List of feeds URL

Sistem Pressing Sempurna Atletico Madrid Di Tangan Simeone

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)


Diego Simeone’s Atletico Madrid Perfect Pressing System

Note: Artikel ini adalah video analysis. Tanpa melihat video di atas, akan sulit memahami keseluruhan ide yang coba disampaikan. 

Semenjak di pegang Diego Simeone, Atletico Madrid menjelma menjadi kekuatan besar eropa. Pelatih berkebangsaan Argentina ini berhasil membawa Atletico menjuarai Europa League dan Copa Del Ray. Di musim inipun Barcelona dan Real Madrid belum mampu menundukkan mereka, dan sekarang Barcelona dipaksa berbagi tempat di puncak klasemen La Liga dengan poin sama namun hanya beda selisih gol.

Berbeda dengan kebanyakan tim asal negeri matador yang mengutamakan passing dan ball possession sebagai penopang sistem permainan, Atletico memilih pertahanan yang kuat sebagai pilar dalam membangun tim. Tentunya bukan tanpa dasar Simeone memilih pertahanan sebagai pondasi, karena dia sendiri cukup lama bermain di Serie A Italia yang memang berisi para defender kelas wahid.

Dalam pertandingan pertama lawatan tur ke Spanyol, Mitra Kukar berkesempatan mencicipi bagaimana kerasnya hidangan defense dari tuan rumah Atletico Madrid. Dalam 90 menit laga, sangat jarang Mitra Kukar menguasai bola di area Atletico. Mitra Kukar berusaha dengan sabar menguasai bola di area mereka sendiri dan tidak tergesa-gesa untuk naik. Tapi rapinya pertahanan Atletico membuat Mitra Kukar kesulitan mendorong bola ke depan dan malah banyak membuat kesalahan sendiri. Setidaknya Atletico mendapat 13 kali kesempatan fast break dan empat diantaranya menjadi gol. Skor akhir pertandingan adalah lima gol tanpa balas untuk keunggulan Atletico.

Superioritas Di Belakang Dan Tengah

Diego Simeone menggunakan skema 4-4-2 flat untuk membangun sistem ini, formasi yang terbilang cukup kuno di antara formasi lain yang dipakai di top level eropa. Tapi cara Atletico mengeksekusi formasi ini yang membuat mereka tampil mengerikan, dan tidak semua tim dengan formasi yang sama bisa dengan baik memakainya.

Terkait:  Belajar Taktik: Membangun Tembok Kokoh 4-4-2 Ala Diego Simeone

Jika melawan tim dengan skema 4-2-3-1 atau 4-3-3, sebenarnya 4-4-2 flat bisa dengan mudah takluk di tengah, karena kalah jumlah pemain dalam kondisi 2 vs 3 (lihat grafis). Dalam pertandingan ini kebetulan Mitra Kukar memakai 4-2-3-1. Tapi Simeone mempunyai pemecahan untuk masalah ini, yaitu dengan duet striker-nya harus yang melakukan covering terhadap pivot lawan. Dengan kondisi ini, di tengah dan belakang Atletico selalu mempunyai masing-masing satu spare-man, dan inilah yang membuat Mitra Kukar kesulitan mendorong bola ke depan.

Tentu saja sistem ini bisa berjalan jika duet striker disiplin untuk cepat turun ketika kehilangan bola, dan mereka selalu melakukannya. Di laga resmi di La Liga ataupun Eropa, sangat sulit untuk mengungguli superioritas Atletico jika mereka sedang dalam mode bertahan seperti ini. Tim lawan bisa terus memutar bola di lini belakangnya, namun untuk mendorong bola ke lini tengah ataupun dengan bola panjang ke lini depan, keunggulan jumlah pemain Atletico sangat mudah membuat lawan kehilangan bola.

Menutup Flank

Di sepakbola modern, frekuensi penggunaan flank untuk masuk ke area lawan sangat populer digunakan karena memang efektifitasnya lebih tinggi daripada dengan mencoba masuk lewat tengah. Bermain di flank bisa membuat pertahanan lawan tertarik melebar dan juga sudut passing selalu bagus jika ingin bermain dengan bola horizontal ataupun diagonal.

Oleh karena itu formasi yang hanya memiliki satu pemain di flank seperti 3-5-2, 4-3-1-2 dan 4-3-2-1, kesulitan menembus dominasi formasi yang mempunyai fullback dan natural winger. Belum lagi beberapa tim sudah mulai menerapkan strategi overload dengan beberapa pemain tengahnya bergerak ke flank sekaligus, seperti Arsenal dan Cardiff City. Buat Atletico sendiri, dengan winger yang cepat menutup fullback lawan jika menerima bola, akan menjaga defensive line tidak turun dan menjaga bentuk two banks of four mereka tetap sempurna.

Terkait:  Evan Dimas: Skills Positionings And Movements 3

Di pertandingan ini, tertutupnya area tengah direspon dengan tidak berani naiknya fullback Mitra Kukar ke depan. Dua winger Atletico pun cepat menutup jika fullback Mitra Kukar menerima bola. Kecepatan winger Atletico menutup, membuat fullback Mitra Kukar kesulitan mengumpan ke depan dan terpaksa mengembalikan bola ke tengah. Karena mereka tidak naik dan hampir sejajar centerback, opsi umpan pun hanya kembali ke centerback. Atau jika bisa ke gelandang bertahan yang turun, tapi hampir dipastikan sang gelandang akan menerima bola dengan membelakangi gawang lawan.

Memontum Pergantian Marking

Jika lawan tidak juga mendorong bola ke depan, seperti yang dilakukan Mitra Kukar, Atletico akan meningkatkan level pressing mereka dengan berusaha membuat duet striker mereka naik melakukan marking terhadap dua centerback lawan. Dan dari sinilah jika berhasil merebut bola, Atletico akan mempunyai kesempatan fast break dan melakukan counter attack di saat lawan tidak dalam skema bertahan, yang tentunya memperbesar peluang mencetak gol. Seperti kata Pep Guardiola, lebih efektif melakukan counter attack dengan jarak 30 meter dari gawang lawan daripada dengan jarak 90 meter.

Tapi karena sebelumnya striker Atletico melakukan marking ke pivot lawan, mereka sangat berhati-hati untuk berpindah untuk melakukan marking terhadap centerback. Karena jika salah memilih momentum, pivot lawan akan bebas dan bisa mengirim bola ke depan. Di video bisa dilihat striker Atletico berkali-kali melihat ke belakang dan memastikan gelandang bertahan mereka menggantikan tugas untuk melakukan marking terhadap double pivot Mitra Kukar.

Karena perpindahan ini beresiko membuka celah pertahanan, dibutuhkan koordinasi yang baik oleh semua pemain. Mitra Kukar memakai double pivot, minimal enam pemain terdepan Atletico harus siap secara bersamaan untuk melakukan pressing. Pemilihan momentum sebagai tanda mereka harus mulai bergerak bersama menjadi krusial. Dalam video terlihat Atletico memilih momen ketika pemain Mitra Kukar yang membawa bola mulai tersudut dan pergantian marking di lakukan bersamaan dengan saat pemain itu melepaskan umpan ke rekannya.

Terkait:  Kedalaman Menyerang (Depth Attacking) Trio Gelandang Timnas PSSI U19

Dengan situasi 6 vs 6 di area Mitra Kukar dan bola masih di belakang, Atletico bisa memaksa si pembawa bola melakukan kesalahan jika memutuskan untuk mengumpan atau bisa melakukan tackle jika pemain lawan memilih melakukan dribbling. Tentu saja rasio keberhasilan merebut bola cukup besar dan Atletico mendapatkan kesempatan melakukan counter attack.

Kesimpulan

Sistem dari Simeone ini sampai sekarang masih sangat efektif untuk mengatrol level Atletico yang sebenarnya tidak berisi pemain kelas satu. Pendekatan dengan striker yang covering pivot lawan lebih dulu dipakai untuk mencegah lawan mengirim bola ke depan karena Atletico mempunyai pemain lebih di tengah dan belakang. Jika lawan memaksakan diri untuk mengumpan ke depan, maka Atletico pun bisa menjamin tidak banyak ruang tersisa dan bisa merebut bola dengan mudah.

Biasanya lawan Atletico memilih memaksa menaikkan fullback mereka yang otomatis juga membuat winger Atletico ikut turun, dan pressing di lini belakang pun lebih longgar. Untuk menjaga superioritas di belakang, satu pivot turun sejajar centerback membentuk backthree. Karena gelandang bertahan Atletico pasti enggan ikut naik, situasi 3 vs 2 lawan duet striker Atletico tentu tidak masalah. Dua fullback yang naik akan membantu memberi sudut passing yang lebih baik dan tentu saja bisa membuat defensive line Atletico turun. Tapi sayang Mitra Kukar tidak berpikir untuk melakukan itu.

 

Highlights

Atletico – Indonesia XI (5-0)

2 Responses to Sistem Pressing Sempurna Atletico Madrid Di Tangan Simeone

  1. This is a very good article. Thank you for a great information.

Apa Pendapatmu?