List of feeds URL

Sembilan Wonderkid Akademi Arsenal

011316_0559_1.jpg
Author: Christhoper K.R (twitter: @christhoperKR)

Siapa pecinta si kulit bundar yang tak mengenal sosok Arsene Wenger? Yang tidak mengenal beliau pasti anda karbitan, bukan? Arsene Wenger adalah Tuhan yang irit nan pelit. Selain itu, Tuhan yang bisa menciptakan makhluk hidup dari zero to hero.

Inilah dambaan fans dari Emirates Stadium, tuan Professor mampu membuat manusia baru menjadi sang pujangga. Pujangga itu laiknya seperti Ian Wright, Dennis Bergkamp, Ray Parlour, Robert Pires, Nwankwo Kanu, Fredrik Ljungberg, Thierry Henry, dan Gilberto Silva.

Apakah The Gunners, julukan Arsenal, berhenti sampai disitu? Belum, tunggu ajal mendekat, Arsenal akan berhenti selamanya. Arsenal masih lapar akan pujangga muda nan berprestasi selama pria berambut putih memegang kemudi penuh.

Arsenal Academy, surganya pujangga muda. Surga ini dikenal lebih mementingkan kualitas ketimbang kuantitas. Hasilnya memang membuktikan bahwa lulusan mereka banyak yang mampu berprestasi. Sayang sekali, pria ber-inisial AW juga hobi menjual pemain-pemain terbaik mereka.

Penulis ingin memberikan sedikit gambaran ada sembilan wonderkid dari akademi Arsenal yang siap menjadi idola baru bagi khalayak umum. Berikut sembilan wonderkid yang penulis sajikan bagi anda:

1. Marc Bola (18 tahun, Inggris)

Di tahun 2015 bek kiri Arsenal, Kieran Gibbs, hanya bermain selama 634 menit di 17 laga resmi. Sedangkan cowok diatas mampu berlari selama 1.248 menit di 14 pertandingan bersama skuat Arsenal u-18. Izinkan penulis memperkenalkan namanya, Marc Joel Bola.

Musim 2015/2016 Marc konsisten selama 90 menit tanpa tergantikan sebagai bek kiri. Bersama Arsenal muda, Marc hanya mengalami dua kali kekalahan di liga Inggris u-21 dan liga champions u-19. Berbeda dengan sang senior, Kieran Gibbs. Gibbs hanya bermain 90 menit di tiga pertandingannya, sisanya pos kiri diisi oleh Nacho Monreal.

Sudah sepantasnya The Professor, julukan Arsene Wenger, meninggalkan jasa Kieran Gibbs yang inkonsisten dan mendatangkan daun muda laiknya Marc Bola menemani Nacho Monreal. Penulis memperkirakan duet antara Bola dan Monreal akan membuat sisi kiri belakang The Gunners semakin kuat.

2. Krystian Bielik (17 tahun, Polandia)

Pada waktunya nanti, pemuda Polandia ini akan melejit namanya. Bersama sang kapten Arsenal u-21, Julio Pleguezuelo dari akademi La Masia, Krystian Bielik mampu menunjukkan konsistensi bersama The Young Gunners.

Data liga Inggris u-21 musim 2015/2016 menyatakan bahwa, selama 90 menit penuh, Bielik tak tergantikan. Bielik yang ditransfer dari Legia Warszawa mampu membuktikan lini pertahanan Arsenal muda memang solid. Tentunya bersama dengan sang kapten La Masia.

Bocah yang berasal dari kota Konin ini bisa dikatakan sebagai pemain multifungsi jika Arsene Wenger meminang jasanya. Posisi inti yang didapuk sebagai bek tengah dan gelandang bertahan adalah opsional kedua, maka jangan heran suatu saat nama-nama seperti Laurent Koscielny, Per Mertesacker, Mathieu Flamini yang sudah menua dan Francis Coquelin yang mengalami cedera lutut bisa lengser seketika waktu.

Terkait:  Terima Kasih Jose Mourinho

Calum Chambers, Gabriel Paulista, dan Nacho Monreal akan merasa senang mendapatkan tandem timnas Polandia u-18 yang masih fresh tersebut.

3. Julio Pleguezuelo (18 tahun, Spanyol)

Hector Bellerin memiliki kesamaan dengan Julio Pleguezuelo, apakah itu? Mereka berasal dari akademi sepakbola nomor satu di dunia, La Masia. Hector berposisi di bek kanan, sedangkan Julio di bek tengah. Tetapi sangat disayangkan, kiprah dua orang ini berbeda, Hector berada di tim senior Arsenal, disisi lain Julio di Arsenal u-21.

Skill macam Laurent Koscielny dan Per Mertesacker sudah melekat pada diri bocah Mallorca ini. Tandemnya di Arsenal u-21, Krystian Bielik, bermain sangat kompak dan solid. Data membuktikan bahwa, Arsenal u-21 hanya kebobolan sebanyak sepuluh kali, berbeda dengan si kakak tadi yang kebobolan sebanyak 18 kali.

Mantan alumnus Espanyol dan Atletico Madrid ini suatu saat akan mendapatkan kontrak professional diluar Arsenal. Kita lihat perkembangannya dua tahun kedepan, apakah makin top seperti idolanya di klub asal catalan atau sebaliknya?

4. Glen Kamara (20 tahun, Finlandia)

Memiliki raut wajah (hampir) mirip Danny Welbeck bukan berarti bocah ini adalah titisannya. Tidak seperti Danny Welbeck, Anak ini merupakan produk asli akademi Arsenal, ia adalah Glen Kamara. Bersama temannya, Ben Sheaf, Glen diposisikan sebagai gelandang bertahan dan tengah oleh Steve Gatting (pelatih Arsenal u-21).

3.202 menit di lapangan hijau, Glen mengabdi untuk meriam muda. Itu berarti sudah 45 laga resmi yang membuahkan dua gol dan tiga asis. Meskipun tidak tampil gemilang, pelatih timnas Finlandia u-21, Tommi Kautonen, memasukkan namanya ke jajaran skuat Young Eurasian Eagle-Owls bersama wonderkid lainnya, macam Joel Mero (Borussia Monchengladbach II), Niko Hamalainen (
Queens Park Rangers u-21), Roni Peiponen (Molde FK), Armend Kabashi (
Eintracht Braunschweig II), Richard Jensen (FC Twente u-21), dkk.

Mikel Arteta akan sangat terbantu jika Glen Kamara masuk ke dalam tim asuhan pria asal Strasbourg ini. Pasalnya posisi yang dibela antara Arteta dan Glen sama. Coba setelah ini pembaca lihat nomor tiga, tak kalah menakjubkan dengan Glen Kamara.

5. Daniel Crowley (18 tahun, Inggris)

Pernah melamar ke klub divisi tiga Inggris, Barnsley FC, Daniel (Dan) Crowley setidaknya pernah menjajaki klub professional. Awalnya bersama Arsenal u-19 di liga champions u-19, menjadi awal yang cemerlang. Pasalnya, di tujuh pertandingan bersama meriam muda, Dan mencetak lima gol dan tiga asis.

Terkait:  Arsenal 1 - 0 Tottenham: Wenger Bisa Membuat Arsenal Main Beda Dan Menang

Momen gemilangnya pada saat ia membuat hatrick di Van Roy Stadion, rumah bagi Anderlecht u-19 musim 2014/2015. Hatrick yang ia bikin justru malah sia-sia. Arsenal harus bertunduk pada sang empunya griya dengan skor tipis, 4-3. Berbeda dengan liga lokal, musim yang sama juga saat menghadapi pasukan Middlesbrough (Boro) u-21, Arsenal muda menang tipis, 2-1. Gol diboyong oleh Dan Crowley sebagai gelandang kiri.

Pos bermain Dan yang berada di gelandang serang, tengah dan kiri memiliki kans potensial (yang cukup) besar bagi anak asuh The Professor. Semisal Daniel Crowley masuk jajaran tim Arsenal senior, ia mampu menggantikan peran Jack Wilshere, Santi Cazorla, dan Tomas Rosicky yang menderita cedera. Sementara itu, Aaron Ramsey mendapat pelapis yang cocok baginya.

6. Christopher Willock (17 tahun, Inggris)

Christopher (Chris) Willock, nama ini boleh dipertimbangkan pria berumur 66 tahun asal Prancis. Bermain selama 1.405 menit di 21 laga resmi, Chris menorehkan empat gol dan lima asis. Terkadang Chris bisa menjadi supersub bagi pasukan Fly Emirates muda.

Momen krusialnya terjadi pada bulan Desember 2015 saat menantang West Ham United u-21 dikandangnya. Chris pantas menyemat man of the match pada saat itu. Butuh 43 menit bagi anak asuh Steve Gatting untuk menyamakan kedudukan setelah kebobolan terlebih dahulu melalui gol tendangan kaki kanan Alex Pike dimenit ke-38. Menit 81, Chris sukses menyelamatkan muka Arsenal dari kekalahan setelah menerima sontekan asis dari pemuda keturunan Aljazair, Ismael Bennacer. Dewi Fortuna memang untuk Christopher Willock.

Tidak butuh waktu lama bagi Joel Campbell. Mungkin selepas kembali ke Villarreal, pos yang ditinggalkannya bisa diisi Chris Willock. Lumayan, buat nambah jam terbang.

7. Alex Iwobi (19 tahun, Nigeria)

Alex yang naturalisasi dari Inggris resmi berseragam Super Eagles. Memang Alex Iwobi baru dua kali membela Nigeria (itupun sebagai pengganti), tapi jangan ditanyakan lagi soal produktivitasnya. Dari 58 pertandingan yang sudah dilakoni, Alex melesatkan 16 gol dan tujuh asis, tidak buruk.

Memori spesialnya terletak pada pertandingan Stoke City u-21 musim lalu. Walaupun tertinggal dahulu oleh gol Oliver Shenton dimenit awal, pria kelahiran Lagos itu langsung mengamuk dengan membalas hatrick ke gawang Daniel Gyollai, kiper Stoke City u-21.

Nigeria tidak pernah kehabisan striker haus gol. Nwankwo Kanu, sebagai contoh legenda hidup yang patut dicontoh Alex Iwobi. Tak ketinggalan nama Ahmed Musa, Odion Ighalo, dan teman akrabnya, Kelechi Iheanacho-adalah striker pewaris tahta pria yang bernama lengkap Nwankwo Christian Nwosu Kanu.

8. Kaylen Hinds (17 tahun, Inggris)

Ada dua momen yang tidak bisa dilupakan Kaylen Hinds. Pertama, saat Arsenal u-19 bertandang ke rumah Borussia Dortmund u-19, Montanhydraulik-Stadion, Hinds sukses menghancurkan kekuatan BVB dengan angka 2-0. Kedua, dengan dua gol-nya dan satu gol dari Stephy Mavididi ke gawang Derby County u-21, anak didik Steve Gatting meraih kemenangan 3-2 di kandang sendiri.

Pejantan yang bekerja sebagai Secondary Striker ini sangat produktif kala masih membela Inggris u-16 dan u-17. Jika ditotal keseluruhannya, Hinds bermain 15 kali dengan mencetak 10 gol, luar biasa. Tyler Blackett, Tyias Browning, James Ward-Prowse, Raheem Sterling, dan Nathan Redmond pernah sukses bersama timnas Inggris u-17 tahun 2010 dan klub yang dibelanya sekarang. Mudah bagi Hinds untuk meniru serupa.

Terkait:  Timnas U23 Mengejar Emas Dengan Mengubur Potensi Terbaik

Jika masuk ke Arsenal, Kaylen Hinds bisa menjadi pemain alternatif. Tomas Rosicky yang tak bertenaga lagi bisa diganti dengan peran tunggal Kaylen Hinds. Itu pun kalau Wenger tak meragukannya.

9. Stephy Mavididi (17 tahun, Inggris)

Sama seperti partner-nya, Kaylen Hinds, Stephy Mavididi juga pernah mengalahkan tim kuning dari Montanhydraulik-Stadion. Disaksikan 478 penonton di Meadow Park, Stephy meluluh-lantahkan tim kuning dengan skor cukup 1-0 saja lewat asis cantik Alex Iwobi.

Perlu diketahui, Pria keturunan Kongo ini Jarang ditampilkan oleh Steve Gatting. Disaat menjadi pengganti, dia berperan sebagai supersub kala The Young Gunners tertinggal. Didalam data liga Inggris u-21 musim 2015/2016 sudah terbukti Stephy berlaga sembilan kali dan mencetak lima gol. Meskipun usia masih muda, kontrol emosinya sangat bagus. Sejak membela Arsenal muda musim 2014/2015, Stephy hanya mendapatkan satu kartu kuning saja.

Selama 1.766 menit bermain, Stephy hanya berposisi sebagai striker tunggal. Posisi ideal bagi si mesin diesel, Olivier Giroud, dan si karet yang cedera lutut, Danny Welbeck-cocok mendapat tambahan tenaga dari laki-laki kelahiran kota Derby tersebut.

Selain sembilan nama diatas, masih ada nama seperti, Jeff Reine-Adelaide, Ismael Bennacer, serta Stefan O’Connor. Menurut pandangan penulis, ketiga pemain ini masih belum banyak berkontribusi dan masih harus belajar banyak di akademi.

Jangan terbuai terlalu dini akan predikat wonderkid. Tidak semua wonderkid akan top diwaktunya nanti, atau sebaliknya. Perilaku yang labil dan emosi yang berlebihan menjadi hambatan untuk berkembang di usia muda. Jika hambatan itu sudah teratasi, prestasi pun bisa datang sewaktu-waktu.

Di pengujung cerita, saya sangat menghargai usaha para wonderkid di planet ini. Karena usahanya itu saya ingin mengungkapkan sesuatu. “Sebuah hasil tidak akan pernah menghianati sebuah usaha, jadi tetap berusahalah dan jangan pernah menyerah, meriam muda.”

 

Sumber foto : www.arsenal.com

Apa Pendapatmu?