List of feeds URL

Pergerakan Tanpa Bola: Aksi Penting Yang Sering Diabaikan

27jun2013---seguido-por-iniesta-d-xavi-parte-com-a-bola-dominada-em-lance-da-semifinal-da-copa-das-confederacoes-no-castelao-1372365752419_1920x1080
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Setiap saat kita melihat dua tim bertanding, tentu saja mata akan secara alami terfokus untuk mengikuti kemana saja bola mengalir. Bola memang ada di judul permainan ini dan merupakan unsur terpenting yang akan diperebutkan oleh 22 pemain di lapangan. Bola juga yang akan menentukan siapa yang akan berhak menjadi pemenang dan siapa yang akan kalah.

Bagaimana pentingnya keberadaan bola, bisa dilihat dari hal yang paling mendasar. Setiap anak yang baru belajar permainan ini, apa yang akan diajarkan pertama kali adalah keahlian untuk mengolah bola. Dribbling, passing, shoting adalah semua aksi yang melibatkan bola. Tentu saja kita tidak akan dikatakan bisa bermain sepakbola jika belum menguasai teknik yang dianggap dasar tersebut.

Di level yang lebih tinggi, menguasai bola dianggap sebagai jalan untuk merengkuh kemenangan. Jika ingin lebih berpeluang menang, maka menguasai bola lebih lama dari lawan akan membawa kita lebih dekat ke tujuan tersebut. Tentu kita ingat jargon, jika kita menguasai bola, maka lawan tidak bisa mencetak gol.

Hal yang sama juga berlaku jika kita diharuskan menilai bagaimana kualitas seorang pemain. Mau tidak mau, kita akan menilai dari bagaimana kemampuannya ketika bersama bola. Bagaimana umpan, dribbling atau kualitas shotingnya. Dalam aspek bertahan, yang akan dinilai adalah bagaimana kemampuan pemain merebut bola, baik itu lewat tackling, intercept ataupun clearence.

Dari kacamata statistik juga hampir semua yang coba dicatat adalah yang berhubungan dengan bola. Oleh karena itu statistik dan analisa performa pemain bisa berkolaborasi dengan baik. Belakangan ini mulai ada statistik yang menghitung aksi tanpa bola, seperti distance coverage (jarak tempuh pemain), tapi masih tidak terlalu banyak yang lain.

Apa yang sudah ditulis di atas adalah hal-hal yang sudah menjadi persepsi umum. Seperti itulah kita (atau sebagian besar dari kita) akan melihat sepakbola. Bola akan menjadi pusat gravitasi permainan bagi pemain di dalam lapangan dan juga bagi mata penonton yang di luar lapangan. Tentu akan terasa aneh jika kita melihat sepakbola tanpa peduli tentang bolanya bukan?

Hal itu sah-sah saja jika kita bertindak sebagai penonton. Tapi ternyata hanya menitik beratkan perhatian saat sedang bersama bola, tidaklah cukup untuk untuk yang terlibat di dalam permainan, baik itu untuk pemain ataupun pelatih. Jika tim mengalami masalah, solusi yang coba diambil seringkali masih yang hanya seputar pemain yang bersama bola. Padahal belum tentu juga masalahnya ada disitu.

Terkait:  Indonesia U19 0 (7) - (6) 0 Vietnam U19: Timnas Lebih Sabar Dan Akhirnya Membawa Kemenangan

Dari 22 pemain yang sedang berduel di lapangan, hanya akan ada satu pemain yang sedang bersama bola, sedangkan 21 pemain yang lain sedang dalam aksi tanpa bola. Memang bola akan menjadi fokus dan menentukan hasil pertandingan, tapi kualitas aksi dari jumlah 21 pemain yang sedang tanpa bola juga akan sangat menentukan, atau justru mungkin lebih menentukan. Kecuali jika ada pemain yang bisa membawa bola sendiri dari belakang sampai ke depan dan mencetak gol, tapi tentu saja hal itu hampir mustahil.

Aksi pemain dengan bola juga bisa kita ukur dari durasi sang pemain ketika dia bersentuhan dengan bola. Sebagai contoh bisa kita lihat di catatan dari laga AC Milan melawan Palermo di tahun 2012. Kita bisa mengambil keuntungan dari catatan ini karena di Italia mereka mengukur penguasaan bola yang sedang aktif dalam hitungan durasi.

Di laga itu, Milan sebagai tim pemenang berhasil tampil dominan. Mereka membukukan catatan waktu 31 menit menguasai bola, berbanding 19 menit milik Palermo. Jika kita mengambil rata-rata dari 11 pemain, maka masing-masing pemain Milan akan bersama bola selama 3 menit, angka yang dibulatkan dari total catatan 31 menit untuk keseluruhan tim.

Bisa kita lihat jika dari 90 menit aksi satu pemain di lapangan, hanya 3 menit saja dia bersama bola, sedangkan 87 menit yang lain harus tanpa bola. Untuk pemain Palermo, tentu saja durasi penguasaan bola yang lebih sedikit lagi yang akan kita temui, karena angka durasi keseluruhan tim yang memang lebih kecil.

Hanya 2.5% saja aksi pemain selama 90 menit pertandingan yang melibatkan apa yang kita sebut di atas sebagai teknik dasar, yaitu ketika pemain bersama bola. Lantas kenapa kita tidak mulai memberikan perhatian lebih untuk angka 97.5% untuk aksi yang tanpa bola, yang tidak dianggap sebagai teknik dasar? Apakah persentase sebesar itu kurang menyilaukan?

Terkait:  Indonesia (U-23) 1 - 2 Palestina: Goals And Full Highlight ISG 2013

Di analisa yang paling mentah, aksi pemain yang tanpa bola sangat sering diabaikan. Bisa kita ambil contoh dari kebiasaan Timnas Indonesia yang sering dianggap skill dasar yang dimiliki para pemain kurang mumpuni, karena terlalu sering melakukan kesalahan umpan. Stigma ini sudah bertahun-tahun melekat, dan sampai sekarang belum juga menghilang.

Pada kenyataannya memang akurasi umpan pemain Timnas tidak terlalu baik, yang juga bisa dilihat langsung dengan mata telanjang tanpa perlu kita repot-repot mengulik catatan statistik. Yang menjadi pertanyaan, kenapa masalah seperti ini belum juga hilang walaupun sudah ada sejak lama.

Jika kita terus terfokus untuk meningkatkan skill dasar pemain untuk memecahkan masalah ini, mungkin selamanya juga tidak akan ada perbaikan. Jika anda tidak sedang terlibat di dalam tim, mungkin bisa meluangkan waktu sejenak melihat sesi latihan para pemain kita, baik itu di klub ISL ataupun Timnas. Apa yang akan kita saksikan adalah sebenarnya mereka bisa mengumpan. Mungkin memang skill mengumpan mereka bukan kelas dunia, tapi cukup untuk dikatakan jika mereka sebenarnya sudah memiliki modal skill dasar yang baik.

Masalahnya disini, akurasi umpan bukan hanya perihal pemain yang sedang menguasai bola saja, tapi juga pemain yang sedang tidak menguasai bola, baik itu rekan sendiri yang menjadi target, ataupun lawan yang melakukan penjagaan. Apakah relevan jika terjadi salah umpan dan hanya pemain yang mengumpan saja yang dipermasalahkan?

Jika yang dimaksud akurasi umpan adalah dengan sukses mengirim bola dari satu titik ke titik lain, maka aksi 21 pemain lain yang tidak membawa bola inilah yang justru berperan besar menentukan sukses atau tidaknya sebuah umpan. Karena di dalam proses ini terdapat dua titik, belum tentu titik pertama yang selalu bermasalah. Titik kedua, atau pemain yang menerima umpan, juga akan berperan penting dalam kesuksesan proses ini, atau tentu saja juga akan berperan jika akhirnya proses mengalami kegagalan.

Pentingnya aksi pemain lain yang tanpa bola semakin krusial karena dalam proses mengumpan, pemain yang membawa bola membutuhkan opsi target rekan yang mencukupi. Sederhananya, semakin banyak rekan yang siap diberi umpan, akan semakin meningkatkan akurasi umpan itu sendiri. Semisal, situasi 2 vs 2 tentu akan lebih memungkinkan kegagalan umpan, daripada situasi 3 vs 2 atau 4 vs 2. Bisa kita lihat di situasi tersebut justru jika aksi dari sejumlah pemain yang tanpa bola yang lebih menentukan akurasi umpan, daripada seorang pemain yang membawa bola.

Terkait:  Garuda Jaya Miskin Taktik Dan Mental Karena Buruknya Persiapan

Apa yang dianggap teknik dasar saja nyatanya belum cukup untuk membentuk pemain dan tim yang mumpuni. Seumpama maestro umpan seperti Xavi Hernandez yang di Eropa mempunyai catatan rata-rata 120 umpan sukses per-pertandingan, apakah akan memiliki catatan yang sama jika bermain untuk Timnas Indonesia? Akan cukup gila jika menjawab iya, karena aksi dari 10 rekannya tentu saja akan sangat mempengaruhi performa Xavi sendiri.

Itu baru untuk masalah salah umpan. Bagaimana dengan kebiasaan umpan panjang dari belakang ke depan, itu lebih ke gaya bermain atau memang pemain belakang sebenarnya tidak melihat opsi yang tersedia untuk melakukan umpan pendek ke para gelandang di depannya?

Bagaimana juga tentang akurasi crossing ke dalam kotak penalti lawan, kualitas crossing yang memang buruk atau sebenarnya cuma ada satu atau dua rekan yang siap di depan gawang lawan? Apakah akurasi crossing akan meningkat seumpama ada empat atau lima rekan yang siap menjadi target?

Aksi apa yang dilakukan pemain yang tanpa bola memang sebenarnya jauh lebih penting daripada sekedar bagaimana kemampuan pemain tersebut bisa mengolah bola. Tapi hal ini masih seringkali mendapat porsi perhatian yang minim untuk menjadi aspek penting agar tim bisa lebih baik.

“When you play a match, it is statistically proven that players actually have the ball 3 minutes on average … So, the most important thing is: what do you do during those 87 minutes when you do not have the ball. That is what determines wether you’re a good player or not.” — Johan Cruyff

Apa Pendapatmu?