List of feeds URL

Tiga Lapis Pertahanan Atletico Madrid Dan Pragmatisme Diego Simeone

simeone2_09049b5
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Atletico Madrid akhirnya berhasil kembali merasakan final Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya dalam tiga musim terakhir. Sebuah pencapaian luar biasa yang terus memantik kekaguman (mungkin juga kebencian) kepada sang entrenador Diego Simeone.

Apa yang sudah dilakukan Simeone memang bisa dibilang luar biasa. Dalam satu dekade terakhir cuma beberapa tim saja yang bisa menginjakkan kakinya di final Liga Champions sampai dua kali dalam tiga musim. Kebanyakan tim tersebut juga tim dengan nama besar di jajaran elit sepakbola Eropa seperti Manchester United, AC Milan, Bayern Munchen, Real Madrid dan Barcelona.

Lebih luar biasa lagi jika kita melihat sebenarnya Simeone selalu tidak bisa menahan para pemain bintangnya untuk hengkang di setiap akhir musim. Dari laga final Liga Champions dua musim lalu, tercatat enam pemain inti di musim ini adalah pemain baru. Atleti hampir sama dengan klub kecil lain di Spanyol yang memposisikan diri sebagai seller team. Mereka menjual pemain bintangnya untuk mengisi kas klub dan menggantinya dengan pemain yang lebih murah.

Terus mendapatkan amunisi yang lebih lemah setiap musim nyatanya bukan masalah bagi Simeone, yang sukses untuk menjaga Atleti tetap konsisten di level teratas. Salah satu hal yang tidak pernah berubah dari tim ini adalah cara bermain yang tetap sama. Disinilah filosofi permainan milik Simeone berperan sangat penting dan berhasil mengatrol level Atleti, dengan siapapun pemain yang bisa dia mainkan.

Seperti yang pernah diungkapkan oleh Toby Alderweireld, mantan pemain Atleti yang sekarang bermain di Tottenham Hotspurs, Simeone mengajarkan kepada seluruh pemainnya untuk selalu menghargai clean-sheet (tidak kebobolan). Konsep berpikir seperti ini yang menjadi pondasi utama filosofi pelatih kelahiran Buenos Aires, Argentina tersebut. Banyak filosofi yang berbasiskan konsep bertahan di sepakbola, tapi mungkin hanya Simeone yang membawa ke level selanjutnya dengan menjadikan clean-sheet sebagai sebuah target.

Tidak ada permainan bertahan yang bisa menjamin tidak akan kebobolan. Tapi Simeone bisa membawa Los Rojiblancos menjadi kekuatan yang begitu menakutkan di Eropa, dengan modal begitu sulitnya bagi tim lawan untuk membuat gol ke gawang mereka. Bahkan untuk tim dengan produktifitas gol sangat tinggi seperti Bayern Munchen atau Barcelona, jika mereka bisa memilih lawan, mungkin mereka akan selalu menghindari pertemuan dengan Atletico Madrid.

Walaupun berasal dari Argentina dan sedang melatih klub Spanyol, ternyata Italia memiliki pengaruh sangat besar terhadap konsep permainan Simeone. Sebelum bersama Atleti, dia sempat bermain enam musim bersama Lazio dan Inter Milan, serta setengah musim melatih Catania di Serie A. “Saya tumbuh di tengah-tengah kesulitan. Soal keberanian dan ide-ide, banyak tentang Atleti saya berasal dari Italia,” ungkap pelatih berusia 46 tahun tersebut.

Cara bermain Atleti menjadi yang paling tidak Spanyol di tanah Spanyol. Mereka bermain bertahan seperti layaknya tim Italia, mengeksekusi ide dengan sangat detail dan memprediksikan semua kemungkinan yang akan dilakukan lawan. Semua detail ini yang menambal hampir setiap lubang yang bisa tercipta. Ide Simeone bukan hanya tentang parkir bus atau sekedar menunggu lawan dan menumpuk pemain sebanyak mungkin di kotak penalti sendiri.

“Simeone sangat fokus terhadap semua detail. Semua dipersiapkan matang untuk pemainnya. Di saat latihan, dia simulasikan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Bagaimana jika bek kiri naik melakukan pressing? Bagaimana jika bek kanan mulai melakukan gerakan? Bagaimana jika umpan panjang datang?” Kata Anderweireld.

Jika kita melihat bagaimana Atleti bermain, kita bisa saja menyebut Atleti bermain parkir bus. Tapi jika pelatih lawan juga berpikir hal serupa, timnya akan diluluh lantakkan dengan mudah. Atleti lebih dari itu dan Simeone sudah menyiapkan struktur bertahan dalam satu paket yang sangat komplit.

Mereka bertahan dengan melakukan apapun, tergantung bagaimana lawan akan melakukan serangan. Disini cara bermain lawan yang nantinya akan menentukan bagaimana Simeone akan menginstruksikan timnya harus bermain seperti apa.

Secara garis besar dari detail cara bertahan milik Simeone, bisa kita pisahkan menjadi tiga fase yang tergantung dari dimana posisi bola dan bagaimana lawan melakukan serangan. Ketiga fase ini bisa dieksekusi berurutan, tergantung sejauh apa lawan bisa merangsek naik ke depan.

 

Fase High Pressing

Atletico Madrid juga melakukan high pressing, sama seperti bagaimana Bayern Munchen dan Barcelona melakukannya. Walaupun tidak memerlukan untuk cepat-cepat merebut bola seperti dua tim tersebut atau penganut filosofi Johan Cruyff lainnya, Simeone tetap merasa timnya harus juga melakukan high pressing.

Di era sepakbola modern, membangun serangan lewat kaki ke kaki yang juga melibatkan kiper sepertinya sudah menjadi sebuah kewajaran. Bukan hanya klub besar yang melakukannya, klub-klub semenjana sekarang juga akan melakukan build up dari bawah jika memungkinkan.

Dengan melihat tren yang seperti ini, Simeone merasa perlu untuk membayangi prosesi build up yang dilakukan oleh lawan, sehingga lawan tidak sampai mendapatkan situasi nyaman ketika menyusun serangan. Dia ingin timnya selalu mendapatkan akses pressing terhadap bola, di manapun posisi bola berada.

High pressing yang dilakukan oleh Atleti tetap dijalankan dengan berpatokan kepada formasi dasar 4-4-2 flat, seperti bagaimana mereka mengeksekusi fase lain. Atleti mungkin sedikit diantara tim yang melakukan high pressing dengan memakai dua striker, karena memang skema dua striker tidak terlalu populer saat ini.

Terkait:  Barcelona 2 - 1 Real Madrid: Barca Menikam Madrid Yang Masih Mencari Bentuk

Diantara fase bertahan yang lain milik Simeone, fase bertahan dengan high pressing ini mungkin juga yang paling diremehkan. Penyebabnya bisa dikarenakan Atleti lebih terkenal dengan pertahanan low block, atau karena orientasi pressing yang dilakukan memang bukan untuk merebut bola, tapi hanya untuk membayangi.

Indikasi dari tidak ada prioritas untuk merebut bola secara langsung di fase ini, bisa dilihat dari garis pertahanan Atleti akan turun bertahap jika lawan cukup sabar bermain-main di area belakang. Turunnya garis pertahanan juga akan diikuti oleh barisan depan, sampai mereka membentuk blok yang cukup rapat di depan area penalti.

Walaupun terkesan biasa saja, high pressing yang dilakukan oleh klub yang lahir di tahun 1903 ini ternyata luar biasa efektif. Dalam dua leg pertemuan di quarter-final, Barcelona selalu kehilangan ritme mereka jika terkena pressing dari Atleti ketika menyusun serangan dari belakang. Begitu juga di stadion Vincente Calderon, Bayern Munchen yang ditangani oleh Pep Guardiola mendapatkan kerusakan ritme serupa.

High pressing ala Simeone termasuk dalam kategori aman dan menghindari resiko yang berlebihan jika lawan berhasil menembusnya. Empat pemain di lini belakang akan tetap di tempatnya agar mendapatkan superioritas dari jumlah penyerang lawan, yang umumnya memakai tiga pemain (satu striker dan dua winger).

Ini artinya Simeone memakai enam pemain terdepannya agar berada di area lawan untuk menekan. Dengan umumnya tujuh pemain lawan yang akan berada di area mereka sendiri, ditambah dengan kiper, Atleti akan selalu mendapatkan situasi kalah jumlah pemain (6 vs 8) ketika mengeksekusi fase ini.

 

Enam pemain ini akan melakukan kombinasi antara man marking dan menutup jalur umpan (passing lane) untuk mengakali situasi inferior di area lawan tersebut. Man marking dipastikan akan dilakukan terhadap dua gelandang terdepan lawan. Sedangkan ada beberapa variasi untuk siapa yang harus melakukan marking terhadap gelandang bertahan lawan, bisa dilakukan oleh gelandang atau bergantian oleh salah satu striker.

Atleti tidak melakukan pressing berlebihan terhadap dua bek tengah dan kiper lawan, melainkan dua strikernya hanya berusaha menutup passing lane agar bola tidak sampai dialirkan lewat lini tengah melalui kaki para gelandang.

Tugas lebih rumit disematkan kepada dua winger. Pada umumnya di skema high pressing, winger kita akan bertanggung jawab melakukan marking kepada fullback lawan, begitu juga di sistem milik Simeone ini.

Tapi ada tugas tambahan buat kedua winger yaitu jika sedang berperan sebagai winger di sisi yang jauh dari posisi bola, mereka harus masuk ke tengah dan berganti melakukan man marking ke salah satu gelandang lawan. Jika bola kembali ke area winger tersebut, dia harus balik lagi melakukan marking ke fullback. Rutinitas untuk melakukan marking dua pemain lawan ini juga akan dilakukan oleh winger di sisi yang berlawanan.

Hal ini dilakukan karena formasi 4-4-2 yang dipakai memang hanya memiliki dua gelandang tengah. Sedangkan pada umumnya lawan akan memakai tiga gelandang. Dengan memanfaatkan winger di sisi jauh yang juga melakukan marking terhadap gelandang lawan, maka Atleti bisa mencegah lawan untuk mendapatkan situasi superior jumlah pemain di area gelandang.

Pendekatan ini akan menyebabkan fullback lawan di sisi jauh akan selalu bebas tidak terkawal. Simeone tidak masalah dengan hal tersebut, karena selama ketiga gelandang lawan sudah terkunci oleh man marking, maka fullback lawan tersebut takkan terakses oleh satu atau dua kali umpan secara langsung. Dengan metode inilah pelatih yang dijuluki El Cholo tersebut bisa mengakali superioritas jumlah pemain lawan ketika mengeksekusi fase ini.

Di satu sisi, serangkaian aksi ini ternyata sangat sukses merusak distribusi bola lawan dan mengganggu ritme yang biasa dimainkan. Hal ini dikarenakan lawan sekarang tidak bisa memakai jasa gelandang mereka, kecuali jika mau beresiko kehilangan bola dengan memaksa naik lewat tengah atau mengirimkan umpan panjang langsung ke barisan depan.

Alur umpan lawan hanya akan berputar di antara keempat bek dan kipernya, tanpa bisa melakukan progresi ke depan dengan bersih. Sedangkan efek yang paling mematikan dari high pressing Atleti ini yaitu mereka bisa memanfaatkan tidak berkembangnya permainan lawan di area mereka sendiri, dengan mencuri gol demi gol melalui fastbreak, direct attack, atau dari bola mati seperti set piece dan throw in.

Tapi di sisi lain, metode Simeone ini juga memiliki kelemahan. Taktik ini menagih komitmen yang sangat besar kepada kedua winger untuk mau bertahan dengan area masing-masing yang sampai separuh lapangan. Level fitness mereka diuji dengan harus melakukan marking bergantian antara gelandang dan fullback lawan.

Tingkat intensitas yang dipakai oleh winger ketika bergeser harus cepat, beradu cepat dengan alur umpan lawan. Jika pergeseran posisi mereka terlalu lambat, kemudian ketinggalan ketika bola sampai ke kaki fullback lawan yang harus dijaga, maka lawan akan bisa melakukan progresi ke depan dan taktik ini gagal.

Oleh karena itu Simeone seringkali mengeksekusi cara ini di awal pertandingan ketika pemain masih segar. Atleti juga tidak pernah melakukan high pressing terus menerus sepanjang 90 menit. Dia akan langsung berganti memakai sistem pertahanan yang lebih rendah dalam tempo waktu tertentu, atau jika ternyata bisa mencuri gol.

Terkait:  Quote: Tata Martino

Ini bukan soal Simeone adalah seorang pengecut karena tidak berani bermain terbuka. Ini adalah bentuk manajemen fitness para pemain agar mereka tetap bisa bermain maksimal selama 90 menit dan juga tentunya untuk game-game selanjutnya di musim yang panjang.

Di dua pertemuan di quarter-final Liga Champions, Barcelona gagal total melawan taktik ini dan harus kecolongan dua gol di periode awal pertandingan. Armada Luis Enrique baru bisa bernafas ketika Atleti mulai memakai pertahanan yang lebih rendah karena ternyata berhasil mencuri gol terlebih dahulu.

Bayern Munchen juga mengalami problem serupa di pertemuan pertama di semifinal. Tapi di pertemuan kedua Pep Guardiola tidak mau lagi terjebak di situasi yang sama. Belajar dari kesalahan, di awal Pep mengurangi build up dengan memanfaatkan akurasi long pass Jerome Boateng untuk langsung bisa mengakses para pemain depan dan melewati pressing Atletico Madrid.

Di samping itu Pep juga menyiapkan Thomas Muller yang berposisi lebih dekat dengan Robert Lewandowski di lini depan, sehingga Bayern mempunyai lebih banyak pemain untuk menyambut umpan panjang ataupun second ball (bola muntah). Rencana dengan minim build up oleh Pep sepertinya cukup berhasil, karena setelahnya Simeone tidak membuat anak asuhnya melakukan high pressing lagi.

 

Fase Low Block

Fase bertahan blok rendah dengan garis offside yang tepat di ujung kotak penalti ini mungkin yang paling dikenal dari Atletico Madrid. Mereka memiliki kompaksi tiga baris pertahanan yang luar biasa rapat sekaligus sangat terorganisir.

Simeone menyematkan tugas yang sangat detail kepada peran masing-masing pemain. Setiap detail pemain akan saling berhubungan satu sama lain, yang jika disatukan di dalam satu sistem akan terbentuk sebuah tembok pertahanan yang sangat kokoh, yang akan menutup semua opsi yang memungkinkan serangan bisa masuk ke kotak penalti.

Secara lengkap tentang fase bertahan blok rendah milik Simeone ini bisa dibaca di artikel khusus Belajar Taktik: Membangun Tembok Kokoh 4-4-2 Ala Diego Simeone. Penjelasan tentang fase ini memang hanya bisa ditulis di artikel terpisah karena banyaknya detail yang harus dibahas.

Ide dasar dari low block ala Simeone ini adalah untuk mencegah serangan lawan masuk lewat tengah, dengan memposisikan empat gelandang merapat ke tengah. Serangan lawan selalu diarahkan ke samping, lalu di area tersebut gelandang dan dua striker akan melakukan pressing dan menjepit lawan dengan memanfaatkan garis pinggir lapangan.

 

Dengan memohon secara paksa agar lawan hanya bisa menyerang lewat samping, maka satu-satunya opsi untuk memasukkan bola ke dalam box Atleti adalah melalui crossing. Peran-peran pemain di sepakbola modern seperti false 9 ataupun inverted winger tidak bisa dipakai untuk menembus blok ala Simeone, karena peran-peran tersebut masih membutuhkan area terbuka di tengah.

Barcelona dan Bayern Munchen dengan pasrah menerima kenyataan tersebut dan terpaksa mengikuti game yang dirancang oleh Simeone. Di masing-masing dua game mereka melawan Atletico Madrid, Barcelona total melakukan 39 crossing, sedangkan Bayern bahkan sampai menembus angka 62 crossing.

Setelah memaksa lawan hanya bisa menyerang melalui crossing, detail dari metode low block Simeone tidak hanya berhenti sampai disitu. Di setiap aksi crossing ada dua titik lokasi yang menjadi penentu sukses atau tidaknya crossing itu nanti, dan kedua titik ini juga digarap Simeone dengan hampir sempurna.

Titik pertama adalah lokasi dari mana crossing itu akan dikirim. Simeone tidak ingin crossing dilakukan dari samping kotak penalti, sehingga akan mendapatkan sudut umpan yang memungkinkan penyerang lawan untuk melakukan sekali heading dengan keras. Simeone menginginkan setiap crossing lawan setidaknya dilakukan dari posisi yang lebih jauh lagi dari garis gawang.

Untuk bisa memaksa serangan yang sudah sampai di flank agar tidak merangsek lebih naik lagi, dia membuat fullback di area flank tersebut untuk melakukan pressing secara vertical kepada winger lawan dan melakukan pressing seagresif mungkin. Dalam proses ini nanti fullback akan dibantu rekan wingernya, tapi fullback harus sampai terlebih dahulu dan melakukan pressing secara vertical, untuk memastikan lawan tidak bisa mendorong serangan lebih naik lagi.

Titik kedua adalah lokasi dimana bola dari crossing tersebut akan mendarat. Di situasi normal Atleti akan melakukan rutinitas antisipasi crossing ini memakai tiga bek tersisa ditambah dengan dua gelandang. Jumlah lima pemain ini seringkali lebih dari cukup untuk menghalau crossing karena lawan paling banyak hanya memasukkan tiga pemain di kotak penalti.

Jika detail tentang dua titik tersebut dieksekusi dengan baik, peluang lawan untuk mencetak gol dari crossing sangatlah kecil. Titik pertama akan memastikan setiap crossing adalah crossing yang berkualitas rendah. Hal ini dikarenakan sudut umpan yang dihasilkan jadi lebih sulit untuk langsung dibelokkan ke gawang dengan heading. Selain itu jarak crossing sekarang juga menjadi jadi lebih jauh. Semakin lama bola di udara, maka akan semakin memberi waktu bagi bek untuk menentukan posisi yang tepat.

Terkait:  Real Madrid 1 - 0 Bayern Munchen: Guardiola Kehilangan Ide Di Barnebeu

Sedangkan di titik kedua Simeone memastikan timnya akan selalu superior secara jumlah di tempat jatuhnya bola. Dua antisipasi ini berjalan begitu baik ketika menyingkirkan Bayern Munchen. Memang akhirnya Atleti kebobolan, tapi hanya satu gol yang diderita dari total 61 crossing, dan Bayern juga harus menunggu sampai dengan 164 menit terlebih dahulu untuk mendapatkan gol tersebut.

 

Fase Bertahan Di Kotak Penalti

Sepakbola adalah tentang melakukan kesalahan. Siapa yang melakukan kesalahan paling banyak, akan menelan kekalahan.

— Johan Cruyff

Sepakbola di era modern sangat membenci kesalahan. Sekarang semuanya tentang akurasi. Statistik akan meneropong aksi pemain dan setiap detailnya layaknya sebuah mikroskop. Setiap catatan aksi sukses akan mendapatkan poin positif, sedangkan aksi yang gagal akan mendapatkan poin negatif.

Tapi seperti apa yang dikatakan oleh Cruyff di atas, kesalahan sebenarnya memang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sepakbola. Kita bisa melakukan persiapan sedemikian rapi, tapi kesalahan akan tetap sangat mungkin terjadi.

Sangat banyak faktor yang mempengaruhi di sepakbola, baik itu dari faktor internal ataupun faktor eksternal. Hal ini membuat sesuatu yang sempurna mungkin tidak akan pernah bisa ditemukan di lapangan.

Bagi seorang Diego Simoene, sebuah kesalahan mungkin adalah suatu kewajaran. Oleh karena itu dia tidak enggan untuk memainkan sepakbola dengan direct attack, dimana kesalahan umpan akan sangat mungkin untuk sering terjadi.

Begitu juga bisa dilihat dari dua fase bertahan di atas. Daripada membuat metode high pressing yang sangat ketat dan melakukan blocking sempurna agar permainan hanya bisa dilakukan di area lawan, Simeone memberikan ijin kepada anak asuhnya untuk secara bertahap menurunkan pertahanan jika memang fase high pressing tidak memungkinkan.

Daripada memberikan nilai negatif, Simeone justru memberikan ruang untuk suatu kesalahan dan menyiapkan bagaimana cara untuk menutupinya. Sepakbola milik Simeone selalu berusaha logis, atau bisa juga disebut sepakbola pragmatis, mungkin banyak juga yang akan memberikan label sepakbola negatif.

Jika kita membicarakan tentang sepakbola pragmatis, memang akan sangat mudah untuk teringat akan Italia sebagai pioner dari filosofi ini dengan Catenaccio miliknya. Tapi sebenarnya sepakbola pragmatis menyebar luas ke seluruh penjuru dunia, yang mungkin paling banyak dipakai oleh tim-tim yang merasa dirinya inferior.

Kesamaan dari semua tim ini adalah mereka menjadikan pertahanan sebagai pondasi utama untuk membangun tim. Mereka juga tidak akan segan untuk melindungi gawangnya dengan menumpuk sangat banyak pemain di dalam kotak penalti sendiri.

Selain itu semua tim ini juga berbagi kemiripan dalam hal untuk melemahkan tingkat persentase efektifitas peluang yang didapatkan oleh lawan mereka. Tim dengan filosofi bertahan memang seringkali akan kalah dalam hal statistik tembakan, tapi angka tersebut belum tentu akan tercermin dalam skor akhir pertandingan.

Seperti ketika Atletico Madrid membungkam Barcelona. Dalam dua laga mereka kalah telak untuk jumlah tembakan dengan angka 16 berbanding 34. Tapi secara agregat skor Atleti berhasil unggul 3-2. Cara bertahan milik Simeone berhasil memaksa tim asal Catalan tersebut memiliki goal convertion rate (rataan konversi gol) yang tidak lebih dari 5%.

Dengan kata lain pragmatisme yang diusung oleh Simeone memberikan satu lapis pertahanan lagi yang harus dihadapi oleh lawannya. Secara logis memang semakin banyak pemain yang berada di dalam kotak penalti, akan semakin rapat juga ruangan yang tersedia. Situasi ini akan memberikan semakin sedikit waktu bagi lawan untuk mengeksekusi setiap peluang, yang akhirnya menurunkan secara drastis angka goal convertion rate.

Hal serupa juga terjadi ketika mereka menghadapi Bayern Munchen dengan angka yang lebih gila lagi. Dalam dua pertemuan, Atletico Madrid hanya membuat 18 tembakan, sedangkan anak asuh Pep Guardiola sampai mendapatkan 53 kali kesempatan. Tapi lagi-lagi rataan konversi peluang tetap berpihak kepada tim asal Ibukota Spanyol tersebut.

Lebih khusus di pertemuan mereka yang kedua di stadion Allianz Arena, Pep sejatinya berhasil menaklukkan dua fase bertahan milik Simeone di atas. Atletico Madrid tidak bisa mendapatkan kesempatan melakukan high pressing sama sekali. Sedangkan Pep juga berhasil memecahkan masalah untuk mendapatkan posisi crossing yang lebih baik, dengan memakai Muller untuk menggangu cara kerja fullback Atleti, Filipe Luiz.

Tapi ternyata hal itu belum juga cukup untuk membawa tim Bavaria tersebut untuk menebus kekalahan di leg pertama. Bayern melakukan 33 kali tembakan, tapi hanya berbuah dua gol, yang salah satu golnya justru bukan dari open play, melainkan dari tendangan bebas Xabi Alonso.

Kita bisa saja menyebut jika Bayern Munchen kurang beruntung di laga itu. Atau kita anggap saja jawara Bundesliga tersebut lebih pantas untuk lolos ke partai final. Tapi tidak akan ada data yang bisa membantah jika rataan konversi peluang akan selalu turun jauh jika suatu tim bertemu lawan yang bermain pragmatis.

Jadi itulah ketiga fase bertahan milik Simeone yang justru menjadi mengerikan untuk setiap lawannya. Bermain bertahan saja mengerikan. Tapi apakah akhirnya El Cholo benar-benar bisa menaklukkan Eropa musim ini?

Apa Pendapatmu?