List of feeds URL

Nottingham Forest: Kisah Romantis Brian Clough Dengan Sang Raja Yang Terlupakan

Author: Katondio Bayumitra (twitter: @katondio)

I used to rule the world, sea would rise when i gave a word“, itulah penggalan lirik lagu band asal Inggris, Coldplay, yang mungkin tepat untuk menggambarkan klub Divisi Championship Inggris (kasta kedua liga sepak bola Inggris) bernama Nottingham Forest.

Amat disayangkan, kejayaan yang memuncak pada masa akhir tahun 70-an hingga pertengahan tahun 80-an, harus berakhir di masa awal tahun 90-an. Jika diibaratkan sebuah film, maka Brian Clough adalah sang aktor utamanya.

Apakah kalian di sini pernah bermain game Football Manager? Pernahkah kalian menggunakan klub kasta kedua di liga suatu negara, lalu menjadikan klub tersebut klub papan atas di liga utama negara tersebut? Atau bahkan sampai menjadi raja di Eropa? Ya, Brian Clough adalah kisah nyata dari sosok kalian yang pernah memainkan game tersebut dengan ‘gaya’ seperti itu. Brian Clough menangani Nottingham Forest sejak tahun 1975, atau tepatnya 6 Januari 1975.

Saya tidak tahu apa yang dirasakan fans Nottingham Forest pada waktu itu karena Clough sebelumnya menangani rival mereka, yaitu Derby County, bahkan sukses membawa Derby County juara English First Division (kasta tertinggi Liga Domestik Inggris) musim 1971/1972. Namun, apapun yang dirasakan para fans Nottingham Forest di awal-awal kedatangan Clough, maka semuanya itu berubah menjadi rasa terima kasih dan kebanggaan setelah sederet prestasi membanggakan berhasil ditorehkan oleh Clough untuk klub dengan nickname “Forest” itu.

Meskipun sebelum dan sesudah kedatangan Brian Clough, Nottingham Forest juga sempat memiliki prestasi tetapi Clough adalah manajer tersukses Forest sepanjang masa. Manajer yang sudah meninggal pada tahun 2004 lalu akibat kanker perut itu, telah menorehkan banyak prestasi untuk Nottingham Forest dan belum dapat disamai oleh manajer lain yang menangangi Forest.

Brian Clough datang menggantikan Allan Brown yang dipecat setelah Forest kalah 0-2 di kandang sendiri oleh rival lokal mereka, Notts County di laga boxing day, sehingga membuat Forest tertahan di posisi 13 English Second Division (kasta kedua Liga Inggris). Laga pertama Clough menghasilkan hasil positif, yaitu menang 1-0 melawan Tottenham Hotspur di laga replay FA Cup 1975. Gol tunggal Neil Martin menjadi penentu kemenangan. Pada akhir musim 1975/1976, Clough berhasil membawa Forest finish diurutan ke-8 English Second Division. Pada Juli 1976, Brian Clough merekrut asisten lamanya dari Brighton, yaitu Peter Taylor dan pada musim selanjutnya, sejarah manis dimulai.

Terkait:  Serigala Roma Siap Menerkam!

Kesuksesan pertama mereka adalah finish di urutan ketiga English Second Division pada akhir musim 1976/1977, sehingga memastikan mereka promosi ke kasta tertinggi sistem sepak bola Inggris (English First Division). Lalu, pada musim 1977/1978, tebak apa yang terjadi? Nottingham Forest langsung juara English First Division Championship. Luar biasa? Ya! Sampai sekarang belum ada lagi klub promosi dari kasta kedua yang dapat secara langsung menjadi juara di kasta tertinggi sepak bola Inggris setahun setelah mereka promosi. Bahkan, Nottingham Forest sukses meraih double winner dengan juga memenangkan Piala Liga Inggris.

Pada musim selanjutnya (1978/1979), mereka memang hanya menjadi runner up di Liga Domestik, tetapi mereka berhasil menjadi juara Liga Champions Eropa. Di final, mereka mengalahkan wakil Swedia, Malmo FF, dengan skor 1-0 lewat gol tunggal gelandang nomor punggung 7, Trevor Francis. Sebelumnya, mereka juga mengawali musim itu dengan menjuarai FA Charity Shiled dengan mengalahkan Ipswich Town 5-0. Selain itu, Forest juga sukses mempertahankan juara Piala Liga Inggris dan memastikan mereka kembali menjadi double winner musim itu. Kemudian, di musim 1979/1980, mereka mengawali musim mereka dengan menjuarai Piala Super Eropa dengan mengalahkan Barcelona dengan agregat 2-1 (menang 1-0 di leg pertama sebagai tuan rumah dan bermain imbang 1-1 di leg 2 yang dihelat di Camp Nou).

Namun, prestasi mereka di Liga Domestik menurun, sehingga hanya sanggup finish di posisi ke-5, tetapi ternyata itu bukan masalah karena mereka sukses mengalahkan wakil Jerman, Hamburger SV dengan skor tipis 1-0 lewat gol gelandang Skotlandia, John Robertson. Walaupun Robertson mencatatkan gol kemenangan, tetapi beberapa pihak lebih mengelu-elukan kiper Peter Shilton yang bermain sangat baik (outstanding). Padahal saat itu, Hamburger SV diperkuat pemain timnas Jerman Felix Magath dan striker legendaris Inggris, Kevin Keegan.

Terkait:  Cardiff 0 - 3 Arsenal: Cardiff Bermain Seperti Yang Diinginkan Wenger

Ya, Kevin Keegan mungkin menjadi satu-satunya orang Inggris yang bersedih pada malam final itu. Kisah sukses Forest pada era itu memang tak terlepas dari beberapa pemain kunci yang berjasa besar, selain Peter Shilton, ada nama Viv Anderson (pemain kulit hitam pertama yang masuk skuad timnas Inggris), Martin O’Neill, Trevor Francis, serta trio Skotlandia (John Robertson, Archie Gemmil, dan Kenny Burns).

Setelah kejayaan tersebut, Nottingham Forest mulai kesulitan ‘mencari’ gelar. Mulai dari musim 1980/1981 sampai 1991/1992, di Liga Domestik mereka lebih sering menghuni papan tengah dan hanya mampu 3 kali menjadi tim peringkat 3. Bahkan, dengan bantuan Nigel Clough, yang merupakan anak kandung dari Brian CloughNottingham Forest, Nottingham Forest baru dapat kembali juara di musim 1988/1989. Mereka langsung double winner dengan menjuarai Piala Liga Inggris dan Full Members Cup (sebuah kompetisi yang dibuat karena klub-klub Inggris dilarang tampil di kompetisi Eropa akibat tragedi Stadium Heysel). Musim selanjutnya (1989/1990), mereka sukses mempertahankan gelar Piala Liga Inggris. Dan akhirnya, musim 1991/1992 adalah musim terakhir dari kejayaan mereka bersama Brian Clough dengan gelar terakhir berupa juara Full Members Cup dan menduduki peringkat 8 di tabel akhir klasemen.

Musim 1992/1993 adalah musim pertama digulirkannya era sepakbola baru di Inggris, yaitu Premier League, sebagaimana yang kita kenal sekarang. Namun, musim itu adalah musim terburuk Forest bersama Clough. Akhir dari sebuah kenangan manis yang tidak berbuah manis. Dari 22 tim yang menjalani debut di sistem liga baru tersebut, Nottingham Forest finish sebagai tim urutan ke-22 di akhir musim dengan cataan 10 kemenangan, 10 hasil seri, dan 22 kekalahan. Apa penyebabnya?

Terkait:  Garuda Jaya Miskin Taktik Dan Mental Karena Buruknya Persiapan

Penjualan sejumlah pemain kunci, seperti Des Walker dan Teddy Sheringham (yang akhirnya menjadi top skor dengan 22 gol bersama Tottenham Hotspur) disinyalir menjadi salah satu penyebab hancurnya Nottingham Forest. Penyebab lainnya adalah Brian Clough yang harus berjuang keras melawan kecanduan alkohol. Sebelum kekalahan 2-0 Forest atas Sheffiled United yang sekaligus memastikan mereka terdegradasi dari kasta tertinggi Inggris selama 16 tahun, Brian Clough mengumumkan dirinya pensiun sebagai manajer. Dengan berakhirnya musim 1992/1993, maka berakhir pula lah perjalanan dan kisah romantis antara Brian Clough dengan Nottingham Forest selama 18 tahun.

Kemudian, seperti yang saya bilang di awal tulisan, kini  Nottingham Forest masih harus berlaga di Divisi Championship Inggris, yang merupakan kasta kedua liga sepak bola Inggris. Mereka di bawah asuhan manajer asal Inggris, Stuart Pearce dan di bawah kepemilikan keluarga Al Hasawi (dari Kuwait). Stuart Pearce sendiri merupakan mantan pemain Forest pada tahun 1985-1997, dengan  401 caps dan 63 gol di kompetisi Liga Domestik. Apakah bersama dengan Pearce yang pernah menjadi manajer tim olimpiade sepak bola Inggris dan timnas Inggris, Nottingham Forest akan kembali menemukan kejayaannya? Patut untuk ditunggu. Ya, saya yakin supporter Forest pun masih menanti dan menunggu ‘sang raja’ terlahir kembali.

Sumber: Wikipedia dan Google Images

Apa Pendapatmu?