List of feeds URL

Real Madrid 3 – 4 Barcelona: Sama Tajam Di Depan Rapuh Di Belakang

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Edisi kedua El Clasico buat dua entrenador di masing-masing tim berlangsung sangat memikat. Permainan di lapangan, cepat berubah menjadi medan uji pertahanan masing-masing tim yang tidak bisa mengontrol cara sang lawan menyerang. Tentu saja kontes seperti ini yang bisa membuat big match sangat menarik karena banyak momen membahayakan di depan gawang.

mb

Diantara kedua tim, Madrid memiliki progres yang lebih baik daripada Barcelona. Madrid tidak terkalahkan dalam 31 laga dan terakhir kekalahan diperoleh dari laga El Clasico edisi pertama di Camp Nou. Setelahnya Ancelotti berhasil menemukan komposisi yang tepat dalam skema 4-3-3 dengan menjadikan Angel Di Maria sebagai gelandang tengah sedangkan Gareth Bale sebagai wide forward kanan. Sedangkan untuk pertahanan yang bermasalah saat harus turun dalam, pelatih asal Italia ini sukses membuatnya lebih kuat dengan bek tengah yang lebih agresif menutup ruang di depannya daripada backfour yang flat dan pasif.

Walaupun memulai laga dengan catatan yang cukup bagus, Madrid gagal menemukan bentuk pertahanan yang tepat sejak awal pertandingan. Neymar sempat mendapatkan peluang di sisi kanan dalam skema serangan balik dengan posisi 2 vs 3, Messi dengan cerdik memberikan umpan terobosan diantara Pepe dan Sergio Ramos. Tidak lama setelah itu di menit ke 6, rotasi dari Neymar dan Messi di depan duet bek tengah Madrid berhasil memberikan ruang buat Messi yang akhirnya menemukan Iniesta bebas di kiri dan memberikan keunggulan cepat buat klub yang berdiri tahun 1899 ini.

Di prosesi gol ini terlihat pertahanan Madrid masih kesulitan membaca posisi awal dan pergerakan pemain Barcelona. Ramos kembali ke posisi seharusnya setelah melakukan tracking Neymar yang turun, sedangkan Pepe tidak bisa naik mengikuti Messi ketika Cesc Fabregas tiba-tiba ada di hadapannya, Messi pun akhirnya mendapat ruang di depan backfour Madrid. Dani Carvajal berinisiatif membantu menutup Fabregas agar Pepe bisa melakukan pressing kepada Messi. Karena kurang cepat, Messi terlebih dahulu melepas through pass dengan akurasi luar biasa kepada Iniesta di sisi kiri.

Bergeraknya Carvajal ke tengah sebenarnya juga dikarenakan Iniesta sebelumnya berada jauh dari kotak penalti Madrid. Iniesta memainkan peran wide forward kiri yang berbeda dari cara Neymar atau Pedro biasanya, pemain berusia 29 tahun ini lebih sering turun membantu build-up serangan daripada terus di depan, menyentuh touchline dan menarik lebar pertahanan lawan. Peran Iniesta ini adalah adaptasi dari Tata Martino yang berkepentingan memainkan Fabregas untuk overload sisi tengah tapi tetap memainkan 4-3-3.

Terkait:  Pergerakan Tanpa Bola: Aksi Penting Yang Sering Diabaikan

Sebelumnya dengan komposisi pemain yang sama saat melawan Manchester City, Tata Martino memilih memakai 4-3-1-2. Selain sulit ketika melakukan pressing di daerah lawan, skema ini juga tidak memberikan sudut serangan yang baik karena tidak terlalu intensif memakai sisi sayap. Berkaca dari hal ini, Neymar sekarang dipasang sebagai wide forward kanan dan Iniesta wide forward kiri yang juga tidak terlalu cepat naik, akhirnya Barcelona bisa menghindari memakai 4-3-1-2 namun tetap menjaga superioritas di tengah.

Setelah ketinggalan, Carlo Ancelotti membuat Madrid sebisa mungkin tidak menempatkan defensive block timnya di depan kotak penalti. Madrid mengkombinasikan high up pressing di area lawan dan jika harus turun, diusahakan menahan Barcelona mulai tepat di garis tengah. Dengan ini Ancelotti harus membuat defensive line sedikit naik untuk menghindari jarak defender dan gelandang terlalu jauh. Walaupun begitu, Barca masih bisa mengancam dengan Messi dan Neymar yang lolos dari jebakan offside, namun sayang tidak ada yang menghasilkan gol.

Walaupun pertahanan masih berlubang, dengan cara ini Madrid berhasil lebih cepat mencapai kotak penalti ketika menyerang. Untuk fase menyerang, Ancelotti juga melakukan beberapa perubahan. Mantan pelatih Parma ini mendorong Cristiano Ronaldo ke tengah jika berada di final third, perpindahan posisi pemain Portugal ini berhasil membuat Dani Alves juga bergerak ke tengah. Selanjutnya Di Maria yang sekarang lebih sering bergerak ke kiri menggantikan peran Ronaldo, menemukan ruang yang cukup bebas dan tanpa banyak tekanan berhasil mengirimkan crossing akurat ke dalam kotak yang disambut tandukan Benzema dan menjadi gol penyama skor.

Skema yang sedikit berbeda untuk gol kedua Madrid walaupun sama diawali crossing Di Maria. Tata Martino kali ini meminta Sergio Busquets untuk selalu dekat duet bek tengah agar Dani Alves tidak perlu masuk ke tengah terlalu jauh. Tapi karena lambatnya Neymar untuk turun membantu Alves, membuat Marcelo yang melakukan overlap berhasil membebaskan Di Maria dalam situasi 2 vs 1, yang akhirnya memberikan keunggulan untuk Madrid. Walaupun Busquets sudah cepat turun, Ronaldo yang lebih cepat ke tengah bisa membuat situasi di kotak penalti Barcelona menyeramkan dalam posisi 3 vs 4, kredit buat Ancelotti untuk ini.

Terkait:  Indonesia U19 1 - 1 Malaysia U19: Momentum Maldini Jadi Penyelamat

Setelah tertinggal, Barca bermain lebih direct dan berusaha cepat menyamakan kedudukan lagi, tapi hal ini memudahkan Madrid mementahkan serangan mereka. Tata Martino sempat memindah Neymar ke kiri dan berusaha menekan Carvajal agar melakukan kesalahan seperti di gol pertama. Tapi hal ini tidak berhasil, karena gol Barca sebelumnya bukan karena pemain produksi akademi Madrid ini lemah, melainkan dia tidak yakin dengan posisi Iniesta di awal laga.

Sebelum babak pertama berakhir, dua through pass luar biasa Messi secara berurutan ke Fabregas dan Neymar berhasil membuat defence Madrid dalam kotak penalti sangat berantakan, dan dia sendiri yang berhasil menyelesaikan menjadi gol. Sebelum aksi Messi ini, tidak ada tembakan pemain Barcelona yang berhasil melewati bek Madrid, dan Messi dengan sentuhan ajaibnya berhasil memaksa restart di babak kedua.

Babak Kedua

Di babak selanjutnya kedua entrenador tidak merubah susunan pemain di lapangan. Dari cara bermain pun tidak banyak berubah, hanya Barcelona yang ingin memiliki kontrol lebih dengan ball possession. Mereka lebih sabar di area sendiri dan mencoba seminim mungkin kehilangan bola ketika masuk area lawan. Hasilnya tidak ada satupun tembakan ke gawang Diego Lopez sebelum Ronaldo mendapatkan hadiah penalti.

Madrid masih juga bermain dengan cara yang sama. Ketika bertahan, juara Liga Champions sembilan kali ini coba menahan Barcelona di tengah dan sesekali melakukan high up pressing. Yang sedikit berbeda adalah cara menyerang yang sekarang lebih direct mengikuti irama Barcelona yang meningkatkan penguasaan bola. Efeknya adalah berkurangnya jumlah crossing dari Di Maria. Tapi serangan dari sisi kiri ini akhirnya berhasil menghasilkan penalti setelah Ronaldo dijatuhkan Dani Alves setelah menerima umpan Di Maria.

Seperti sebelumnya, setelah tertinggal barulah Barcelona mencoba lebih direct dalam mengalirkan bola. Mereka banyak mencoba melepaskan through pass untuk menembus defensive block Madrid di tengah. Akhirnya satu through pass Messi bisa menemui Neymar yang bisa mendahului Marcelo dan Ramos. Neymar akhirnya dijatuhkan Ramos di dalam kotak penalti yang berujung kartu merah serta gol penyama kedudukan oleh Messi. Cukup konyol pelanggaran yang dilakukan Ramos, mengingat jikalau pun Neymar mencetak gol, skor masih seimbang dan Madrid pun masih kelihatan lebih tajam untuk unggul lagi.

Terkait:  Inggris 1 - 2 Italia: Prandelli Tahu Semua Rencana Hodgson

Madrid mencoba memaksakan hasil draw untuk menjaga jarak empat poin dengan sisa 10 pemain di 35 menit akhir. Ancelotti menarik Benzema keluar digantikan Varane dan Madrid sekarang bermain 4-4-1 dengan Ronaldo sendiri di depan. Tata Martino mengganti Neymar dengan Pedro yang seorang sayap murni untuk menarik lebar pertahanan Madrid yang pasti akan drop deep. Diawali kombinasi Pedro dan Iniesta di sisi kiri kotak penalti, membuahkan penalti kedua dan menentukan kemenangan Barcelona atas Madrid untuk kedua kalinya musim ini.

Kesimpulan

Agak mengecewakan melihat Madrid terlambat mengikuti irama permainan sehingga harus tertinggal cepat dan kehilangan kesempatan menang yang lebih besar. Walaupun sebenarnya peran terbesar kekalahan Madrid adalah kekonyolan Ramos. Cara Ancelotti mengkoreksinya timnya cukup brilian dengan high block dan menggeser posisi Ronaldo ke tengah dan Di Maria ke kiri.

Tata Martino cukup paham jika 4-3-1-2 tidak cukup baik untuk timnya dan kembali ke 4-3-3 adalah keputusan yang tepat. Tapi dibalik itu aktor kemenangan Barca sebenarnya adalah Messi dengan skill through pass yang luar biasa akurat, tiga gol diawali prosesi ini. Alves yang ditelan Di Maria di sisi kanan juga harus menjadi catatan penting untuk Tata Martino.

Apa Pendapatmu?