List of feeds URL

Sepakbola Ladang Opini Dan Permainan Opini

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Sepakbola tidak akan pernah habis untuk dibahas, karena hampir semua yang ada di dalamnya adalah opini. Masing-masing orang beropini untuk membahas opini yang lain, lalu tentu saja akan disambung opini lanjutan untuk meresponnya dan akan begitu seterusnya.

Saking banyaknya opini yang ada, fakta dalam sepakbola mungkin hanya sekelumit saja. Skor akhir pertandingan adalah salah satu dari sedikit fakta di antaranya. Tapi walaupun kita sama-sama mengetahui siapa pemenang pertandingan dari skornya, hal ini tetap tidak bisa menghalangi opini bermunculan, seperti “Tim A bermain lebih baik tapi kalah hanya karena kurang beruntung,” dan semacamnya.

Opini seperti di atas sering kita dengar dari pendukung atau pengamat. Tapi opini dalam sepakbola tidak hanya berhenti sebatas dari yang dilontarkan orang yang berada di luar sebuah tim. Pelakunya sendiri yang berhubungan langsung dengan sepakbola, juga sangat dipengaruhi oleh opini dalam menjalankan pekerjaannya.

Hampir semua keputusan yang diambil pelatih kepala adalah opini. Mulai dari jadwal dan metode latihan, perekrutan pemain baru sampai pemilihan starting line up. Tentu saja penentuan strategi oleh pelatih yang akan dipakai oleh timnya adalah opini, bahkan sesuatu yang dianggap sakral seperti filosofi bermain juga termasuk opini.

Kecuali fakta bola itu bundar dan lapangan berbentuk persegi panjang, opini juga memenuhi seisi lapangan dalam sebuah pertandingan. Setiap pengambilan keputusan oleh pemain dalam semua aksinya adalah opini. Beruntung jika opini setiap pemain bisa seragam, kita akan bisa melihat kerjasama yang apik. Jika satu tim masing-masing mempunyai opini berlainan, koordinasi akan susah untuk didapatkan.

Berangkat dari situasi seperti di atas, membangun sebuah tim tidak akan bisa dipisahkan oleh proses membangun opini. Jika ditarik lebih luas lagi, membangun sepakbola sebuah negara, baik atau buruknya hasil yang nanti didapatkan akan sangat tergantung dari seberapa bagus opini-opini sepakbola yang berlalu lalang di negara tersebut.

Terkait:  Melihat Pola Serangan Brazil Dari Laga Kontra Panama

Jika melihat di Indonesia, kita kurang beruntung karena tidak memiliki wadah yang cukup memadai untuk membangun opini, terutama buat pelatih-pelatih tim junior yang tersebar di seantero nusantara. Forum minimal yang bisa ditemui hanya ketika pelatih tersebut mengambil kursus lisensi, yang cuma 1-2 minggu (terlepas opini yang diumbar di kursus itu berkualitas atau tidak). Selain itu jarang bisa kita temukan kesempatan seperti itu lagi.

Proses penyebaran opini di negara ini justru lebih masif dilakukan oleh media-media massa, terutama media televisi ketika ada siaran langsung sepakbola, yang memang menarik jumlah penonton paling banyak. Dalam tempo dua jam kita bisa menangkap opini-opini sepakbola berhamburan dari mulut pemandu acara.

Mau tidak mau, media-media ini adalah pucuk pimpinan pembangunan opini sepakbola di negeri ini. Apalagi ditambah minimnya forum antar pelatih yang ada. Pelatih-pelatih di daerah juga akan cenderung mengkonsumsi opini dari televisi dan selanjutnya akan ditransfer ke para pemain didikannya di dalam ataupun di luar sesi latihan.

Dengan jangkauan siaran yang sangat luas, setiap opini dari televisi akan mudah menjadi opini publik dan kultur sepakbola kita dibangun dengan opini tersebut. Boleh percaya boleh juga tidak, opini tentang cara bermain sepakbola yang berkembang di dalam tim selevel ISL, tidak akan jauh dari opini yang biasa kita dengar di media televisi. Itulah kenyataannya.

Opini yang tersebar keseluruh penjuru sendiri bisa bermacam-macam kualitasnya, tergantung keluar dari mulut siapa. Selain itu, kualitas opini sendiri memang sering ditentukan oleh seberapa lama opini tersebut sudah diolah dengan opini-opini orang lain yang merespon dengan coba menyanggah opini tersebut.

Tapi masalahnya adalah pendapat yang keluar lewat jalur televisi sering kali hanya bersifat satu arah, alias kita tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk menyanggahnya. Hal ini menyeret kita ke situasi lambatnya pengolahan opini tersebut dan bisa kita lihat juga di dalam lambatnya sepakbola kita berkembang.

Terkait:  Preview Euro 2016: Trio Wonderkid Portugal di Euro 2016

Contoh sederhana dengan opini untuk mendapatkan kontrol ball possession, kita harus memperkuat lini tengah. Ini termasuk opini pertama dan memang termasuk bagus saat itu. Formasi dua gelandang seperti dalam 4-4-2, sekarang mulai ditinggalkan dan banyak yang beralih ke tiga gelandang dengan 4-2-3-1. Semakin banyak pemain tengah, kontrol atas bola jadi lebih mudah didapatkan.

Tapi jika kita melihat opini tersebut sudah berusia 7-10 tahun di sepakbola kita, proses pengolahan opini bisa kita katakan sangat lambat. Sepakbola terus berevolusi, sedangkan opini di kepala kita tidak. Sekarang Timnas bahkan tidak bisa mendominasi penguasaan bola di dua edisi AFF Cup terakhir dengan memakai 4-2-3-1. Opini tersebut harus dikembangkan, tapi proses untuk melakukannya sangat sulit didapatkan.

Pendapat tentang penguasaan bola sudah seharusnya sudah mengarah ke semakin intensifnya kita untuk memakai bek sebagai unsur penting dalam fase ball possession. Dengan tambahan empat pemain belakang, ball possession sekarang dimainkan tidak lagi dengan tiga pemain tengah saja, tapi sekarang jadi memakai tujuh pemain.

Pandangan tentang ball possession di atas masih hanya satu hal dan hanya tentang satu fase dalam permainan. Justru opini soal cara bertahan kita lebih terbelakang lagi, dengan hampir belum mengenal sama sekali tentang high pressing, counter pressing dan sebagainya. Opini cara winger bermain yang masih hanya menyisir sisi lapangan juga merupakan opini usang yang efektifitasnya semakin menurun karena sudah jarang tim yang memakai dua striker.

Tentu saja lambatnya pengembangan opini dalam sepakbola kita adalah masalah yang sangat serius. Kita akan semakin tertinggal jika opini-opini yang menyusun kultur sepakbola kita juga tertinggal. Pemain-pemain muda kita juga akan tumbuh menjadi pemain tertinggal jika para pelatih usia dini mereka opininya juga masih terbelakang.

Terkait:  Indonesia U19 1 - 1 Malaysia U19: Momentum Maldini Jadi Penyelamat

Dalam masalah ini sulit untuk menyalahkan pihak media televisi atas opini-opini yang mereka sebarkan. Mereka hanya sebatas melakoni rutinitas untuk memberikan hiburan acara sepakbola. Walaupun tentu saja akan lebih baik jika masyarakat menerima opini yang lebih berkualitas dari mereka.

Yang sepantasnya kita permasalahkan seharusnya tidak adanya wadah yang memadai untuk pengembangan opini, terutama bagi para pelatih usia muda. Mereka adalah ujung tombak pembinaan dan seharusnya tidak ditelantarkan begitu saja untuk mengembangkan opini seorang diri, yang tentunya akan sangat lambat dan efek yang didapatkan juga sangat minimal.

Kita harus memperbaiki jalur-jalur aliran informasi kepada mereka agar arus pengembangan opini menjadi lebih cepat. Kita juga harus memperbanyak forum-forum diskusi pelatih di luar kursus lisensi untuk memperbanyak interaksi dan pertukaran pendapat tentang teknis permainan.

Ada efek yang agak mengerikan jika kita melihat pemegang otoritas lebih sering menggelar kongres daripada forum-forum seperti ini. Tapi kembali lagi, artikel ini juga masih sekedar opini di dalam website yang penuh dengan opini, karena sepakbola memang ladang penuh opini.

One Response to Sepakbola Ladang Opini Dan Permainan Opini

  1. barsaku says:

    Saya setuju..bagi sepakbola Indonesia yang terpenting adalah meningkatkan kualitas, bukan ingin menyamaratakan dengan Negara lain. Karena itu mimpi yang sia-sia.
    Kesuksesan adalah akibat, yang harus difikirkan adalah penyebab suksesnya.

Apa Pendapatmu?