List of feeds URL

Real Madrid 3 – 1 Barcelona: Enrique Masih Hijau Untuk Clasico

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Langkah gemilang Barcelona di panggung La Liga musim ini mengalami anti klimaks tepat di gelaran El Clasico melawan rival abadi, Real Madrid. Skor 1-3 menjadi kekalahan pertama untuk Blaugrana sekaligus menodai hilangnya keperawanan gawang Claudio Bravo yang harus berhenti di menit ke 754.

Kekalahan ini cukup disayangkan karena pasukan Luis Enrique sebenarnya dalam form yang bagus dan sedang membawa beberapa misi penting. Lionel Messi akhirnya gagal ditasbihkan sebagai top scorer La Liga sepanjang masa tepat di stadion kebanggaan sang rival. Perkenalan sang bintang anyar, Luiz Suarez, di pentas La Liga pun sedikit kacau.

Mereka gagal memanfaatkan hadiah satu gol cepat Neymar akibat salah antisipasi yang dilakukan oleh Pepe.

Sebaliknya, Madrid menunjukkan respon yang sangat bagus walau harus tertinggal lebih dulu. Tidak ada tanda kepanikan setelahnya. Justru permainan mereka terus berkembang bersamaan dengan upaya mereka mengejar gol dan mampu dipertahankan hingga akhir laga.

Starting Line Up

real madrid barcelona clasico 2014

Tidak ada kejutan dari starter yang dipakai Carlo Ancelotti. Gareth Bale masih tidak bisa diturunkan karena bergelut dengan cedera. Namun Sergio Ramos dan Dani Carvajal sekarang bisa diturunkan walaupun sebelumnya absen ketika melawat ke kandang Liverpool di ajang Liga Champions.

Isco masih dipakai untuk menggantikan  Bale. Tapi eks pemain Malaga ini tidak memainkan peran Bale yang biasa dipakai sebagai winger kanan. Isco dimainkan di kiri seperti penampilan cemerlangnya di akhir musim lalu. Justru bocah ajaib Kolombia, James Rodriguez, yang di dorong ke kanan oleh Don Carlo untuk menggantikan Bale.

Di pihak Barcelona, dua kejutan dihadirkan Enrique untuk laga maha penting ini. Punggawa anyar, Jeremy Mathieu, menggantikan Jordi Alba sebagai fullback kiri. Sedangkan Luis Suarez diberi kesempatan mencicipi Clasico sejak menit awal menggantikan Pedro Rodriguez.

Khusus untuk Suarez, keputusan untuk memakainya sejak awal merupakan langkah berani dari Enrique. Walaupun di atas kertas akan menambah daya gigit ketika menyerang, tapi kontribusi Pedro ketika bertahan baik saat high press atau trackback jelas menghilang. Mungkin itulah mengapa Mathieu harus bermain dan diharapkan memberi keseimbangan kepada tim.

Barcelona Drop Deep

El Barca gagal mendapatkan keseimbangan. Dua perubahan pemain yang dilakukan Enrique membuat timnya gagal tampil solid untuk mempertahankan ataupun menambah keunggulan.

Tapi bukan hanya faktor susunan pemain saja yang membuat tim Catalan ini melemah. Pendekatan taktik yang dipakai Enrique juga berperan besar mereduksi level permainan timnya. Untuk pertama kalinya musim ini Barcelona coba bertahan cukup dalam di area sendiri, daripada melakukan high press di area lawan seperti yang sudah menjadi ciri khas.

Lini tengah dan depan masih coba melakukan pressing di area lawan sesaat setelah kehilangan bola. Namun defensive line yang digalang empat bek turun lebih cepat dari biasanya, sehingga gagal menopang rekan yang di depan dan memudahkan Madrid untuk keluar dari tekanan. Akhirnya Barcelona lebih banyak bertahan di area sendiri.

Terkait:  Inter Milan 0 - 3 AS Roma: Efisiensi Permainan AS Roma

Secara prinsip, bertahan terlalu dalam sangatlah tidak ideal untuk tim seperti Barcelona yang terbiasa melakukan slow build up. Trio pemain tengah diwajibkan selalu dekat ketika menyusun serangan, yang berujung kurangnya support ke pemain depan jika build up dilakukan dengan tempo yang lebih cepat.

Oleh karena itu Pep Guardiola membangun tim ini dengan high press ala filosofi Marcelo Bielsa. Dengan lebih sering memberikan tekanan di area lawan, diharapkan setiap serangan tidak harus terlalu jauh secara vertikal dan memungkinkan attack in numbers (menyerang dengan banyak pemain) bisa diaplikasikan.

Hasilnya bisa dilihat setelah mereka unggul satu gol. Di beberapa momen, Madrid berhasil membuat mereka sama sekali tidak bisa keluar dari defensive third. Jika berhasil keluar pun slow build up yang dilakukan jauh dari area sendiri terus ditantang oleh high up pressing oleh sang rival dan lebih sering bola kembali tercuri.

Faktor Suarez

Pemilihan taktik drop deep juga pantas dipertanyakan ketika Enrique memilih memakai Suarez daripada Pedro. Karena memakai 4-3-3 baik untuk bertahan maupun menyerang, akan sangat sulit membayangkan Suarez sebagai winger kanan melakukan trackback terhadap Marcelo yang kadang cukup brutal melakukan overlap.

Apalagi rekan Suarez di depan adalah Messi dan Neymar, yang juga tidak akan bisa jika diharuskan turun bertahan terlalu jauh. Yang dominan terlihat di laga ini lebih ke Messi yang cukup agresif melakukan tackle ketika lawan melakukan serangan balik. Namun itu juga masih sebatas di area tengah dan Messi tidak lagi melakukannya setelah mendapatkan kartu kuning.

Di pihak lawan, Ancelotti membaca situasi ini dengan cukup baik. Los Galacticos terus melakukan overload sisi kiri dengan Cristiano Ronaldo, Isco dan Marcelo. Overload yang dilakukan bisa dilihat dari frekuensi Ronaldo yang lebih sering menjadi provider crossing di kiri daripada menjadi target man di kotak penalti seperti yang seharusnya.

Situasi cukup rumit di pertahanan Barcelona untuk menutup inisiatif sang rival tersebut karena sebenarnya hanya Xavi yang ideal membantu Dani Alves. Pernah Pique coba membantu di kanan, namun situasi 2 vs 2 di dalam kotak tidak terhindarkan dan tandukan Karim Benzema sukses menghantam mistar gawang. Jika Sergio Busquets yang ke kanan, Toni Kroos dan Luka Modric beberapa kali mendapat celah tembakan di depan kotak penalti.

Tuan rumah akhirnya berhasil menyamakan skor yang juga berawal dari sisi kiri setelah Marcelo yang terlepas, melakukan akselerasi dan berujung hukuman penalti karena Gerard Pique dianggap hands ball oleh wasit.

Pertahanan Narrow 4-4-2 Madrid

Fitur lain yang berhasil membawa tiga poin dari laga ini buat tuan rumah adalah efektifnya skema bertahan yang dipakai Ancelotti. Walaupun menyerang dengan 4-3-3, mantan manajer Chelsea tersebut memakai 4-4-2 ketika bertahan. Dua formasi Ini memang skema default sejak musim lalu. Namun khusus di laga ini, dia membuatnya cukup menyempit ke tengah.

Terkait:  Timnas U23 Menelan Malaysia U23 Walaupun Sempat Limbung

Taktik ini dimaksudkan untuk mengarahkan serangan Barcelona agar selalu ke flank karena area tengah yang lebih rapat. Pendekatan ini diharapkan memaksa Barcelona lebih banyak memakai crossing untuk masuk ke kotak penalti, daripada Messi menarik trigger serangan dari tengah.

Di babak pertama defensive line lebih tinggi untuk menyusun high block. Setelah unggul, garis pertahanan mulai turun dan Madrid drop deep dengan maksud menarik pemain Barcelona lebih banyak yang keluar dan memungkinkan mereka mengaktifkan mode counter attack. Madrid berhasil mengunci kemenangan dengan gol Benzema dari skema serangan balik.

Tapi di awal laga, sistem ini masih berlubang. Seperti di prosesi gol pertama di mana Suarez bisa leluasa mengirim umpan diagonal ke Neymar, walaupun salah antisipasi Pepe juga berperan di sini. Sekali juga crossing datar Suarez di belakang bek Madrid bisa menemukan Messi, namun Iker Cassilas masih bisa melakukan blocking sehingga gagal menjadi gol.

Ide awal dari Ancelotti adalah coba menutup Xavi, Andres Iniesta dan Messi memakai empat pemain tengah yang merapat. Sedangkan Busquets sendiri sudah ada di kantong Benzema atau Ronaldo. Oleh karena itu salah satu dari Kroos atau Modric akan keluar dari baris dan langsung press Xavi jika kapten Barcelona tersebut coba turun menjemput bola.

Isco dan James sebagai dua winger di skema bertahan, sama sekali tidak mempedulikan di mana dan apa yang dilakukan dua fullback Barcelona, Alves di kanan dan Mathieu di kiri. Sebuah perjudian ruang oleh Ancelotti yang butuh perhitungan dan analisa yang luar biasa tepat. Salah-salah justru jadi blunder buat mereka.

Enrique Masuk Perangkap

Beruntung untuk Ancelotti, apa yang terjadi di lapangan sesuai dengan rencananya. Barcelona terus coba menggedor Madrid lewat tengah, bukan lewat sisi pinggir lapangan.

Sangat terlihat jika Barcelona mempunyai rencana khusus atas duet pivot Madrid, Kroos dan Modric, yang konon menjadi kelemahan. Oleh karena itu aliran bola sangat dominan di tengah dan cenderung sangat lambat seakan menunggu momen yang tidak juga terjadi.

Ancelotti sengaja sudah mengunci area itu dengan empat gelandang dan mempersilakan sang lawan masuk lewat flank. Namun crossing sepertinya bukan rencana awal Barcelona, sehingga seringkali Mathieu atau pun Alves terlihat bingung untuk melepas crossing atau tidak, walaupun ruang sebenarnya selalu terbuka.

Di situasi ini timbul sedikit pertanyaan buat Enrique tentang kapasitasnya membaca jalannya pertandingan. Satu gol dan satu peluang terbaik mereka berawal dari crossing. Namun mereka tidak terlihat berusaha mendapatkan situasi seperti itu lagi.

Terkait:  Kedalaman Menyerang (Depth Attacking) Trio Gelandang Timnas PSSI U19

Yang terjadi justru Neymar semakin sering merapat ke tengah dan Suarez bahkan ikut turun memainkan role kembar dengan Messi sebagai no. 10. Situasi ini sama sekali tidak menguntungkan buat serangan Barcelona, dan mungkin terutama buat Messi.

Selama ini, kunci serangan Barca jika menyerang lewat tengah selalu ada di Messi yang memutuskan kapan ritme mulai dipercepat dan mereka mulai bersamaan menusuk masuk. Setidaknya dibutuhkan dua pemain yang agak melebar di depan Messi agar skema ini efektif.

Jika Messi menarik trigger untuk mulai menusuk masuk, satu pemain akan berperan sebagai runner yang berlari diagonal untuk merusak bentuk dan konsentrasi bek lawan. Sedangkan satu pemain lain akan provide width sebagai opsi umpan. Lebih bagus bila ada fullback yang juga menyokong dengan overlap di sisi luar.

Kali ini tidak bisa dilakukan karena seringkali hanya Neymar yang di depan Messi dan tentu saja cukup mudah bagi empat bek Madrid untuk menebak apa yang terjadi setelahnya. Apalagi positioning mereka yang dari awal sudah merapat.

Enrique juga cukup lama membiarkan situasi ini terus berlangsung tanpa melakukan variasi, bahkan sampai mereka berbalik tertinggal. Dia baru mulai berbenah di menit ke 69 dengan Suarez digantikan oleh Pedro.

Ancelotti merespon dengan semakin menurunkan defensive block timnya karena memang secara natural sang lawan akan mulai habis-habisan menyerang untuk mendapat gol penyeimbang. Benar saja, mereka berhasil menambah keunggulan lewat serangan balik.

Kesimpulan

Ini adalah Clasico kesekian untuk Ancelotti dan yang pertama untuk Enrique sebagai entrenador. Cukup wajar memang jika kubu Madrid lebih siap dengan berbagai macam trik untuk memenangi laga ini daripada kubu Barcelona.

Tapi yang disayangkan justru form Barcelona yang cenderung turun dengan beberapa keputusan blunder Enrique, termasuk diantaranya menurunkan Suarez sejak awal yang dibarengi cara bertahan di posisi yang lebih dalam.

Barcelona juga tampak miskin variasi micro tactic jika situasi tidak berjalan sesuai rencana. Harus ada improvement oleh Enrique dalam hal ini. Jika tidak, mereka akan selalu kesulitan jika melalui big match dalam situasi game yang serba ketat.

Apa Pendapatmu?