List of feeds URL

Tiga Catatan Dari Tur Italia Timnas Indonesia U23

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Timnas Indonesia U23 menyelesaikan tur Italia dengan mengantongi tiga kekalahan dari tiga laga. Kebobolan tujuh gol dan hanya memasukkan satu, apakah tim ini sudah siap ke Asian Games?

Tidak mudah mengukur naik atau turunnya level Timnas U23 di rangakaian tiga laga ini. Level lawan cukup jauh di atas dan semuanya adalah tim senior dari klub Serie A Italia, walaupun mereka masih memasuki masa pra-musim. Sedangkan Timnas sendiri masih memakai satu slot jatah pemain senior, dari tiga yang diperbolehkan untuk Asian Games.

Namun tentu saja ujicoba ini sangat berharga untuk menyiapkan mental pemain untuk berlaga di level yang lebih tinggi. Tekanan yang dihadapi terlihat cukup berat, dimana mereka sangat kesulitan mendapat ritme permainan yang diinginkan, walaupun mereka konsisten untuk terus mencoba. Situasi seperti ini tentu tidak akan bisa didapatkan dari ujicoba melawan klub lokal ataupun negara tetangga sekalipun.

Berikut catatan dari tiga fase permainan Timnas U23 selama tur Italia:

Video Highlight Dan Fullmatch

 

 

1. Serangan Kurang Variasi

Aji Santoso memakai tiga komposisi pemain depan berbeda di semua game dalam formasi 4-2-3-1, dan tidak ada dari empat pemain terdepan yang dipasang akhirnya berhasil membuat gol. Satu-satunya gol dibuat oleh pemain tengah, Rasyid Bakri, di pertengahan babak kedua saat melawan AS Roma. Fandi Eko Utomo hampir membuat satu gol ketika bertemu Lazio, namun tendangannya masih mencium tiang gawang.

Ciri khas menyerang tim ini sangat mirip dengan tim-tim yang pernah dilatih oleh Aji. Mereka memakai kombinasi umpan cepat di area sepertiga akhir yang seringkali diaplikasikan dengan one-two pass, seperti dalam prosesi gol yang dibuat oleh Rasyid. Kecenderungan ini membuat pemain yang berposisi lebih dalam, jadi lebih berpeluang mencetak gol, karena pemain yang lebih di depan bertugas sebagai tembok pemantul.

Terkait:  Kenapa Timnas U-23 Kesulitan Memperbaiki Permainannya?

Cara seperti ini berhasil membuat permainan cukup atraktif dan sebelumnya juga efektif untuk melawan tim satu level. Namun untuk melawan tim yang lebih baik dengan bek yang lebih cepat dan cerdas, persentase keberhasilan cara ini cukup kecil. Di tiga laga ini, lawan hanya perlu berkonsentrasi ke pemain terdepan dan seringkali sukses melakukan intercept dengan kecepatannya.

Rendahnya tingkat keberhasilan taktik ini lebih disebabkan karena Garuda Muda hanya memakai cara ini untuk coba bisa membuat gol. Tidak ada inisiatif untuk crossing ataupun tendangan jarak jauh. Pemain terdepan juga jadi cukup statis, karena sama sekali tidak melakukan movement ke belakang bek lawan untuk memungkinkan umpan terobosan.

Lawan hanya perlu waktu sebentar untuk membaca kebiasaan menyerang Timnas. Jika mereka sudah menemukan resep untuk mengantisipasinya, hampir tidak ada peluang telak yang dihasilkan. Gol Rasyid sendiri tercipta setelah Rudi Garcia mengganti 11 pemain Roma untuk yang kedua kalinya di laga tersebut.

2. Build Up Serangan Bagus Namun Kesulitan Melawan High Press

Fase menyusun serangan Timnas U23 bisa dikatakan positif dengan bisa mengimbangi lini tengah Roma dan Cagliari. Kepercayaan diri yang cukup tinggi untuk terus memainkan umpan pendek dari kaki ke kaki melawan tim yang secara level di atas mereka, patut diapresiasi. Pemain yang tidak membawa bola cukup baik dengan terus bergerak horizontal untuk mencari ruang kosong dan memungkinkan forward pass bisa dilakukan.

Lanjut halaman: 1 2

Apa Pendapatmu?