List of feeds URL

Timnas U23 Menelan Malaysia U23 Walaupun Sempat Limbung

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Garuda muda melenggang ke final SEA Games Myanmar 2013 setelah mengalahkan Malaysia lewat drama adu penalti. Kalau melihat kualitas dan level permainan kedua tim, Timnas U23 bisa sebenarnya bisa menuntaskan laga ini dalam 90 menit. Tapi pendekatan yang berbeda di babak kedua, memberi sedikit angin bagi Malaysia.

Beberapa tahun terakhir Malaysia seakan menjadi momok menakutkan bagi sepakbola Indonesia. Mereka tidak pernah memainkan sepakbola yang benar-benar wah, tapi entah kenapa rasanya sulit sekali untuk dilangkahi. Kegagalan mengalahkan Malaysia di final AFF 2010, final SEA Games 2011 dan fase grup AFF tahun lalu seakan terus menghantui perjalanan sepakbola Indonesia untuk menuai prestasi.

Tapi di pertandingan ini semuanya berbeda, Garuda muda bisa menang dengan nyaman. Memang pemenang ditentukan lewat adu penalti, tapi itu hanya sekedar perpanjangan nafas Malaysia dan tidak bisa menghilangkan kenyataan jika mereka gagal membuat gawang Kurnia Meiga benar-benar dalam ancaman berarti. Hanya di separuh akhir babak kedua Indonesia seakan bosan bermain dan dengan mudah memberikan bola ke lawan lagi.

Di babak pertama pelatih Malaysia menghabiskan waktu memodifikasi timnya untuk menandingi lini tengah Indonesia. Tidak seperti ketika melawan Vietnam yang hanya butuh hasil seri dimana mereka siap bertahan 90 menit, di laga ini kelihatan dia tidak nyaman berlama-lama di bawah tekanan.

im

Secara natural 4-2-3-1 yang dipakai Timnas U23 bisa mudah membekap 4-4-2 Malaysia. Keunggulan satu pemain di tengah bekerja dengan efektif untuk mendikte serangan ataupun ketika bertahan. Belum lagi ditambah movement ketiga pemain tengah yang sangat advance melakukan overload ke beberapa tempat, membuat Malaysia kesulitan melakukan covering. Fandi Eko dan Rizky Pellu bisa bergerak ke flank, bahkan bersamaan. Sedangkan Egi Melgiansyah bisa berada sangat dalam, sejajar dengan duet bek tengah. Movement ke flank oleh pemain tengah ini memang dimaksudkan mengurangi kerja fullback untuk naik, untuk menjaga keseimbangan defence karena Malaysia memakai dua penyerang tengah.

Di awal pertandingan Ong Kim Swee membuat defence Malaysia turun cukup dalam. Mereka berusaha membuat solid two banks of four di belakang, menarik pemain lawan ke areanya dan meninggalkan dua strikernya untuk menyayat ruang kosong di depan jika mengawali counter attack. Tapi di luar dugaan fullback Indonesia tidak naik seagresif biasanya. Timnas Indonesia lebih intensif memakai Rizky Pellu dan Fandi Eko untuk mendukung kerja winger daripada menggunakan fullback. Situasi ini membuat duet striker Malaysia tidak berkutik ketika melakukan counter attack karena minimnya ruang yang biasanya ditinggal fullback naik. Selain itu terlalu dalamnya dua winger Malaysia turun tidak membantu skema serangan yang ingin mereka mainkan. Serangan Timnas U23 tidak terlalu efektif tapi cukup nyaman mengontrol permainan.

Terkait:  Goals And Full Highlight AFF U19 2013: Indonesia 3 - 1 Thailand

Setelah itu Ong Kim Swee merubah cara Malaysia bertahan dengan menaikkan garis pertahanan dan mencoba langsung menekan fullback dan gelandang Indonesia jika menguasai bola. Tapi situasi 2 vs 3 di tengah tidak banyak membantu Malaysia mengambil alih kontrol. Ketika Egi bergerak ke belakang, tidak ada pemain Malaysia yang bisa covering dia. Apalagi dua striker Malaysia juga tidak memiliki tugas khusus untuk marking. Dari belakang Egi terus mengirim bola langsung ke depan terutama ke sisi kiri yang ditempati Ramdhani. Bola panjang ini membuat backfour Malaysia turun untuk menghalau. Beruntung bagi Timnas U23, defence Malaysia tidak rapi ketika melakukan transisi bergerak ke belakang. Barisan gelandang sering tertinggal dan menyediakan ruang bagi Yandi dan Fandi untuk melakukan long range shot.

Bola dari Egi memang sering diarahkan ke Ramdhani di kiri daripada ke Bayu Gatra di kanan. Dua winger ini asimetris karena Gatra lebih sering turun menjemput bola, sedangkan Ramdhani terus di depan mengetes offside line Malaysia. Walaupun peluang lebih sering di dapat dari sisi Ramdhani, tapi gol di dapat dari sisi Gatra di kanan. Sekali berhasil melewati fullback Malaysia, Gatra mendapatkan ruang kosong di depannya untuk mencetak gol dengan dibantu kombinasi passing dengan Fandi. Sebenarnya di kiri pun bisa mendapatkan efek mematikan seperti di kanan, tapi karena Ramdhani memainkan role inverted winger dan jarang menusuk dari sisi luar, hal ini tidak terjadi.

Dua winger yang asimetris juga dipakai Malaysia ketika menyerang. Di sisi kanan yang ditempati Deandm, lebih bersifat provider dan berusaha menyuplai bola melalui crossing. Sedangkan di kiri yang ditempati Nazirul, cepat sejajar duet striker untuk mengoverload kotak penalti ketika crossing datang. Ketika melawan Vietnam skema ini sukses menghasilkan gol, tapi tidak di pertandingan ini. Dengan tidak terlalu naik, Diego Michels dan Alfin melakukan marking winger Malaysia dengan efektif, baik itu untuk mencegah crossing ataupun membantu menghalau jika crossing datang.

Terkait:  Highlights Indonesia U23 vs Maldives (2-1)

Di babak kedua Malaysia mencoba meningkatkan level serangannya dengan menaruh semakin banyak pemain di depan. Ketika melakukan build up serangan mereka lebih sering memanfaatkan pemain belakang tanpa melalui double pivot terlebih dulu. Dua winger lebih cepat naik menemani dua striker. Dari belakang bola langsung didorong ke depan, baik itu memakai bola atas ataupun bawah. Untuk crossing, sekarang lebih banyak dilakukan oleh dua fullback daripada winger seperti di babak pertama.

Skema Malaysia sekarang sering terlihat menjadi 4-1-1-4, terutama jika fullback menguasai bola. Walaupun beberapa kali bisa mendapatkan situasi 4 vs 4 di depan, tidak ada peluang matang yang didapat Malaysia. Kerjasama mereka tidak terlalu bagus, semua bergerak ke arah yang sama dan membuat Indonesia bisa menutup ruang tembak hanya dengan empat pemain. Crossing yang dilakukan pun akurasinya sangat buruk, sehingga jarang menemui target. Ketika bola berhasil dihalau, hanya dengan satu pemain di lini kedua membuat Malaysia kesulitan menguasai bola untuk menekan lagi.

Menghadapi tekanan Malaysia dengan empat pemain di depan, defence anak asuh Rahmad Darmawan semakin turun dan serangan ke gawang Malaysia pun berkurang. Tapi minimnya pemain Malaysia di tengah tidak membuat Timnas kehilangan kontrol. Jika dilihat lebih detail, sebenarnya bukan Malaysia yang membuat serangan Timnas menurun karena Malaysia memakai banyak pemain di depan ketika menyerang. Sejak awal babak kedua mereka sudah mengindikasikan menurunkan tempo dari sedang menjadi pelan. Garuda muda terlalu cepat ingin menutup laga ini padahal hanya unggul satu gol. Movement pemain semakin minim, passing semakin pelan dan ketika menguasai bola setelah serangan Malaysia gagal, tidak ada inisiatif untuk cepat keluar kembali ke posisi menyerang. Tim ini tidak bisa bermain di tempo yang terlalu lambat sehingga sering salah umpan dan memberi kesempatan Malaysia menyerang lagi. Masuknya Nelson Alom dan Andik tidak bisa banyak membantu karena keduanya kesulitan menyesuaikan diri dengan ritme yang dimainkan rekannya.

Terkait:  Indonesia U19 0 (7) - (6) 0 Vietnam U19: Timnas Lebih Sabar Dan Akhirnya Membawa Kemenangan

Pendekatan Timnas setelah unggul lebih awal ini mirip dengan apa yang mereka lakukan ketika melawan Myanmar, namun kali ini cerita yang terjadi berbeda. Di menit akhir Malaysia mendapat hadiah gol penyeimbang dari set piece. Setelah itu sampai babak tambahan berakhir, Malaysia kembali ke 4-4-2 dan drop deep di areanya sendiri. Garuda muda gagal menambah gol, tapi sisa waktu yang ada cukup untuk membuat mereka mendapatkan ritme lagi. Menguasai permainan sampai akhir, Garuda muda bisa mempunyai modal kepercayaan diri dan feeling yang bagus untuk memenangi adu penalti.

Kesimpulan 

Tim Malaysia di SEA Games ini tidak terlalu bagus, tidak ada lagi pemain kreatif dalam skuad mereka. Yang tersisa hanya keunggulan fisik dan intensitas dalam memainkan 4-4-2 yang selama ini jadi modal mereka menguasai ASEAN. Masalah hilangnya kreatifitas juga ada di Malaysia U19 yang beruntung bisa menahan imbang Evan Dimas dan kawan-kawan di Sidoarjo beberapa bulan lalu.

Di sisi Indonesia, skema yang hampir sama dengan yang dipakai ketika melawan Myanmar kembali memberi hasil positif. Dengan didampingi Rizky Pellu, Egi Melgiansyah kembali bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Sebelumnya ketika Dedi Kusnandar menjadi rekan duetnya saat melawan Thailand, dia malah menjadi titik lemah di depan backfour. Malaysia yang tidak memakai gelandang serang juga sedikit mengurangi tekanan di posisi Egi.

 

Highlights

90 menit

 

Extra Time

 

Penalty Shotout

Apa Pendapatmu?