List of feeds URL

Timnas Garuda Muda Yang Dipuji Tidak Terbang Dicaci Tidak Tumbang

Author: Riezky Maulana (twitter: @rizmauu_)

Bukan sesuatu yang asing lagi ketika melihat animo masyarakat Indonesia menggila saat timnas berlaga. Tidak peduli kategori umur berapa yang berlaga, mulai dari timnas senior sampai U-16 pasti stadion selalu dipadati.

Tentu itu merupakan sesuatu yang bisa dibanggakan. Apalagi tahun 2018 ini, Indonesia banyak menjadi tuan rumah bagi pesta bal-balan.

Hal tersebut sudah terlihat saat Timnas U-19 menjalani pertandingan, warga Sidoarjo dan sekitarnya seakan mengawal langkah garuda muda. Pemandangan tersebut terpampang di berbagai media massa. Banyak koran dan portal berita memberitakan bahwa suporter rela antre dari beberapa jam sebelum loket penjualan dibuka. Hal tersebut nampaknya senada dengan pelatih U-16 Fakhri Husaini, beliau memuji loyalitas serta kreativitas pendukung timnya di Sidoarjo.

“Apresiasi kepada suporter yang mendukung kami di sini. Saya berharap sampai selesai turnamen nanti bisa menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang bermartabat. Bangsa yang menjunjung tinggi nilai fair play dan respek. Dukungan seperti inilah yang kami harapkan ke depannya,” ucap Fakhri dikutip melalui bolaskor.com.

Bisa kita sepakati hingga hingga saat ini, belum ada olahraga yang mendapatkan sambutan paling meriah dan gegap gempita dari masyarakat khususnya di Indonesia selain sepak bola. Untuk itulah tidak sedikit analisa yang meyakini bahwa sepak bola bukan sekedar olahraga, tapi sebuah olahraga yang menimbulkan motivasi berlebih, revolusi, dan menjadi perhatian mafia.

Sepak bola modern kini berkembang dari masa ke masa. Banyak sekali aspek yang di pengaruhi atau memengaruhi dalam proses berkembangnya olah raga ini, antara lain dilihat dari aspek psikologi pemain.

Saya berpendapat bahwa sudah saatnya Indonesia berkembang lebih jauh lagi di era sepakbola yang moderen ini. Salah satu faktornya ada di pengembangan pemain muda yang tentunya berdampak pada regenerasi pemain. Kita pun sudah melihat dampak dari regenerasi tersebut. Nama-nama seperti Evan Dimas, Hargianto, dan Saddil sudah sering dipanggil untuk membela timnas di tingkat senior.

Terkait:  Catatan Laga Timnas U19 Lawan Laos U19

Tetap membumilah Wahai Anak Muda

Tetap membumi tidak melangit. Tepat! Menurut saya kata-kata ini sangat menggambarkan kondisi sekarang bagi para pemain timnas U-16. Bagaimana tidak, pasalnya mereka berhasil menjadi juara untuk pertama kalinya sejak 2002 saat turnamen ini pertama kali digulirkan. Iya, kita baru pertama kali menjuarai turnamen ini. Sama dengan negara tetangga Malaysia, dan kalah dari Myanmar yang sudah menjadi juara dua kali, beruntun pula.

Dengan begitu, banyak harapan baru bermunculan dan seakan dibebankan ke mereka. Sebelum kita berbicara lebih lanjut, saya ingin mengatakan bahwa tantangan selanjutnya bagi Garuda Muda sangat berat. Tentunya narasi bahwa Indonesia akan bermain di Piala Dunia selalu muncul saat timnas berhasil meraih suatu gelar.

Tentu itu bukanlah sebuah hal yang mustahil, tetapi perlu di garis bawahi jika ingin berlaga di Piala Dunia U-17 tahun depan di Peru, Indonesia minimal harus melaju sampai ke babak semifinal Piala Asia. Ingat. Minimal. Ini baru juara piala AFF yang tentu skalanya masih jauh jika dibandingkan dengan piala dunia nanti.

Ada sedikit ganjalan di hati saya, beberapa hari lalu saya melihat sebuah poster di media sosial terkait arak-arakan si Tachibana Bersaudara dari Indonesia, Bagas dan Bagus. Saya pribadi tentu senang dengan keberhasilan mereka, mengingat bagaimana kurangnya sistem pembinaan usia muda di negara kita.

Mungkin hanya semangat dan tekat besar yang membuat mereka bisa membanggakan kita semua. Mengapa mengganjal? Seperti apa yang saya sudah katakan di atas, kata dibebankan menjadi kata yang harus digarisbawahi. Jangan ganggu mereka dengan ekspetasi tinggi kalian, mereka masih muda dan biarkan mereka terus meningkatkan kemampuan mereka, dan ketika mereka sudah matang. Kita juga akan menikmati hal itu.

Terkait:  Goals And Full Highlight AFF U19 2013: Indonesia 3 - 1 Thailand

Apresiasi silahkan, merayakan pun juga sangat diperbolehkan, tetapi jangan berlebihan. Star syndrome bahaya untuk mental mereka. Kesiapan mental dalam olahraga berarti juga kesiapan mental untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Kesiapan mental adalah keadaan mental seseorang dimana sumber-sumber kemampuan jiwanya yaitu akal, kehendak dan emosi siap untuk melakukan tugas sesuai kemampuannya, karena kesiapan mental yang kurang baik akan mengakibatkan seseorang tidak dapat menanggung beban mental yang seharusnya ia dapat menanggungnya, dengan kata lain individu yang bersangkutan tidak dapat melakukan tugas dengan baik yang seharusnya individu tersebut dapat melakukannya.

Ketika peranan arak-arakan tersebut berhasil, tentunya akan meningkatkan motivasi mereka agar terus berusaha menampilkan sesuatu yang terbaik. Namun, kita sendiri pun tahu, bagaiamana jika mereka gagal menampilkan yang terbaik? Tentunya jutaan cacian, ribuan cibiran akan berdatangan. Hasilnya? Mental menjadi taruhan.

Tentu tidak luput dari ingatan kita bagaimana kasus Saddil. Nama Saddil menjadi salah satu pemain yang menonjol karena goyangan lihainya saat melewati lawan. Semua hal bisa berubah dalam sekejap. Saddil melepaskan sikutan kepada pemain Thailand saat semifinal piala AFF U-19 yang di gelar beberapa waktu silam.

Saddil langsung mendapatkan kartu merah saat itu. Seperti yang sudah-sudah, beberapa suporter menjadikan Saddil sebagai kambing hitam atas kekalahan yang diterima Garuda Muda. Dalam sekejap langsung bertubi-tubi cacian diterimananya.

Tetap membumi Bagas dan Bagus, anggaplah ini sebuah ucapan selamat kecil-kecilan dari masyarakat Indonesia atas apa yang sudah kalian dan teman-teman. Siapkan diri kalian untuk keluar dari euforia juara dan kembali berjuang di tahap selanjutnya.

Apa Pendapatmu?