List of feeds URL

Poros Tiga Gelandang: Cara Persela Lamongan Menjadi Kuda Hitam di Liga 1 2018

Author: Aun Rahman (twitter: @aunrrahman)

Kompetisi sepak bola Indonesia memang kompetitif bukan main. Jarang sekali ada tim yang terus mendominasi selama bertahun-tahun seperti yang terjadi di Eropa. Barito Putra jelas merupakan tim yang menarik karena secara mengejutkan bisa melesat berada di papan atas di Liga 1 2018 kali ini. Tetapi sebenarnya kiprah yang paling menarik justru ditunjukan kesebelasan asal Jawa Timur, Persela Lamongan.

Sejak promosi ke level tertinggi pada tahun 2003, Persela lebih dikenal sebagai tim kuda hitam yang kerap menyulitkan tim-tim besar di kancah sepak bola Indonesia. Julukan Laskar Joko Tingkir bukan pepesan kosong semata. Serupa dengan Joko Tingkir yang memiliki nama lain Raden Hadiwijaya, raja daerah kecil Pajang hampir saja menaklukkan Mataram. Persela juga memiliki heroisme serupa. Mereka kerapkali membuat tim-tim kuat kesulitan. Termasuk di Liga 1 musim 2018 kali ini.

Sudah memasuki separuh kompetisi, Persela melesat bahkan sempat mencapai papan atas. Perolehan 29 gol yang mereka buat sejauh ini pun merupakan salah satu yang terbaik di Liga. Bahkan lebih baik ketimbang PSM Makassar, Persib Bandung, dan Persija yang posisinya lebih baik di klasemen.

Persela memulai putaran kedua dengan kemenangan luar biasa atas tim kuat Persipura Jayapura dengan skor 3-2. Kemenangan ini melengkapi penampilan-penampilan hebat lain, terutama ketika mereka berhadapan tim empat besar klasemen sementara Liga 1. Misalnya, ketika mereka menang di kandang PSM Makassar dengan skor 3-2, atau ketika mereka menang 2-0 atas Persija. Dan jangan lupakan pula ketika mereka hanya kalah 0-1 dari Persib yang berada papan atas klasemen.

Sejauh ini, Persela memang tampil hebat. Ketika kalah pun sebenarnya mereka tidak kalah terlalu telak, secara permainan tentunya. Bahkan ketika dihantam Sriwijaya FC dengan skor 5-1, Fahmi Al-Ayubbi dan kawan-kawan meladeni permainan terbuka tim lawan dengan cukup baik. Kunci dari Persela bisa melesat dan menjadi kuda hitam yang berbahaya adalah skema tiga gelandang yang diusung oleh pelatih Aji Santoso.

Terkait:  Hamburg SV Dalam Ancaman Degradasi Pertama Dalam Sejarah

Poros Tiga Gelandang

Aji Santoso kembali ke Persela setelah sempat menangani Arema. Pelatih berusia 48 tahun ini memang berposisi sebagai pemain bertahan. Tetapi jangan lupakan bagaimana ia sebenarnya bermain sebagai fullback kiri. Di mana dalam skema klasik, posisi ini juga cukup banyak terlibat dalam proses aliran bola. Hal ini boleh jadi yang menjadi inspirasi coach Aji untuk mengusung poros tiga gelandang untuk Persela yang diasuhnya saat ini.

Poros tiga gelandang yang merupakan bagian dari formasi dasar 4-3-3 pada dasarnya dirancang untuk memenangkan penguasaan bola di lini tengah. Umumnya, sama juga dengan skema yang diusung oleh coach Aji, satu geladang bertugas sebagai gelandang bertahan. Sementara dua lainnya lebih banyak berperan dalam proses mengalirkan bola dan ikut membantu penyerangan.

Coach Aji tentu sadar betul bahwa ia tidak memiliki sumber daya yang mentereng seperti kebanyakan tim lain. Para pemainnya kebanyakan berusia muda. Ini pertanda bahwa mereka punya semangat dan tenaga. Hal tersebut lah yang digunakan mantan pelatih Persebaya Surabaya ini terutama dengan poros tiga gelandangnya.

Pemain yang ditempatkan sebagai gelandang bertahan, entah Syahroni atau Agung Pribadi. Mereka bertugas untuk menekan playmaker lawan. Bahkan sebenarnya terkadang tiga gelandang sekaligus dikerahkan untuk menekan pemain lawan yang bisa mengalirkan bola. Ini ditunjukan ketika mereka berhadapan dengan Persib dan PSM, trio gelandang Persela dikerahkan untuk menekan Oh Inkyun dan Wiljan Pluim.

Yang menarik, untuk urusan mengatur permainan, Persela justru mengerahkan Diego Assis atau Guntur Triaji yang biasanya ditempatkan agak melebar. Guntur dan Assis memainkan peran playmaker yang bermain melebar (wide playmaker), memanfaatkan celah yang hadir karena tim lawan akan berusaha menerobos padatnya area tengah yang diisi oleh poros tiga gelandang. Inilah yang membuat kebanyakan gol Persela lebih banyak berasal dari sektor sayap.

Terkait:  Tiga Catatan Dari Tur Italia Timnas Indonesia U23

Kedatangan Gian Zola Melengkapi Kepingan yang Dicari Aji Santoso

Jelang putaran kedua, Persela melepas Shohei Matsunaga, dan mendatangkan Ahmet Atayew. Tetapi good deal yang didapatkan Aji Santoso adalah ketika ia berhasil mengamankan bakat Gian Zola dari Persib Bandung dengan status pinjaman. Gelandang muda ini melengkapi kepingan yang dicari untuk melengkapi poros tiga gelandang.

Zola merupakan tipe gelandang yang memang terbilang unik untuk lingkup sepak bola Indonesia. Area kerjanya adalah di sepertiga akhir lapangan bagian penyerangan. Flair dan teknik operan Zola menjadi dibutuhkan. Karena pemain dengan peran seperti ini tidak dimiliki oleh Persela sebelumnya.

Coach Aji mencoba menempatkan Shohei Matsunaga untuk posisi yang kini diisi oleh Zola. Tetapi masalahnya, pemain asal Jepang tersebut sebenarnya memang lebih efektif berperan sebagai penyerang lubang. Inilah yang membuat justru poros tiga gelandang yang diinginkan tidak berjalan. Karena Matsunaga memiliki kecenderungan untuk bergerak liar, dan terus menusuk. Dalam beberapa situasi, pergerakan Matsunaga ini justru membuat aliran serangan tim menjadi terhambat.

Kehadiran Zola melengkapi peran yang sebelumnya sudah diisi oleh pemain lain. Posisi gelandang bertahan yang bertugas untuk menekan dan merebut bola kini mengalami upgrade setelah kedatangan Atayew. Ini berarti ada banyak tambahan tenaga di sana. Apalagi dengan kualitas sebagai pemain asing, Atayew bisa menghadirkan dimensi yang berbeda untuk poros tiga gelandang Persela.

Peran menarik juga dilakukan oleh gelandang muda Ahmad Subagja Baasith. Ia berperan sebagai box to box mildfielder dengan cukup banyak peran defensif yang dibebankan kepadanya. Selain bertugas mengalirkan bola, dan juga terlibat dalam pembuatan peluang. Baasith juga cukup banyak beroperasi di area defensive third.

Terkait:  Srdan Ostojic, Kualitas Ditengah Deflasi Kiper Asing Di Liga Indonesia

Menarik untuk dinantikan sejauh mana poros tiga gelandang ini akan membawa Persela Lamongan di musim kompetisi kali ini. Apakah mereka akan kembali tampil sebagai kuda hitam yang menyulitkan tim peserta lain. Atau justru dengan poros tiga gelandang ini Aji Santoso bisa membawa Persela ke tahap yang belum pernah mereka capai di kompetisi-kompetisi sebelumnya.

Apa Pendapatmu?