List of feeds URL

Persebaya 3 – 4 Persib: Maung Bandung Manfaatkan Build Up Green Force yang Buruk

Author: Arvian Bayu (twitter: @arvianbayu)

Persebaya menutup putaran pertama Gojek Liga 1 dengan kekalahan di kandang sendiri. Kemenangan di pertandingan ini pun mengantarkan Persib Bandung sebagai juara tengah musim Liga 1 edisi 2018.

Persebaya menjalani pertandingan ini tanpa adanya dua pemain mereka yang dipanggil oleh Tim Nasional Indonesia U-23 yang sedang melakukan pemusatan latihan di Bali. Kedua pemain itu adalah Osvaldo Haay dan Irfan Jaya. Sedang skuad Persib tidak ada nama Jonathan Bauman yang selama ini menjadi pasangan manis Ezechiel N’Douassel.

Obat hadirnya dua pemain baru Green Force, Raphael Maitimo dan OK Jhon yang langsung mencuri perhatian suporter Persebaya juga tidak bisa mengikuti duel klasik ini, pasalnya laga ini adalah pertandingan tunda yang sejatinya digelar di bulan ramadhan lalu. Patrick Wanggai yang baru bergabung juga tidak bisa turun lapangan, ia hanya menyaksikan kawan-kawannya berlaga dari tribun. Begitu juga OK Jhon dan Raphael Maitimo turut hadir di tribun VIP.

Pertandingan baru berjalan dua menit, Persebaya langsung menggeber tenaganya dan memperoleh dua peluang manis melalui David Da Silva, sayang keduanya tidak ada yang menjadi gol.

Petaka justru datang tiga menit berselang, Supardi Natsir yang pada pertandingan ini diplot menjadi winger kanan justru berhasil menggetarkan gawang Persebaya yang dikawal Miswar Syahputra. Gol ini terjadi berkat kerja keras Ezechiel yang bermain melebar di mana pergerakannya yang melebar mampu menarik perhatian Fandri Imbiri untuk keluar dari posnya.

Proses terjadinya gol pertama Persib. Fandri Imbiri dalam lingkaran merah.

Sebelum terjadinya gol pertama Persib, dan hingga menit ke 22, Ghozali Siregar justru hanya sesekali berada di flank kiri, di pos yang seharusnya ia tempati. Tapi Ghozali justru agak ke tengah, memancing Aburizal Maulana supaya naik, dan itu bisa dimanfaatkan Ezechiel yang bergerak di flank kiri.

Proses ini yang menghasilkan gol bagi Persib melalui umpan crossing Ezechiel, yang mampu dimaksimalkan oleh Supardi melalui sundulan kepalanya. Ya, Supardi memupuskan anggapan bahwa yang bisa mencetak gol untuk Persib di musim ini hanya pemain impor. Supardi mencatatkan diri sebagai pemain lokal pertama Persib yang mampu mencetak gol.

Terkait:  Juventus 2 - 2 Real Madrid: Membongkar Solid Defensive Block

Persebaya merespon gol cepat Supardi melalui berbagai sisi, namun tampaknya Persib mengubah formasi dari 4-2-3-1 menjadi 4-4-2 flat. Inkyun dan Dedi Kusnandar bermain baik di tengah, sehingga mau tidak mau Rendi Irwan dan Misbhakus Solikin terus berusaha mencari celah kosong di final third Persib. M. Hidayat tidak bisa berlama-lama dengan bola, karena diganggu oleh Ezechiel yang penuh determinasi. Persebaya dipaksa bermain melebar dengan formasi Persib kali ini.

Build up serangan dari belakang Persebaya kali ini hanya mengandalkan Fandri Imbiri. Terlihat beberapa kali ia memaksakan diri naik ke depan, karena lini tengah Persebaya tidak berjalan maksimal dalam mengalirkan bola. Fandri harus membagi konsentrasi antara membagi bola atau bertahan, karena lawan yang dihadapi adalah Ezechiel, top skor paruh musim Liga 1. Sementara rekan duetnya, Izaac Wanggai tampak belum begitu familiar dengan skema Alfredo Vera.

Pada menit 21, Supardi bahkan lagi-lagi mencetak gol dari skema serangan balik memanfaatkan konsentrasi pemain Persebaya yang lengah. Kecepatan Ghozali yang mampu mengalahkan Aburizal dan Fandri yang berdiri di posisi cukup tinggi untuk.

Supardi malam ini menjelma menjadi penafsir ruang. Bola hasil umpan Ghozali sempat dieksekusi oleh Ezechiel, namun sayang bola itu membentur tiang gawang. Akan tetapi Supardi benar-benar mendapatkan keberuntungannya malam ini, bola berada dihadapannya dan ia tinggal mendorong bola ke gawang. Persebaya tertinggal dua gol.

Hingga menit ke 25, Persebaya masih belum mampu menembus pertahanan Persib. Jarak antar pemain Persebaya terlalu jauh satu sama lain, sehinga cukup kesulitan menyerang dan menembus pertahanan Persib yang bermain dengan kolektivitas yang sangat baik. Inkyun dan Dedi Kusnandar benar-benar menjadi malapetaka bagi tiga pemain tengah Persebaya dalam mematikan serangan. Ini bisa dilihat dari pergerakan kedua pemain ini yang hampir tidak pernah melewati separuh lapangan.

David Da Silva seperti bermain sendiri karena sulitnya mendapatkan dukungan dari lini kedua. Karena Rendi dan Misbhakus dipaksa memberikan umpan ke flank. Baik Fandi Eko maupun Ricky Kayame yang sempat mencoba bertukar posisi tetap mengalami kesulitan dalam mengeksploitasi sisi sayap dari Persib. Di 15 menit terakhir babak pertama tempo pertandingan agak sedikit menurun. Akan tetapi Persebaya tetap mencoba mencuri gol pertamanya malam ini. Babak pertama Persib unggul dua gol.

Terkait:  Perancis 0 - 1 Jerman: Duel Pragmatisme Low Dan Kepanikan Deschamps

Pergantian Pemain yang Tepat Namun Terlambat

Persebaya yang tertinggal dua gol belum mengganti pemainnya di awal babak kedua. Barulah setelah Ghozali Siregar mencetak gol ketiga bagi Persib dengan aksi individunya melewati tiga pemain Persebaya, Alfredo Vera meresponnya dengan memasukkan Robertino Pugliara untuk menggantikan Rendi Irwan. Pergantian ini sempat membuat penonton heran, pasalnya Rendi Irwan bermain tak buruk-buruk amat. Satu menit setelah Robertino masuk, ia langsung membayar kepercayaan pelatih dengan memberikan assist kepada Kayame.

Proses terjadinya gol Ricky Kayame

Setelah lahirnya gol pertama Persebaya, Inkyun menjadi sulit untuk memberikan support ke lini depan karena Persebaya bermain semakin agresif. Ditambah lagi Green Force memasukkan dua pemain dalam waktu lima menit, yaitu Pahabol dan Rachmat Irianto.

Persebaya lagi-lagi mampu memperkecil ketinggalan, kali ini melalui sundulan dari Fandi Eko setelah memanfaatkan umpan Robertino Pugliara. Persib yang dibawah tekanan langsung merespon dengan mengganti Agung Mulyadi dengan Hariono, tetapi dengan masuknya Hariono, Persib lantas tidak bermain dengan tiga gelandang, melainkan Inkyun berdiri sejajar dengan Ezechiel. Persib tetap bermain dengan formasi 4-4-2 flat.

Persebaya terus menggempur pertahanan Persib dari berbagai sisi, masuknya Pahabol sebagai perusak konsentrasi hampir membuat Persib kewalahan. Akan tetapi Persib tetap dalam konsentrasi penuh menjaga setiap sisi supaya tidak bisa ditembus oleh para pemain Persebaya yang semakin percaya diri.

Ditengah suporter Persebaya yang terus bernyanyi, berharap Persebaya mampu menambah gol lagi, dan suporter Persib harap-harap cemas jika Persebaya mampu membalikkan keadaan. Ghozali Siregar lagi dan lagi memupuskan harapan Green Force. Di menit 80 Ghozali melalui tendangan dari luar kotak pinalti mampu mengubah papan skor menjadi 4 – 2.

Terkait:  PSG 2 - 1 Chelsea: Kemenangan Bermodal Narrow Attack

Persebaya yang tak patah semangat terus menggempur pertahanan Persib, hasilnya tidak sia-sia, David Da Silva mampu menipiskan ketertinggaln menjadi 3 – 4 setelah menerima assist tendangan sudut dari Fandi Eko, meski pada akhirnya tak mampu menyamakan kedudukan. Persebaya harus mengakui koletivitas Persib yang musim ini jauh lebih baik dari musim sebelumnya. Catatan ini juga dibantu dari jumlah kemasukkan gol. Hingga pekan ke 17 atau paruh musim ini, Persib ditemani Perseru Serui menjadi tim yang paling sedikit kemasukkan, yaitu hanya dengan 16 kali kemasukkan. Selamat untuk Persib, menjadi juara paruh musim.

Alfredo Vera Out?

Banyak pihak menyuarakan agar pelatih berkebangsaan Argentina itu out dari tim berjuluk Bajol Ijo ini. Alvredo dianggap kurang serius, sering merubah formasi atau mengganti komposisi pemain. Tetapi apakah ini solusi? Tetapi apakah itu jawaban?

Beberapa tim lain juga sudah melengserkan pelatih yang dianggap gagal oleh manajemen. Tapi alasan pemecatan memang bisa bermacam-macam. Apakah sebenarnya masalah Persebaya yang saat ini berada di peringkat 13 adalah murni kesalahan Alvredo?

Mungkin hanya Persebaya yang mempunyai gaya penyerangan melalui build up dari lini belakang paling bagus musim ini di Liga 1. Rataan penguasaan bola juga menyentuh di angka 60%. Sayangnya tim ini tidak memiliki pemain pelapis yang sepadan dengan pemain inti.

Rotasi yang sering dilakukan Alfredo semata karena banyaknya pemain yang silih berganti dibekap cedera, dipanggil Timnas, atau akumulasi kartu. Akan tetapi tim harus selalu dalam kondisi 100% fit setiap pertandingan. Masuknya Raphael Maitimo dan OK Jhon yang notabene adalah pemain utama dari timnya terdahulu, yaitu Madura United diharapkan mampu menambal kekurangan ketika pemain yang silih berganti absen.

Tapi ya, rasanya Persebaya masih harus mencari pemain baru lagi, dengan kualitas yang sebanding dengan pemain inti. Bukan pemain lapis kedua dengan dalih coba-coba. Mengganti pelatih di tengah perjalanan perlu pertimbangan yang sangat matang, terutama bagaimana manajemen bisa menilai apakah memang problem ada di pelatih atau berasal dari faktor lain.

Apa Pendapatmu?