List of feeds URL

Mengontrol Tempo: Memakai Momentum Memanen Gol

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Di artikel sebelumnya kita membahas bagaimana memakai tempo cepat untuk bisa mendominasi pertandingan. Tapi dominasi masih sekedar dominasi, tim masih belum bisa disebut sebagai pemenang hanya dengan mendominasi pertandingan. Tidak peduli berapa lama kita bisa menguasai bola, berapa banyak umpan yang bisa kita lepas, hasil akhir pertandingan akan tetap dihitung dari gol yang bisa kita lesakkan.

Ini adalah artikel kedua dari topik Mengontrol Tempo. Artikel pertama bisa dibaca klik disini.

Dominasi sering dianggap sebagai tanda-tanda kemenangan, ciri-ciri sebuah tim memang tampil lebih baik. Jika kita menguasai pertandingan dan menang, semua menganggap hal itu memang sudah sewajarnya. Tapi jika ternyata justru berakhir dengan kekalahan, banyak yang bilang kita tidak sepantasnya kalah. Itulah sepakbola bila dilihat dari kacamata awam, tapi rumus itu tidak selalu berlaku di lapangan.

Jika diambil contoh dari pekan terakhir Liga Inggris yang lalu, ternyata bisa ditemukan data yang menarik. Menurut Whoscored.com, dari sembilan laga yang tidak berakhir seri, hanya lima laga yang dimenangkan oleh tim yang memiliki persentase ball possession lebih baik. Sedangkan empat laga dimenangkan tim yang lebih sedikit menyentuh bola, termasuk kekalahan fantastis Liverpool dengan skor 1-6 atas Stoke City.

Hanya didapatkan angka 55% dari tim yang lebih dominan yang akhirnya berhasil meraih tiga poin. Sedangkan sisanya justru harus menelan kekalahan. Dominasi tidak otomatis berujung lebih mudah membuat gol dari sang lawan. Tapi memang data di atas masih bisa menunjukkan jika klub yang lebih dominan masih bisa lebih berpeluang menang.

Jika masih tidak terlalu puas dengan angka di Liga Inggris, data dari pekan terakhir Liga Spanyol ternyata lebih menarik. Dari tujuh laga yang memiliki pemenang, ternyata hanya tiga yang dimenangkan oleh tim dengan penguasaan bola yang lebih baik. Sedangkan empat tim lain yang juga berhasil menang, justru tidak tampil dominan. Persentase dominasi yang akhirnya berujung dengan kemenangan justru menurun drastis di Liga Spanyol, menjadi hanya di angka 43%. Apa yang sebenarnya terjadi?

Apa Itu Momentum?

Seperti halnya di area tengah, di sekitar area kotak penalti lawan juga tetap dibutuhkan kecepatan untuk bisa mencetak gol. Bahkan kecepatan aliran bola yang dibutuhkan relatif harus lebih cepat dari kecepatan di area tengah, karena lawan biasanya lebih rapat jika serangan sudah lebih dekat ke gawang mereka.

Kecepatan yang baik di area akhir serangan ini sering disebut momentum. Jika ternyata bola masuk ke area ini cukup pelan, kondisi tersebut akan sulit untuk dibilang sebuah momentum. Apabila kecepatan aliran bola di awal masuk area ini cukup baik, namun lawan berhasil merespon dengan tepat yang akhirnya membuat tempo aliran bola berubah menjadi lambat, maka sering disebut hilang momentum.

Momentum adalah situasi kunci yang mempermudah mengakhiri serangan untuk menjadi gol. Tempo cepat yang menjadi atribut utama momentum, akan memaksa lawan tidak memiliki banyak waktu berpikir, membuat lawan lebih fokus melihat bola yang datang sangat cepat daripada melihat pemain musuh, memperpendek waktu lawan melihat situasi di sekitarnya, mencegah mereka dengan mudah mengorganisir pertahanan secara tim. Momentum itu seperti arus kejut yang akan membuat pertahanan lawan seketika panik.

Situasi kepanikan ini adalah syarat yang diperlukan untuk melemahkan organisasi pertahanan lawan, karena hampir selalu tim yang bertahan di area yang dalam akan memiliki jumlah pemain lebih daripada tim penyerang. Walaupun lawan memiliki keunggulan jumlah pemain, tapi jika mereka tidak terorganisir, maka besar kemungkinan mereka juga tidak bisa menutup ruang yang ada dengan efektif.

Momentum Dari Serangan Cepat

Jika dilihat dari cara suatu tim bermain, ternyata momentum ada yang memang bisa didapat secara natural, tapi juga terkadang harus dicari, atau jika terpaksa harus diciptakan. Banyak faktor yang akan menentukan proses terbentuknya momentum, termasuk tawar-menawar pendekatan tim sendiri dan tim lawan yang sedang berbenturan di fase tertentu di laga tersebut.

Cara menyerang dengan mengandalkan serangan balik adalah yang secara otomatis akan mendapatkan momentum. Definisi serangan balik akan selalu bersinggungan dengan kecepatan. Serangan balik harus dilakukan dengan cepat, dilakukan langsung seketika bola berhasil dicuri, beradu cepat dengan tim lawan yang mulai menyusun ulang organisasi pertahanan setelah kehilangan bola.

Kita sering melihat tim yang mengandalkan counter attack akhirnya berhasil membuat lebih banyak gol daripada lawan yang terus mengurung pertahanan mereka. Inter Milan di tahun 2010 yang waktu itu dilatih Jose Mourinho, bisa menjadi juara Liga Champions dengan cara bertahan total dan mengandalkan serangan balik di partai final dan semifinal. Taktik ini memberikan Inter dua keuntungan, membuat tempo lawan lambat ketika mengakhiri serangan, sekaligus selalu memberi mereka momentum yang bagus ketika menyerang. Walaupun jumlah peluang lebih sedikit, momentum yang tercipta di setiap serangan membuat peluang Inter lebih efektif untuk menjadi gol.

Tapi serangan balik bukan berarti hak eksklusif buat tim yang hanya sedang bermain drop deep, atau bertahan di area sangat dekat gawang sendiri saja. Serangan balik juga bisa didapat dari situasi lain, asalkan kita bisa mencuri bola dari lawan yang sedang dalam fase menyerang dan sudah masuk area kita. Yang terpenting adalah inisiatif awal setelah mendapat bola, yaitu untuk langsung cepat menekan pertahanan lawan yang belum terorganisir, maka momentum tetap akan didapat.

Terkait:  Goals Dan Highlight AFF U19: Indonesia 2 - 1 Myanmar

Situasi yang sama juga terjadi jika kita bisa merebut bola di area lawan, baik itu setelah melakukan high pressing atau pun counter pressing. Situasi yang sering disebut fast break ini juga sama menggunakan kecepatan untuk memanfaatkan ketidak siapan pertahanan lawan agar mendapatkan momentum. Dibandingkan serangan balik, fast break justru relatif lebih efektif karena posisi awal serangan yang dilakukan sudah berada di area lawan. Jarak dengan gawang lawan yang lebih dekat daripada fase counter attack, membuat resiko bola hilang relatif lebih rendah.

Fast break dulu adalah andalan  Jurgen Klopp buat timnya, Borussia Dortmund, yang dirangkai dengan counter pressing andalannya yang dikenal dengan Gegen Pressing. Pep Guardiola baik itu di Barcelona maupun Bayern Munchen, juga secara intensif melakukan counter pressing untuk sering mendapatkan fast break. Di Indonesia, Gresik United juga kerap mengandalkan fast break hasil counter pressing, yang akhirnya membawa mereka memimpin klasemen ISL 2015 sebelum kompetisi dihentikan.

Dua taktik di atas tergolong mudah untuk menemukan momentum, karena memang menghajar lawan langsung ketika mereka masih mengawali transisi ke fase bertahan. Jika tim mengawali serangan tapi lawan sudah dalam fase bertahan, ini yang lebih susah untuk mendapatkan momentum. Tapi bukan berarti momentum tidak bisa ditemukan, hanya proses untuk mendapatkannya yang lebih panjang dan caranya berbeda-beda, tergantung bagaimana cara lawan bertahan.

Menemukan Momentum Melawan High Pressing

Bertahan dengan memakai strategi high pressing orientasi utamanya yaitu untuk secepatnya merebut bola, dengan memberi tekanan kepada pemain lawan yang sedang menguasai bola, sehingga memaksa mereka melakukan kesalahan. Jadi high pressing akan selalu dieksekusi secara agresif di area lawan. Ciri utama bisa dilihat dari garis pertahanan yang sangat tinggi, bahkan bisa sampai garis tengah, untuk menopang agar para striker mempunyai akses dekat dengan bek tengah musuh untuk melakukan pressing.

Seperti disebutkan sebelumnya, high pressing bisa berhadiah sangat manis. Tim yang memakai cara ini bisa langsung mendapatkan momentum jika sukses mencuri bola dan melanjutkannya dengan fast break. Tapi keuntungan ini juga harus dibayar dengan resiko yang setimpal. Garis pertahanan yang harus tinggi, juga menawarkan momentum kepada musuh jika berhasil lolos dari pressing mereka. High pressing memang menawarkan perang terbuka bagi kedua kesebelasan.

Ketika melawan tim yang memakai high pressing, kesempatan memperoleh momentum bisa terjadi jika para pemain depan bisa mendapatkan bola dan langsung menekan bek lawan yang sedang sangat jauh dari gawang. Semakin cepat bola ke depan juga semakin baik, karena jika backline musuh terlanjur turun, maka momentum juga bisa gagal didapat.

Eksekusi high pressing sendiri bisa berbeda-beda oleh tiap tim, begitu juga efektifitas, intensitas dan kualitas yang dihasilkan. Cara untuk menghadapinya juga bisa berbagai macam, tergantung tim tersebut mau meladeni dengan bola pendek agar bola tetap di kaki jika lawan akhirnya menyerah turun, atau dengan cepat mengirim bola ke depan, jika tidak mau mengambil resiko kehilangan bola di posisi yang terlalu dekat dengan gawang sendiri.

Jika yang diharapkan adalah momentum, maka pilihannya adalah mencari cara agar bola lebih cepat ke depan. Maka tim harus memainkan umpan yang lebih panjang daripada bermain lambat dengan umpan pendek. Tapi akurasi akan menjadi kendala, karena semakin jauh target umpan maka akurasi juga akan menurun yang akhirnya bola justru bisa hilang. Agar bisa mendapatkan momentum di situasi ini memang harganya sedikit mahal. Tapi masih ada solusi yang bisa diaplikasikan jika ingin meningkatkan akurasi umpan panjang.

Syarat pertama, umpan harus diusahakan mengarah diagonal daripada vertikal. Umpan vertikal sangat sulit buat rekan yang menerima dan sebaliknya sangat memudahkan bek lawan yang menjaganya untuk melakukan antisipasi. Posisi membelakangi target gawang tidak menguntungkan buat penerima bola, butuh waktu lebih banyak untuk berbalik, sekaligus mengijinkan lawan sangat agresif melakukan pressing. Umpan diagonal akan lebih memudahkan, karena sudut posisi pemain yang menerima bola bisa langsung mengarah ke depan. Ini akan mengurangi agresifitas lawan, yang akhirnya lebih meningkatkan akurasi.

Syarat kedua yaitu dengan juga menyiapkan pemain lebih di tempat jatuhnya bola untuk berduel memenangkan second ball, atau bola liar yang sering ditemui setelah terjadi duel heading. Jika umpan masih bisa dijangkau lawan, bukan berarti bola sepenuhnya lepas, karena masih tergantung clearence lawan sempurna atau tidak. Merebut second ball masih jarang dianggap serius oleh banyak pelatih, tapi sebenarnya sangat penting untuk melakukan proses recovery ini untuk mengantisipasi umpan yang tidak terlalu akurat.

Membongkar high pressing dengan umpan diagonal dan dukungan untuk second ball

Membongkar high pressing dengan umpan diagonal dan dukungan untuk second ball

Dengan mengaplikasikan dan melatih dua poin di atas, akurasi umpan panjang akan meningkat drastis dan memperbesar kesempatan terjadinya momentum. Area bola yang diterima pemain depan juga bisa dibagi menjadi dua, di depan bek atau di belakang garis pertahanan lawan. Keduanya tergantung setinggi apa garis pertahanan yang disusun lawan dan sejauh apa jarak bek mereka dengan pemain tengahnya.

Seperti di contoh laga final FA Cup antara Arsenal melawan Aston Villa bulan lalu. Villa memakai high pressing, tapi The Gunners bisa sangat sering mengirim umpan diagonal panjang akurat dari area bek kanan ke area sayap kiri dan bola diterima dengan baik di depan bek lawan. Arsenal tidak menyiakan momentum yang tercipta, dengan langsung menekan backline Villa memakai Theo Walcott sebagai runner. Arsenal akhirnya berhak menjadi juara FA Cup untuk kesekian kalinya.

Terkait:  Pergerakan Tanpa Bola: Aksi Penting Yang Sering Diabaikan

Untuk momentum yang didapat dari bola diagonal yang diterima di belakang garis pertahanan lawan, bisa dilihat dari kemenangan Timnas U19 atas Korea Selatan U19 di Gelora Bung Karno. Bergantian Evan Dimas dan Zulfiandi melepas umpan diagonal panjang di belakang backline lawan, ke arah Ilham Udin di kiri, yang kemudian sering unggul beradu cepat dengan bek kanan Korsel. Kecepatan bola masuk yang baik membuat bek Korsel sering panik menutup Ilham sekaligus Evan yang datang dari lini tengah.

Menemukan Momentum Melawan High Block

Bertahan memakai block tinggi merupakan variasi lain dari tim yang ingin bola bisa cepat direbut, tapi menghindari pemainnya secara konsisten melakukan pressing ke semua pemain belakang lawan, yang memang akan sangat menguras tenaga. High block lebih pasif dari high pressing karena orientasi awalnya adalah menunggu musuh untuk naik, jadi bola juga tidak akan cepat dicuri dari musuh.

Tapi biasanya strategi ini dibumbui pressing trap, atau jebakan pressing di beberapa spot yang ditentukan pelatih. Jika bola sampai di spot tersebut, maka fase pressing oleh pemain depan dan tengah akan langsung aktif dan diharapkan bola bisa berpindah ke penguasaan mereka.

Ada beberapa kesamaan antara high block dan high pressing, seperti garis pertahanan yang cukup tinggi dan kombinasi pressing terstruktur di area lawan. Tapi karena diawali lebih pasif, kita akan masih sempat melihat susunan zonal marking rapat di fase awal. Kemiripan ini yang akan membuat cara menemukan momentum untuk menghadapinya juga tidak jauh berbeda.

Justru high block jauh lebih rentan dibongkar daripada high pressing. Kerapatan tiap baris di fase awal, sebelum pressing trap di aktifkan, akan membuat bentuk pertahanan lebih sempit secara vertikal. Kerapatan ini membuat setiap pemain lawan yang masih di depan block, yang di fase awal memang belum menerima pressing, akan lebih dekat juga dengan garis pertahanan mereka. Hal ini membentuk situasi lawan dengan bola yang relatif bebas tanpa pressing, tapi posisinya cukup dekat dengan backline. Akses buat lawan ini tidak ideal, karena posisi yang lebih dekat, menempatkan bola di belakang backline jadi bisa lebih akurat dan momentum juga akan mudah terjadi.

Membongkar high block dengan umpan di belakang bek

Membongkar high block dengan umpan di belakang bek

Contoh kasus bisa dilihat dari pembantaian Barcelona terhadap Bayer Leverkusen di partai Liga Champions tahun 2012 dengan skor 7-1. Hampir semua gol El Barca terjadi dari proses sederhana, umpan dari depan block ke belakang backline Leverkusen dan tiga penyerang cepat sebagai runner yang secara konsisten melahap momentum yang tercipta.

Tapi tidak semua tim memakai high block secara sembrono seperti itu. Banyak tim yang memainkannya lebih fleksibel, dengan garis pertahanan dan block yang bisa turun seketika jika situasi beranjak beresiko tinggi. Mereka menurunkan block untuk mengantisipasi umpan di belakang backline. Bisa juga memang high block sengaja diciptakan untuk memancing umpan panjang dilepas lawan dan bola dicuri setelahnya, dengan syarat bek tetap bisa menyentuh bola terlebih dahulu daripada penyerang lawan.

Tapi memainkan high block yang bisa naik turun ini mengurangi kerapatan di tengah karena defensive line kadang harus agak turun, tidak lagi selalu menopang pressing para pemain terdepan. Jadi high block fleksibel akan lebih sulit untuk diharapkan merebut bola lebih cepat di depan. Melihat situasi ini, banyak tim memakai high block fleksibel tidak difungsikan untuk merebut bola dengan cepat, tapi lebih berorientasi untuk mengontrol tempo menyerang lawan agar tidak terlalu cepat. Memperlambat tempo diharapkan akan menghindarkan lawan akan menemukan momentum ketika menyerang.

Tim-tim level atas banyak yang memainkan high block fleksibel dengan rapi ketika dalam fase bertahan, sebelum akhirnya defensive block benar-benar turun di area akhir. Kita bisa melihat strategi ini dilakukan oleh Chelsea, Atletico Madrid, Real Madrid, Dortmund dan Juventus. Juventus bahkan memainkan cara ini lebih rapi dari Madrid, yang akhirnya membawa mereka ke final Liga Champions.

High block fleksibel Juventus saat menghadapi Madrid dengan backline antisipatif atas umpan di belakang bek.

High block fleksibel Juventus saat menghadapi Madrid dengan backline antisipatif atas umpan di belakang bek.

Madrid yang memang bisa memainkan tempo lebih cepat daripada Juventus, berhasil diredam oleh Bianconerri sejak area tengah, sehingga El Real sulit sekali mendapatkan kecepatan aliran bola yang baik ketika serangan sudah masuk area akhir. Jadi memang akan sulit sekali mendapatkan momentum jika lawan sudah memainkan high block yang fleksibel. Lawan bisa memaksa kita masuk ke area akhir dengan kecepatan yang buruk, sekaligus mereka juga tetap bisa menjaga bentuk pertahanannya dengan baik.

Membuat Momentum Melawan Pertahanan Drop Deep

Usaha menemukan momentum akan lebih rumit jika lawan sudah dalam fase bertahan sangat rendah di dekat gawang mereka. Kesulitan yang terjadi disebabkan serangan sudah sampai ujung lapangan, alias tim tidak mempunyai ruang seluas di area tengah untuk bermain cepat. Jadi sebisa mungkin tim penyerang memastikan aliran bola sudah cepat ketika masuk area akhir serangan, jika tidak maka momentum tidak akan ditemukan.

Terkait:  Sepak Bola Indonesia Yang Hanya Sebatas Rasa

Tapi situasi di atas masih tergantung bagaimana cara lawan mengeksekusi pertahanan rendah mereka. Ada eksekusi yang akan sangat susah untuk menemukan momentum yang bisa menghasilkan peluang bersih. Tapi ada juga  eksekusi lawan yang justru memberi kita momentum secara cuma-cuma.

Cara bertahan yang menguntungkan pihak penyerang adalah drop deep yang juga dibumbui dengan zonal pressing. Mengawali pertahanan dengan pendekatan zonal marking, yang juga diikuti pemain terdekat dengan bola harus melakukan pressing, mencoba merebut bola atau memaksa lawan melakukan kesalahan umpan, dengan harapan bola akan perpindah penguasaan. Disini mereka mengaduk antara pertahanan yang berorientasi kepada ruang, bersamaan dengan orientasi terhadap bola.

Lawan yang bertahan dengan cara ini sangat memudahkan kita untuk menemukan momentum, meski pada saat masuk area akhir kecepatan aliran bola kita tidak terlalu baik. Aktifitas pressing rutin yang dilakukan lawan secara tidak langsung membuat tempo menjadi lebih cepat. Asalkan serangan dilakukan lebih sabar, bisa terus menjaga aliran bola lebih cepat dari pressing lawan, bisa juga memanfaatkan bek tengah yang seringkali di garis tengah juga sebagai opsi umpan, momentum akan datang cepat atau lambat.

Cara bertahan seperti ini sangat mudah dijumpai di Indonesia, baik di ISL maupun di kompetisi di bawahnya. Kita bisa sering melihatnya jika Timnas sedang menghadapi lawan yang levelnya lebih baik dan dijadikan strategi paling awal. Logika yang digunakan, tim akan bisa melindungi gawang sendiri lebih baik dengan drop deep, karena lawan memang lebih bagus. Sedangkan pressing digunakan untuk mencuri bola dan melancarkan serangan balik setelahnya.

Man marking Tinus Pae

Zonal pressing yang sering dilakukan Timnas Indonesia

Alur pertandingan hampir bisa ditebak, Timnas bertahan tapi akhirnya tetap kebobolan. Pelatih terpaksa mengganti strategi lebih menyerang untuk membalas. Tapi Timnas tetap harus gigit jari karena kembali terbentur jika kualitas lawan memang lebih baik, atau sudah paling beruntung jika tidak kemasukan lagi karena sudah bingung antara menyerang dan bertahan.

Problem yang sama tidak akan terjadi dieksekusi pertahanan drop deep yang hanya berorientasi terhadap ruang, yang tanpa dicampur aduk dengan orientasi terhadap bola. Pelatih yang lebih cerdik akan membatasi pressing hanya dilakukan terbatas jika lawan menyerang lewat flank. Tanpa orientasi terhadap bola, yang juga artinya minim melakukan pressing, pertahanan bisa tetap terorganisir tanpa ada pemain harus keluar posisi, terutama di sisi tengah, yang merupakan poros akhir semua serangan.

Ketika pertahanan sudah sangat dalam, hanya berorientasi terhadap ruang merupakan satu-satunya opsi yang harus dipakai, karena sudah berada sangat dekat dengan gawang sendiri. Kesabaran dalam situasi tanpa bola, yang mungkin dalam waktu yang agak lama, adalah kunci kesuksesan fase ini. Jika memang berniat melakukan pressing, ada baiknya dengan cara bertahan yang lain, bukan justru ketika garis pertahanan di titik yang sangat rendah, sehingga nanti tetap memiliki waktu untuk melakukan rekonstruksi bentuk pertahanan lagi jika ternyata gagal.

Menghadapi tim yang sedang bertahan dalam fase drop deep, dengan orientasi hanya terhadap ruang ini adalah yang paling susah untuk menemukan momentum. Mereka hanya menunggu di area akhir serangan, dalam bentuk pertahanan terbaik yang bisa mereka susun, mengintimidasi tim penyerang, menantang musuh untuk mendekat dan masuk jika memang berani kehilangan bola. Jika pun serangan berhasil masuk kotak penalti, masih segerombol pemain bertahan yang di depan gawang untuk menutup arah tembakan.

Pertahanan drop deep dengan orientasi hanya terhadap ruang yang dipakai Juventus

Pertahanan drop deep dengan orientasi hanya terhadap ruang yang dipakai Juventus

Kita bisa melihat praktek pertahanan seperti ini seperti yang dimainkan oleh Italia di laga awal Euro 2012 melawan Spanyol, Inter Milan di saat mereka juara Liga Champions 2010, Chelsea ketika menjuarai Liga Champions 2012. Beberapa tim juga mengkombinasikan cara ini dengan high block fleksibel untuk menurunkan tempo lawan sejak area tengah, seperti ketika Juventus mengalahkan Madrid, atau secara reguler dimainkan oleh Atletico Madrid di semua pertandingan mereka.

Cara bertahan seperti ini sangat kuat karena memaksa lawan tidak memiliki momentum ketika mendapat peluang. Tapi untungnya tidak banyak yang memakainya, serta hanya cocok untuk situasi-situasi tertentu saja. Strategi ini cocok dipakai sejak awal jika memang tim menargetkan hasil seri, tapi tentu saja harus berganti strategi lain kalau ternyata masih kebobolan juga. Situasi lain yang sesuai yaitu ketika sedang mengamankan keunggulan dan tidak masalah menang dengan selisih satu gol. Bertahan dengan model seperti ini akan membuat lawan sangat frustasi.

Jika dikembalikan ke topik kenapa dominasi belum tentu membuahkan lebih banyak gol dari tim lawan, bisa dilihat dari berbagai macam cara lawan bertahan seperti di atas. Jika lawan memakai high pressing atau high block dan dominasi masih bisa dimiliki, maka disinilah dominasi yang sebenarnya. Dominasi dalam situasi ini sangat mungkin berakhir dengan kemenangan, karena cara bertahan lawan mengijinkan terjadinya banyak momentum.

Tapi jika dominasi didapat ternyata dari lawan yang drop deep, apalagi lawan yang drop deep dengan orientasi hanya terhadap ruang, dominasi disini adalah dominasi palsu. Lawan memang tidak tertarik akan bola dan bertahan di posisi sangat rendah. Penguasaan bola memang diberikan secara cuma-cuma kepada tim penyerang, bukan dari hasil memenangi duel sengit sejak dari tengah.

Dominasi boleh dimiliki, tapi untuk mencetak gol dengan lawan yang bertahan seperti ini, nanti dulu. Momentum sangat sulit ditemukan dan peluang bersih sangat sulit didapat. Catatan keunggulan penguasaan bola sudah tidak terlalu berharga di situasi ini, kecuali akhirnya bisa memaksakan terjadinya gol, entah bagaimana caranya.

Apa Pendapatmu?