List of feeds URL

Terima Kasih Jose Mourinho

Author: Aun Rahman (twitter: @aunrrahman)

“Jangan pensiun, anda membuat saya terus maju”

Begitulah reaksi yang ditunjukan Jose Mourinho setelah menjadi salah satu dari orang orang yang pertama mendengar langsung niatan manajer legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson untuk pensiun dua musim lalu, selain sang istri Cathy Ferguson dan CEO United saat itu David Gill.

Jose Mario dos Santos Mourinho Felix, pelatih kelahiran Setubal, Portugal 52 tahun lalu ini terus dianggap oleh Sir Alex Ferguson sendiri sebagai pesaing terberatnya sejak pertama kali bertemu di babak perempat final Liga Champions Eropa musim 2003/2004, kala itu Mourinho masih menangani Porto. Sir Alex dan United saat itu harus takluk dari dengan agregat 3-2, strategi defensif Mourinho membuat lini serang United benar benar frustasi.

Kemenangan atas Manchester United ini termasuk membuktikan bahwa keberhasilannya membawa Porto menjuarai UEFA Cup (kini Europa League) semusim sebelumnya, bukan hanya sebuah keberuntungan belaka. Bahkan pada tahun tersebut pula Mourinho berhasil membawa Dos Dragoes Julukan FC Porto, menjadi Juara Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya, Setelah mereka memenanginya pertama kali pada tahun 1987.

Momen global untuk pelatih yang disebut-sebut sebagai titisan pelatih asal Argentina Helenio Herrera, adalah ketika dirinya memutuskan untuk menangani klub asal Liga Inggris Chelsea tepat beberapa minggu etelah menjadi juara Eropa. dimana klub tersebut baru saja diakuisisi oleh taipan asal Rusia, Roman Abramovich.

Juni 2004 konfrensi pertamanya sebagai pelatih Chelsea berakhir sensasional setelah dirinya mencetuskan pernyataan yang akan menjadi salah satu quotes hebat dalam sejarah sepakbola

“Jangan sebut saya arogan, tetapi saya adalah Juara Eropa saya pikir saya adalah The Special One!

Setahun setelah konfrensi pers tersebut Mourinho membawa Chelsea menjadi juara Liga Inggris menghantam dominasi Manchester United dan Arsenal kala itu.

Terkait:  Cardiff 0 - 3 Arsenal: Cardiff Bermain Seperti Yang Diinginkan Wenger

Kurang lebih 10 tahun sejak gelar Liga Champions pertamanya, Jose Mourinho memberikan dimensi baru mengenai pelatih sepakbola atau manajer dalam term di Liga Inggris. Sifatnya secara personal yang blak-blakan, mengeluarkan semua yang ada di pikiranya, meskipun terkadang naif. Semua yang ada dalam diri pelatih yang membawa Internazionale Milan meraih treble winner pada 2010 ini Memberikan pandangan baru bagi pencinta sepakbola mengenai seorang pelatih atau manajer.

Bagi kebanyakan penikmat sepakbola, kita sudah amat terbiasa dengan citra elegan dari seorang pelatih atau manajer. Memakai pakaian dengan rapih dan necis atau bahkan turtle coat, rambut disisir mengkilat, cara bebicara yang menunjukan kebijaksanaan dan bertutur halus, kesemuanya merupakan paket yang biasanya muncul di pikiran seseorang ketika mendengar kata pelatih atau manajer, dengan melihat saja kita tahu mereka ada di kelas yang berbeda. Nama nama seperti Sir Alex Ferguson, Arsene Wenger, Fabio Capello, Carlo Ancelotti, dan Marcelo Lippi adalah sebagian nama yang menunjukan bahwa manajer haruslah bercitra elegan.

Dimensi berbeda yang dihadirkan oleh Mourinho sejak lebih dari 10 tahun lalu inilah yang membuat penikmat sepakbola saat ini tidak terlalu asing, dengan kelakuan eksentrik pelatih pelatih muda seperti Juergen Klopp, Diego Simeone, Slaven Bilic dan Tony Pulis. Memang sebelum Mourinho sudah banyak pelatih pelatih yang bersifat ekspresif dan eksentrik sebut saja Arrigo Sachi, Jock Stein, Serse Cosmi dan manajer legendaris Nottingham Forest, Brian Clough. Tapi sikap I am What I am yang dimiliki oleh manajer benar benar menjadi populer oleh Jose Mourinho.

Hal tersebut menjadi populer karena, Mourinho berhasil membuktikan meskipun dengan atittudenya yang sedemikian rupa, dirinya mampu menghadirkan prestasi. Secara konsep sebuah budaya akan menjadi budaya populer apabila bisa beradaptasi dan diterima oleh nilai nilai lama. Prestasi yang dilakukan oleh Jose Mourinho membuat sifatnya yang tidak populer menjadi diterima oleh penikmat sepakbola, bahkan bersaing dengan budaya populer lama yang sepertinya mengharuskan bahwa manajer harus berlaku anggun dan elegan.

Terkait:  Quote: Sacchi

Meskipun belakangan mulai banyak pelatih pelatih muda yang meneruskan tradisi lama untuk bersifat elegan seperti Philip Cocu atau bahkan apprentice Mourinho sendiri, Andre Villas-Boas. The Happy One tidak dapat dipungkiri memberikan standar baru dan budaya populer baru, dimensi baru mengenai citra seorang manajer.

Dan ada hal lain yang dilakukan oleh Jose Mourinho yang tentunya merubah kultur sepakbola secara global. Pelatih yang sempat menangani raksasa Spanyol, Real Madrid ini membuktikan bahwa tidak menjadi pesepakbola top, bukan berarti anda tidak bisa menjadi seorang pelatih top pula. Mourinho telah membuat segala sesuatu yang awalnya tidak populer menjadi populer.

Terima Kasih Jose!

Apa Pendapatmu?