List of feeds URL

Timnas U19 Kurang Cekatan Merespon Kalahnya Kualitas Dari Uzbekistan

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Jalan terjal sudah mewarnai awal kampanye Timnas U19 untuk menuju pentas Piala Dunia U20. Kekalahan 1-3 atas Uzbekistan membuat langkah ke fase knockout terasa berat walaupun bukan mustahil.

Kehilangan tiga poin ini sedikit terobati dengan laga setelahnya, di mana Australia hanya seri melawan Uni Emirat Arab (UAE). Grup yang dihuni skuat Garuda jaya terhindar dari situasi two horse race, yang sekaligus kembali membuka peluang Timnas untuk lolos walaupun berada di posisi juru kunci.

Timnas sekarang diwajibkan menyikapi kekalahan kemarin dengan sebijaksana mungkin. Fakta bahwa level mereka masih di bawah Uzbekistan harus dicarikan solusi segera, mengingat  lawan di depan mata adalah Australia, tim yang sudah dua kali masuk semifinal di turnamen yang sama.

Gap kualitas dengan Uzbekistan terlihat cukup jelas karena di sepanjang pertandingan, mereka lah yang menentukan bagaimana cara game dimainkan. Timnas kesulitan keluar dari tekanan jika lawan memakai high press. Begitu juga ketika lawan memutuskan drop deep, mereka gagal memanfaatkannya untuk menghasilkan peluang lebih dan mencetak gol.

Kesulitan Mendapat Ritme

Bisa memaksakan game dimainkan dengan cara sendiri menjadi sangat krusial untuk tim yang memakai ball possession based seperti tim asuhan Indra Sjafri ini. Semakin sering bola berada di kaki, semakin hidup juga permainan tim, berbarengan dengan keluarnya kemampuan terbaik masing-masing pemain.

Sebaliknya, jika lawan yang sering menguasai bola, banyak hal menjadi serba salah. Akurasi umpan menurun, kontrol bola buruk ataupun pengambilan posisi yang tidak tepat. Hal ini yang sering terjadi sebelum Uzbekistan menurunkan pressing mereka.

Uzbekistan melakukan high up pressing sejak awal dengan membebaskan dua winger mereka masuk ke tengah, strategi yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi Garuda jaya. Situasi ini menghalangi Timnas nyaman ketika melakukan kontrol serangan dari area sendiri karena posisi 3 v 5 di tengah.

Jika tim pelatih mengetahui kecenderungan ini sejak awal, idealnya mereka memakai Paulo Sitanggang sejak awal, bukan Zulfiandi. Paulo yang lebih sering bergerak vertikal tentu akan membantu tim keluar dari pressure ketika melakukan build up attack.

Tapi agak dilema juga karena Zulfiandi lah yang mengawal ritme tim di pertengahan babak pertama, sehingga mereka mulai mendulang banyak peluang. Paulo sukses menjadi pembeda dengan gol luar biasanya seketika setelah masuk. Tapi keluarnya Zulfiandi membuat tim kehilangan lagi ritme dan Uzbekistan kembali mengambil kontrol game dan sukses menambah satu gol.

Terkait:  Indonesia U19 3 - 2 Korea Selatan U19: Lebih Kuat Di Tengah Dan Flank

Peran Dinan Javier

Perubahan menarik dilakukan Indra Sjafri di depan dengan memilih Dinan Javier sebagai penyerang tengah daripada Muchlis Hadi. Mereka sudah pernah mencoba ini sebelumnya ketika melawan Barcelona B, namun tidak cukup kelihatan perannya karena waktu itu tim jauh lebih minim keluar menyerang.

Di laga ini Dinan berperan sebagai supporting player daripada umumnya penyerang tengah yang sebagai finisher. Pemain kelahiran Bantul ini selalu bergerak ke flank jika dua wide forward menerima bola. Maksud dari strategi ini untuk melakukan flank overload dan membantu pemain sayap lepas dari kawalan fullback lawan.

Pendekatan ini juga dimaksudkan untuk bisa menggeser dua bek tengah lawan agar ikut terseret ke flank dan memberi ruang Evan Dimas masuk ke tengah.

Cara ini terlihat cukup sukses menghidupkan sisi kanan, di mana Dinan bisa menghidupkan area tersebut sementara Maldini Pali tampil cukup buruk. Sekali Dinan berhasil mengambil posisi di depan Maldini dan bisa lepas dribbling naik lalu memberikan cut back pass ke tengah, namun sayang Evan Dimas dijatuhkan dan wasit tidak memberikan penalti.

Jika cara ini berhasil di kanan, lain cerita terjadi di sisi kiri. Dinan yang masuk ke sisi kiri selalu mengajak satu bek tengah lawan. Semakin menumpuknya pemain di area itu bukannya membantu Ilhamudin, namun justru membuat space yang dibutuhkannya melakukan akselerasi pendek tidak tersedia.

Situasi ini lama kelamaan semakin mematikan potensi serangan balik Timnas. Buruknya penampilan Maldini membuat teman di belakang lebih sering mengirim bola ke sisi Ilham, dan hal yang sama terus berulang.

Perubahan role Dinan terjadi setelah Paulo Sitanggang masuk. Sekarang Dinan tidak lagi bertugas bergerak ke flank, namun lebih statis di tengah. Paulo yang lebih cepat naik, yang sekarang bertugas melakukan flank overload dan sering kali bergerak ke kanan daripada kiri. Beberapa kali juga Paulo justru lebih cepat naik daripada Septian David yang masuk menggantikan Maldini.

Variasi baru ini membuat Ilham mulai hidup di kiri. Ilham selalu mendapatkan situasi ideal 1 v 1 dengan fullback Uzbekistan dan berkali-kali bisa menghabisinya dengan adu sprint di flank.

Tapi sayang pelatih tidak cepat membaca situasi ini dengan menempatkan striker yang karakternya lebih pas. Muchlis bisa dimasukkan jika lebih memilih Evan yang menjadi finisher. Muchlis selama ini memang bertugas membuat bek tengah lawan tidak naik, yang dimaksudkan memberikan ruang untuk Evan masuk. Sedangkan di bench masih ada Dimas Drajat, jika pelatih ingin strikernya yang sebagai finisher.

Terkait:  Manchester City 1 - 3 Bayern Munich: Blunder Taktik Pellegrini

Seumpama pergerakan Dinan ke flank kiri sukses, sebenarnya masih ada pertanyaan yang bisa dilayangkan ke tim pelatih. Jika Ilham dan Dinan berada di sisi kiri, maka sisa pemain yang menjadi opsi target tinggal Evan dan Maldini. Sepertinya situasi ini tetap tidak akan ideal, mengingat Maldini belum mempunyai atribut sebagai finisher.

Stamina Dan Pressing

Dari keseluruhan berjalannya laga, Uzbekistan memang terlihat sebagai tim yang lebih baik. Negara pecahan Uni Soviet ini lebih komplit dari Evan Dimas dan rekan, hampir di semua aspek permainan.

Uzbekistan bisa melakukan high up pressing dengan baik. Walaupun speed yang dipakai untuk melakukan pressing tidak secepat Oman ataupun Myanmar, tapi positioning pemain Uzbekistan selalu tepat.

Selain itu, mereka juga bisa bertahan di posisi dalam dengan zonal marking yang rapi dan rapat. Defensive blocknya terus naik dan turun menyesuaikan posisi bola yang dikuasai pemain Timnas dengan baik. Hal ini yang memaksa Timnas hanya mempunyai peluang dari long shot range jika memakai serangan lambat, karena tim ini tidak dilengkapi atribut crossing dari flank.

Uzbekistan juga sangat baik dengan bola di kaki. Mereka menarik lebar pertahanan Timnas baik secara horizonal maupun vertikal. Faktor ini yang membuat Garuda jaya cukup sulit melakukan pressing ataupun menjepit mereka di flank.

Di babak kedua mereka juga mengurangi build up dari belakang dan lebih memilih melakukan long goal kick. Timnas sering kalah dalam situasi ini karena kurang rapat di area jatuhnya bola dan gagal mengambil second ball. Strategi ini juga yang membuat Timnas tidak cukup sering melakukan high up pressing.

Kalahnya kualitas secara tim membuat momentum ketika mendapatkan ritme di akhir babak pertama dan ketika bisa membalas satu gol menjadi cukup berharga. Tapi sayang Timnas membuang momentum itu sia-sia.

Uzbekistan justru kembali melakukan high up pressing di 15 menit terakhir, dan membuat situasi Timnas kembali seperti di awal laga. Sedangkan Timnas seperti kurang inisiatif untuk meningkatkan agresifitas pressing untuk lebih cepat mencuri bola. Bahkan prosesi gol terakhir menunjukkan berkurangnya konsentrasi pemain untuk membaca serangan lawan.

Terkait:  Video Fullmatch Semua Laga Timnas U19 Di AFF 2013

Entah cara main mereka di 15 menit terakhir adalah instruksi atau memang menurunnya kondisi fisik. Jika masalahnya adalah stamina, maka cukup disayangkan, karena faktor inilah yang membawa mereka menjadi juara AFF tahun lalu.

Next Match

Lawan kedua adalah negara tetangga jauh, Australia, yang sebelumnya bermain imbang melawan UAE. Kita bisa berharap negeri kanguru di level yang sama dengan UAE, karena negara yang disebut terakhir pernah kita kalahkan di laga ujicoba.

Timnas sendiri harus melakukan perbaikan karena masih banyak kekurangan yang membuat mereka tidak maksimal. Maldini mungkin bisa dicadangkan dulu dan digantikan Septian atau Paulo Sitanggang. Mereka pernah memakai Paulo di flank dalam skema asimetris 4-2-3-1 ketika melawan Barcelona.

Dinan masih bisa dicoba jika memakai 4-2-3-1 ini dengan terus melebar ke kanan, tapi bukan ke kiri. Dengan cara ini, tim bisa mendorong Evan dan Paulo sebagai finisher setelah Dinan membuka ruang. Dinan bergerak ke kanan juga bisa memaksimalkan kemampuan mencetak gol dari Ilhamudin.

Jika ingin memakai cara lama, Muchlis yang harus diturunkan. Kesepahaman pemain asal Mojokerto ini dengan Evan menjadi tak ternilai ketika di momen laga melawan Uzbekistan beberapa kali Dinan menutup ruang yang seharusnya dimakan oleh Evan.

Garuda jaya juga harus mulai berinisiatif mencuri start lebih awal dengan lebih agresif sejak kick off. Kebobolan gol cepat akhir-akhir ini seperti menjadi kewajaran dan hal itu tidak membantu mereka cepat dapat ritme, dan justru membuat lawan nyaman memainkan game mereka beberapa lama. Kesempatan menang akan lebih besar jika tim punya strategi khusus untuk fase 15 menit awal dan akhir.

Sudah bukan waktunya lagi Garuda jaya bermimpi ke Piala Dunia. Sekarang waktunya mereka bangun dan membuatnya menjadi nyata.

#GarudaJayaFightBack.

Apa Pendapatmu?