List of feeds URL

Opsi Permainan Shaqiri Di Tengah Hegemoni Trio Lini Serang Liverpool

Di era sepakbola modern dewasa ini, sebuah tim sepakbola tak lagi bergantung hanya pada seorang striker untuk meningkatkan produktifitas gol mereka. Beberapa tahun belakangan ini sepakbola Eropa khususnya, telah mempercayakan lini serang mereka kepada 3 pemain depan (Left Wing-Striker-Right Wing). Fenomena trio ini berawal karena mulai ramainya pakem 4-3-3, 4-2-3-1, dan 3-4-3 yang diterapkan kebanyakan pelatih.

Semua bermula dari laga El Classico, yang selalu dibumbui dengan trio andalan di masing-masing kesebelasan. Barcelona memiliki trio MSN (Messi-Suarez-Neymar), dan El Real dengan trio BBC (Bale-Benzema-Christiano Ronaldo). Namun seiring dengan hengkangnya Neymar ke Paris Saint Germain, yang kala itu memecahkan rekor nilai transfer dunia, trio MSN Barca pun resmi “bubar”. Begitupun dengan kubu Madrid, gangguan cedera dari Gareth Bale, dan juga Benzema, membuat pelatih mereka kala itu, Zinadine Zidane tak lagi menaruh harapan pada trio BBC. Terlepas dari itu semua, setidaknya trio MSN & BBC sukses menjadi yang tersubur di benua biru setidaknya dalam lima musim terakhir.

Dan pada musim 2017-2018 kemarin, menjadi ajang munculnya trio-trio baru dalam persepakbolaan Eropa. Sebut saja trio MCN (Mbappe-Cavani-Neymar) yang sukses mengantarkan PSG mendominasi kompetisi di Prancis. Di Serie A sendiri, mencuat trio Bianconeri (Dybala-Higuain-Mandzukic). Dan tentu saja trio yang paling menarik perhatian insan sepakbola dunia, tak lain adalah trio (Mane-Firmino-Salah), trisula maut Liverpool ini sukses mengantarkan The Reds menjadi finalis Liga Champions dan bertengger di posisi empat klasemen akhir Liga Inggris. Prestasi tersebut tentu berkat gelontoran total 87 gol selama semusim di semua kompetisi. Dengan pembagian 42 gol Salah, 25 gol Firmino, dan 20 gol Mane. Atau hampir 70% gol Liverpool dicetak oleh trisula maut ini.

Terkait:  Quote: Mourinho

Namun sayangnya mereka tetap harus puas tanpa gelar di musim tersebut. Walaupun trisula mereka menjadi yang tersubur di Eropa. Kedalaman skuad, terutama lini serang menjadi salah satu masalah mereka. Oleh karena itulah manajemen mendatangkan nama Xherdan Shaqiri yang diboyong dari klub degradasi Stoke City dalam bursa transfer musim panas ini. Tentu ini menjadi kabar baik bagi The Anfield Gank. Apalagi Shaqiri sukses menjalani debut manis ketika membobol gawang Manchester United dengan gol salto indahnya di pramusim.

Selain itu, yang menjadi pertanyaan ialah cukup besarkah porsi bermain dari Shaqiri di tengah dominasi trio FIRMANSAH di musim ini? Spekulasi pertama yang mencuat ketika Liverpool memperkenalkan pemain internasional Swiss tersebut ialah sebagai pelapis dari trio utama mereka, hal ini berkaca pada masalah di musim lalu.

Shaqiri merupakan pemain serba bisa di lini serang, bermain di sektor sayap, maupun tengah sudah sering ia lakoni. Posisi sayap kanan merupakan posisi naturalnya. Saat membela Stoke City selama dua musim, dia berhasil menorehkan 15 gol dan 15 asisst dari 92 penampilan, yang menjadikannya pemain tersubur The Potters di musim terakhirnya dengan delapan gol. Sementara di Liverpool, posisi tersebut dihuni bintang baru mereka Mohamed Salah, yang juga menjadikannya top scorer musim lalu. Tentu saja opsi memainkan Shaqiri di sayap kanan Liverpool menjadi riskan mengingat Salah sendiri tak tergantikan di posisinya tersebut. Namun sebagai pelapis Salah, rasanya cukup ideal. Mengingat pemain sayap kanan lainnya, yakni Oxlade Chamberlain harus menepi lama akibat cederanya.

Begitupun sebaliknya, di sektor kiri penyerangan The Reds terdapat nama Sadio Mane. Torehan gol Mane musim lalu mencapai 20 gol dan menyumbangkan sembilan assist. Sementara Shaqiri musim lalu tidak pernah sekalipun bermain di posisi sayap kiri. Jika dirunut lebih jauh, Shaqiri hanya sekali saja dipercaya mengisi pos tersebut, tepatnya pada musim 2015-2016, dan ia tidak menyumbangkan satupun gol atau assist.

Terkait:  Cardiff 0 - 3 Arsenal: Cardiff Bermain Seperti Yang Diinginkan Wenger

Sepanjang karier profesionalnya, Shaqiri sukses menorehkan sembilan gol dan 12 assist ketika beroperasi di sektor penyerangan kiri sebanyak 35 kali penampilan. Mengingat saat ini pos sayap kiri Liverpool hanya diisi Sadio Mane seorang, bisa saja Klopp kembali memainkan Shaqiri di posisi tersebut. Namun dari segi statistik gol maupun assist, Sadio mane lebih unggul.

Bagaimana dengan sektor tengah penyerangan? Posisi Second Striker juga pernah dijajal Pria kelahiran Gjilan Swiss ini, Saat ia masih berseragam Stoke City. Namun dari 4 kali penampilan, ia tidak mampu menyumbangkan kontribusi apapun. Namun perlu dicatat, Liverpool di bawah asuhan Jurgen Klopp menjadikan skema 4-3-3 sebagai pilihan utama. Di mana dalam skema tersebut, tidak terdapat Posisi second striker, berbeda halnya dengan 4-2-3-1 ataupun 4-3-1-2.

Opsi terakhir jika Shaqiri dijadikan starter namun tetap memasang Trio FIRMANSAH adalah dengan ditempatkan di lini kedua. Posisi idealnya yakni right midfielder. Tugas tersebut pernah ia emban ketika memperkuat klub professional pertamanya, yakni FC Basel. Dalam 20 penampilannya ia berhasil membuat lima gol dan tujuh assist pada musim 2011-2012.

Musim lalu di Liverpool, pos tersebut sering diisi oleh Adam Lallana, James Miler, dan Oxlade Chamberlain secara bergantian. Nama yang disebut terakhir, menjadi pemain yang sering dipercaya Klopp dengan 13 tampil di posisi tersebut, dengan torahan satu gol dan satu assist. Dengan cedera panjangnya Chamberlain, kemungkinan paling besar area bermain Shaqiri ialah sebagai right midfielder. Dengan resiko agresifitas Shaqiri menjadi kurang tereksploitasi, karena harus sering bermain di area half space (area antara koridor sayap dan koridor tengah). Kenapa? Karena ketika pemain berusia 26 tahun ini bermain lebih ke area tengah, konstribusi gol ataupun assist-nya menjadi minim. Terkecuali jika Klopp sedikit memberi kebebasan padanya untuk bermain melebar.

Terkait:  How The Engine Work? Indonesia U19 2013

Kesimpulannya adalah dengan kehadiran Xherdan Shaqiri dalam skuad The Reds ini membuat Klopp tak perlu risau lagi dengan kedalaman skuad lini serangnya. Selain sebagai pelapis trisula mereka, Shaqiri juga tetap bisa dimainkan di lini kedua Liverpool, dimana posisi gelandang kanan sudah cukup dihafal olehnya. Dengan catatan Klopp harus berani membebaskan ruang bermain Shaqiri. Shaqiri juga memiliki keunggulan dalam tendangan jarak jauhnya, ataupun freekick-nya. Dan opsi memainkan Shaqiri dengan skema diluar 4-3-3, misalnya 4-2-3-1 dengan menempatkan Shaqiri sebagai pemain di belakang striker, agar ia bisa menyerang bebas menjadi opsi yang mustahil, karena Klopp sendiri merupakan tipe pelatih yang setia dengan satu skema, yakni 4-3-3 andalannya. Halangan lainnya adalah karena sudah tidak ada waktu lagi untuk beradaptasi jikalau harus mengganti skema, karena Premier League sudah resmi bergulir.

Terlepas dari itu semua, apapun posisi yang diamanahkan Klopp kepada Shaqiri, berapa menit pun porsi bermain yang diberikan Klopp kepada Shaqiri, yang paling penting ialah Liverpool bisa memutus puasa gelar mereka. Bukan begitu? Kopites.

Apa Pendapatmu?