List of feeds URL

Pep Guardiola Menjelaskan Perubahan Posisi Messi

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Ketika berada di Argentina di bulan Mei 2013, Pep Guardiola sempat menjadi pembicara di sebuah seminar. Karena berada di Argentina, dia memilih membicarakan tentang Lionel Messi. Kali ini dia menjelaskan perubahan posisi Messi dari winger kanan ke tengah, menjadi false 9. Artikel ini mencoba menulis penjelasan Pep di acara itu seperti dalam video.

Ketika Pep pertama kali membesut Barcelona senior, dia mendapat warisan skuad dari Frank Rijkaard. Rijkaard bisa dikatakan entrenador paling sukses El Barca setelah era Johan Cruyff. Bahkan pelatih kondang semacam Bobby Robson dan Louis Van Gaal bisa dikatakan gagal memberikan Barcelona banyak trofi. Di akhir masa kepelatihannya, Rijkaard sempat memiliki trio maut di depan yang diisi oleh Ronaldinho, Samuel Eto’o dan bintang muda baru, Lionel Messi. Messi menempati posisi winger kanan dan secara natural sering moving inside karena kaki terkuatnya memang kaki kiri.

 

Lihat di youtube

Di El Classico pertama melawan Real Madrid, Pep masih menempatkan Messi sebagai winger kanan. Dia menjelaskan bahwa di pertandingan itu pemain Real Madrid melakukan man marking terhadap semua pemain Barcelona, kecuali dua bek tengah yang dijaga satu striker Madrid. Sebaliknya dua bek tengah Madrid juga melakukan covering terhadap satu striker tengah Barcelona.

Dengan situasi seketat itu, Pep mencoba memancing pemain tengah Madrid untuk melepas marking ke pemain tengah Barcelona dengan cara Marquez sebagai bek tengah membawa bola naik. Cara ini beresiko, terutama jika akhirnya kehilangan bola. Namun Pep menjelaskan jika sebagai pelatih dia memang harus memutuskan untuk mengambil resiko itu atau tidak.

Setelah itu Pep membicarakan tentang posisi Messi sebagai sayap kanan. Dengan sistem man marking yang dilakukan oleh pemain Madrid, maka Messi akan dijaga oleh fullback kiri lawan. Di belakang Messi ada Dani Alves yang akan tetap melebar ketika Messi bergerak masuk. Masalah disini yang timbul adalah mudah sekali untuk melakukan penjagaan terhadap Messi. Pemain terbaik dunia empat kali ini hampir hanya selalu bergerak ke tengah dan fullback Madrid mudah untuk melakukan tracking serta mengikutinya walaupun ketika dia bergerak masuk. Selain itu karena berposisi di flank, Messi juga dibatasi oleh touchline atau garis pinggir lapangan yang disebut Pep sebagai bek terbaik karena semua pemain tidak bisa melewatinya.

Terkait:  Barcelona Training Session

 

Lihat di youtube

Sejak saat itu Pep ingin merubah posisi Messi. Dia berpikir jika pemain terbaik dalam tim haruslah lebih terlibat dalam permainan. Jika menempatkan Messi di sayap, dia akan jarang mendapatkan bola. Dengan memindah posisi Messi ke tengah, dia akan lebih banyak menyentuh bola. Pep beranggapan bahwa untuk mendapatkan transisi dari menyerang ke bertahan yang baik adalah minimal dengan 15 kali umpan ketika menyusun serangan. Dengan umpan sebanyak itu bisa dipastikan hampir semua pemain lawan akan turun ke area mereka sendiri dan bisa meminimalisir efek serangan balik. Untuk bisa memainkan possession ball semacam itu maka pemain terbaik harus berada di tengah.

Di laga El Classico setelahnya, Pep mencoba pertama kali Messi untuk menjadi penyerang tengah. Dia ingin melihat apa efeknya jika striker bergerak turun daripada winger cutting-inside. Karena berada di tengah, maka yang melakukan marking terhadap Messi adalah dua bek tengah Madrid. Ketika Messi turun ke tengah ternyata bek tengah Madrid tidak bisa mengikutinya karena akan membuat lubang di pertahanan mereka. Berbeda dengan winger Barcelona yang di laga itu masih bisa dicover ketika bergerak masuk.

 

Lihat di youtube

Dengan Messi yang memainkan role false 9, Barcelona bisa mendapatkan superioritas di tengah. Mereka bisa membuat situasi 3 vs 2 antara Xavi-Iniesta-Messi melawan double pivot Madrid. Pep mengatakan jika mempunyai pemain di tengah lebih, tim bisa mengontrol serangan dan bertahan lebih baik. Dengan lebih sering memainkan bola di tengah, defence lawan akan narrow atau menyempit ke tengah dan akan lebih banyak ruang kosong di flank untuk dieksploitasi para pemain sayap.

Di edisi El Classico setelahnya, Real Madrid mengubah cara mereka bertahan. Sekarang salah satu bek tengah mereka akan mengikuti Messi walaupun ketika pemain Argentina ini turun ke tengah. Madrid mengambil resiko dengan akan menimbulkan sedikit ruang di pertahanan untuk mencegah Messi menerima bola di antara dua baris pertahanan.

Terkait:  Fiorentina 0 - 1 Juventus: Solusi Tidak Komplit Montella

 

Lihat di youtube

Untuk merespon taktik ini, Pep mengatakan jika akhirnya dia membuat salah satu backfournya untuk berada di posisi yang sangat naik. Dalam hal ini dia memerintahkan Dani Alves untuk sering sejajar dengan defensive line Madrid dan memaksa fullback kiri Madrid melakukan covering terhadap dirinya. Dengan situasi ini Pep berharap ketika salah satu bek tengah Madrid keluar mengikuti Messi, winger kanan Barcelona, dalam hal ini Alexis Sanchez bisa mendapatkan posisi 1 vs 1 melawan bek tengah Madrid yang lain. Hal ini tidak dimungkinkan jika Dani Alves tidak coba menekan fullback kiri Madrid terlebih dahulu karena pemain itulah yang naturalnya menjaga Sanchez.

Dengan kondisi seperti ini, Pep meninggalkan posisi 3 vs 3 di lini belakang El Barca melawan salah satu lini depan  terbaik di dunia. Cukup beresiko, namun Barcelona tetap memiliki pemain lebih di tengah dalam situasi 3 vs 2. Pep mengatakan jika pelatih harus menentukan sebuah cara dan harus percaya dengan keputusannya, atau jika tidak maka tidak akan pernah bisa meyakinkan pemainnya. Pelatih harus mengetahui apa yang coba lawan lakukan, bagaimana mereka bergerak dan itu sebagai dasar membuat penyesuaian.

 

Apa Pendapatmu?