List of feeds URL

Orkestra Tiki-Taka Yang Tidak Indah Di Camp Nou

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Gareth Bale hanya butuh 5 detik untuk sprint dari bench Barcelona, memunggungi Marc Bartra dan menaklukkan Manuel Pinto untuk membawa Real Madrid mengangkat trofi Copa Del Ray 2014 di stadion Mestalla. Gol Bale melengkapi kekalahan El Barca ketiga beruntun di tiga ajang berbeda dalam tujuh hari saja. Hanya trofi La Liga yang masih bisa diraih Barca musim ini, tapi mereka harus melangkahi dulu poin duo Madrid dalam lima laga sisa.

Tata Martino masih memakai cara yang sama seperti edisi El Clasico terakhir. Eks pelatih Newells Old Boys ini sedikit memodifikasi skema standar timnya dengan menggeser Andres Iniesta melebar supaya bisa memasukkan Cesc Fabregas, untuk menjamin superioritas di tengah. Tapi sialnya, Carlo Ancelotti tidak tertarik lagi berduel di tengah seperti di pertemuan terakhir. Pria Italia ini memakai cara klasik untuk melawan tiki-taka, dengan low block dan serangan balik memakai 4-4-2.

Iniesta dari kiri terus bergerak ke tengah, yang membuat Jordi Alba terpaksa mengisi lebar lapangan di kiri dengan jauh naik. Dengan Madrid yang tanpa gelandang serang, Sergio Busquets kali ini tanpa ada pemain yang harus dijaga. Tapi ini malah menjadi masalah ketika mereka menerima counter attack. Dia jadi maju menutup Luca Modric yang kali ini mengambil posisi cukup dalam. Dari sini semua serangan simpel dan cepat Madrid menjadi masalah serius karena Bale dan Benzema selalu dalam situasi 1 vs 1 dengan Bartra dan Javier Mascherano.

Duel dua pelatih anyar di masing-masing tim ini sudah terjadi tiga kali. Martino masih unggul dengan dua kemenangan dan Ancelotti hanya satu. Tapi dengan perolehan satu trofi dan Madrid masih berpeluang meraih treble, Don Carlo bisa dibilang berhasil mempertahankan level Madrid sepeninggal Jose Mourinho.

Hal sebaliknya terjadi kepada Tata Martino, Blaugrana terus menurun dan kekalahan demi kekalahan sudah mulai menyentuh mental pemain. Dia memulai perjalanan di Camp Nou dengan baik, mengalahkan Atletico Madrid di ajang Super Copa De Espana dan itu menjadi trofi pertamanya. Tapi delapan bulan kemudian, Atletico bisa membaliknya dan menyapu Barca dari perburuan gelar Liga Champions. Cerita serupa juga tersaji dengan rival abadinya, Real Madrid di Copa Del Ray.

Seperti pada umumnya di tim yang melakukan transisi pelatih, Ancelotti sebagai entrenador baru Madrid memodifikasi timnya sesuai apa yang diinginkan. Yang pertama adalah dia merubah Madrid bertahan memakai 4-4-2. Perubahan ini untuk memperbaiki kelemahan Madrid era Mourinho dimana Cristiano Ronaldo menjadi weak point di kiri karena enggan turun.

Terkait:  Dortmund 0 - 3 Munchen: Pep Menghancurkan Two Banks Of Four Klopp

Ketika menyerang eks allenatore Juventus ini memilih 4-3-3, dengan trio Ronaldo, Benzema dan Bale di barisan depan. Ancelotti juga dengan elegan berhasil menyelesaikan konflik benturan posisi antara Bale dan Angel Di Maria. Dia sekarang menaruh Di Maria di tengah dan memberinya freedom to move seperti Modric, walaupun ketika bertahan Di Maria tetap harus kembali ke kiri. Ancelotti mengubah secara fundamental Madrid dari filosofi Mourinho. Kepergian Mezut Ozil pun sekarang terlupakan. Dia berhasil menyesuaikan taktiknya dengan baik jika dibutuhkan, semisal di final Copa Del Rey dia memakai 4-4-2 saja dan sukses menikung Barcelona.

2014-03-23_MADRID-BARCELONA_08.v1395618469

Berbeda dengan Ancelotti, Tata Martino gagal menguasai timnya untuk bermain seperti yang dia inginkan. Martino adalah seorang Bielsista, dia sharing ide yang sama seperti Pep Guardiola dari sang legenda Marcelo Bielsa. Faktor inilah yang membuat dia didapuk menggantikan Tito Vilanova yang masih berjuang melawan kanker. Perkara seperti berasal dari Rosario, kota yang sama dengan Messi, atau dia adalah idola dari ayah Messi mungkin juga sedikit mempengaruhi proses pemilihan dirinya.

Berbeda dengan Guardiola, Martino adalah anak didik langsung dari Bielsa. Dia kapten dari Newells Old Boys dimana nama Bielsa begitu bersinar. Dia juga pernah membesut Timnas Paraguay dan beberapa klub disana, sebelum akhirnya kembali ke Newells, klub yang membesarkannya.

Di klub berjuluk La Lepra ini Martino berhasil menanamkan hampir semua filosofi Bielsa: enerjik, high press dan vertikalitas. Dia membuat timnya menyerang dengan banyak pemain, dan hampir semua pemainnya di belakang bola ketika bertahan. Newells bermain atraktif dan bertengger di papan atas, sebelum pemainnya mulai kelelahan di akhir musim, mengingat gaya main yang menguras stamina pemain dan akhirnya gagal juara.

Tapi kesuksesan paling besar Martino adalah ketika menukangi Paraguay sebelumnya. Secara mengejutkan, dia mengusung gaya sangat pragmatis, daripada memakai filosofi Bielsa. Dia membuat Paraguay sangat solid di belakang dan mengandalkan counter attack. Paraguay dibawanya menjadi runner-up Copa America, hanya dengan berbekal terus bermain seri di lima laga, sebelum Uruguay mengalahkannya di final. Gaya defensive Paraguay juga sempat membuat Spanyol frustasi dan hampir tersingkir di perempat final Piala Dunia 2010.

Terkait:  Real Madrid 3 - 1 Barcelona: Enrique Masih Hijau Untuk Clasico

Walaupun tim Newells Old Boys milik Martino sedikit banyak memainkan sepakbola mirip Barcelona, dia rupanya ingin kembali memberi sentuhan pragmatisme di tim barunya. Martino secara bertahap menanamkan pertahanan low block ke Azulgrana. Dia ingin verticalidad khas miliknya sebagai Bielsista bisa dapat ruang yang cukup untuk dimainkan. Verticalidad adalah serangan dengan mengalirkan bola menyusur tanah, cepat ke depan dengan beberapa kombinasi umpan saja. Diharuskan selalu ada minimal tiga pemain di depan pemain yang menguasai bola sebagai opsi umpan. Kontrol serangan yang terlalu jauh di area lawan seperti tiki-taka, tidak memungkinkan skema ini terjadi.

Taktik ini mulai sering dipakai di pertengahan musim dan dapat hal positif melawan tim papan bawah. Tapi rencananya tidak berjalan mulus. Barcelona mulai beberapa kali kehilangan dominasi penguasaan bola yang sudah jadi trademark. Hal ini belum pernah terjadi sejak 2008 dan tentangan mulai datang dari para fans, seakan Martino menghilangkan identitas klub. Kalah dalam ball possession melawan Rayo Vallecano, walaupun mereka unggul 4-0 dengan gol kebanyakan dari serangan balik, tidak membuat publik Camp Nou bahagia.

Masalah lain juga mulai datang ketika melawan tim yang lebih kuat. Hanya Busquets pemain tengah yang bisa bekerja dengan baik dengan pertahanan yang cukup dalam. Sedangkan Xavi dan Iniesta tidak pernah terlihat solid di depan backfour karena tidak terbiasa melakukan zonal marking. Kekalahan dari Valencia dan Real Sociedad mulai menghambat perolehan poin mereka di tangga klasemen dan duo Madrid juga mulai menjauh.

Sejak momen ini, kelihatannya Martino mulai menyerah memaksakan sistemnya ke dalam tim. Barcelona tidak pernah lagi bermain low block dan kembali ke bentuk default ketika tanpa bola, yaitu dengan high press di area lawan. Bermain dengan cara yang familiar dengan para pemain, klub yang 23 kali jadi runner-up La Liga ini sedikit demi sedikit kembali ke trek juara.

Walaupun performa Barcelona terus membaik dengan berhasil menyingkirkan Manchester City di Liga Champions dan mengalahkan Madrid di Barnebeu, mereka justru terperosok di saat krusial akhir musim. Pemain boleh nyaman dengan sistem yang dimainkan, tapi tidak dengan Martino. Di saat level duel taktik semakin memuncak, dia kesulitan mengontrol tiki-taka yang dimainkan pemainnya di lapangan.

Terkait:  Barcelona 2 -1 Manchester City: Beberapa Kesalahan Halangi The Citizen Balas Dendam

Tidak sigapnya Martino merespon taktik Ancelotti adalah contoh yang sangat sederhana. Ancelotti sedikit merubah timnya menjadi mirip Atleti dan Martino masih memainkan komposisi yang sama dengan ketika dikalahkan pasukan Diego Simeone. Dia kesulitan menemukan kesalahan pada timnya secara cepat, dengan tetap memakai Iniesta di flank dan gagal memperbaiki posisi Busquets. Padahal di babak pertama Madrid bisa menyamai jumlah shot Barca, walaupun hanya menguasai 35% pertandingan.

Messi-sorprendido-triste-despedida-Guardiola_TINIMA20120529_0470_5

Belum lagi jika kita berbicara tentang detail yang ditanam Guardiola sehingga Barca menjadi sangat hebat di eranya, bahkan Madrid milik Mourinho pun sulit menyentuhnya. Detail-detail ini juga yang membuat tiki-taka sulit diduplikat tim lain, kecuali oleh Guardiola sendiri. Menghadapi set piece dengan zonal marking sekarang sudah ditinggalkan. Dulu Guardiola juga sering memakai 3-4-3 untuk mendapat penetrasi sekaligus balance yang lebih baik jika lawan parkir bus, atau menyelipkan Seydu Keita sebagai alternatif di tengah jika butuh aerial power di dalam kotak penalti.

Kita tidak akan bisa membayangkan jika Ancelotti harus meneruskan skema 4-2-3-1 Mourinho di Madrid tanpa menjual Ozil. Atau Mourinho melanjutkan saja model strategi Benitez di Chelsea tanpa menjual Juan Mata ke Manchester United. Martino gagal mengadaptasi timnya dengan taktik yang baru dan dia kesulitan menguasai dengan filosofi lama timnya, setidaknya sampai saat ini. Di posisi Martino, setiap perubahan yang dilakukan berpeluang membuka lubang kelemahan timnya.

Tapi Martino masih beruntung karena dia tidak sendirian di situasi ini, David Moyes di Old Trafford juga mengalami masalah yang tidak jauh berbeda. Hal yang umum jika pelatih baru membawa beberapa pemain dari klub lamanya hanya untuk menjamin sistemnya berjalan. Ada juga manajemen yang royal berbelanja sesuai keinginan pelatih barunya. Jika pelatih dan tim tidak memainkan lagu yang sama, maka yang terdengar hanya sebuah orkestra yang tidak indah.

Apa Pendapatmu?