List of feeds URL

Sepak Bola Indonesia Yang Hanya Sebatas Rasa

Author: Arvian Bayu (twitter: @arvianbayu)

Sebetulnya saya agak sungkan untuk menuliskan sepak bola nasional. Saya sungkan sama teman-teman suporter lainnya, yang selalu setia dengan rasa sepak bola, yang dihadirkan di Indonesia itu sepak bola apa rasa sepak bola? Es jeruk nipis itu yang digunakan jeruk nipisnya atau sisa jeruk nipisnya?

Karena sari jeruk nipis sejatinya digunakan untuk mencuci piring. Jika yang diambil benar-benar sepak bola outputnya tidak begini, jika hanya rasa saja, hasilnya ya seperti sekarang ini.

Acuhkan peringkat Timor Leste yang diatas kita, acuhkan saja Timnas yang tanpa nahkoda ini, acuhkan isu yang paling kencang akhir-akhir ini, bahwa sanksi FIFA didepan mata. Matanya siapa? Jika lirikan mata seorang gadis belia dari kejauhan membuat kita senang, itu masih rasa bukan?

Kita ngotot ingin menikmati rasa sepak bola itu sendiri tanpa membuat esensi dari sepak bola sebetulnya, waktu negara dalam keadaan yang semrawut pun, masyarakat akan lupa seketika jika yang bermain adalah esensi dari sepak bola. Karena kita lupa hutang, lupa beban pikiran kantor, lupa akan cicilan motor yang belum lunas sekalipun, jika Timnas sepak bola, ataupun klub kebanggaan kita menang atau meraih prestasi. Itu adalah jawaban dari esensi sepak bola.

Teringat ketika waktu kecil yang hanya bisa menghentikan kami bermain bola adalah kumandang adzan maghrib, ocehan orang tua dari kejauhan yang menyuruh untuk berhenti kami acuhkan, kami tetap menendang bola, kami tetap dalam satu tim yang penuh semangat sportivitas, penuh dengan kejujuran, penuh dengan rasa cinta terhadap teman, bola plastik yang hancur karena benturan kaki, atau sampai genteng rumah orang, kami masih mampu beli lagi selagi toko kelontong belum tutup. Tak ada yang bisa menghalangi kami bermain, sebuah peristiwa yang melebihi dari esensi sepak bola itu sendiri.

Terkait:  Oh Rudi Garcia, Serie A Bukan Ilmu Pasti

“Sepak bola milik FIFA” begitu kata orang PSSI dalam sebuah acara tv swasta nasional, ini yang namanya rasa sepak bola, sebelum FIFA berdiri semua orang sudah main sepak bola kok, FIFA kan hanya sebuah organisasi yang mengatur sepak bola agar dimainkan dengan benar, dengan tepat, dengan aturan-aturan. Jika tak ada FIFA mungkin kita tak mengenal sepak bola itu dimainkan 90 menit, tentu FIFA dalam hal ini sudah mempertimbangkan kenapa sepak bola dimainkan 2 x 45 menit dengan berkonsultasi dengan dokter-dokter professional membicarakan soal waktu yang tepat untuk manusia beraktifitas di lapangan dengan panjang 100 meter dan lebar rata-rata 60 meter.

Bayangkan jika tak ada FIFA, sepak bola yang dimulai jam satu siang akan selesai jam 6 sore ketika adzan maghrib terdengar, ya kalau dekat dengan surau, jika tidak ya tidak berhenti-berhenti. Jika tak ada FIFA yang mengatur, mungkin kita main sepak bola dengan tangan juga.

“Bagaimana jika PSSI dihukum FIFA, nanti bagaimana nasib pemain, pedagang asongan disekitar stadion, suporter mau ngapain, mereka makan apa?” Datanglah ke Surabaya, saya akan tunjukkan bagaimana tim besar penuh sejarah yang sekarang timnya sudah tidak bermain namun disini masih baik-baik saja, amat teramat baik malah jika saya menyebutnya, dualisme Persebaya, dan berakhir dualisme suporter, masih tetap damai, pedagang asongan juga masih tetap survive karena mereka random, tak hanya berjualan di stadion saja.

Bayangkan jika sebuah klub bertanding seminggu sekali, apa benar mereka ini hanya berdagang di stadion saja dan berjualan seminggu sekali? Pedagang disekitar stadion Gelora 10 November, Tambaksari juga masih menjual kaos-kaos sepak bola, mereka masih tetap survive, pemain bisa pindah klub lain sesuai dengan kemampuan mereka.

Beranilah Dengan FIFA

Saya tak yakin terhadap sanksi FIFA, jikapun terkena sanksi tak sampailah jika satu tahun disanksi tak boleh aktif dalam sepak bola. Yang kami mainkan di sini bukan sepak bola, tapi rasa sepak bola, Bung Blatter! Jadi kami akan tetap bermain. Namun bukan itu maksud saya, tengoklah pasar yang sangat besar disini. Fans klub sepak bola Eropa dulunya mungkin belum ada di negara-negara Asia kecuali Indonesia, acara nonton bareng juga mungkin yang pertama kali mengadakan mungkin juga Indonesia yang pertama kali, penjualan jersey original klub Eropa sangat besar disini, sampai beberapa klub sepak bola Eropa seperti Real Madrid, Inter Milan, Liverpool, sampai membuat khusus halaman website dalam bahasa Indonesia, nonton bareng saja bisa dibisniskan disini.

Terkait:  Kemenangan Pertama Jacksen F Tiago Bersama Timnas

Beberapa pertandingan besar Eropa juga mengikuti jam tayang kita, Indonesia ini adalah negara paling enak untuk menikmati liga-liga Eropa, yang jadi kendala mungkin ketika UCL berlangsung atau beberapa laga Bigmatch Serie A atau La Liga, yang dimainkan dini hari. Sungguh nikmat yang luar biasa untuk pecandu keindahan sepak bola menikmati secara gratis di Indonesia, walaupun sekarang sudah masuk ke ranah bisnis TV Kabel yang makin menjadi disini. Kami tetap membeli paketan yang disediak pihak TV Kabel tanpa beban, meski mereka juga bersaing untuk mendapatkan pelanggan yang banyak dengan program-program mereka dan kami bingung pilih TV Kabel yang mana yang cocok, namun yang penting kami bisa menikmati esensi sepak bola, bukan rasa sepak bola.

Untuk kelanjutan liga Indonesia, kami serahkan pada pengurus yang terhormat yang telah mendapat mandat entah dari siapa, karena rakyat Indonesia tak pernah bisa secara langsung memilih ketua umum PSSI, tapi dipilihkan atau dihidangkan dengan menu-menu seperti biasa yang hanya covernya saja berbeda namun rasanya masih sama. Saya berharap Bapak Menpora yang membekukan PSSI duduk dengan santai, bisa di angkringan, atau duduk-duduk manis dipelataran Circle K untuk sekedar ngobrol santai dan penuh cinta dengan PSSI.

Yang dihadapi sekarang adalah bagaimana bikin jadwal liga yang pasti, perangkat liga yang lebih baik, juga masalah gaji pemain, juga tentang pembinaan pemain muda harus digarap dengan bagus yang dipercayakan pada ahlinya, saya harap pak Menpora dan PSSI membicarakan itu, jika pak Menpora sibuk karena persiapan Sea Games juga bisa diwakilkan yang lainya bukan? Dengan materi pokok yang sama, untuk masalah legal atau ilegalnya klub saya rasa bisa beres sambil jalan. Tapi saya berharap bapak-bapak ini akan benar-benar membahas masalah diatas tadi. Saya berharap kita dapat memainkan esensi sepak bola, bukan rasa sepak bola.

Apa Pendapatmu?