List of feeds URL

Menjadi Pemain Sepakbola Terbaik Dengan Visi Lebih Baik

pirlo-vs-xavi
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Sudah sering kita mendengar komentator atau para expert sepakbola di televisi berkata “Pemain A memiliki visi yang dibutuhkan untuk menjadi playmaker.” Apa sebenarnya visi ini? Lalu bagaimana kita bisa membuat pemain-pemain kita agar memiliki visi tersebut?

Sekilas jika kita mendengarkan ucapan komentator di atas, visi lebih seperti sebuah barang mewah yang secara khusus menjadi atribut pemain tertentu. Tapi pada prakteknya, visi akan dimiliki oleh setiap pemain. Pemilihan kata “akan” di sini memang dimaksudkan jika untuk bermain sepakbola, maka setiap pemain membutuhkan visi.

Visi, yang juga bisa diartikan pengamatan atau penglihatan, merupakan kepingan pertama dari proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh setiap pemain. Sebelum seorang pemain mengambil keputusan apa setelah menerima bola, dia harus mengamati dulu situasi seperti apa yang sedang berada di sekitarnya. Di mana posisi kawan, di mana posisi lawan, ataupun di mana ruang kosong yang tersedia.

Pemain akan selalu mengambil keputusan yang menurutnya terbaik, berdasarkan pengamatan yang sebelumnya dia lakukan. Untuk menjadi playmaker (pengatur serangan), memang syarat awal yang dibutuhkan adalah visi (pengamatan) yang bagus. Tapi walaupun bukan seorang playmaker, setiap pemain juga wajib memiliki visi yang bagus.

Visi yang lebih bagus akan membuat seorang pemain menjadi lebih baik dari pemain lain, karena akan membantu dirinya untuk bisa mengambil keputusan yang lebih berkualitas di setiap kesempatan.

Scott Cooper, mantan pelatih Mitra Kukar asal Inggris, tidak segan untuk marah jika setelah membantu serangan, pemainnya kembali ke area sendiri untuk mengambil posisi bertahan dengan membelakangi bola. Menurutnya pemain profesional tidak seharusnya melepaskan pandangannya dari bola sedetik pun. Pemain seharusnya kembali ke area sendiri dengan berlari mundur, sembari terus mengamati apa yang akan dilakukan kiper lawan dengan bola, bukan justru dengan berlari membelakangi bola.

Kesalahan yang dilakukan pemain Mitra Kukar tersebut cukup sering dilakukan juga oleh banyak pemain lain di Liga Indonesia. Kesalahan yang cukup sepele, tapi berdampak besar bila ternyata terus terulang, yang akhirnya membuang banyak kesempatan untuk bisa melakukan taktik high pressing, karena pemain tersebut tidak bisa melihat aksi lawan sebelumnya.

Sebenarnya prinsip sederhana seperti itu sudah seharusnya dipahami oleh para pemain profesional. Level profesional merupakan level tertinggi, di mana permainan akan bergulir paling cepat. Semakin cepat permainan, maka pengambilan keputusan juga harus dilakukan lebih cepat. Untuk bisa mengambil keputusan lebih cepat, maka syarat paling awal adalah dengan para pemain bisa melakukan proses pengamatan yang lebih baik.

Dalam sebuah kesempatan seminar yang diadakan Kickoff Indonesia di Jakarta, Pieter Huistra yang waktu itu menjabat sebagai Direktur Teknik PSSI, menjelaskan jika ada kelemahan mendasar dari pemain-pemain muda yang kita miliki. Setelah berkeliling Indonesia dan mengamati banyak SSB, dia menemukan jika pemain-pemain muda kita ketika mengusai bola terlalu sering menundukkan kepalanya ke bawah hanya untuk melihat bola.

Terkait:  Barcelona 2 - 1 Real Madrid: Barca Menikam Madrid Yang Masih Mencari Bentuk

Menurutnya kebiasaan ini akan membuat kita nantinya kesulitan untuk mengembangkan permainan dengan tempo tinggi. Pemain menjadi kurang bisa untuk melakukan pengambilan keputusan secara cepat, karena mereka terlalu banyak melihat bola daripada mengamati situasi sekitar. Kekhawatiran Huistra ini senada dengan yang pernah diucapkan oleh Johan Cruyff, “Di area sempit pemain harus mengambil keputusan dengan cepat. Pemain bagus tapi lambat mengambil keputusan, dia akan jadi pemain yang buruk.”

Sebenarnya kita sangat beruntung dengan dianugerahi cukup banyak talenta pemain yang jago ketika melakukan dribbling. Dulu Timnas bahkan sempat mendapatkan julukan Brazil-nya Asia Tenggara oleh media asing karena hal ini. Dengan kaki-kaki yang lebih pendek, pemain kita bisa melakukan footstep dengan lebih cepat dan memungkinkan untuk lebih sering menyentuh bola dalam waktu singkat daripada pemain negara lain.

Tapi sayangnya kelebihan ini seringkali gagal dimaksimalkan oleh pemain untuk menghasilkan sesuatu yang signifikan di dalam pertandingan. Bukan barang baru jika pemain kita bisa dengan cantik meliuk-liuk melewati beberapa pemain lawan, tapi di aksi terakhirnya dia justru kehilangan bola dengan mudahnya.

Kita bisa menyebut pemain-pemain kita memaksakan hal yang tidak perlu, atau juga mereka kurang matang dalam mengambil keputusan. Pemain-pemain ini mungkin memiliki skill dan talenta yang bagus, tapi tanpa visi yang baik akan situasi rekan atau lawan di sekitarnya, kelebihan mereka justru berubah menjadi suatu kelemahan.

“Seorang pemain juggling di tengah pertandingan, sedang empat bek lawan bisa berlari kembali ke posisinya, dan orang-orang bilang dia pemain bagus. Saya bilang pemain itu seharusnya bekerja di sirkus,” ujar Cruyff mengkritisi pemain berskill tinggi namun tidak bisa mengambil keputusan dengan baik.

Penerapan Dalam Taktik

Bagi pelatih, pengambilan keputusan yang baik dari para pemain adalah segalanya. Oleh karena itu, sekarang latihan yang tidak memiliki konteks dengan sepakbola dianggap sudah mulai usang. Semua jenis latihan sebisa mungkin juga dibumbui untuk menstimulus pemain agar bisa membuat keputusan yang lebih baik di lapangan. Begitupun latihan yang dimaksudkan untuk menggenjot fisik pemain, sekarang juga dilakukan dengan memakai bola.

Tidak berhenti di situ, pelatih juga bisa menyusun taktik yang diharapkan nanti akan membantu pemainnya untuk membuat keputusan di lapangan. Bantuan akan berupa mengatur posisi pemainnya, agar nanti pemain bisa lebih mudah dan cepat untuk bisa melihat satu sama lain. Pemain memang masih harus mengambil keputusan sendiri, tapi pelatih bisa membantu agar proses ini lebih gampang dengan memudahkan pemain tersebut untuk bisa menemukan rekannya.

Contoh paling sederhana adalah pemakaian tiga gelandang tengah daripada hanya memakai dua gelandang saja. Lebih banyak rekan yang berposisi lebih dekat diharapkan akan membantu memudahkan pekerjaan para gelandang di area tengah. Lebih banyak rekan berarti juga akan lebih mudah bagi seorang gelandang untuk menemukan rekan yang bebas dan bisa lebih cepat untuk memindahkan bola bila situasi mendesak.

Terkait:  Manchester United 1 - 0 Arsenal: United Membendung Di Tengah Lalu Drop Deep

Kita juga sering mendengar jika rahasia Barcelona bisa mendominasi ball possession sedemikian hebat adalah begitu fleksibelnya mereka dalam membentuk posisi segitiga antar pemain di manapun area bola berada. Segitiga-segitiga yang dibentuk oleh tim Catalan tersebut juga sebenarnya representasi dari pentingnya pengamatan pemain dalam upaya untuk meningkatkan kualitas proses pengambilan sebuah keputusan.

Dalam bentuk segitiga, ada tiga pemain yang akan berada dalam posisi saling berhadapan satu sama lain. Jika satu pemain sedang menguasai bola, dia akan memiliki dua opsi umpan kepada rekannya. Jika lawan menutup satu opsi umpan, pemain kita masih memiliki satu opsi rekan bebas yang lain. Dalam prosesnya setiap aksi dari ketiga pemain dalam segitiga ini bisa dilakukan dengan sangat cepat, karena mereka memang saling berhadapan.

Jika tiga pemain yang membentuk segitiga ternyata belum cukup dan masih bisa ditutup lawan, pelatih bisa mengupayakan timnya membentuk diamond (berlian) dengan memakai empat pemain. Sama seperti bentuk segitiga, empat pemain dalam posisi diamond juga akan memudahkan setiap pemain untuk bisa saling melihat satu sama lain.

Selain membantu visi pemain melalui posisi mereka, pelatih juga bisa memberikan instruksi khusus tentang apa yang harus pemain lakukan ketika menguasai bola. Contoh paling gres bisa dilihat dari apa yang dibangun Maurizio Sarri, baik ketika masih melatih Empoli atau juga sekarang di Napoli.

Pondasi awal Sarri di Empoli memakai formasi 4-3-1-2 (4-4-2 diamond) untuk membuat keempat gelandangnya bisa saling berhadapan. Setelah para pemainnya diposisikan untuk bisa saling terlihat, pelatih yang dulu seorang bankir ini membatasi setiap aksi pemainnya agar tidak mengubah arah (berputar) terlalu drastis ketika bola sedang berada di kakinya.

Tanpa pemain mengubah arah terlalu drastis, Sarri bisa mengurangi kesempatan lawan untuk melakukan tackle terhadap pemainnya. Jika pemain ingin berputar, dia harus memindahkan bola ke rekannya terlebih dahulu, memutar badannya ke arah yang diinginkan, kemudian dia bisa meminta bola lagi.

Cara ini juga memberikan keuntungan bagi sang pemain untuk memiliki kesempatan melakukan observasi terhadap situasi didepannya secara lebih leluasa sebelum akhirnya dia menerima bola lagi. Baik di Empoli ataupun di Napoli, Sarri berhasil membangun tim yang sangat bagus dalam hal penguasaan bola.

Pendekatan yang dipakai Sarri ini juga mampu meningkatkan secara drastis setiap pengambilan keputusan yang dilakukan pemainnya. Bersama Napoli memang dia tidak bisa lagi memakai diamond karena skuadnya saat itu memiliki stok winger berlebih. Dia mengadaptasikan sistemnya dengan memakai formasi 4-3-3, namun masih dengan cara bermain yang sama. Dengan cara ini, musim lalu pelatih berusia 57 tahun ini berhasil membawa Napoli menjadi pesaing terberat Juventus dalam empat musim terakhir di Serie A.

Menjadi Pemain Terbaik

Terkait:  Barcelona 1 - 1 Atletico Madrid: Duel Taktik Level Top Di Laga Penentuan Gelar

Cukup beruntung bagi pemain yang memiliki pelatih yang memahami pentingnya pengamatan (visi) pemain seperti di atas untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan mereka. Tidak semua pelatih akan melakukannya dan ada beberapa di antaranya bahkan tidak menganggapnya penting.

Tapi walaupun sudah memiliki pelatih atau sedang berada di klub yang mengerti hal ini, beberapa pemain mengembangkan metode untuk meningkatkan visi mereka sendiri. Pemain-pemain seperti inilah yang nanti akhirnya kerap memisahkan dirinya dari pemain berkelas standar pada umumnya. Mereka mengembangkan dirinya sendiri untuk menjadi seorang juara.

“Saya bisa bermain di mana saja sesuai kemauan pelatih,” kata Stephan El Shaarawy ketika masih bermain di AC Milan. “Tapi jika boleh memilih, saya akan lebih nyaman ketika bermain sebagai winger. Dari posisi tersebut saya bisa melihat ke seluruh lapangan agar bisa melihat posisi setiap rekan atau lawan.”

Pemain yang sekarang bermain di AS Roma tersebut menjelaskan keunggulan posisi winger atas sebuah visi daripada pemain di posisi lain. Dalam prakteknya, visi akan situasi di lapangan memang sangat penting buat El Shaarawy. Dia sering dimainkan sebagai winger kiri walaupun kaki terkuatnya adalah kaki kanan, yang artinya dia akan lebih banyak melakukan gerakan cutting inside jika sedang menguasai bola.

Bisa mengetahui posisi rekan dan lawan dengan lebih baik akan membantunya mengambil keputusan untuk melakukan dribbling, crossing ataupun menunda penetrasi serangan dengan backpass. Jika sedang tidak menguasai bola, dia juga bisa lebih tepat untuk memutuskan apakah harus bergerak ke tengah dan berganti peran menjadi finisher, atau tetap melebar sebagai winger untuk membantu proses build up dengan memperluas area permainan.

Jika seorang winger memiliki kelebihan atas posisinya seperti yang dijelaskan El Shaarawy di atas, tidak demikian dengan seorang gelandang. Posisi di area tengah permainan pastinya akan lebih kompleks daripada di flank, karena lawan bisa mendekat untuk melakukan pressing dari berbagai arah. Oleh sebab itu pengamatan yang baik menjadi modal wajib untuk setiap gelandang.

Toni Kroos biasa memilih posisi di halfspace sebagai area terbaik untuk melakukan observasi situasi permainan. Andrea Pirlo biasa selalu memindahkan bola ke para bek tengah di belakangnya terlebih dahulu agar dia bisa mendapatkan kesempatan untuk mengambil posisi dengan sudut pandang terbaik atas situasi di area depan.

Sedangkan Xavi Hernandez, seperti pada cuplikan video youtube di bawah, bisa menoleh ke sekelilingnya sampai delapan kali dalam lima detik hanya untuk mendapatkan update terbaru dari posisi kawan dan lawan di areanya. Dia akan terus melakukan hal itu sepanjang 90 menit di setiap pertandingan.

Pemain-pemain ini mengetahui jika visi (pandangan) sangat lah penting untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Dengan caranya masing-masing, mereka bisa menjadi yang terbaik.

Apa Pendapatmu?