

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Alfred Riedl sudah menentukan siapa saja 23 pemain Timnas yang akan diboyong ke Vietnam untuk mengikuti AFF 2014. Beberapa nama tenar secara mengejutkan harus terdepak, namun secara keseluruhan tim ini masih terlihat cukup menjanjikan.

AFF tahun ini untuk Timnas mungkin menjadi yang terketat dalam fase seleksi pemain. Untuk pertama kalinya kita bisa melihat begitu banyak pemain potensial yang tersedia dan saling sikut berebut posisi. Dari 35 nama awal yang diajukan BTN pun masih tidak menampung nama-nama lain yang seharusnya juga pantas bermain membela tim Garuda.

Nama seperti Bambang Pamungkas sejatinya masih bisa dikedepankan setelah tampil gemilang membawa Pelita Bandung Raya (PBR) ke semifinal ISL. Begitu pula Kim Jeffry Kurniawan sebagai suplier bola-bola matang bagi Bambang di PBR. Dari Arema, nama Juan Revi seakan terlupakan, padahal intensitasnya berhasil memberi keseimbangan timnya yang terbiasa menyerang dengan banyak pemain.

Dua eks pemain Persebaya 1927 juga seharusnya masih pantas dicoba. M. Taufiq menjadi motor terpenting Persib di delapan besar ISL sebelum akhirnya juara. Sedangkan Andik Vermansyah dengan susah payah berhasil mengangkat namanya menjadi salah satu pemain terbaik liga Malaysia. Semen Padang masih menyimpan nama Nur Iskandar, sedangkan di Persipura masih ada Ferinando Pahabol dan Titus Bonai.

Begitu melimpahnya talenta yang tersedia merupakan dampak positif dari kompetisi yang berjalan. Selain itu, referensi pelatih Timnas juga diperkaya dengan beberapa pemain yang coba peruntungan di liga luar negeri seperti Irfan Bachdim, Sergio Van Dijk atau Hamka Hamzah.

Daftar bertambah sesak ketika Riedl tidak memberlakukan batasan usia, terutama untuk pemain senior. Nanti mungkin kita akan disajikan Evan Dimas yang masih 19 tahun akan bermain satu lapangan dengan Cristian Gonzales yang sudah 39 tahun. Belum lagi pelatih asal Austria ini juga mencoba beberapa pemain asal Timnas U23 yang akan dipadukan dengan yang lebih senior.

23 Pemain Terpilih

Hanya dengan dua ujicoba akhirnya tim pelatih selesai mengerucutkan 35 nama menjadi hanya 23 sesuai regulasi. Beberapa nama langsung dicoret yang mungkin dikarenakan Riedl tidak selera. Ferdinand Sinaga dan Tony Sucipto bahkan belum sempat mencicipi kesempatan bermain. Sedangkan Bayu Gatra sepertinya masih kurang memikat setelah sempat turun saat melawan Timor Leste.

Banyak nama bertumbangan terlebih dahulu dikarenakan cedera yang membuat tim pelatih tidak mau mengambil resiko. Irfan Bachdim dan Achmad Bustomi jadi nama top diantaranya, disusul Hamka Hamzah dan Greg Nwokolo. Supardi dan Victor Igbonefo masih selamat dari penggusuran walaupun tidak 100% fit.

Persib sebagai jawara ISL menjadi penyumbang pemain terbanyak dengan enam pemain, disusul Arema dan Mitra Kukar dengan empat punggawa. Masuk akal jika Riedl ingin timnya cepat padu dengan komposisi seperti ini karena memang masa persiapan yang cukup pendek.

Starting Line Up

Carut-marutnya jadwal kompetisi seakan tidak memberi tim pelatih waktu  bernafas guna mempersiapkan tim. Sangat tidak ideal jika dua minggu sebelum event, Timnas masih punya 35 pemain untuk diseleksi. Bahkan di ujicoba terakhir melawan Suriah pun mereka masih belum bisa mencoba skuad inti karena proses seleksi yang belum selesai.

Pemusatan latihan terpaksa sudah dilangsungkan walaupun Kompetisi belum usai. Tim pelatih malah meminjam jasa pemain-pemain Timnas U19 untuk melengkapi jumlah guna mendampingi pemain yang sudah bisa hadir karena klubnya lebih dulu tersingkir.

Tim asuhan Alfred Riedl memang sebelumnya sempat menjalani serangkaian ujicoba, seperti ketika tur Spanyol atau melawan beberapa negara tetangga di Sidoarjo. Namun efektifitasnya terlihat masih lemah karena banyak pemain yang dipakai waktu itu akhirnya tersingkir seperti Irfan Bachdim, Musafri atau Nur Iskandar.

Apa yang bisa kita jadikan patokan cara main tim ini hanya di dua ujicoba terakhir bersua Timor Leste dan Suriah, berhubung hanya Bayu Gatra dan Achmad Bustomi yang akhirnya terdepak. Dari sini kita akan mencoba menerka kerangka tim ini untuk berlaga di AFF 2014.

Terkait:  Kenapa Timnas U-23 Kesulitan Memperbaiki Permainannya?

Ide yang coba diaplikasikan Alfred Riedl cukup clear dengan bermain empat bek dan double pivot di depannya. Sedangkan di barisan depan ada dua variasi yang memungkinkan mereka untuk bermain 4-2-3-1 ataupun 4-4-2. Perbedaan keduanya terletak di role pemain di belakang striker, akankah menjadi no. 10 (playmaker) atau lebih sebagai second striker.

Posisi kiper hampir pasti milik Kurnia Meiga walaupun performanya kurang meyakinkan ketika melawan Suriah. Made Kurniawan bisa saja mencuri tempat ini, tapi mungkin tidak untuk di laga-laga awal. Semua masih tergantung form Meiga akan membaik atau tidak, apalagi Made baru saja membuktikan sebagai penalty stopper yang handal di final ISL, yang tentunya nanti akan berguna di fase knockout.

Zulkifli Syukur, M. Roby dan Rizky Pora sepertinya sudah dipastikan menjadi pemain inti di backline. Ketiganya selalu starter di dua ujicoba terakhir dan juga beberapa ujicoba sebelumnya. Zulkifli bahkan sudah sering didapuk menjadi kapten, sedangkan pesaingnya, Supardi, justru dikabarkan masih belum fit.

Tinggal satu posisi bek tengah yang masih belum pasti akan diklaim antara Achmad Jufriyanto, Fachruddin atau Victor Igbonefo. Nama terakhir masih diinfokan cedera. Jufriyanto lebih berpeluang menjadi starter karena lebih berpengalaman, sedangkan Fachruddin justru kalah duel heading yang menyebabkan gol kedua Suriah terjadi.

Di posisi pivot masih belum jelas siapa yang menghuni. Manahati Lestusen paling sering dipasang tapi paling minim pengalaman di level senior. Raphael Maitimo tidak dipakai melawan Suriah tapi tidak tampil buruk ketika bertemu Timor Leste. Imanuel Wanggai bermain cantik melawan Suriah dan juga pengganti paling pas untuk peran Bustomi. Sedangkan Hariono satu-satunya gelandang bertahan murni, namun minute play yang didapat di ujicoba tidak cukup banyak.

Komposisi paling pas dan balance adalah duet Wanggai dan Hariono. Jika Maitimo menggantikan Wanggai, kreatifias akan sedikit tersendat. Lebih cocok jika pemain kelahiran Rotterdam ini menggantikan Hariono, namun kecenderungannya naik justru bisa menimbulkan masalah buat pertahanan. Manahati siap mencuri satu tempat, kecuali Riedl serius menjadikannya backup fullback kiri.

Zulham Zamrun bermain solid di dua laga sebagai sayap kiri. Pemain Mitra Kukar tersebut mencetak satu gol saat melawan Timor Leste dan menjadi suplier utama peluang-peluang saat menghadapi Suriah. Sulit membayangkan dia tidak mendapatkan satu tempat utama.

Untuk sayap kanan sementara ini ada dua nama yang bersaing. Ramdani Lestaluhu tidak bermain menonjol di ujicoba pertama, namun kontribusinya secara tim cukup baik. Sedangkan M. Ridwan bermain buruk di laga kedua, tapi kesempatan 90 menit untuknya menunjukkan Riedl berharap sesuatu yang besar darinya.

Pos di belakang striker adalah yang paling rumit dan paling sesak daripada pos lain. Di tipe pemain yang mengisinya pula lah bagaimana cara Timnas menyerang akan ditentukan. Boaz Salosa, Firman Utina, Samsul Arif dan Evan Dimas tercatat pernah dicoba mengisi peran vital tersebut dan hampir semuanya bermain baik.

Evan atau Firman akan menjadi pilihan jika Riedl ingin bermain lebih terukur dengan satu trequartista dalam skema 4-2-3-1. Sedangkan Samsul atau Boaz akan dipilih jika ingin penetrasi lebih di depan sebagai second striker dalam formasi 4-4-2.

Evan dan Samsul sudah mencatat satu gol dari masing-masing role yang diperankan. Khusus untuk Samsul, Riedl kelihatan cukup puas dengan penampilannya. “Samsul adalah gelandang yang selalu bergerak mencari ruang, dia juga punya kelebihan dalam kecepatan. Maka itu, kami akan pilih penyerang dalam AFF nanti sesuai kebutuhannya seperti apa,” ujarnya.

Boaz menemani Van Dijk di depan ketika ujicoba kedua. Walaupun tidak terlalu buruk, kapten Persipura ini gagal mengeksekusi beberapa peluang bagus di akhir babak pertama. Ada kemungkinan Riedl punya rencana lain untuknya setelah melihat performanya di laga itu. “Sebenarnya kami punya lima penyerang, Boaz, Zulham, Van Dijk, Gonzales, dan Samsul Arif. Tapi, Boaz dan Zulham akan kami posisikan di sayap.”

Terkait:  Pencarian Identitas Argentina Oleh Sabella Di Antara Penyerang Hebat

Sedangkan Firman Utina sebagai satu nama tersisa mengalami situasi cukup pelik. Persib memforsir tenaganya cukup banyak sampai final ISL sehingga kini dia mengalami masalah fitness. Selain itu, dia tidak pernah tampil meyakinkan bermain di belakang striker, baik di ujicoba terakhir maupun sebelumnya di Sidoarjo.

Sistem Riedl yang membuat duet pivotnya cukup dalam dan menghasilkan jarak cukup jauh antara tengah dan depan membuat masalah tersendiri bagi Firman mengingat usianya. Sedangkan Evan Dimas lebih baik dalam menghubungkan tengah dan depan dengan mobilitas yang lebih bagus. Bisa saja Firman didorong sebagai pivot lagi seperti saat AFF 2010, tapi pesaingnya di pos itu kali ini cukup banyak dan juga tentunya lebih muda.

Tinggal satu pos striker yang sepertinya tidak akan membuat Riedl pusing. Dia punya Gonzales dan Van Dijk yang secara tipe memang dibutuhkannya dan juga cukup setara dalam hal kualitas. “Sergio van Dijk dan Cristian Gonzales punya pengalaman dan sundulan yang bagus, kaki kiri mereka juga kuat,” puji Riedl.

Van Dijk memang selalu starter di dua ujicoba terakhir dan membuat satu gol. Tapi hal ini tidak lantas membuatnya mendapat jaminan pemain inti, mengingat Gonzales adalah andalan sang pelatih sejak AFF 2010. Riedl sepertinya tetap berharap Gonzales menemukan form terbaiknya dengan selalu memberikan minute play walaupun hanya terbatas di babak kedua.

Sistem Menyerang

Seperti halnya tim lain yang memakai double pivot dan dua wingernya setia di flank, kita tidak akan menemukan sistem terlalu rumit yang akan dimainkan oleh Timnas. Akan sangat langka momen seperti pertukaran posisi ataupun melakukan overload di area tertentu.

Keuntungan memakai sistem yang sederhana adalah akan mudah dan cepat dicerna oleh pemain. Setelahnya, pelatih tinggal berharap pemain yang diturunkannya tampil prima dan bisa mengeluarkan semua kualitas yang dimiliki. Di sinilah proses pemilihan starter menjadi vital.

Entah pemilihan sistem ini hasil observasi pelatih atau memang kebetulan, namun ternyata sangat cocok dengan ciri kebanyakan pemain Indonesia yang dikenal memiliki skill individu mumpuni namun lemah jika bermain secara tim. Kesederhanaan sistem bisa memberi waktu lebih bagi pemain untuk berkonsentrasi memaksimalkan skillnya.

Alfred Riedl pernah hampir sukses di AFF 2010 dengan cara ini, yang tentunya dengan alasan yang sama. Oleh karena itu dia juga banyak memakai lagi punggawa lamanya untuk mendapat efek serupa. Pelatih lain yang memakai cara seperti ini adalah Rahmad Darmawan, yang juga berhasil membawa Timnas menembus final Sea Games dua edisi terakhir.

Aplikasi sistem dari dua pelatih ini hampir mirip, dengan sesering mungkin membuat situasi 4 vs 4 di final third antara 2 winger yang cepat naik mendampingi 2 forward, untuk menghadapi 4 bek lawan. Dari situasi inilah diharapkan kualitas individu pemain bisa dimaksimalkan dan akhirnya membuat perbedaan.

Riedl sudah memilih skuadnya dengan cermat kali ini. Pemain-pemain di barisan depan selain skill individunya bagus, secara fisik bisa dikatakan prima. Tidak mengejutkan jika Ferdinand Sinaga belum bermain pun sudah tersingkir. Hanya Samsul Arif yang bertubuh kecil, namun bisa ditutup dengan kemampuan dribbling yang cukup aduhai.

Fisik bagus memang diperlukan karena dalam prakteknya untuk mendapatkan situasi 4 vs 4 seperti di atas, seringkali harus diawali direct pass yang kebanyakan umpan lambung. Maksud penggunaan umpan panjang ini adalah untuk bisa cepat memisahkan bek dan pemain tengah lawan, yang sering sulit di dapat jika memakai rangkaian umpan pendek dari kaki ke kaki yang cenderung lambat.

Di ujicoba terakhir, Timnas terlihat coba memainkan sistem ini saat babak kedua melawan Timor Leste dan juga di keseluruhan laga melawan Suriah. Mereka sukses mendulang satu gol di laga pertama, namun hanya menghasilkan peluang-peluang matang di laga kedua.

Terkait:  Kenapa Maroko Bisa Balikkan Keadaan vs Timnas U23?

Jika skill pemain yang diturunkan menjadi faktor inti sistem ini, sebaliknya akan menjadi kelemahan kalau pemain tidak dalam form yang bagus, seperti yang ditunjukkan melawan Suriah. Hanya Zulham yang tampil menawan dengan terus meneror dari kiri, namun tidak diimbangi Ridwan di kanan dan finishing yang bagus oleh Boaz dan Van Dijk di tengah.

Kelemahan lain dari cara ini jika lawan lebih unggul dalam menyambut bola-bola lambung. Momentum Timnas untuk mengejar gol atas Suriah langsung hilang setelah Samsul menggantikan Van Dijk dan lawan justru sukses menambah keunggulan. Riedl coba memperbaikinya dengan memasukkan Gonzales di akhir namun sudah terlambat.

Tapi untungnya Timnas tidak hanya membawa satu cara menyerang saja nanti. Walaupun hanya satu variasi, tapi memakai Evan Dimas di belakang striker dan mencoba bermain lebih sabar memakai umpan datar ternyata sangat efektif. Timnas justru lebih subur memakai cara ini saat bertemu Timor Leste dengan tiga gol yang dilesakkan hanya dalam tempo 45 menit.

Komposisi saat itu juga cukup mendukung dengan dimainkannya Ramdani sebagai winger kanan. Pemain Persija tersebut terus turun coba melakukan link up, sedangkan Zulkifli sebagai fullback kanan terus menyelinap di belakangnya dengan melakukan overlap dan sukses mencatat dua assist.

Namun jika melihat porsi waktu yang diberikan untuk dua cara ini, cukup diragukan jika Riedl akan memakai Evan Dimas sebagai playmaker dan pengaruh umpan pendek khas yang dibawanya sebagai sistem utama. Tapi setidaknya Timnas akan mengarungi turnamen dengan berbekal variasi yang terbukti cukup bisa diandalkan.

Sistem Pertahanan

Cara bertahan tim Garuda cukup buruk dan bahkan tim selevel Timor Leste bisa mendapatkan beberapa peluang berbahaya. Suriah bisa mencuri satu gol cepat karena pemainnya bisa melakukan diagoal run yang diawali dari posisi blind side Rizky Pora. Sedangkan gol kedua Suriah diawali ketidak mampuan Timnas mengontrol flank overload setelah Zulham sebagai sayap kiri ditarik keluar.

Secara keseluruhan, Timnas kesulitan menakar area pertahanan baik secara vertikal maupun horizontal di area sendiri. Seringkali terlihat dua fullback terlalu masuk ke tengah karena coba membantu center back. Hal ini membuat mereka selalu lambat untuk menutup sayap lawan jika menerima bola di touchline.

Selain itu, terlalu ke tengah juga membuat fullback di sisi jauh mudah hilang pengawasan atas winger lawan di belakangnya, seperti situasi yang dihadapi Rizky Pora. Malah tercatat tiga kali winger kanan lawan sukses membuat peluang dengan melakukan diagonal run dan Rizky selalu terlambat mengantisipasinya.

Masalah juga ditimbulkan dari defensive line yang tidak terlalu tinggi dan cara menyerang yang mendorong winger lebih dulu naik cukup jauh. Dalam transisi dari menyerang ke bertahan, ternyata hal ini membuat dua gelandang bertahan harus menutup area dari garis tengah hingga defensive line yang berada di depan kotak penalti.

Pelatih harus berhitung cermat jika ingin memakai cara menyerang yang menghasilkan situasi 4 vs 4 di pertahanan lawan karena ternyata cara ini mempunyai efek samping. Dua winger yang naik jauh jadi selalu terlambat untuk turun dan dua gelandang bertahan harus pontang panting menutup area yang cukup luas.

Tim-tim yang mempunyai transisi menyerang cepat seperti Thailand atau Vietnam akan sangat mudah menemukan celah di model pertahanan seperti ini. Masih ada waktu jika pelatih ingin mencari solusi. Tapi masalahnya, sampai sekarang belum terdengar di media jika ini adalah problem serius yang harus dipecahkan dan dijadikan prioritas.

4 Responses to Utak Atik Skuat Timnas Untuk AFF 2014

  1. Luar biasa tulisannya sangat bagus untuk referensi, dari sudut pandang saya pertahanan kita masih belum baik kordinasinya, semoga ketika kompetisi mulai sudah lebih baik dari segi kordinasi

  2. Andri says:

    Mantap Mas tulisannya.
    Btw, saya masih kurang “sreg” sama pemain di posisi fullback kiri dan kanan tapi mungkin mereka yang terbaik saat ini menurut pelatih.
    Mau tanya Mas, apa Achmad Jufriyanto bisa main diposisi pivot ? menurut saya dia “lebih baik” daripada Hariono yang mainnya cenderung kasar karena rawan kena kartu Mas, ini kan AFF bukan ISL beda wasitnya 😀

    • dribble9 says:

      Dua fullback gak refleksikan pemain terbaik di posisinya menurut saya. Jupe bisa jadi pivot, tapi lebih baik tetep bek dan jadi ball playing defender, masih langka di sepakbola kita.

Apa Pendapatmu?