List of feeds URL

PSG 2 – 1 Chelsea: Kemenangan Bermodal Narrow Attack

1455658228602_lc_galleryImage_Football_Soccer_Paris_St_
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Gol Edinson Cavani di akhir babak kedua berhasil membawa Paris Saint Germain mengungguli Chelsea 2-1 di leg pertama fase 16 besar Liga Champions. Sedangkan di babak pertama Zlatan Ibrahimovic sukses menyarangkan gol pembuka sebelum disamakan oleh John Obi Mikel, yang keduanya berawal dari set piece.

Pertemuan kedua tim ini memang sudah rutin kita saksikan karena entah mengapa undian fase knockout Liga Champions selalu mempertemukan mereka. Tapi untuk laga kali ini berlangsung cukup menarik, karena Chelsea menemukan lawan yang mungkin playing style-nya tidak pernah ditemukan di Liga Inggris.

PSG bermain sangat narrow (menyempit ke tengah) di lini depan. Saking menyempitnya sampai Ibrahimovic, Angel Di Maria dan Lucas Moura di lini depan selalu terakses umpan oleh tiga gelandang, Thiago Motta, Marco Veratti dan Blaise Mattuidi, karena jarak antar enam pemain ini menjadi sangat berdekatan. Sedangkan dua fullback, Maxwell dan Marquinhos, mengisi sisi luar di kedua sayap.

psgc

Tidak terlalu banyak tim yang memakai taktik narrow attack seperti yang dipakai Laurent Blanc ini, apalagi PSG mengeksekusinya dengan memakai pemain-pemain yang beratribut cukup mumpuni. Pendekatan yang sangat intimidatif inilah yang akhirnya berhasil membuat PSG mendapatkan kontrol permainan di awal pertandingan, yang sebagian besar dikarenakan Chelsea yang harus menghabiskan banyak waktu menemukan cara yang paling tepat untuk meresponnya.

Chelsea sendiri memainkan skema 4-4-1-1 blok medium ketika bertahan, dengan Diego Costa berusaha dekat dengan dua bek tengah PSG dan Willian tetap di depan two banks of four serta akan bergerak turun jika blok pertahanan sampai ke kotak penalti. Mikel dan Cesc Fabregas bertandem di tengah diapit oleh Pedro Rodriguez dan Eden Hazard di kedua sayap.

Blok pertahanan Chelsea mencoba untuk mengikuti permainan PSG dengan juga menjadi sangat narrow, lebih narrow dari yang biasa mereka mainkan di EPL. Secara keseluruhan klub asal kota London ini bisa meredam serangan lawan dengan cara tersebut. Tapi mereka harus cukup tersiksa dengan cara bermain PSG yang bisa sering mendapatkan situasi sampai 5 vs 3 di tengah karena Ibrahimovic dan Lucas Moura yang konstan bergerak turun ke area tengah.

5 vs 3

Situasi 5 vs 3

Salah satu faktor yang justru membantu Chelsea tidak kebobolan adalah cara kerja tiga forward PSG yang ternyata bermain cukup direct. Lucas Moura dan Di Maria selalu berusaha melakukan dribbling langsung menekan backline Chelsea jika mereka menerima bola. Pendekatan ini kurang efektif untuk melawan tim selevel Chelsea, walaupun kedua pemain ini memang mempunyai dribbling yang bagus.

Efektifitas PSG juga semakin buruk karena sepertinya Blanc juga menginstruksikan para pemain depannya untuk melakukan tembakan jarak jauh, yang ternyata sulit menemui target. Tapi setidaknya PSG akhirnya mendapatkan gol dari permainan direct melalui freekick yang dilakukan Ibrahimovic, setelah sebelumnya Mikel harus menjatuhkan Lucas Moura yang sedang melakukan penetrasi di depan kotak penalti The Blues.

Terkait:  Jerman 1 - 0 Argentina: Pendekatan Brilian Jogi Low Di Kondisi Tidak Ideal

Karena memang kurang efektif, tidak mengherankan jika Blanc mencoba untuk memakai pendekatan lain sejak babak kedua, dengan sekarang membuat PSG bermain lebih melebar. Lucas Moura dengan Di Maria bertukar tempat dan keduanya kali ini sama-sama berada di halfspace. Mereka sekarang sering pairing bersama kedua fullback dan berusaha melakukan tekanan dari area sayap.

Di banyak momen sebenarnya pertahanan Chelsea bisa merespon dengan baik model serangan tersebut. Tapi karena PSG sekarang jauh lebih sabar berlama-lama dengan bola, tidak seperti permainan direct di babak pertama, Chelsea terpaksa harus terlalu lama berada di situasi yang tanpa bola.

Problem awal untuk Chelsea dengan perubahan gaya bermain lawan ini terletak di agresifitas dua fullback PSG yang menggantung cukup tinggi dan bisa berada sejajar dengan backline Chelsea ketika menerima bola. Problem lainnya adalah Veratti dan Motta sekarang mengontrol fase ball possession dengan mengambil posisi lebih dalam dari sebelumnya, yang sekarang tidak bisa dicover dengan baik oleh sistem zonal marking yang dipakai blok pertahanan Chelsea.

Agresifnya pengambilan posisi dua fullback PSG yang sangat naik cukup menyulitkan Chelsea untuk mengontrol flank karena kedua sayap PSG sebelumnya sudah berada di halfspace. Solusi paling rasional memang dengan membuat kedua pemain sayap Chelsea mengambil posisi yang lebih turun untuk membantu menyeimbangkan jumlah pemain di area tersebut.

Chelsea melakukan hal itu, tapi mereka juga harus menerima dampak buruk dengan terlalu turunnya kedua pemain sayap. Hazard dan Pedro sekarang jadi kesulitan untuk menginisiasi transisi positif karena posisi mereka yang menjadi terlalu jauh untuk bisa cepat naik lagi. Opsi yang ada di depan hanya Costa dan Willian, namun sayangnya desain pertahanan yang tidak membuat mereka berdua berdiri sejajar sejak awal justru menyulitkan mereka terkoneksi satu sama lain ketika menerima bola untuk melakukan kombinasi serangan balik.

 

Posisi kedua sayap Chelsea

Posisi kedua sayap Chelsea

Desain seperti blok pertahanan 4-4-1-1 Chelsea juga membuat Veratti dan Motta terus leluasa mengontrol serangan dari sekitar garis tengah. Kecenderungan Costa yang lebih sering dekat dengan dua bek tengah PSG, Thiago Silva dan David Luiz, tidak membantu Willian sama sekali untuk menutup opsi umpan lawan di area tengah. Alhasil PSG bisa menjadi sangat dominan di babak kedua, ditambah Chelsea yang transisi positifnya sudah menjadi sangat buruk, bola cukup lama untuk bisa berpindah penguasaan dari para pemain tuan rumah.

Peluang PSG datang ketika pemain Chelsea mulai frustasi dengan situasi pasif yang terlalu lama tersebut. Pedro mulai tidak sabar dengan situasi yang terus tertekan, kemudian mulai agresif mengejar bola ketika berada di depannya dan meninggalkan posisi bertahannya sebagai sayap kanan. PSG mulai menemukan celah dengan bebasnya Maxwell yang melakukan overlap di sisi kiri dan beberapa kali memiliki kesempatan untuk melakukan cutback serta crossing yang cukup menjanjikan.

Pedro yang mulai keluar posisi dan sisi kiri Chelsea terbuka

Pedro yang mulai keluar posisi dan sisi kiri Chelsea terbuka

Walaupun begitu Chelsea masih selamat dari kebobolan berkat beberapa aksi blocking heroik di depan gawang. Petaka justru datang sekejap setelah Blanc membuat PSG kembali bermain narrow, sesaat setelah memasukkan Cavani untuk menggantikan Lucas Moura. Di Maria dari area tengah dengan akurat menempatkan bola di belakang backline, sedangkan jebakan offside Chelsea gagal menahan kegesitan gerakan lari memutar Cavani.

Terkait:  Preview Spanyol Vs Belanda: Episode Selanjutnya Tiki-Taka Melawan Back Three

Taktik Corner Kick Chelsea

Walaupun harus menelan kekalahan, Chelsea masih bisa bernafas di leg kedua karena mereka mendapatkan satu gol away dari skema set piece di akhir babak pertama. Mikel dengan bebas menerima bola sepak pojok tepat di depan gawang PSG dan sukses untuk membuat timnya sempat menyamakan skor.

Yang menarik dari proses gol pemain asal Nigeria tersebut adalah sepertinya Chelsea sudah merencanakan proses itu sebelumnya. Mereka mencoba memanfaatkan kecenderungan PSG yang selalu memanfaatkan menjulangnya postur Ibrahimovic untuk berada di tiang dekat setiap terjadi tendangan sudut.

Momen gol tersebut terjadi setelah Chelsea mendapatkan dua sepak pojok yang hampir berurutan. Di kedua momen itu kita melihat dimana Costa secara terencana mencoba untuk bisa lepas dari pengawalan Motta, lalu berusaha untuk berada cukup dekat dengan Ibrahimovic di tiang dekat ketika umpan dilepaskan.

2016-Feb-17_08-49~01[1]

Di kesempatan pertama Ibrahimovic sukses menghalau keluar sepak pojok Chelsea yang tepat ke arahnya. Di kesempatan kedua, Costa sukses mengganggu kapten Timnas Swedia tersebut untuk dengan bersih menghalau sepak pojok yang diarahkan lagi ke posisi yang sama seperti sebelumnya. Bola akhirnya terus meluncur dan akhirnya jatuh di kaki Mikel yang berada tepat di depan gawang, tanpa ada pemain PSG lain yang mengira bola akan terlewat dari hadangan Ibrahimovic.

Blok Pertahanan Chelsea

Laga ini dari sisi taktikal memang berlangsung cukup menarik dengan beberapa pendekatan intimidatif yang tidak umum yang dipakai oleh Blanc. Menarik juga bagaimana pendekatan yang coba digunakan oleh Guus Hiddink untuk merespon manuver taktik tersebut.

Blok pertahanan Chelsea merespon cukup baik ketika PSG masih bermain direct dan narrow di awal pertandingan. Walaupun PSG berhasil melakukan overload di tengah, Chelsea tetap berupaya mempertahankan bentuk two bank of four dengan kerapatan yang cukup. Barisan gelandang bisa tetap cepat untuk bisa membantu backline ketika para penyerang PSG mulai melakukan penetrasi langsung ke depan.

Problem terbesar cara bertahan Chelsea justru disebabkan oleh pendekatan Hiddink yang memakai blok medium daripada blok rendah. Jika pada umumnya blok rendah bisa memakai ujung garis kotak penalti sebagai posisi penanda backline, blok medium Chelsea mengharuskan backline untuk naik sekitar sepuluh meter lagi.

Terkait:  Video Series: Instruksi Untuk Menembus Tembok

Pendekatan ini mengharuskan blok pertahanan selain harus melakukan transisi horizontal, juga harus melakukan transisi vertikal dengan jarak yang lebih jauh. Ketika PSG mulai sangat dominan melakukan passing game di babak kedua, kerapatan dua baris pertahanan Chelsea mulai merenggang karena blok pertahanan harus kembali naik lagi ke posisi awal yang cukup tinggi, jika sebelumnya harus turun.

PSG yang membuat kontrol serangan turun ke sekitar garis tengah dengan mudah membuka celah antara kedua baris pertahanan Chelsea. Tidak jelas antara gelandang Chelsea yang terlalu naik atau backline yang kurang naik, tapi lebih banyak transisi blok pertahanan memang akan selalu menambahkan kompleksitas koordinasi yang harus dilakukan.

Posisi kontrol serangan PSG dan jarak di antara baris pertahanan Chelsea

Posisi kontrol serangan PSG dan jarak di antara baris pertahanan Chelsea

Pemilihan blok medium ini juga berimbas ke jarak yang kurang ideal antara backline dan kiper. Berkali-kali PSG bisa menempatkan bola di belakang backline Chelsea, tanpa Thibaut Courtois memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengantisipasi bola terlebih dahulu daripada penyerang lawan. Momen seperti ini yang juga melahirkan satu gol untuk PSG.

Kesempatan yang sama tidak akan terjadi jika Chelsea memakai blok rendah, karena backline yang dipatok tepat diujung kotak penalti akan bisa mereduksi akurasi umpan-umpan seperti itu. Jarak backline dan kiper yang tidak terlalu jauh akan lebih ideal bagi kiper untuk menyentuh bola terlebih dahulu daripada lawan.

Peluang Leg Kedua

Kekalahan dengan skor 1-2 tentu bukanlah akhir dari perjalanan Chelsea di Liga Champions musim ini. Peluang mereka masih sangat terbuka untuk bisa melenggang ke fase delapan besar. Apalagi menurut catatan, tim yang berada di situasi seperti The Blues ini 49% di antaranya berhasil lolos ke fase selanjutnya.

Tapi tentunya Chelsea harus menggungguli agregat gol PSG di leg kedua. Guus Hiddink harus memperbaiki beberapa hal, termasuk pertahanan blok medium yang dipakai timnya. Jika tidak, tentu saja Blanc nanti bisa saja memberi instruksi khusus kepada pemainnya untuk meneror lagi ruang di belakang backline Chelsea.

Chelsea juga tidak bisa lagi membiarkan PSG mendominasi pertandingan seperti di laga ini karena mereka harus memburu gol. Hiddink membutuhkan akses pressing yang lebih baik kepada Veratti dan Motta, karena jika tidak maka mereka akan kembali dengan nyaman mendikte permainan. Memperbaiki posisi bertahan Costa dan Willian, seperti memakai 4-4-2, agar lebih efektif bisa menjadi solusi untuk masalah ini.

Selebihnya peluang Chelsea sangat besar untuk membuat gol di leg kedua, karena pada kenyataannya, blok rendah pertahanan PSG jauh lebih buruk dari milik mereka. Di laga ini setiap serangan Chelsea selalu berbahaya karena buruknya bentuk pertahanan PSG. Yang dibutuhkan Chelsea hanyalah penguasaan bola yang lebih banyak daripada di laga ini.

Apa Pendapatmu?