List of feeds URL

Timnas AFF 2014: Kegagalan Riedl Reinkarnasi Para Jagoan Tua

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Setelah susah payah menahan seri Vietnam, Timnas Indonesia harus kalah dengan memalukan empat gol atas Filipina. Tinggal satu laga tersisa di event AFF 2014 melawan Laos, tapi peluang Tim Garuda yang hanya sehela nafas membuat laga ini layaknya cuma formalitas.

Permainan Timnas jauh dari kata menarik. Hasil imbang melawan Vietnam masih bisa menyembunyikan buruknya permainan dengan efisiensi finishing yang bagus. Tapi mereka tidak bisa mengelak lagi setelah disikat habis Filipina. Semua hal yang dilakukan berasa salah menunjukkan jika mereka sangat tertekan oleh dominasi lawan.

Fakta jika ini adalah kekalahan pertama Indonesia dari Filipina dalam 22 pertemuan, membuat kita terpaksa mengambil kesimpulan lebih jauh sampai ke menurunnya kualitas sepakbola lokal. Sah-sah saja karena di pentas seperti ini adalah tolak ukur seberapa jauh sepakbola kita berkembang, atau juga mungkin tambah menurun.

Kita memang menyadari jika sepakbola kita sama sekali tidak berkembang. Jika tidak mau dikatakan lebih jelek, mungkin bisa dianggap stagnan, tapi negara lain yang justru terus melaju ke depan. Walaupun begitu, skor akhir dengan selisih empat gol melawan Filipina tetap terlihat terlalu berlebihan.

Pertemuan terakhir melawan The Azkals terjadi pada Agustus 2013 dengan kemenangan 2-0 dalam tajuk laga persahabatan. Waktu itu tim dalam persiapan melawan Cina dan masih dikomandoi Jacksen F. Tiago. Lantas kenapa ketika beralih ke Alfred Riedl, Timnas justru kalah begitu telak?

Timnas selalu memakai model dua forward dan dua winger yang membalut formasi 4-4-2, baik untuk starting line up maupun pemain-pemain yang menggantikannya. Jadi dalam 180 menit mereka selalu hanya memakai dua gelandang tengah. Sedangkan dua pemain sayap memainkan role winger klasik yang hanya memiliki rute di flank tanpa keharusan ke tengah.

Seperti dalam preview sebelum AFF dimulai, cara memainkan skema ini adalah dengan dua pivot berposisi lumayan dalam agar memberi area yang cukup bagi dua forward plus dua winger yang naik jauh untuk berjibaku melawan empat bek lawan. Koneksi dua lini ini dilakukan lewat umpan panjang langsung ke depan secepat mungkin, agar pemain tengah lawan tidak mencampuri urusan beknya.

Rencana ini berhasil ketika melawan Vietnam dengan duet Boaz Salosa dan Sergio van Dijk di depan. Walaupun permainan tidak cantik, tapi efisiensi yang ditunjukkan melawan tuan rumah, yang juga sekaligus tim terkuat di grup dan menghasilkan dua gol, membuat penampilan seadanya yang ditunjukkan masih bisa dimaafkan.

Tapi keinginan untuk mengulang cara yang sama ketika bertemu Filipina justru menjadi bencana. Mereka tidak bisa lagi mendulang gol. Bahkan menyandingkan dua pencetak gol sebelumnya, Zulham Zamrun dan Samsul Arif, sebagai starter tidaklah cukup. Keduanya justru tidak pernah terlihat di kotak penalti lawan.

Sangat terlihat jika mereka kehilangan kontrol sejak awal. Selain lawan yang cara mainnya berbeda, ada perubahan lain di starting line up selain Samsul yang menggantikan Boaz, yaitu Firman Utina mengisi posisi Manahati Lestusen.

“Mereka khawatir kalah lari kalau harus beradu dengan lawan yang lebih bugar,” kata Riedl selepas lawan Vietnam. “Bagaimana bisa lepas dari tekanan kalau pemain kalah selangkah atau dua langkah dari lawan?”

Sejak masa persiapan yang sangat minim, masalah kebugaran terus didengungkan Riedl. Begitu juga kekalahan atas Filipina, sang pelatih kembali mengkambing hitamkan masalah stamina pemain. “Jujur, saya terkejut dengan hasil 0-4 ini. Namun, Anda memang sulit memainkan sepak bola dengan baik jika level kebugaran sangat rendah.”

Terkait:  Preview Euro 2016: Trio Wonderkid Polandia di Euro 2016

Alasan yang sangat masuk akal dari pelatih asal Austria tersebut untuk  kegagalan timnya. Persiapan yang hanya satu minggu dan jarak hanya dua minggu dari akhir kompetisi, membuat mustahil baginya untuk menggenjot fisik pemain yang biasanya dilakukan di awal pemusatan latihan. Akhirnya dia hanya memilih berkonsentrasi memperkuat organisasi pemain di sisa waktu yang ada.

Tapi jika dilihat lebih jeli, seharusnya tidak semua pemain mengalami masalah kebugaran. Sebagai contoh di laga melawan Vietnam, hanya tiga starter pemain yang turun di laga terakhir kompetisi. Ada Boaz Salosa dari Persipura dan M. Ridwan serta Achmad Jufriyanto dari Persib. Sedangkan pemain yang lain sebagian besar timnya telah tersingkir di fase delapan besar, yang selesai tiga minggu sebelum AFF.

Selain itu, opsi di bangku cadangan yang lebih segar seperti Evan Dimas atau Ramdani Lestaluhu juga siap dimainkan. Jika mau lebih usil, kenapa pemain-pemain yang tidak dalam level fitnes yang baik yang dibawa, sedangkan puluhan opsi lain disingkirkan. Sebagai contoh, pemain-pemain muda potensial yang dibawa Aji Santoso sukses di Asian Games tentu bukan opsi yang buruk.

Kita mungkin malah bisa tambah mengernyitkan dahi jika menilik rataan usia pemain yang dibawa Riedl di saat dia selalu mengeluhkan tentang kebugaran. Indonesia menjadi kontestan tertua dengan rata-rata usia 28 tahun. Sedangkan Vietnam 25 tahun, Filipina 26 tahun dan Laos sepertinya sedang melakukan pemangkasan generasi dengan rataan 19 tahun.

Jadi di mana sebenarnya letak masalah kebugaran yang dikeluhkan, sedangkan sebenarnya opsi lain masih tersedia. Mungkin kebugaran yang dimaksud sang pelatih lebih spesifik untuk beberapa pemain tertentu.

“Saya ingin mengulangi hasil 2010, tapi seperti yang Anda tahu sejak 2011 orang lain mengambil alih sepakbola Indonesia. Sejak saat itu tim menurun,” kata Riedl seperti yang dirilis Detiksport. “Sampai akhir tahun lalu kami datang, tapi tahun ini pun sungguh sulit untuk federasi, karena Anda tiba-tiba harus punya dua liga (format dua wilayah) dengan masing-masing 11 klub dan butuh waktu yang sangat panjang,” lanjutnya.

Hal di atas semakin memperjelas apa yang diingkannya. Dia masih mengaitkan tim ini dengan tim lamanya yang berhasil melaju ke final di AFF 2010 dan seakan ingin membangun ulang tim tersebut.

Bisa kita lihat dari punggawa-punggawa lama yang tetap dibawanya ataupun yang batal diikut sertakan karena sangat tidak memungkinkan. Ada nama Cristian Gonzales, Firman Utina, Ridwan, Zulkifli Syukur, Irfan Bachdim, Achmad Bustomi dan Hamka Hamzah.

Jika memang Riedl ingin mereinkarnasi tim lamanya lagi, tentu saja dia tidak akan bisa lepas dari masalah fitnes. Bukan hanya karena pendeknya masa persiapan, pemain-pemain ini sudah melewati usia emas dan beralih ke status uzur dalam periode pemain sepakbola. Kecuali Bustomi dan Bachdim, yang lain semuanya sudah di atas 30 tahun. Bahkan Gonzales semusim lagi sudah berumur 40 tahun.

Kengototan sang pelatih juga sangat terlihat dari cara main yang diperagakan tim. Mereka masih memainkan cara lama yang dulu sempat membawa kesuksesan, namun kali ini sebagian besar dimainkan oleh pemain-pemain baru. Personel anyar ini yang justru akan tersandung persiapan pendek karena kurangnya waktu yang ada untuk memahami taktik yang diinginkan.

Terkait:  Spanyol Menatap Brazil 2014 Dengan Gaya Lama

Bisa kita lihat begitu tidak maksimalnya Boaz Salosa dan Samsul ketika harus berposisi sebagai second striker, padahal di klub lebih sering bermain di flank dari pada di tengah. Begitu juga Raphael Maitomo yang sekarang tidak diperkenankan merangsek naik. Juga Manahati dan Rizky Pora yang tidak menempati posisi naturalnya.

Entah berapa tersisa dari klub-klub lokal yang memainkan dua striker sejajar. Selain skema ini tidak lagi jamak dipakai di liga, pada dasarnya pendekatan sangat offensive yang dibawa Timnas menyimpan masalah krusial untuk pertahanan. Hal ini sudah disinggung di artikel sebelumnya, sekaligus juga tentang pelatih yang seperti kurang menyadari pendekatan yang dipakainya bermasalah.

“Transisi sekarang menjadi krusial. Semua orang bilang set play adalah cara untuk mendapatkan kemenangan, tapi buat saya lebih ke transisi,” kata Mourinho.

Model permainan yang ingin dimainkan Riedl cukup masuk akal dengan berusaha membuat memomentum 4 vs 4 di lini belakang lawan melalui long pass sesering mungkin. Taktik ini berusaha mengintimidasi lawan langsung di lini belakang agar mereka tidak nyaman ketika menyerang. Tapi tanpa disadari, cara ini mati kutu dalam hal transisi, baik fase positif maupun negatif.

Timnas sukses mengukir dua gol yang diawali long pass melawan Vietnam. Prosesi dan finishingnya semua sesuai yang diinginkan Riedl, seperti Zulham sebagai winger bisa muncul di kotak penalti dan membuat gol. Begitu juga Samsul yang bisa bebas melepaskan tembakan setelah Ridwan dan Van Dijk menarik banyak bek lawan.

Tapi di laga yang sama bisa kita lihat juga begitu rentannya cara ini jika harus memasuki fase bertahan. Diawali backline yang cepat sekali turun tanpa mencoba melakukan offisde trap, yang membuat area main dua gelandang bertahan menjadi sangat luas karena dua striker dan dua winger jauh di depan.

Telunjuk semua orang dengan mudah mengarah ke duet gelandang atas buruknya performa bertahan tim, begitu juga tim pelatih. Tapi nyatanya, siapa pun kombinasi pemain untuk mengisi posisi ini tidak pernah bermain maksimal. Hanya berdua mereka mencoba melindungi area di depan bek tengah sekaligus dua flank, di mana winger yang secara natural lambat turun karena sebelumnya naik cukup jauh.

Jauhnya jarak dua gelandang dan dua striker yang cenderung lebih dekat ke bek lawan, membuat tidak ada yang bisa dengan cepat melakukan pressing jika bola jatuh ke pemain tengah lawan. Dari sini Timnas selalu kocar-kacir ketika harus transisi negatif. Juga dua gelandang bertahan juga sering dilanda dilema untuk naik melakukan pressing atau tetap mendekat dengan dua bek, yang artinya harus ikut turun.

Masalah semakin memuncak ketika bertemu Filipina. Jika Vietnam masih mengijinkan Timnas menahan bola di area sendiri yang juga memberi kesempatan dua winger naik, Filipina melakukan sebaliknya. Negara yang memainkan delapan pemain naturalisasi ini langsung melakukan pressing sampai ketika bek Timnas menguasai bola.

Dengan situasi ini, dua winger kurang waktu untuk sempat naik karena umpan panjang dilepas lebih cepat. Selain itu, target jatuhnya bola juga lebih sering di belakang backline lawan, sedangkan pelatih sendiri sepertinya tidak menginginkan umpan daerah.

Kembali ke problem keinginan Riedl menghidupkan kembali tim lawasnya. Di laga ini dia justru memainkan Firman Utina untuk berduet dengan Maitimo dan menggantikan Manahati. Jadilah kapten Timnas tersebut menghuni posisi lamanya. Sebelumnya pemain Persib ini juga bermain sebentar sebagai pivot di laga melawan Vietnam.

Terkait:  Indonesia U19 3 - 1 Thailand U19: Duel Dua Gaya Yang Berbeda

Ketika sebenarnya tim ini mempunyai masalah bertahan dan area kerja dua gelandangnya terlalu luas, entah kenapa justru Firman yang dimainkan. Memang empat tahun lalu dia memainkan role yang sama dengan ciamik, tapi itu dulu ketika dia berada dalam usia emas. Djajang Nurjaman juga memainkan Firman di posisi yang sama ketika final ISL lalu, tapi bedanya waktu itu Persib memakai satu striker dan tiga midfielder.

High pressing yang dilakukan Filipina langsung bisa mereduksi keunggulan akurasi umpan Firman karena dia cukup jarang menyentuh bola. Yang tersisa adalah Timnas sangat kacau ketika bertahan dengan Maitimo harus pontang-panting menutup area tengah sendiri. Sampai akhirnya tiga pemain yang di depan ikut turun.

Dua winger dan Samsul sebagai second striker jadi ikut turun menambal lubang-lubang di tengah. Padahal sebenarnya Filipina sama sekali tidak menginstruksikan fullbacknya naik ikut menyerang. Jadilah Van Dijk sendiri di depan dan seringkali dikelilingi tiga bek lawan.

Terlalu banyak pemain yang turun memicu masalah baru yaitu terganggunya fase transisi positif. Seperti kita lihat dipinggir lapangan, Riedl tetap memberi instruksi melakukan long pass, padahal kali ini lebih sedikit pemain yang di depan. Tak aneh jika di laga kedua ini Tim Garuda sama sekali tidak bisa membahayakan gawang lawan, selain melalui set piece yang memang cukup sering didapat.

Timnas tidak bertahan secara efisien dengan memakai sembilan pemain, sekaligus juga kehilangan cara menyerang yang diinginkan. Yang awalnya ingin mengintimidasi bek lawan, sekarang justru terintimidasi oleh permainan ball possession Filipina, padahal mereka hanya menyerang dengan enam pemain.

Dalam situasi ini, Tim Garuda masih bisa membendung serangan lawan dengan mencegah serangan masuk ke kotak penalti. Tapi jika Timnas coba naik menyerang lantas kehilangan bola,  mereka tidak bisa menyembunyikan kelemahan awal yang dimiliki. Tiga gol didapat oleh Filipina hasil dari prosesi serangan balik, hasil buruknya transisi bertahan dari sistem menyerang yang dipakai Riedl.

Jadi tak aneh jika di awal babak kedua dan tertinggal satu gol, Riedl memasukkan Boaz menggantikan Ridwan. Tapi kapten Persipura menempati posisi lamanya di sisi Van Dijk. Sedangkan Zulham pindah ke sayap kanan dan Samsul ke sayap kiri. Dia menyadari jika bentuk serangan yang diingankan tidak lah terbentuk karena hanya meninggalkan Van Dijk seorang di depan.

Tapi sayangnya dia tidak juga menyadari bahwa yang lebih bermasalah itu sebenarnya sistem menyerangnya, yang berakibat buruknya fase bertahan. Apalagi dengan kesalahan fatal memakai Firman di pivot dari awal. Gol demi gol terus diderita, dan dia pun semakin menggila dengan lebih memilih memasukkan Gonzales dan tetap di formasi awal, dari pada merubah formasi atau mengganti Firman.

Di saat terjepit pun justru yang terlintas di benak Riedl adalah Gonzales, salah satu pahlawan empat tahun lalu. Dia masih berharap sang jagoan tetap bisa memberi tuah dan menyelamatkan timnya dari kekalahan. Nyatanya, punggawa-punggawa yang lama sudah lapuk dimakan usia dan tidak bisa menyelamatkan siapa pun.

Apa Pendapatmu?