List of feeds URL

Real Madrid 1 – 0 Bayern Munchen: Guardiola Kehilangan Ide Di Barnebeu

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Ancelotti memperpanjang rekor tidak terkalahkan atas Bayern Munchen dalam 7 laga, dan Pep Guardiola menelan kekalahan pertama di stadion Santiago Barnebeu. Bentrok Real Madrid dengan Bayern Munchen ini menyajikan duel klasik antara filosofi counter attack dan possession based, yang akhirnya membuat Madrid menginjakkan satu kakinya di final Liga Champion Eropa.

mbm

Seharusnya game ini adalah milik Guardiola karena mereka bisa memainkan style yang biasa mereka pakai di musim ini. Sedangkan Ancelotti harus memodifikasi timnya untuk tidakĀ  lagi bermain terbuka, melainkan memakai serangan balik, sesuatu yang berbeda dari ciri main mereka sepanjang musim.

Tapi Ancelotti punya alasan kuat untuk memakai cara ini, karena seminggu sebelumnya mereka menelan Barcelona di final Copa Del Rey dengan strategi yang sama. Selain itu Ancelotti juga diuntungkan karena sebelum dia datang, counter attack adalah senjata utama Madrid di tangan Jose Mourinho, dan dia hanya perlu sedikit memoles untuk menjadikan strategi ini menyatu dengan skema dasar yang dia bawa.

Bayern sendiri menginjakkan kaki ke Santiago Barnebeu tidak dalam tren terbaik. Eksperimen Guardiola dengan fullback yang bergerak ke tengah, memberi mereka beberapa kekalahan dari Borussia Dortmund dan Augsburg, walaupun berhasil menang ketika melawan Manchester United. Baru di laga terakhir melawan Braunschweig , Guardiola kembali ke bentuk default dan menang di semifinal DFB Pokal.

Tapi sebelum game ini dimulai, Ancelotti ada sedikit masalah yang harus diselesaikan. Tidak bisa tampilnya Cristiano Ronaldo di laga melawan Barcelona sebelumnya, membuat pelatih berusia 54 tahun ini terpaksa memasang Isco sebagai sayap kiri, Angel Di Maria pindah ke Kanan dan Gareth Bale sebagai striker. Ternyata workrate Isco ketika bertahan luar biasa baik dan bisa memberi keseimbangan buat tim.

Dan kali ini Ronaldo dan Bale bisa bermain walaupun keduanya tidak 100% fit. Ancelotti harus memilih salah satu diantara mereka untuk menemani Karim Benzema, karena dia tidak bisa lagi menggeser vitalnya peran Isco. Akhirnya Ronaldo menjadi starter dan Bale menggantikannya di menit ke 74. Keputusan ini yang agak mengejutkan melihat baiknya Bale di laga sebelumnya, tapi juga sudah jadi tipikal Ancelotti untuk tetap membuat orang-orang penting di tim bahagia.

Terkait:  Detail dari Tikitaka Guardiola dan evolusi Total Football

Guardiola sendiri tidak memainkan Thomas Muller dan Mario Gotze karena ingin lini tengah lebih terkontrol dengan Philipp Lahm, Bastian Schweinsteiger dan Toni Kroos. Rafinha kembali mengisi fullback kanan, yang akhirnya menjadi titik terlemah Bayern.

Bayern Yang Tidak Seimbang

Di babak pertama, Bayern kelihatan sangat berhati-hati ketika menyerang. Mereka memakai cara yang biasa mereka pakai dengan menggunakan posisi Arjen Robben dan Franck Ribery sebagai pintu masuk serangan ke area final third. Tapi di sisi lain Guardiola juga tidak mau Madrid mendapat banyak momentum melakukan serangan balik, dari sinilah dia tidak menurunkan Muller atau Gotze sejak awal.

Tapi efek samping dari pendekatan ini adalah serangan mereka jadi sangat statis, karena posisi tiga gelandang terlalu dalam. Jika pun salah satu dari mereka bergerak, seringkali hanya menuju flank untuk melakukan overload. Sangat jarang melihat mereka berada diantara dua baris rapat pertahanan lawan, atau mencoba menerima bola di belakang backfour Madrid.

Selain itu Robben dan Ribery juga menjalani laga yang sulit dan tidak bisa menampilkan performa apik seperti biasanya. Walaupun Alaba dan Rafinha sudah mencoba cara beresiko dengan melakukan overlap membantu mereka mendapatkan ruang, mereka tetap tidak bisa lepas dari kawalan pemain Madrid. Alhasil Mario Mandzukic terisolasi di depan tanpa ada suplai bola yang cukup untuk menggedor gawang Iker Casillas.

Organisasi Pertahanan Madrid

Pertahanan Madrid bermain baik selama pertandingan baik ketika memakai defensive line rendah atau tinggi, dan hampir serupa dengan apa yang mereka peragakan ketika melawan Barcelona. Intensitas duo winger yang dimainkan oleh Di Maria dan Isco berhasil membuat serangan awal Bayern dari flank tumpul. Keduanya terbantu rapatnya dua baris pertahanan, sehingga sangat dekat dengan Dani Carvajal dan Coentrao. Ketika Kroos atau Schweinsteiger mengoverload flank, Luca Modric atau Xabi Alonso juga bergerak ke flank sehingga mempersulit Robben dan Ribery bergerak ke dalam.

Tapi jika bertahan terlalu dalam, Madrid ternyata kesulitan keluar melakukan counter attack. Sepuluh menit pertama Madrid terkunci di area sendiri tanpa bisa melakukan serangan balik. Ancelotti cepat melihat hal ini dan merubah pendekatan timnya, hasilnya mereka mendapatkan gol di menit ke 19 oleh Benzema. Setelahnya peluang Madrid terus datang dari serangan balik oleh Ronaldo dan Di Maria.

Terkait:  PSG 2 - 1 Chelsea: Kemenangan Bermodal Narrow Attack

“Semakin tinggi defensive block, semakin baik untuk kami. Di awal babak pertama, kami bertahan terlalu dalam dan membiarkan Bayern terlalu banyak mendapat bola,” ujar Carlo Ancelotti setelah laga.

Madrid Menusuk Dari Kiri

Peluang Madrid hampir semua diawali dari tusukan lewat flank dimana Bayern gagal menghentikan off-ball movement pemain Madrid, termasuk awal prosesi gol Benzema. Madrid selalu membuat tiga forward ketika menyerang dalam posisi sangat melebar, berlawanan dengan Bayern yang mencoba mempersempit area pertahanan. Walaupun sudah membatasi area main lawan, Bayern masih sering kesulitan mengambil bola dari kaki pemain Madrid. Perlu diingat, Los Merengues sebenarnya sangat baik dengan bola musim ini, sedangkan counter attack hanya atribut di laga ini.

Tapi fitur utama yang memberi Madrid banyak peluang adalah selalu ada pemain yang running in behind dan menguji high defensive line The Bavarians, terutama dari posisi Rafinha. Tidak jelas siapa yang harus menutup Coentrao ketika dia overlap, karena Robben jauh di depan. Rafinha selalu berada dalam posisi sulit, ketika dia menutup Ronaldo maka Coentrao lepas, ketika dia menutup Coentrao, Benzema yang ke kiri bergantian lepas. Setiap crossing yang dikirim selalu berbahaya, selain karena Bayern memakai high block, juga strategi mempersempit pertahanan membuat Di Maria yang ada di flank jauh sering tidak terkawal.

Babak Kedua

Walaupun permainan Die Roten tidak efektif, cukup mengejutkan jika Guardiola cukup lama melakukan perubahan. Dia memodifikasi timnya di pertengahan babak kedua dengan tiga pergantian hampir bersamaan. Rafinha, Ribery dan Schweinsteiger keluar dan digantikan oleh Martinez, Gotze dan Muller. Lahm sekarang menjadi fullback kanan dan Gotze menjadi winger kiri tapi cepat masuk ke tengah. Muller tepat berada di belakang Mandzukic dan sejajar ketika di final third. Praktis Guardiola sekarang membuat Bayern bermain 4-2-3-1, bukan lagi 4-3-3.

Sedangkan pergantian pemain yang dilakukan Ancelotti tidak merubah taktik yang dipakai. Pepe yang cedera digantikan Raphael Varane, Isco yang terkena kartu kuning digantikan Asier Illarramendi. Yang terakhir Bale mengantikan Ronaldo, dua pemain yang menjadi dilema buat pelatih asal Italia ini di sebelum pertandingan.

Terkait:  Pep Guardiola Menjelaskan Perubahan Posisi Messi

Dari semua perubahan kedua tim, ternyata tidak banyak merubah wajah duel di lapangan. Tapi Guardiola sedikit bisa memupuk harapan buat timnya. Adanya Muller menemani Mandzukic membuat Bayern terlihat lebih berbahaya di kotak penalti Madrid, Gotze juga memberi opsi untuk menusuk lewat tengah. Dua peluang mereka dapatkan ketika Casillas harus menahan tembakan jarak dekat Lahm dan Alonso harus melakukan blocking sangat beresiko terhadap peluang Muller tepat di depan gawang. Tapi sampai peluit akhir tidak ada gol yang menyelamatkan juara Bundesliga ini dari kekalahan.

Kesimpulan

Beruntung bagi Ancelotti ketika dia mendapat kesempatan bertemu Barcelona sebelum laga ini, dan dia bisa mengantongi blueprint taktik untuk melawan tim yang memiliki cara main yang hampir serupa. Pendekatan yang tepat membuat semua pemainnya tampil maksimal, dan jika lebih beruntung Madrid bisa unggul lebih dari dua gol.

Guardiola bisa dikatakan cukup kehilangan akal di laga ini. Dia kesulitan mendapat keseimbangan antara menyerang dan menahan serangan balik. Mungkin berbeda cerita jika eksperimennya dengan fullback yang bergerak ke tengah sukses, karena secara teori membuat tim memiliki minimal lima pemain untuk menahan serangan balik. Karena gagal maka yang ditampilkan di laga ini dengan skema default jadi kurang maksimal. Perubahan di akhir laga terlihat positif, mungkin akan jadi dasar Guardiola menyusun strategi di leg kedua.

Apa pertemuan kedua tim ini sebenarnya final ideal? Mungkin. Tapi beruntung mereka bertemu di semifinal, karena kita malah bisa melihat bentrok dua tim dan pelatih terbaik dunia ini dua kali.

Apa Pendapatmu?