List of feeds URL

Timnas U23 Mengejar Emas Dengan Mengubur Potensi Terbaik

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Ekspektasi untuk mengakhiri mimpi merebut medali emas SEA Games akhirnya gagal dipenuhi Timnas U23. Kegagalan mengalahkan Thailand di partai final menambah panjang penantian yang sudah mencapai tahun ke 22. Lalu kenapa di SEA Games kali ini kembali gagal?

Terdapat banyak hal menarik di laga final ini dari sudut taktikal karena dua tim ini pernah bertemu sebelumnya di fase grup. Di pertemuan sebelumnya Thailand berhasil menggilas Timnas U23 dengan kemenangan besar 4-1. Dengan dua pelatih yang sudah saling tahu kelebihan dan kekurangan lawan, keduanya dipaksa saling menebak perubahan apa yang akan dilakukan sang rival. Buat Rahmad Darmawan ada satu teka-teki lagi yang harus dipecahkan, bagaimana membenahi pertahanan yang sebelumnya berhasil digelontor begitu banyak gol mudah.

Rahmad Darmawan akhirnya memutuskan untuk memakai taktik bertahan yang tentunya berbeda dengan sebelumnya. Garuda muda berniat merapatkan barisan dengan defensive line yang cukup dalam untuk mencegah Thailand mendapatkan ruang di depan backfour, guna mencegah terulangnya prosesi gol dari Thailand sebelumnya. Untuk menyerang, mereka berniat melakukan serangan balik cepat dengan memanfaatkan kebiasaan dua fullback Thailand yang jauh naik ketika menyerang. Kiatisuk Senamuang sendiri ternyata tidak merubah taktiknya. Thailand juga berinisiatif untuk bertahan di area sendiri dan melakukan serangan balik cepat. Akhirnya pun kita disuguhi laga antara dua tim yang memakai pendekatan yang sama dan kebetulan juga memakai formasi yang sama, 4-2-3-1.

Tidak heran jika di menit awal tempo yang terjadi di lapangan sangat lambat akibat dari kedua tim yang saling menunggu. Dengan bermain menggunakan cara yang sama, kenapa laga ini lantas menjadi milik Thailand?

Drop Deep Trouble 

Jika drop deep dinilai sukses dipakai tim lain untuk melawan Thailand, penggunaan taktik ini untuk Timnas U23 patut dipertanyakan. Garuda muda bukan tim yang bagus ketika harus bertahan dengan cara ini. Taktik ini sudah pernah beberapa kali dipakai sebelumnya dan tidak bisa dibilang sukses. Dua kali Timnas lolos dari maut ketika memakai drop deep di babak kedua saat melawan Myanmar dan Malaysia. Tapi ketika menghadapi tim dengan level lebih baik seperti melawan Thailand di laga ini atau Maroko di final ISG, garis pertahanan yang dalam tak mampu menghindarkan dari kekalahan.

Jika di tarik lebih jauh lagi, bertahan dengan drop deep selalu manjadi masalah buat pemain kita. Timnas senior dipaksa ketinggalan dari Cina ketika memakai cara ini. Tidak terhitung juga jumlah gol tiap pertandingan yang dilesakkan oleh tim Eropa ketika melakukan friendly match di tanah air, dan tim kita selalu menghadapi dengan drop deep. Inti masalah dari sulitnya pemain kita bertahan dengan cara ini karena drop deep memaksa tiap pemain membagi konsentrasi terhadap tiga hal sekaligus: bola, ruang dan pemain lawan yang masuk dari lini kedua. Belum juga ditambah dari kebiasaan lambatnya winger turun setelah menyerang. Bertahan di posisi yang dalam menjadi sangat riskan jika melakukan kesalahan karena jarak dengan gawang sudah dekat. Dan yang sering membuat was-was yaitu cara ini mempersilahkan lawan untuk terus melakukan crossing, situasi yang sering menjadi titik lemah kita.

Terkait:  Pergerakan Tanpa Bola: Aksi Penting Yang Sering Diabaikan

Di lain pihak, bertahan dengan high defensive line di padu dengan pressing di depan tercatat lebih sukses. Timnas U23 berhasil menjaga gawang tetap perawan saat melawan Malaysia, Myanmar dan Maroko dengan cara ini. Tiap match tersebut juga menghasilkan satu gol keunggulan. Begitu juga Timnas senior berhasil menyamakan gol melawan Cina juga ketika memakai high up pressing. Cara ini sedikit lebih sederhana buat pemain kita karena pemain hanya harus fokus terhadap dua hal, bola dan pemain lawan. Intensitas memang sangat penting agar pressing tidak lepas, tapi winger yang cukup dimanjakan dengan tidak harus turun jauh bisa mendukung menjaga intensitas itu. Jika lawan bisa menembus defence ini, jarak yang masih cukup jauh dari gawang masih bisa dicover pemain kita yang cukup terkenal dengan kecepatannya. Yang terakhir, high up pressing bisa mengurangi frekuensi crossing lawan dan terjadinya duel bola atas di kotak penalti.

Jadi keputusan untuk drop deep di laga ini membuat tim bermain tidak dengan potensi terbaik mereka. Dampak yang paling terlihat adalah menurunnya performa Rizky Pellu, dia kesulitan covering area yang terlalu luas antara posisi bertahan dan menyerang karena defensive line yang jauh di belakang. Hal inilah yang menjadi awal keunggulan Thailand.

Prosesi gol Thailand berasal dari tidak detailnya instruksi untuk bermain drop deep dan counter attack. Setelah counter attack Timnas gagal, Thailand bisa balik membalas. Timnas terlalu cepat menurunkan garis pertahanan yang berakibat serangan balik Thailand masuk cukup cepat ke kotak penalti. Di sisi lain Thailand tidak menerapkan cara yang sama ketika menerima counter attack. Defensive line dikontrol turun bertahap untuk mempersulit lawan ketika di tengah. Tidak mengherankan jika Thailand melakukannya dengan rapi dan lebih detail, karena ini cara main milik mereka. Mungkin Kiatisuk memutuskan tetap memakai drop deep untuk laga sepenting ini karena bisa memaksimalkan potensi timnya.

Jika kita mengambil jumlah kemasukan yang lebih sedikit dari pertemuan pertama sebagai acuan kalau drop deep lebih efektif, jangan lupa ada faktor lain yang menjadi pembeda. Ada dua pemain baru di tengah dan belakang, yaitu Syaifuddin yang menggantikan Andri Ibo dan Rizky Pellu yang menggantikan Egi Melgiansyah. Di pertemuan pertama, satu gol berasal dari weak link Egi dan Dedi Kusnandar dan dua dari kesalahan antisipasi Andri Ibo. Jadi di duel kali ini Timnas U23 tidak memainkan dua pemain yang sebelumnya kurang bisa mengimbangi level Thailand.

Counter Attack Hell 

Sama seperti drop deep, tim ini juga tidak efektif ketika melakukan counter attack. Dari empat gol yang dicetak Garuda muda selama SEA Games, hanya satu yang berasal dari counter attack. Gol itu terjadi ketika Timnas U23 menang melawan Kamboja, itupun hadiah dari hakim garis yang tidak menganggap Yandi Sofyan offside. Sisanya gol dari serangan yang disusun baik dari tengah dan dari skema set piece.

Terkait:  Australia Mengangkangi Sepakbola Asia

 

 

Berisi pemain depan yang bagus ketika dribbling, counter attack yang dilakukan sangat mudah ditebak. Timnas U23 terlalu sering mencoba melakukan dribbling untuk menusuk daripada memanfaatkan ruang kosong yang ada di defence lawan. Hal ini berbeda dengan Thailand ketika melakukan serangan balik, pemain yang tidak membawa bola lebih cepat berlari mencari ruang kosong daripada kecepatan dribbling pemain yang membawa bola. Dari situ mereka bisa masuk defence lawan dengan passing dan tak tersentuh serta lebih banyak mendapat peluang. Efektifnya counter attack Thailand dan tidak efektifnya milik Garuda muda juga tergantung bagaimana lawan merespon serangan itu. Akhirnya kita akan kembali merujuk ke poin tentang drop deep di atas, dimana milik Thailand lebih detail dengan defensive line turun bertahap dan sebaliknya defensive line milik Garuda muda terlalu cepat turun.

Buruknya skema counter attack Timnas U23 bukanlah cerita baru. Ketika drop deep dan mencoba memakai serangan balik saat melawan Malaysia dan Myanmar di babak kedua, mereka tidak berhasil menambah gol. Jauh hari hal ini juga sudah tercermin saat melawan Timor Leste di friendly match sebelum SEA Games. Saat itu Garuda muda mencoba menyerang dengan cara menaikkan tempo serangan sejak dari garis tengah. Dengan cara itu serangan sering gagal. Jika pun berhasil masuk, akurasi tendangan tiba-tiba sangat buruk setelah berlari dari jarak yang cukup jauh. Apalagi di laga ini yang counter attack banyak di awali jauh di area sendiri. Jadi keputusan memakai drop deep dan counter attack secara bersamaan adalah formula kegagalan.

Mengejar Gol 

Setelah Thailand mencetak gol, Timnas sekarang berinisiatif menyerang lebih frontal untuk menyamakan skor. Sedikit demi sedikit mereka mulai keluar dan meninggalkan skema bertahan di posisi yang dalam. Thailand pun merespon dengan semakin menarik mundur defensive line untuk menguatkan pertahanan, dan sekali lagi ini adalah salah satu kelebihan mereka yang coba dimaksimalkan sang pelatih Kiatisuk Senamuang.

Dengan beban yang lebih berat setelah tertinggal, Garuda muda berusaha mendapatkan ritme terbaik mereka seperti ketika melawan Myanmar. Mereka mencoba masuk kotak penalti Thailand dengan memanfaatkan kejelian Fandi Eko untuk melakukan link up kedua winger. Di laga sebelumnya hal ini berhasil, tapi tidak terulang lagi kali ini. Double pivot di belakang Fandi tidak bekerja dengan baik dan tidak mendukung skema andalan Timnas U23 untuk berjalan. Dedi Kusnandar dan Rizky Pellu mengambil posisi terlalu jauh dari Fandi. Ketidak hadiran dua rekannya itu gagal menyokong Fandi untuk masuk final third Thailand. Fandi sering turun terlalu jauh untuk mengambil bola yang akhirnya koneksi dia dan dua winger tidak dalam posisi yang menjanjikan untuk mengancam gawang Thailand. Apakah positioning Dedi dan Rizky Pellu ini masih terbawa skema bertahan sebelumnya?

Terkait:  Catatan Dari Laga Perdana Sea Games 2013 Timnas U23 Lawan Kamboja

Walaupun garis pertahanan sekarang lebih tinggi, positioning Dedi dan Rizky Pellu terlalu jauh untuk langsung menekan jika pemain Thailand bisa menggagalkan serangan. Akibatnya counter attack Thailand masih cukup deras masuk. Dengan kata lain, Timnas U23 masih belum bisa memainkan high up pressing, yang artinya mereka belum memainkan permainan ideal. Tidak naiknya Rizky Pellu membuatnya tidak bisa mengulangi menjadi bos lini tengah seperti dua laga sebelumnya. Skema seperti ini hanya mengakibatkan serangan ompong seperti saat melawan Timor Leste. Game kali ini tidak berhasil membuat Rizky Pellu menemukan permainan terbaik.

Di babak kedua ada sedikit perubahan dari pola serangan Garuda muda. Mereka coba eksploitasi sisi kiri dengan Diego Michels yang semakin agresif naik. Sedangkan Ramdhani sekarang lebih cepat bergerak ke tengah untuk menemani Fandi. Rencana ini berjalan cukup positif dengan beberapa kali mendapatkan peluang. Dengan semakin terlibatnya Ramdhani di tengah, Fandi sekarang bisa mengambil posisi lebih naik. Tapi tidak lama Kiatisuk merespon dengan lini tengah yang sekarang lebih rapat dengan lini belakang dan backfour sendiri semakin narrow. Hal ini menambahkan level kesulitan bagi empat pemain terdepan Timnas untuk menembus masuk.

Sayang sekali Rahmad Darmawan sangat lambat merespon ini dan membiarkan Thailand sangat superior di depan kotak penalti mereka karena sedikitnya pemain Timnas yang naik. Di saat positioning Rizky Pellu dan Dedi Kusnandar masih sangat dalam dan sangat minim kontrobusi, tidak ada inisiatif untuk membuat mereka lebih advance naik, apalagi sebenarnya serangan balik Thailand juga semakin lemah karena banyak menempatkan pemain untuk bertahan. Rahmad Darmawan memilih mengganti Yandi dengan Pahabol terlebih dahulu, dan akhirnya mengganti Rizky Pellu dengan Dendi Santoso ketika laga hanya menyisakan 10 menit.

Kesimpulan (Akhir) 

Sejak awal skuad ini bukanlah tim ideal untuk Rahmad Darmawan. Dari masa persiapan sampai laga terakhir fase grup, dia masih terus merotasi starting line up untuk mendapatkan komposisi terbaik. Walaupun mendapati progres positif, tidak mengherankan jika tiba-tiba dia meminta tim ini untuk memainkan skema yang tidak ideal untuk mereka. Akhirnya finish flag sudah dikibarkan dan podium kedua adalah posisi maksimal dari skuad yang seharusnya mempunyai potensi lebih baik.

 

Highlights

Apa Pendapatmu?