List of feeds URL

Membedah Timnas U19 Sebelum Piala Asia

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Empat laga ujicoba sudah dilakoni Timnas Indonesia U19 di Spanyol. Tidak satupun pertandingan dimenangkan oleh skuat Garuda jaya, tapi sepertinya memang itu bukan target yang ingin diraih. Lantas apa saja pelajaran yang didapat dan bagaimana nanti kiprah mereka di Piala Asia U19 2014 Myanmar dua minggu lagi?

Dari keempat laga yang dijalani di semenanjung Iberia, hanya dua laga awal yang bisa dikatakan cukup seimbang dari segi materi pemain. Sedangkan dua laga terakhir terbilang cukup timpang. Barcelona B yang dihadapi di laga ketiga menurunkan dua pemain senior, Luiz Suarez dan Thomas Vermaelen. Sedangkan Real Madrid C yang ditantang sehari setelahnya, hanya menghadapi sebagian besar pemain lapis kedua dari Timnas U19.

Hal itu berdampak kepada hasil akhir pertandingan. Garuda jaya dihabisi di dua game terakhir tersebut. Namun mereka bisa unjuk gigi di dua laga awal, ketika hanya kalah tipis saat melawan Atletico Madrid dan berhasil menahan imbang Valencia di dua laga awal.

Jika dilihat dari fakta di atas, maka tim asuhan Indra Sjafri tersebut tidaklah mengalami penurunan level yang signifikan. Setidaknya Timnas U19 tidak sekacau yang dibayangkan selepas mimpi buruk saat mengikuti Hassanal Bolkiah Trophy di Brunei Darussalam Agustus silam.

Tapi selain itu, tim ini sekaligus masih gagal mengembalikan level terbaik sampai rangkaian ujicoba terakhir. Setidaknya mereka belum seapik tahun lalu ketika perkasa atas Korea Selatan. Namun hal ini masih bisa diperdebatkan karena kualitas lawan kali ini lebih bagus.

Sistem Default 4-3-3

Hal yang sepertinya sudah pasti di Piala Asia mendatang adalah Garuda jaya akan tetap memakai 4-3-3 sebagai formasi dasar. Skema ini juga masih akan dihuni minimal 90% starter yang tahun lalu berhasil mengalahkan Korea Selatan di Gelora Bung Karno.

Indra Sjafri hampir selalu menurunkan sebelas pemain yang sama di tiga laga awal selama di Spanyol. Sebelas pemain ini juga yang sebelumnya selalu kita jumpai sebagai starting line-up ketika Timnas menjalani ujicoba internasional selama tahun ini.

Asalkan tidak cedera, posisi mereka tidak bisa diganggu gugat. Sampai sekarang Indra Sjafri belum bisa menemukan pemain lain dengan level yang sama untuk sistem yang dipakainya. Situasi yang cukup memprihatinkan, mengingat Timnas sudah keliling Indonesia dengan gelaran berjudul Tur Nusantara, yang konon diadakan untuk mencari pemain baru.

Tetap memakai sistem yang sama di rangkaian ujicoba terakhir sebelum start Piala Asia menunjukkan bahwa Timnas tidak akan berjudi dengan skema baru sejak awal kickoff selama event tersebut. Beberapa keluhan tentang kurangnya variasi permainan ataupun lawan yang sudah membaca cara main tim ini, mungkin saja nanti masih akan tetap menghantui.

Apakah dengan tetap memakai skema dasar lama akan membuat tim yang dikapteni Evan Dimas ini mudah ditebak dan gagal di Myanmar?

Bisa iya, bisa juga tidak. Setiap orang tahu betul bagaimana cara Barcelona memainkan tiki-takanya, tapi hanya segelintir tim yang sampai sekarang beruntung bisa mengalahkan mereka. Tahu cara main lawan dan menganalisa mereka setiap laga itu mudah. Tapi melakukan analisa dan memberikan respon yang tepat di tengah laga itu hal lain. Dinamisnya permainan sepakbola membuat setiap perubahan detail kecil di lapangan bisa sangat menentukan.

Garuda jaya sendiri masih sangat mungkin bisa merengkuh sukses di Piala Asia nanti, walaupun masih dengan sistem yang lama. Namun hal ini bisa terjadi dengan syarat jika mereka mampu menyentuh lagi top level yang ditunjukkan selama fase kualifikasi tahun lalu. Kita akan mendiskusikan apa saja unsur yang membuat tim ini kesulitan kembali ke permainan terbaik sampai sekarang.

Perubahan Lini Tengah

Salah satu dari sedikit perubahan di starting eleven Timnas U19 adalah suksesnya Paulo Sitanggang membuat Zulfiandi menjadi penghangat bangku cadangan. Peningkatan level Paulo setahun ini luar biasa pesat, dan mungkin juga sukses menjadi satu-satunya pemain yang berhasil menaikkan levelnya secara signifikan. Tidak mengherankan jika akhirnya dia menjadi pilihan utama pelatih.

Zulfiandi sendiri tidak bisa dikatakan mengalami penurunan level, karena setiap diberi kesempatan bermain, dia tidak pernah kehilangan kemampuannya mengatur ritme. Momen pemain asal Aceh tersebut mulai kehilangan posisi diawali ketika Timnas menjalani tur Timur Tengah, yang kala itu dia terlihat cukup tertekan ketika menghadapi high up pressing Oman.

Terkait:  Catatan Laga Timnas U19 Lawan Laos U19

Perubahan komposisi lini tengah ini membuat Timnas tidak lagi bermain dengan cara yang sama. Karakter Zulfiandi yang lebih bermain horizontal dan digantikan Paulo yang lebih vertikal, membuat tim ini hampir akan selalu bermain murni memakai single pivot selama 90 menit.

Tipikal yang lebih vertikal ini juga yang membuat Paulo lebih efektif ketika menghadapi lawan yang memakai high up pressing, karena bola bisa lebih cepat dialirkan ke depan untuk mengurai pressure, sekaligus mengurangi resiko fastbreak lawan jika bola terlepas di depan kotak penalti sendiri.

Namun perubahan ini membawa dampak buruk yang mungkin kurang disadari tim pelatih. Tidak menurunkan Zulfiandi berarti hanya membiarkan Hargianto sendiri di depan empat bek.

Hargianto adalah distributor bola yang mumpuni. Kemampuan umpan pemain kelahiran Jakarta tahun 1996 tersebut bisa menjangkau semua rekannya, sejauh apapun mereka berada. Tipikal deep lying playmaker inilah yang membuat dia tidak tergantikan posisinya.

Tapi sama dengan pemain bertipe serupa, semisal Andrea Pirlo atau Steven Gerrard, Hargianto bukanlah gelandang bertahan impian untuk banyak bek tengah, apalagi hanya seorang diri di sistem yang cuma memakai dua bek tengah.

Hargianto bukan tipe pemain yang akan mati-matian berusaha cepat turun untuk melapisi bek tengah, setelah sebelumnya naik melakukan pressing bersama Evan dan Paulo. Selama ini sistem pressing yang bagus di tengah selalu bisa menutupi hal ini. Tapi ketika lawan lebih superior, kelemahan ini langsung menganga.

Di saat melawan tim yang suka menggeser strikernya untuk menarik keluar bek tengah Timnas, seperti ketika melawan Barcelona, role yang dimainkan Hargianto justru menjadi titik lemah. Di babak pertama Suarez dan Alen Halilovic dengan santai terus menusuk lewat tengah.

Di situasi seperti inilah Indra Sjafri kehilangan sosok Zulfiandi yang kali ini digantikan Paulo Sitanggang. Faktanya, Zulfiandi lah yang lebih sering bertarung di kotak penalti sendiri daripada Hargianto, ketika mereka mengalahkan Korea Selatan.

Gelandang bertahan yang senantiasa dekat dengan bek tengah, berfungsi untuk mempertahankan defensive shape ketika salah satu dari empat bek naik melakukan tracking atau pressing pemain depan lawan. Bek yang naikpun bisa lebih fokus dan agresif untuk menutup lawan, tanpa harus takut pos aslinya berlubang karena ada sang gelandang yang menutupnya.

Hilangnya Opsi Umpan Ke Depan Sebagai Ciri Khas

Ball possession adalah inti dari sistem lama Indra Sjafri yang aplikasinya selalu diawali dengan build up from the back, mengalirkan passing pendek mulai dari kiper hingga ke tengah. Kecanduan berlebih atas penguasaan bola ini melekat menjadi karakter dan sesuatu yang positif karena terus menghasilkan kemenangan.

Namun ketergantungan ini berubah menjadi bencana ketika sistem itu tidak berjalan. Semuanya dimulai dari game melawan Oman dan diikuti laga berjumpa Myanmar, yang kedua tim tersebut melakukan high up pressing disertai mendorong kedua wingernya ke tengah untuk menutup trio lini tengah Timnas.

Lawan memaksakan situasi 5 vs 3 di tengah dan bola selalu akhirnya terlepas. Situasi ini memburuk karena tanpa ball possession yang cukup, tim kehilangan ritmenya sendiri. Kehilangan ritme membuat tim tidak nyaman, yang juga secara tidak langsung bisa berefek ke buruknya penyelesaian akhir. Hal ini mungkin berbeda jika mereka terlatih untuk bermain lebih direct, sehingga ball possession minimal bukanlah halangan.

Indra Sjafri tetap berusaha mengusahakan sistem lama bekerja dengan beberapa perubahan. Sejak laga kedua melawan Myanmar sampai sekarang, dua wide forward (Ilhamudin dan Maldini Pali) akan turun lebih jauh ke tengah untuk menjemput bola dan menjaga superioritas jumlah pemain di area sentral. Modifikasi ini berhasil mengembalikan ritme dan mereka bermain lebih baik dari laga pertama, sebelum akhirnya kartu merah Ichsan Kurniawan membuyarkan hal itu.

Setiap perubahan di lapangan akan membawa efek samping, begitu juga dengan resep baru Indra Sjafri tersebut. Walaupun berhasil membantu lini tengah, jauh turunnya dua winger ini berakibat berkurangnya opsi forward pass ke final third. Sudah lama tidak kita lihat lagi through pass khas dari Evan atau Hargianto ke final third, karena memang hanya tinggal Muchlis Hadi sendiri terkunci di depan.

Terkait:  Tiga Lapis Pertahanan Atletico Madrid Dan Pragmatisme Diego Simeone

Ilhamudin sepertinya masih bisa beradaptasi dalam sistem seperti ini, walaupun sekarang dia lebih sering terkunci di flank jika berhasil membawa bola naik. Tapi Maldini justru meredup dan tidak berkembang karena powernya tidak sebesar Ilham untuk konstan naik turun.

Maldini Pali adalah malaikat maut jika sering dapat bola sejajar defensive line dan lawan berada di sampingnya, walaupun dua sampai tiga pemain sekalipun. Namun terlalu sering bermain di tengah yang pemain lawan sering mengitarinya, mungkin masih terlalu rumit untuk pemain kelahiran Mamuju ini, setidaknya sampai saat ini.

Tur Spanyol ini juga menunjukkan ada cara lain untuk mematikan modifikasi dua winger yang turun ini. Sesaat setelah tertinggal, Atleti meningkatkan level pressingnya dan mulai menginstruksikan fullbacknya untuk terus tracking Ilham dan Maldini, walaupun sampai ke tengah. Hal ini dimungkinkan karena fullback Timnas sendiri terlalu jauh di belakang dan minim indikasi mengancam dengan overlap. Situasi ini membuat Timnas tetap gagal mendapat superioritas jumlah di tengah.

Cara ini memang membuat Timnas gagal menarik lebar pertahanan lawan. Stretching wide pertahanan lawan ini penting untuk tim yang memakai ball possession based, sehingga lini tengah tidak terlalu penuh dengan pemain lawan.

Sebagai contoh seperti sistem yang dipakai Barcelona, mereka memilih membuat striker tengah turun menjadi false 9 daripada winger bergerak ke posisi lain. Sistem ini mirip pendekatan lama Indra Sjafri.

Contoh yang lebih mirip dengan sistem Timnas sekarang bisa dilihat di Manchester City. The Citizen memakai pendekatan yang agak mirip dengan dua wingernya masuk ke tengah ketika menguasai bola. Namun mereka tidak membatasi hanya sampai tengah, namun membiarkan mereka liar bisa ke area manapun, sehingga fullback lawan enggan melakukan tracking. Selain itu fullback city selalu menggantung di depan yang berfungsi menarik melebar pertahanan lawan.

Positioning Fullback

Jika dicermati lebih lanjut, permasalahan awal yang membuat Indra Sjafri melakukan modifikasi ini adalah trio tengah Garuda jaya cukup tertekan karena lawan juga memasukkan winger mereka ke tengah melakukan pressing. Situasi lawan jadi terlihat cukup menguntungkan dengan lebih jumlah pemain di tengah.

Tapi hal ini sebenarnya bisa dihindari karena secara natural harusnya winger lawan lebih bertugas melakukan marking terhadap fullback Timnas. Karena Putu Gede dan Fatchurohman selalu terlalu di belakang hampir sejajar dengan dua bek tengah ketika melakukan build up attack, winger lawan mendapat angin untuk melepas marking terhadap mereka dan mulai bergerak ke tengah. Atleti cepat membaca situasi ini setelah tertinggal, sedangkan Barcelona melakukannya sejak kick off.

Pengambilan posisi oleh fullback ini sama sekali tidak memprovokasi winger lawan agar tidak ke tengah. Keputusan ini mungkin dimaksudkan agar mereka bisa cepat membantu bek tengah jika bola terlepas. Tapi sampai saat ini tidak terlalu efektif, karena sering kali bola hilang di area tengah dan posisi mereka di sisi lapangan tidak banyak membantu.

Aplikasi yang lebih efektif untuk masalah ini sudah dipraktekkan banyak klub eropa, dengan menarik turun gelandang bertahan dan membentuk triangle dengan bek tengah. Sedangkan fullback naik lebih jauh untuk menarik lebar pertahanan lawan, sekaligus mendapat sudut passing yang lebih bagus. Cara ini efektif karena segitiga terbalik yang terbentuk di belakang merupakan bentuk terkuat untuk maintain ball possession.

Sampai sekarang Garuda jaya belum memakai cara ini, tapi lebih memilih menurunkan dua winger mereka. Memakai cara ini seharusnya lebih efektif untuk bisa lepas dari pressing lawan yang sangat agresif sekalipun, yang selama ini menjadi musuh terbesar mereka. Sekaligus tetap bisa mendapat opsi forward pass dan memaksimalkan potensi Ilham dan Maldini.

Adaptasi Taktik

Jika dirunut dari piala AFF 2013 sampai sekarang, bisa diambil pola bagaimana evolusi tim asuhan Indra Sjafri ini berlangsung. Bagaimana ketika Zulfiandi mengambil tempat Al Qomar dan saat Paulo Sitanggang mengambil posisi Zulfiandi

Setiap keputusan bergantung bagaimana form pemain saat itu dan dia tidak akan terusik selama tidak bermain buruk. Yang artinya mereka akan tetap bermain dengan cara yang sama, bagaimanapun cara lawan bermain.

Terkait:  Revival Patrice: Tentang Sinar Terang Evra Di Tanah Italia

Jika dilihat dari tipe lawan yang selama ini dihadapi, ada tiga jenis strategi yang mereka pakai. Tim yang drop deep (parkir bus), tim yang memakai high block (high defensive line tapi menunggu di tengah) dan tim yang memakai high up pressing (high defensive line dengan pemain tengah terus memburu bola yang dialirkan).

Bagus atau tidaknya performa pemain yang diturunkan sebenarnya bisa dilihat bagaimana cara lawan bermain. Seperti Zulfiandi yang tampil luar biasa ketika bertemu Korea Selatan, karena waktu itu lini tengah terhitung longgar. Korea Selatan tidak memakai wingernya untuk pressing ke tengah, karena mereka butuh winger di flank untuk mendukung flank intensive attack yang dipakai.

Sebaliknya ketika melawan Oman yang mendorong ke tengah wingernya, Zulfiandi performanya drop dan Paulo lebih cocok untuk lawan kali ini. Jika ditelaah lebih lanjut, harusnya bisa didapat kecenderungan serupa untuk pemain di posisi lain.

Adaptasi taktik yang kurang tersebut mungkin juga yang menyebabkan tim ini meredup di Brunei. Jika Zulfiandi dipasang sejak awal di laga pertama melawan Malaysia, hasilnya tentu berbeda. Zulfiandi akhirnya menjadi starter di laga kedua, namun sayangnya langsung cedera di menit awal.

Variasi 4-2-3-1 dan 4-3-1-2

Adaptasi taktik lawan yang lebih advance bisa diaplikasikan ke formasi yang dipakai. Formasi adalah posisi awal pemain sebelum mereka melakukan movement. Perubahan formasi tentu saja menjadi modifikasi yang fundamental.

Dua variasi formasi sempat dicoba ketika melawan Barcelona di babak kedua. Yang pertama dengan memakai asimetris 4-2-3-1 dengan menarik keluar Maldini dan memasukkan Zulfiandi. Paulo mengemban role baru sebagai winger yang masuk ke tengah, sedangkan Ilham menjadi satu-satunya winger murni.

Perubahan ini secara instan mampu memperkuat lini tengah karena sekarang Hargianto berduet dengan Zulfiandi sebagai double pivot. Tim berhasil menemukan ritme dan mulai bisa menekan balik Barcelona.

Mungkin karena memakai double pivot, Indra Sjafri berani menggantikan Putu Gede dengan Mahdi Fahri yang lebih agresif menyerang. Pergantian ini dibarengi instruksi dua fullback untuk agresif overlap. Tapi sayang gol berkat skill luar biasa Suarez berhasil membalikkan lagi momentum ke pihak Barcelona.

Variasi kedua adalah ketika Dimas Drajat menggantikan Ilham yang membuat mereka sekarang bermain 4-4-2 diamond. Evan Dimas menjadi no. 10 di belakang Dinan Javier dan Dimas Drajat.

Skema baru ini ternyata tidak sesukses variasi sebelumnya. Mereka tidak bisa keluar sama sekali dari tekanan lawan. Kedua striker tidak ada yang mengambil posisi melebar untuk mengawali serangan. Mereka terlalu sering menerima bola menghadap gawang sendiri dan kesulitan memutar badan.

Sebuah perkembangan bagus jika Timnas U19 mau melakukan variasi selain hanya mengganti pemain atau menukar posisi dua winger. Hal ini membuat mereka sulit ditebak lawan. Tapi sayang kedua variasi ini masih terlihat mentah.

Skema asimetris 4-2-3-1 masih belum menemukan cara yang pas untuk mengakhiri serangan di kotak penalti lawan, walaupun di tengah terbukti lebih kokoh. Sedangkan 4-4-2 diamond sepertinya masih belum siap dimainkan di laga kompetitif, kecuali melakukan perbaikan untuk beberapa hal.

Fundamentalnya formasi membuat tidak mudah untuk melakukan variasi dan bahkan tidak semua top level team bisa melakukannya. Yang patut disayangkan, seharusnya Timnas U19 mulai serius mendalaminya di awal masa pemusatan latihan, karena 4-3-3 yang dipakai sepertinya sudah sangat bagus.

Tapi seperti yang disebut di awal artikel ini, Garuda jaya tidak perlu memaksakan memakai formasi baru jika memang kurang siap. Mereka hanya perlu mengembalikan 4-3-3 yang dipakai kembali menyentuh top level seperti tahun lalu.

Dengan lebih baik membaca cara main lawan, pemilihan starter yang tepat dan adaptasi taktik yang lebih baik, tim ini seharusnya sudah punya modal untuk menembus Piala Dunia U20. Amin.

Apa Pendapatmu?