List of feeds URL

Mengontrol Tempo: Memakai Kecepatan Untuk Tampil Dominan

Defensive-Line2
Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Memainkan sepakbola tempo cepat, yang tidak bisa diikuti lawan yang lambat akan mengantarkan kemenangan. Tapi jika lawan justru bisa memperlambat tempo yang tersaji di lapangan, maka kemenangan bukan hal yang mustahil bagi sang lawan.

Setiap tim mempunyai ritme permainan sendiri sebagai ciri khas masing-masing. Ritme ini merupakan hasil penyatuan karakter dan level skill setiap pemain yang ada di dalam tim. Ada ritme yang merupakan hasil racikan pelatih, tapi ada juga yang memang terbentuk secara alamiah antar pemain. Beberapa pelatih justru percaya pondasi terbaik adalah dengan membiarkan ritme terbentuk secara natural terlebih dahulu sebelum dia menajamkannya.

Ritme yang dihasilkan oleh setiap tim berasal dari perpaduan antara gaya setiap pemain yang memang unik, dengan sistem permainan yang diharapkan. Contohnya seperti dimana pemain tengah biasa memilih posisi, kearah mana kebiasaan para pemain depan bergerak, atau secepat apa pemain yang tanpa bola berlari. Hal-hal tersebut menentukan kemana biasanya arah serangan dan seberapa cepat umpan-umpan yang akan dilepaskan.

Keserasian posisi, pergerakan dan kecepatan umpan setiap personel inilah yang akan membuat bola akan bisa tetap bisa dikuasai dan serangan akhirnya bisa disusun dengan rapi. Dari sini nanti akan diketahui kecepatan konstan dari ritme yang mampu dimainkan oleh tim tersebut.

Benturan Dua Ritme

Tapi pekerjaan setiap tim tidak hanya berhenti disitu karena sepakbola memang dimainkan oleh dua kubu. Masing-masing kesebelasan mengusung ritmenya sendiri. Tapi bagaimana pun tetap  hanya ada satu bola di lapangan. Mau tidak mau, tempo pertandingan akan mengikuti keinginan salah satu tim.

Beruntung bagi pihak yang akhirnya berhasil memaksakan tempo berjalan sesuai yang dipakai timnya. Keserasian permainan timnya bisa terwujud karena game memang sedang dimainkan di tempo yang biasa mereka mainkan. Bola akan mengalir lancar dari kaki ke kaki, sampai akhirnya diharapkan menembus jala gawang lawan. Kecepatan bola berpindah sudah dipahami benar oleh para pemain dan mereka tidak perlu banyak melakukan penyesuaian kecepatan lari atau pun merubah penempatan posisi.

Sebaliknya, bagi tim yang harus bermain di tempo lawan, mereka akan mengalami masalah serius. Mereka akan terancam lebih sering tanpa bola karena harus melakukan proses adaptasi lagi dengan situasi yang ada. Jika perbedaan tempo terlalu signifikan, maka akan lebih sukar buat mereka membalikkan situasi.

Bermain di tempo lawan tidak pernah menyenangkan karena semua pemain harus menyesuaikan lagi cara mereka bermain. Kecepatan umpan dan kecepatan lari dipaksa tidak sama lagi dengan yang biasa mereka gunakan. Hal ini yang sering memicu bola terlepas karena akurasi umpan yang jadi menurun, yang disebabkan ritme sendiri yang berusaha mereka susun, terus tertekan oleh tempo lawan.

Contoh paling mudah ditemui dari situasi ini bisa dilihat dari bagaimana jika Timnas Indonesia bertemu lawan dari luar Asia Tenggara. Akurasi umpan pemain jauh menurun daripada ketika mereka bertemu lawan satu level atau ketika mereka bermain di klub masing-masing di liga. Tempo yang lebih cepat yang dibawa oleh lawan tidak bisa diikuti oleh organisasi permainan Timnas, yang memang tidak terbiasa bermain cepat, yang akhirnya membuat situasi menjadi serba salah dan langsung mengirim umpan jauh ke depan menjadi pilihan paling mudah.

Siapa Yang Akhirnya Akan Menguasai Tempo?

Tim yang bisa lebih banyak menguasai bola akan lebih mudah menguasai tempo, dan bermain di tempo yang dimiliki akan lebih melanggengkan penguasaan bola itu sendiri. Hukum timbal balik ini yang akhirnya dieksploitasi habis oleh Pep Guardiola. Dia membuat timnya terus menguasai bola sangat lama, yang bisa dikatakan dalam takaran intimidatif, yang juga sekaligus akan membuat lawan kesulitan menyusun ritmenya sendiri dan terpaksa harus bermain buruk.

Terkait:  Wajah Baru Lini Tengah Berlian Allegri

Berangkat dari logika ini, membangun pondasi permainan memakai basis penguasaan bola menjadi pilihan banyak pelatih. Jika anak asuhannya berhasil lebih banyak menguasai bola, mereka akan bermain lebih baik, lebih maksimal, karena memang tim akan merasa lebih nyaman daripada lawan. Perasaan nyaman ini muncul karena pemain bisa bermain di dalam game milik sendiri, efek dari kontrol tempo yang sedang berada dalam genggaman.

Dari sini ball possession mulai menjadi acuan apakah permainan sebuah tim dianggap sudah baik atau belum. Banyak pelatih mulai menimang-nimang bagaimana agar bisa melakukan overload, menumpuk lebih banyak pemain di lini tengah, agar bola lebih lama dikuasai. Apalagi kesempatan untuk menang memang lebih besar dengan cara ini.

Tapi sayangnya tidak semudah itu untuk bisa unggul ball possesion. Bagaimana jika sang lawan ternyata juga mengincar penguasaan bola? Apa yang terjadi jika jumlah pemain lebih di lini tengah gagal didapat karena lawan juga melakukan hal yang sama?

Formasi umum yang sekarang banyak dipakai untuk mendapatkan penguasaan bola adalah 4-3-3 atau 4-2-3-1. Skema tiga gelandang awalnya dirasa bisa menaklukkan para pengguna skema dua gelandang. Tapi ketika hampir semua pelatih memakai tiga pemain di tengah, situasi overload bisa gagal didapat dan unggul penguasaan bola tidak lagi menjadi jaminan.

Ide baru mulai mengapung dari para pelatih level elit. Pep Guardiola menyematkan variasi false 9 dalam formasi 4-3-3 miliknya, sehingga bisa mempunyai empat pemain di tengah. Skema 4-4-2 diamond juga bisa jadi pilihan lain karena secara natural sudah memiliki empat pemain di tengah. Carlo Ancelotti pernah lebih ekstrim lagi dengan formasi pohon natal 4-3-2-1 yang menumpuk lima gelandang sekaligus.

Tapi ide di atas hanya sekedar menjadi mimpi bagi banyak tim karena cukup sulit dieksekusi agar bisa dipraktekkan. Peran false 9 ternyata sulit sekali diperankan pemain tanpa kelengkapan skillset dan kecerdasan seperti yang dimiliki Lionel Messi. Sedangkan kesulitan di dua ide lainnya yaitu tidak memakai dua pemain sayap, skema yang jarang sekali diajarkan di level akademi, yang membuat problem justru lebih kompleks bagi banyak tim.

Lebih Cepat Lebih Baik

Namun situasi jumlah pemain yang sama di tengah bukan berarti akan selalu memberikan keseimbangan ball possession bagi kedua kesebelasan. Fakta yang ada menunjukkan jarang sekali dua tim berbagi penguasaan bola di sekitar angka 50% walaupun skor akhir imbang tanpa gol. Ada faktor lain yang bisa menentukan keunggulan ball possession selain superioritas jumlah pemain di lini tengah.

Jawabannya kembali kepada ritme permainan. Tim yang bisa memainkan ritme dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sang lawan, maka mereka akan memenangi duel di lini tengah. Semakin cepat bola bisa dialirkan, semakin sulit juga lawan merebutnya, walaupun jumlah pemain di tengah sama. Sebaliknya bagi tim yang memainkan tempo lebih lambat, maka bola akan lebih cepat terlepas karena lawan lebih mudah melakukan pressing.

Jika persepsi umum yang ada sekarang lebih menyimpulkan tim yang bermain direct football atau counter attack adalah tim yang membawa tempo cepat, maka pengertian tempo cepat di artikel ini lebih kaya dari persepsi itu. Acuan yang dipakai di artikel ini, kecepatan tidak hanya dilihat dari bola yang bergerak ke arah vertikal, tapi juga bola yang ke arah horizontal ataupun diagonal. Jadi bukan hanya dengan mengirimkan umpan jauh ke depan saja yang akan membuat tempo menjadi cepat.

Seperti contoh bagaimana Real Madrid yang dilatih Ancelotti bermain. Selain counter attack sebagai ciri khas, mereka juga bisa menghubungkan dua flank dengan sangat baik ketika dalam fase penguasaan bola. Hanya dengan dua kali umpan datar saja, Madrid bisa menghubungkan kedua flank dengan aliran bola yang sangat cepat. Disini bisa dilihat jika tempo cepat yang mereka hasilkan justru berasal dari umpan horizontal, bukan dari umpan vertikal.

Terkait:  Mengontrol Tempo: Memakai Momentum Memanen Gol

Contoh lain bisa diperhatikan di kecepatan aliran bola di skema ball possession Barcelona atau Bayern Munchen. Jika tidak ada tekanan dari lawan, memang tempo akan melambat. Tapi jika lawan coba merebut bola, kecepatan umpan dari tiap sudut pemain di bentuk triangle yang disusun akan seketika meningkat dan menjadi sangat cepat dengan satu atau dua sentuhan. Kecepatan aliran bola akan  diusahakan terus di atas kecepatan pemain lawan yang melakukan pressing.

Apa yang dilakukan klub-klub di atas memang memiliki perbedaan mindset tentang arah serangan dan arah aliran bola. Madrid lebih suka bermain ke arah horizontal memanfaatkan lebar lapangan. Sedangkan Barcelona dan Munchen  menggunakan arah diagonal, yang bola akan cenderung akan bergerak memutar dalam triangle di area yang kecil. Tapi satu kesamaan dari ketiganya yaitu mereka memakai faktor kecepatan umpan sebagai cara untuk menjaga bola tetap tidak terjangkau oleh lawan.

Mungkin banyak dari kita akan sulit melihat mereka bermain dalam tempo tinggi karena memang level posisi bola tidak terlihat bergerak naik secara vertikal. Tapi yang banyak tidak disadari, kecepatan umpan mereka jauh lebih cepat daripada yang biasa dipraktekkan tim lain. Inilah letak perbedaan yang membuat mereka akan tetap tampil dominan di Liga Champions, walaupun jika mereka harus bertemu tim raja ball possession dari liga negara lain.

Tempo Cepat Menihilkan Jumlah

Jika penjelasan di atas masih terbatas kepada tempo cepat yang membantu memenangi ball possession dengan jumlah pemain tengah sama, bagaimana jika lawan memutuskan menumpuk lebih banyak pemain di tengah dan melebihi jumlah pemain tim kita?

Sukses melakukan overload di suatu area tertentu sekarang menjadi cara yang diandalkan banyak pelatih untuk memenangi duel. Tapi sayangnya overload bukan solusi yang akan selalu berhasil di level tertentu, terutama jika lawan mampu bermain dengan aliran bola lebih cepat daripada milik mereka. Tim yang menguasai tempo lebih cepat masih bisa memenangi duel ini.

Contoh dari situasi ini bisa dilihat ketika Timnas U19 asuhan Indra Sjafri harus meladeni beberapa tim U21 dalam tur nusantara. Beberapa tim berusaha melakukan inisiatif menumpuk pemain lebih banyak di tengah untuk membendung trio Evan Dimas, Hargianto dan Paolo Sitanggang. Situasi yang terbentuk bisa sampai terjadi duel 3 vs 5 di area sentral. Tapi tidak ada satupun yang akhirnya bisa dominan karena trio tengah Timnas tetap bisa memutar bola lebih cepat dari mereka.

Hal yang sama juga terjadi kepada Timnas U23 yang disingkirkan Korea Utara di Asian Games 2014. Walaupun tim Aji Santoso memakai formasi 4-2-3-1, yang memakai tiga gelandang, mereka tetap kalah ball possession dari Korut yang hanya memakai dua gelandang tengah dalam formasi 4-4-2. Korut membuat tempo menjadi sangat cepat dari hampir semua faktor, baik itu passing maupun pressing. Garuda muda seakan sulit menyentuh para pemain lawan walaupun hanya sekedar untuk menjatuhkannya, karena memang kalah cepat. Akhirnya Timnas harus rela tersingkir dengan skor 1-4.

Banyak contoh lain yang bisa diangkat untuk menggambarkan situasi bahwa kecepatan bisa mengalahkan jumlah pemain lebih lawan, terutama ketika dua tim yang berbeda level bertemu. Hal ini dimungkinkan karena memang lapangan terlalu luas kalau hanya dihuni oleh 22 pemain. Apalagi efek samping overload juga akan membuka lubang di area lain. Masih banyaknya area kosong inilah yang menjadi jaminan bahwa tim yang lebih terampil dengan tempo cepat masih akan bisa leluasa menguasai laga.

Terkait:  Spanyol 0 vs 2 Chile: Perubahan Setengah Hati Spanyol Rontok Oleh Smart Pressing Chile

Yang perlu ditekankan disini, overload bukan berarti tidak akan bisa membawa peranan positif. Seperti yang disebut di atas, kecepatan baru bisa dengan mudah menihilkan tim yang berusaha menumpuk pemain di tengah jika memang level kedua tim terpaut signifikan. Jika kualitas kedua kubu tidak terpaut jauh, taktik overload yang efektif akan tetap bisa mengangkat performa tim tersebut.

Tapi apakah tim yang memiliki level yang lebih rendah dan kualitas skill pemain yang kurang memadai tidak akan pernah bisa mengalahkan lawan yang dua atau tiga tingkat lebih baik? Berita baiknya adalah bisa. Pembahasan masalah ini akan coba dijabarkan di artikel kedua untuk topik Mengontrol Tempo.

Tempo Cepat Hasil Dari Skill Atau Justru Sebaliknya?

Tim yang bisa memainkan tempo cepat sebagian besar bisa juga bermain tempo lambat. Sedangkan tim yang bisa bermain tempo lambat, belum tentu mampu jika diharuskan bermain tempo cepat. Dari sini bisa disimpulkan jika tempo yang lebih cepat bisa dimainkan oleh tim yang mempunyai pemain dengan skill yang lebih baik.

Tim akan membutuhkan pemain-pemain yang mampu melepas umpan lebih cepat dan dengan jarak yang relatif lebih jauh namun dengan akurasi yang prima. Pemain juga diwajibkan mampu mengontrol umpan yang datang dengan lebih baik karena bola akan bergulir datang lebih deras. Kecepatan lari juga dibutuhkan untuk mencari posisi yang bagus dan akan terus beradu cepat dengan aliran bola yang diumpan.

Jadi memang dibutuhkan stok pemain dengan skill mumpuni agar bisa memainkan sepakbola tempo cepat. Tapi ini bukan berarti tim yang hanya memiliki pemain dengan kemampuan terbatas tidak akan pernah bisa meningkatkan kecepatan ritme permainan mereka.

Direktur akademi Feyenoord, Stanley Brard, seperti yang ditulis di artikel Kickoff Indonesia, mengungkapkan jika kecepatan adalah kunci untuk mengembangkan pemain yang siap bermain di level atas. Oleh karena itu salah satu visi mereka yaitu dengan mengembangkan pemain berbasiskan pada cepat berpikir, cepat bergerak dan cepat passing demi mendapatkan permainan tempo tinggi.

Pemain dengan skill yang bagus tidak akan bisa didapatkan di tempat yang tidak mengajak mereka bermain cepat, atau yang hanya terbiasa memainkan sepakbola dengan tempo rendah. Hanya dengan sesi latihan, small game atau pertandingan yang selalu memakai aliran bola yang cepat yang akan mengajak pemain ikut berkembang. Dari sini skill pemain akan ikut tumbuh dan membuat mereka akan bisa bermain dengan kecepatan bola yang lebih baik.

Jadi tempo cepat yang akan membentuk skill pemainnya sendiri, bukan justru menunggu pemain mempunyai skill cukup baru tim bisa bermain tempo cepat. Jika pelatih berpikir secara terbalik, maka timnya tidak akan bisa bermain dengan tempo lebih cepat, karena memang skill pemainnya tidak akan meningkat jika terus bermain dalam tempo lambat.

Meningkatkan kecepatan aliran bola sekarang harus berada di daftar kebutuhan nomer satu, terutama bagi tim yang merasa level mereka masih di bawah para rival. Hal ini juga termasuk Timnas dan semua klub di Indonesia, yang secara level permainan masih entah berapa ratus tingkat dari level tim elit dunia. Mulai dari akademi dan SSB, mindset tentang kecepatan aliran bola juga sudah harus menjadi prioritas.

Tapi satu yang harus tetap diingat, yang dimaksud dengan bermain tempo cepat bukan selalu dengan melakukan long pass langsung ke depan.

 

Baca juga artikel kedua Mengontrol Tempo: Memakai Momentum Memanen Gol

3 Responses to Mengontrol Tempo: Memakai Kecepatan Untuk Tampil Dominan

  1. Ganesha says:

    “Jadi tempo cepat yang akan membentuk skill pemainnya sendiri, bukan justru menunggu pemain mempunyai skill cukup baru tim bisa bermain tempo cepat. Jika pelatih berpikir secara terbalik, maka timnya tidak akan bisa bermain dengan tempo lebih cepat, karena memang skill pemainnya tidak akan meningkat jika terus bermain dalam tempo lambat.”

    SETUJU SEKALI!! MUSUH dari latihan tempo tinggi adalah KELELAHAN! Dalam kelelahan, sulit pemain bermain sepakbola tempo tinggi. Teori latihan mengatakan makin tinggi intensitas, maka makin rendah volume. Untuk itu konsekuensi logis jika ingin lakukan latihan tempo tinggi, adalah mengurangi durasi dan frekuensi latihan (volume). Latihan durasi lama dan atau double session per day misalnya secara alamiah akan mencetak SLOW FOOTBALL!

Apa Pendapatmu?