List of feeds URL

Review Taktik Serie A: Adaptasi Atau Mati

2614162_heroa
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Liga Serie A Italia musim 2015/2016 akan segera memasuki sisa sepertiga akhir setelah ini. Untuk pertama kalinya dari sekian musim, Juventus tidak bisa lagi disebut kandidat dominan untuk bisa meraih scudetto.

Ada empat tim yang sudah pernah mencicipi singgasana klasemen Serie A sampai pekan ke 22 dan Juventus sebagai juara bertahan bahkan belum pernah menginjakkan kaki di puncak. Si Nyonya Tua masih berada di peringkat kedua walaupun sudah mengemas 12 kemenangan beruntun.

Napoli sementara masih bertengger menjadi capolista dengan keunggulan dua angka. Sedangkan kontestan lain yang terpaut tidak terlampau jauh dari posisi teratas dan masih berpeluang untuk mengejar adalah Fiorentina, AS Roma, Inter Milan dan AC Milan.

Situasi kompetitif Serie A seperti ini sudah lama tidak ditemui, sejak Juventus begitu dominan yang dimulai di musim 2011/2012. Di musim lalu Juventus bisa meninggalkan rival terdekatnya sampai dengan 17 poin. Di musim ini sepertinya hal yang sama akan sulit terjadi.

Massimiliano Allegri berkutat cukup lama untuk mencari formula yang paling pas buat Juventus sepeninggal tiga pemain kunci Andrea Pirlo, Carlos Teves dan Arturo Vidal sekaligus. Start mereka di musim ini sangat lambat, sampai sempat tertinggal 11 poin dari peringkat teratas.

Allegri menyiapkan skema 4-3-1-2 di awal musim dengan merekrut pemain baru seperti Paulo Dybala, Sami Kheidira dan Juan Cuadrado. Sedangkan Mario Mandzukic didatangkan untuk menggantikan posisi Fernando Llorente yang kembali ke Spanyol.

Tapi sampai pekan ke 10 Juventus masih tampak tidak siap untuk bisa kembali ke level yang sama seperti musim lalu. Sampai akhirnya Allegri harus mengembalikan skema 3-5-2, yang juga menjadi akar Juventus sejak masih dipegang Antonio Conte dan akhirnya performa Juventus terus membaik sampai berhasil kembali ke jalur scudetto.

Sejak masih di Milan, Allegri cukup terobsesi dengan formasi 4-3-1-2. Di Juventus musim sebelumnya dia berhasil mengkombinasikan formasi yang juga sering disebut 4-4-2 berlian ini dengan 3-5-2, yang akhirnya berhasil membawa Juventus ke final Liga Champions pertama kali sejak tahun 2003.

Terkait:  Inter Milan 0 - 3 AS Roma: Efisiensi Permainan AS Roma

Jadi cukup beralasan jika Allegri ingin membangun ulang Juventus dengan memakai 4-3-1-2. Tapi hasil yang jauh dari memuaskan mengharuskan pelatih berusia 48 tahun tersebut harus merelakan sistem idealnya tersebut dengan sistem lain yang lebih efektif.

Tapi Allegri tidak sendirian dalam situasi seperti ini, karena empat dari enam allenatore tim teratas Serie A juga harus berada di dalam dilema yang sama. Selain Allegri, Maurizio Sarri, Luciano Spalletti dan Sinisa Mihajlovic juga harus merelakan sistem idealnya untuk berganti memakai sistem lain yang ternyata lebih efektif.

Sarri yang musim ini pertama kali menahkodai Napoli mencoba memakai 4-3-1-2, yang juga sistem andalannya sejak dia masih melatih Empoli. Namun rencana tersebut tidak berjalan mulus karena Napoli hanya meraih enam poin sampai dengan pekan ke lima.

Pelatih yang juga lahir di kota Napoli tersebut harus memutar otak dan mencoba mencari solusi lain. Sinar terang muncul ketika mereka melawan Lazio dan Club Brugge yang dipakai Sarri untuk mencoba formasi baru 4-3-3. Ternyata sistem baru ini cukup manjur dan berhasil membawa Napoli menang dengan skor sangat meyakinkan 5-0. “Kami tidak akan mengubah ide kita tentang sepakbola. Kami hanya mengubah beberapa posisi pemain,” Ujar Sarri.

“4-3-3 memberi kami fase bertahan yang lebih baik. Kami akan terus melatih kedua sistem di sesi latihan. Tapi jika performa kami terus seperti ini, kami terus memakai 4-3-3.”

Sejak momen itu Napoli terus memakai 4-3-3 dan sampai pekan ke 22 mereka sukses untuk berada di puncak klasemen. Formasi tersebut juga berhasil memoles potensi terbaik Gonzalo Higuain ke performa terbaiknya, hingga menjadi capocannoniere sementara dengan 22 gol.

Di tempat lain dengan situasi yang lebih rumit terjadi di AS Roma. Spalletti yang baru saja menggantikan pelatih lama, Rudi Garcia, harus mengurai masalah antara sistem ideal miliknya, dengan ketersediaan tipe pemain peninggalan Garcia.

Pelatih berkepala plontos ini sempat memakai 4-2-3-1 di laga pertamanya ketika bertemu Verona dan berakhir draw. Di laga selanjutnya melawan Juventus Spalletti mencoba memakai 3-5-2, namun tidak berakhir dengan baik setelah mereka dibungkam 0-1.

Terkait:  Revival Patrice: Tentang Sinar Terang Evra Di Tanah Italia

Terakhir Spalletti berganti memakai formasi 3-4-2-1 ketika melawan Frosinone, tapi justru tidak karuan di babak pertama. Dia mengembalikan Roma ke formasi 4-3-3, yang juga peninggalan Garcia, di babak kedua dan akhirnya berhasil merengkuh kemenangan pertama di akhir laga dengan skor 3-1.

Spalletti sendiri terkenal sebagai pelatih yang mengembalikan sistem False 9 ke sepakbola modern di periode pertamanya di Roma di tahun 2007. Di masa itu dia berhasil membawa Roma sebagai tim yang disegani di Italia dan Eropa memakai formasi 4-6-0 dengan Francesco Totti sebagai false 9.

Tidak jelas apakah Spalletti ingin mengulang kegemilangan sistem lawasnya tersebut di periode ini, apalagi jika melihat sang lakon, Totti, sudah tidak bisa bermain kompetitif 90 menit lagi. Edin Dzeko sekarang striker utama dan Spalletti mungkin terpaksa harus meninggalkan nostalgia tersebut untuk membangun Roma kali ini.

Mihajlovic di Milan juga mempunyai cerita yang sama dengan kompatriotnya di atas. Skema impian miliknya adalah formasi 4-3-1-2 seperti ketika dia masih melatih Sampdoria dan dicoba diaplikasikan ke Milan di awal musim.

Stephan El Shaarawy terpaksa harus dibuang di bursa transfer musim panas karena tipenya yang seorang winger yang tidak terakomodasi di formasi 4-3-1-2. Sebelumnya Milan sudah mempunyai Giacomo Bonaventura dan Keisuke Honda, dua pemain bertipe trequartista yang di atas kertas bakal pas sekali untuk formasi diamond tersebut.

Tapi hasil dari memakai 4-3-1-2 tidak lah positif dan performa Milan limbung ketika melawan tim papan atas. Milan tertahan di papan tengah dan terpaut cukup jauh dari pemuncak klasemen. Mihajlovic mulai bereksperimen memakai sistem yang lebih bertahan dengan formasi 4-5-1. Ternyata Milan meraih hasil yang lebih konsisten jika bermain lebih pasif.

Perubahan paling positif Mihajlovic ketika dia mencoba memakai 4-4-2 flat, yang terakhir bisa mengalahkan tim papan atas Fiorentina dan Inter Milan. Sistem baru ini tidak bisa mendominasi ball possession seperti ketika memakai 4-3-1-2. Tapi lebih jarang mendominasi ball possession justru lebih cocok dengan Milan, walaupun harus sampai menempatkan Bonaventura dan Honda lebih melebar menjadi winger.

Terkait:  Barcelona 0 - 0 Atletico Madrid: Perubahan Positif Tata Martino Tapi Tetap Miskin Gol

Dari enam tim teratas, hanya Fiorentina dan Inter Milan yang relatif konsisten dengan pilihan formasi yang dipakai. Paulo Sousa di Fiorentina masih setia memakai 3-4-2-1 di setiap awal laga, walaupun mempunyai variasi menambah striker menjadi 3-5-2 jika La Viola sedang memburu gol.

Sedangkan Roberto Mancini di Inter Milan jarang sekali menengok ke formasi lain untuk menggantikan 4-2-3-1, yang coba divariasikan dengan komposisi pemain yang terus berubah. Pernah sekali Mancini mencoba memakai 4-4-2 dengan memakai Mauro Icardi dan Rodrigo Palacio sekaligus sebagai duet striker, namun gagal untuk menang atas tim papan bawah Carpi.

Uniknya dari dua tim yang paling konsisten dengan pilihan formasinya tersebut, justru di paruh kedua ini tren performa mereka lebih menukik dari empat tim lainnya. Jika di paruh pertama musim Inter Milan dan Fiorentina menguasai puncak, sekarang mereka harus terpental sampai ke posisi tiga dan empat, terpaut delapan poin dari Napoli.

Walaupun begitu masih cukup sulit untuk mengambil kesimpulan jika penurunan performa dua tim ini dikarenakan mereka hanya memakai satu formasi saja. Setiap tim akan mengalami satu atau dua periode buruk di musim yang panjang, dan tentu saja mereka masih bisa naik lagi jika bisa merespon periode negatif tersebut dengan baik.

Tapi fakta bahwa ada empat tim yang harus berebut scudetto dengan sistem yang tidak ideal untuk pelatihnya tentu saja akan sangat menarik. Siapa pelatih yang paling menguasai detail dari sistem baru tersebut nanti juga akan berperan penting untuk menentukan siapa yang berhak menggondol scudetto di akhir musim nanti.

Kira-kira siapa yang scudetto?

Apa Pendapatmu?