List of feeds URL

Seedorf Dan Masalah Yang Akan Dihadapinya Di Milan

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Setelah memulai debut laga menjadi allenatore anyar dengan cukup manis, Clerence Seedorf harus mencicipi kekalahan pertama langsung di laga kedua dalam karirnya. Kekalahan atas Udinese di Coppa Italia menghapus optimisme yang sempat meletup setelah Milan mengalahkan Verona di Serie A beberapa hari sebelumnya.


Satu kemenangan yang disusul satu kekalahan menempatkan Rossonerri ke situasi semula, menyadarkan bahwa sebenarnya mereka masih memiliki masalah yang sama dengan sebelum ditinggal Allegri. Jika melihat penunjukan Seedorf sebagai pengganti Allegri sendiri pun bisa dibilang Milan hanya menambah masalah dari yang sudah ada.

Seedorf memang pemain kelas wahid, tapi dia cuma pelatih rookie. Dia memutuskan pensiun jadi pemain di tiga hari sebelum Milan menyatakan secara resmi menggunakan jasanya. Kita tidak pernah tahu kapasitasnya meramu strategi. Beberapa cerita jika dia pernah berdebat tentang taktik dengan Capello tidak mengaburkan fakta jika Seedorf belum pernah mengaplikasikannya ke sebelas pemain di lapangan dalam satu laga kompetitif sebelumnya.

Seedorf juga belum memiliki lisensi UEFA Pro sebagai syarat menangani klub Serie A, beruntung pihak FIGC memberi dispensasi karena dia akan mendapatkannya bulan Mei nanti. Yang tak kalah penting, dalam seminggu awal masa kerjanya, pelatih berpaspor Belanda ini sudah harus menghadapi dua laga. Tidak banyak waktu bagi dia untuk mengenal lebih jauh anak asuhnya, apalagi menggali potensi terbaik mereka.

Dengan banyak keterbatasan seperti ini, Seedorf dituntut menyelesaikan masalah allenatore sebelumnya, yang Allegri sendiri tak mampu mencari jalan keluar. Masalah ini cukup pelik karena di latar belakangi oleh filosofi permainan yang dianut Allegri.

Masa sulit yang dialami Milan jika dilihat secara taktikal bisa disebabkan dari kerasnya keinginan Allegri untuk memainkan pola 4-3-1-2 atau 4-4-2 diamond. Bukan tanpa alasan pria kelahiran Livorno ini untuk memakai skema ini. Formasi yang memakai single pivot dan satu trequartista ini sebelumnya telah memberi gelar scudetto di musim pertamanya bersama Milan. Waktu itu Milan masih diperkuat Thiago Silva, Andrea Pirlo, Ronaldinho dan Zlatan Ibrahimovic, komposisi yang bisa dibilang paling baik di Italia. Posisi trequartista lebih sering dimainkan Robinho dan Ronaldinho.

Terkait:  Catatan Indonesia Vs Thailand: Timnas Tidak Siap Untuk Game Ini


Ada beberapa perubahan di skuad Milan untuk musim kedua Allegri. Dia memutuskan untuk tidak memakai lagi Andrea Pirlo dan lebih menyukai gelandang bertahan yang lebih konvensional dan bertenaga. Pirlo sendiri akhirnya memilih Juventus untuk meneruskan karirnya. Beberapa pemain senior seperti Ronaldinho dan Gattuso pun mulai meninggalkan San Siro. Masih mengandalkan 4-3-1-2, Milan gagal bersaing bersama Juventus untuk merebut scudetto. Tapi keberadaan pemain bintang seperti Nesta, Thiago Silva, Ibrahimovic dan Cassano masih menolong Milan untuk menjadi runner-up. Peran trequartista sering dimainkan oleh Aquilani, tapi Kevin Prince Boateng beberapa kali juga coba dimainkan di posisi itu.

Di musim ketiga Milan harus melego Thiago Silva dan Ibrahimovic dalam satu paket ke PSG untuk menyelamatkan keuangan klub. Semakin tereduksinya kekuatan tim, Milan kepayahan ketika mengawali musim. Skema 4-3-1-2 yang dipakai dengan Prince Boateng sebagai trequartista, tidak mampu mengangkat Milan bahkan untuk ke papan tengah.

Beruntung Milan mempunyai Stephan El Shaarawy dan M’Baye Niang, dua pemuda berambut mohawk yang bermain di kedua sisi sayap yang akhirnya memberi solusi. Dua pemain ini memberi kesempatan Allegri memainkan 4-3-3 dan akhirnya mampu mengatrol posisi Milan di posisi tiga klasemen Serie A di akhir musim. El Shaarawy bahkan sempat menjadi pencetak gol terbanyak sampai tengah musim sebelum koleksi golnya macet seiring bersinarnya Balotelli sebagai striker anyar.

Walaupun skema 4-3-3 berhasil menyelamatkan karirnya di musim sebelumnya, di musim ini Allegri masih penasaran untuk memainkan 4-3-1-2. Dilanjutkan komunikasi dengan jajaran direksi Milan, digodoklah upaya untuk mewujudkan rencana sang allenatore. Rencana pembelian pemain di fokuskan untuk mencari trequartista seperti Kaka, Saponara, Honda, Ljajic dan Birsa. Prince Boateng yang musim sebelumnya coba diproyeksikan dan gagal, sekarang dijual. Untuk pos striker, Milan membeli Matri dari Juventus untuk menggantikan Pazzini yang cedera panjang.

Terkait:  Jerman 1 - 0 Argentina: Pendekatan Brilian Jogi Low Di Kondisi Tidak Ideal

Tapi kenyataan tidak berjalan searah dengan rencana. 4-3-1-2 yang diinginkan tidak pernah tereksekusi maksimal karena Matri selalu bermain di bawah form. Jangankan gol, untuk terlibat dalam permainan saja dia kesulitan. Dengan tekanan dari banyak pihak termasuk fans, Allegri akhirnya mencadangkan Matri dan terpaksa memakai 4-3-2-1 karena dia mempunyai stok trequartista lebih banyak daripada striker.

Memakai 4-3-2-1 yang dulu sempat dipopulerkan oleh Ancelotti, masalah baru kembali menghinggapi Milan. Dengan skema ini maka Balotelli menjadi pemain terdepan sendiri dan kecenderungannya untuk bergerak turun membuat Milan sering kehilangan finisher di depan. Tidak adanya tandem untuk menahan marking bek tengah lawan juga membuat produktifitasnya menurun drastis.

Selain tidak tajam ketika menyerang, 4-3-1-2 dan 4-3-2-1 ala Allegri sangat rapuh ketika bertahan. Masalah pertama adalah kedua formasi tersebut tidak memiliki natural winger. Tanpa pemain sayap, lebar lapangan diharapkan berasal dari dua fullback yang wajib agresif naik melakukan overlap. Tapi skema ini hanya mempunyai satu pivot dan juga harus melindungi ruang yang di tinggal fullback seorang diri, lawan bisa dengan mudah membuat Milan kolaps jika mempunyai counter attack yang bagus. Sassuolo dengan bintang mudanya, Domenico Berardi sampai bisa mencetak poker goal ke gawang Abbiati.

Ketika harus bertahan di posisi yang cukup dalam, skema ini juga punya banyak kelemahan. Dengan hanya tiga pemain di depan backfour dan tanpa winger, fullback Milan selalu tidak terproteksi. Jika melawan tim yang mempunyai winger yang bagus atau ketika lawan melakukan overload dengan menaikkan fullback-nya, salah satu dari tiga gelandang harus bergerak ke samping melindungi sang fullback. Situasi ini menimbulkan banyak sekali transisi di depan backfour dan lawan dengan mudah menemukan celah diantaranya.

Hal ini berbeda ketika musim lalu Milan memakai 4-3-3. Skema ini masih memiliki 2 wide forward yang bisa turun melindungi fullback menjadi 4-5-1 tanpa banyak movement di tengah. Peran ini sering di praktekkan oleh El Shaarawy atau Niang dengan workrate yang bagus. Walaupun secara kualitas pemain Milan musim lalu banyak mengalami penurunan, tapi mereka masih bisa menikmati posisi ketiga klasemen karena performa yang stabil sampai akhir musim.

Terkait:  Indonesia 1 - 1 Malaysia: Goals And Full Highlight AFF U19 2013

Bagaimana langkah Seedorf untuk memperbaiki kerusakan ini?

Perubahan yang jelas terlihat adalah Seedorf mencoba membuat Milan bermain dengan winger lagi, dia merubah skema menjadi 4-2-3-1. Langkah yang cukup tepat untuk mendapatkan keseimbangan permainan lagi baik ketika menyerang maupun bertahan. Tapi masalah tidak lantas selesai disini, Allegri tidak mewarisinya pemain bertipe natural winger. El Shaarawy masih cedera panjang dan satu-satunya yang tersisa, M’Baye Niang sudah dipinjamkan ke Montpellier. Jadilah Seedorf mengisi posisi winger dengan memberdayakan pemain bertipe trequartista.

Selain itu Balotelli juga masih di depan sendirian. Sebelumnya Seedorf sempat berujar jika dia ingin menduetkan Balotelli dengan striker lain, entah memakai formasi apa. Tapi kembali cederanya Pazzini dan dipinjamkannya Matri ke Fiorentina membuyarkan rencana itu, walaupun sebenarnya masih ada Petagna, striker belia Milan di bench. Kecenderungan Balotelli untuk membuka ruang sampai saat ini belum bisa diimbangi naluri gol yang bagus dari pemain di belakangnya, sehingga masih belum ada perubahan dari performa milan secara signifikan dari dua laga awal ditangan Seedorf.

Secara kualitas para pemain Milan tidaklah buruk, bahkan pantas bersaing di papan atas. Tapi secara komposisi sebagai tim, cukup menyulitkan sang allenatore untuk menyusun menjadi tim yang solid. Dengan banyaknya hambatan dari dirinya sendiri dan komposisi skuad Milan, akan butuh waktu yang agak lama buat Seedorf untuk menata kembali Milan. “Saya banyak melihat hal menarik hari ini, saya bilang ke pemain untuk tetap tenang. Saya bukan pembawa mukjizat,” ujarnya setelah dikalahkan Udinese.

Apa Pendapatmu?