List of feeds URL

Sensasi Roller Coaster Bersama Timnas U23

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Melalui tiga pertandingan dengan penampilan mengecewakan, tidak lantas menyingkirkan Timnas U23 dari persaingan memperebutkan emas SEA Games 2013 Myanmar. Kemenangan di pertandingan terakhir, mengantarkan Garuda muda melenggang ke semifinal karena unggul secara head to head dari tuan rumah.

Dihancurkan Thailand

vsthai

Untuk menghadapi Thailand, Timnas U23 memakai banyak pemain baru sebagai starting line up daripada ketika melawan Kamboja. Pelatih Rahmad Darmawan (RD) sepertinya tidak puas dengan performa di pertandingan sebelumnya. Dia menggantikan Rizky Pellu, Yandi Sofyan dan Dendi dengan Egi, Fandi Eko dan Pahabol. RD masih mencoba membuat pemain-pemain baru ini untuk fit di formasi 4-2-3-1.

Di sisi lain, Kiatisuk Senamuang juga menyusun skuadnya dengan 4-2-3-1, tapi sepertinya dia sudah bersiap untuk laga yang ketat dan sulit, mengingat melawan Indonesia selalu berlangsung alot. Dia memakai pendekatan seperti Kamboja sebelumnya yang menunggu di area sendiri, tapi defensive line yang dipakai jauh lebih dalam. Thailand berharap Indonesia banyak melakukan kesalahan ketika menyerang dan bisa melakukan counter attack cepat dengan empat atau lima pemain.

Melihat pendekatan Thailand dan tipikal pemain yang dipakai Timnas U23, terutama double pivot yang diisi duet Egi dan Dedi, seharusnya memang laga menjadi ketat di area Thailand. Indonesia akan mengontrol serangan dari posisi cukup dalam namun juga akan kesulitan outplayed Thailand yang drop deep. Tapi sayangnya defence Timnas U23 sudah hancur sejak menit pertama ketika menghadapi counter attack. Masalah timbul berawal dari pemilihan penempatan Egi dan Dedi, dimana Dedi lebih naik dan berusaha menggantikan peran Rizky Pellu dan Egi sendiri lebih dekat dengan backfour. Seperti catatan saya sebelumnya, menempatkan Egi di posisi ini adalah kesalahan karena dia sangat lambat menutup ruang dan lemah dalam melakukan blocking. Jika posisi dua pemain ini ditukar mungkin tidak akan fatal seperti ini, tapi itulah pilihan pelatih.

Masalah diperparah dengan tidak lekas sembuhnya penyakit blunder oleh Andri Ibo. Kesalahannya mengantisipasi datangnya bola dan membaca movement pemain lawan membuat Thailand terus menambah koleksi golnya dan membuat Garuda muda tertinggal semakin jauh.

Sedangkan di sisi serangan, Thailand dengan nyaman mengawal serangan Timnas yang hanya bisa masuk sebatas di flank. Double marking Thailand membuat winger Timnas kesulitan lepas, jika Pahabol dan Fandi ikut membantu bergerak ke flank itu, tidak ada pemain untuk menyambut crossing di tengah. Jauhnya posisi double pivot di belakang juga menyusahkan untuk memindah serangan ke flank jauh dan memaksa defence Thailand melakukan transisi secara horizontal. Posisi serba sulit di belakang dan depan membuat Timnas tidak bisa mengelak dari kekalahan 1-4.

Terkait:  Belanda (4) - (3) Kostarika: Waspada Jadi Kunci Van Gaal Taklukkan Pinto

Ditahan Timor Leste (Lagi)

vstimles

Cukup kecewa dengan penampilan anak asuhnya ketika ditekuk Thailand, RD kembali merombak starting line up untuk menghadapi Timor Leste. Rizky Pellu, Ramdhani, Dendi dan Yandi sekarang kembali bermain. Sedangkan di belakang, Andri Ibo harus merelakan posisinya kepada Syaifuddin. Di fullback kiri juga ada perubahan, Ronny menggantikan Diego Michels. Andik dan Diego memang diberitakan dibekap cedera, sehingga mereka tidak turun sama sekali di laga ini.

Timor Leste tetap memakai 4-4-2 seperti biasa dan cara mereka memainkannya pun masih mengandalkan apa yang pernah mereka lakukan dalam laga ujicoba, yang berhasil menahan imbang Garuda muda. Tiga pemain dari backfour melakukan man marking terhadap tiga pemain terdepan lawan dan satu menjadi sweeper di belakang. Dengan duet striker coba cover double pivot Timnas, mereka juga berharap ada satu lagi spare-man di tengah. Dan akhirnya formula ini kembali sukses mengimbangi Timnas.

Tidak ada masalah berarti untuk lini belakang Garuda muda, kehadiran Syaifuddin dan kembalinya Dedi Kusnandar di depan backfour cukup untuk melindungi gawang Kurnia Meiga. Masalah lebih banyak di barisan depan, sistem man marking dan satu sweeper yang dipakai Timor Leste kembali sulit di tembus.

Masalah pertama ada di dua winger yang diisi Bayu Gatra dan Ramdhani, mereka lambat sekali masuk ke tengah ketika fullback di belakang mereka membutuhkan space untuk naik. Hal ini membuat Timnas membutuhkan waktu yang cukup lama hanya untuk membongkar flank. Padahal harusnya cukup mudah membuat backfour lawan narrow karena mereka memakai man marking, yaitu dengan winger yang masuk ke tengah. Tercatat beberapa kali Bayu bertukar posisi dengan Dendi dan membuat Bayu terlepas dari marking dan menghasilkan peluang bagus, dan kembali itu hanya dilakukan jarang sekali.

Terkait:  Opsi Permainan Shaqiri Di Tengah Hegemoni Trio Lini Serang Liverpool

Masalah kedua berasal dari positioning Rizky Pellu. Posisinya yang kurang naik membuat dia kesulitan melepaskan diri dari covering striker Timor Leste. Hal ini selain membuat Dendi melawan dua orang gelandang bertahan, kontrol serangan Timnas pun kurang bisa masuk area lawan untuk memungkinkan through pass sebagai variasi serangan. Pergantian pemain dengan masuknya Pahabol dan Fandi Eko memberi dimensi baru terhadap serangan Timnas. Terutama Fandi yang menggantikan Yandi, terus menarik satu bek tengah Timor Leste keluar dan memberi ruang dua winger melakukan running in behind dan menghasilkan peluang bagus. Tapi minimnya waktu buat perubahan itu tidak cukup untuk memungkinkan lahirnya gol kemenangan.

Lolos Dari Lubang Jarum, Mengalahkan Myanmar

vsmya

 

Dari tiga laga yang sangat tidak meyakinkan, Timnas hanya mendapat poin empat dengan selisih gol minus dua. Tertinggal tiga poin dari Myanmar yang juga memiliki selisih gol lima. Tapi karena rules SEA Games yang mengikuti regulasi AFC, Garuda muda diuntungkan penggunakan head to head jika poin yang dikumpulkan sama. Dan pertemuan terakhir melawan Myanmar ini menjadi laga hidup mati yang harus dimenangkan.

Melihat performa terakhir, tidak terlalu mengejutkan jika RD kembali mengubah starting line up Timnas. Di belakang, Diego Michels kembali menempati fullback kiri dan Andritani menggantikan Kurnia Meiga. Di depan, kali ini Yandi Sofyan dan Fandi Eko berkesempatan bermain bersama untuk pertama kali. Sebelumnya mereka selalu bergantian mengisi pos penyerang tengah. Melawan skema 4-5-1 Myanmar, komposisi ini bekerja sangat baik dan mengontrol permainan dengan nyaman, kecuali di akhir laga.

Ada tiga poin kenapa permainan Timnas membaik padahal kualitas lawan juga lebih bagus. Poin pertama ada di defensive line yang cukup tinggi. Garis pertahanan ini berhasil mengontrol counter attack Myanmar yang cukup cepat sehingga tidak cepat masuk kotak penalti. Hal ini juga diuntungkan oleh Myanmar yang jarang mengirim bola panjang langsung di belakang backfour Timnas ketika menyerang.

Poin kedua adalah intensitas yang luar biasa dari Rizky Pellu. Ketika di belakang rekannya menyusun high defensive line, pressing yang dilakukannya di tengah membuat Myanmar kesulitan untuk membangun serangan. Tekanan yang dilakukan olehnya memaksa banyak salah umpan ketika Myanmar ingin mendorong bola naik. Ketika menyerang, area main Rizky sekarang jauh lebih luas. Dari tengah di bisa bergerak ke depan atau melakukan overload ke flank. Sporadisnya movement Rizky ini sangat membantu timnya untuk mendapatkan sudut passing baru dan juga memungkinkan mengontrol serangan di final third dengan nyaman.

Terkait:  Siapakah Pewaris Sejati Sir Alex?

Poin ketiga adalah kembalinya Fandi Eko ke posisi aslinya di belakang striker. Peran sebagai trequartista ini yang sebelumnya membuat namanya berkibar di Timnas U22, namun sayang sekali di level U23 ini dia lebih sering di plot sebagai center forward. Dengan satu striker di depannya untuk menahan pressing bek tengah lawan, Fandi lebih nyaman bergerak dan melakukan link up serangan baik itu dari flank ataupun tengah. Sampai pertengahan babak pertama, banyak sekali peluang bagus oleh Timnas hasil dari baiknya Fandi dan Rizky mengontrol sisi tengah untuk mengimbangi serangan Timnas yang biasanya monoton di flank. Tapi entah mengapa setelah itu Fandi kembali di depan dan sejajar dengan Yandi, yang akhirnya pun peluang yang didapat Timnas mandek.

Di pertengahan babak kedua, Myanmar mengambil alih kontrol permainan. Hal ini diawali keluarnya Ramdhani karena cedera dan digantikan oleh Andik. Pergantian ini sejatinya adalah direct swap karena Andik tetap sebagai winger kiri, tapi role Andik yang tidak melindungi Diego Michels ketika bertahan menimbulkan masalah keseimbangan pertahanan. Myanmar sendiri membaca ini dengan mengganti fullback kanannya dengan pemain yang lebih segar dan mulai terus menyuplai bola dari sisi ini memanfaatkan Diego Michels yang kebingungan covering dua pemain. RD berusaha menutup ini dengan memasukkan Egi yang menggantikan Yandi. Di bantu satu kartu merah yang didapat Myanmar, Timnas akhirnya bisa mengklaim satu tempat di semifinal.

Apa Pendapatmu?