List of feeds URL

Membedah China Bagian 3: Melihat Defensive Work China Dan Cara Membongkarnya

Author: Rochmat Setiawan (twitter: @dribble9)

Membedah China The Series:

1. Bagaimana China Menggunakan Fullbacknya Untuk Menyerang

2. Melihat Lebih Dekat Gelandang Bertahan China

3. Melihat Defensive Work China Dan Cara Membongkarnya

 

Melihat Defensive Work China Dan Cara Membongkarnya

Note: Artikel ini adalah video analysis. Tanpa melihat video di atas, akan sulit memahami keseluruhan ide yang coba disampaikan. 

Artikel ini adalah yang terakhir dari seri Membedah China. Jika belum membaca bagian satu dan bagian dua, ada baiknya menyempatkan membacanya terlebih dahulu. Kali ini saya akan membahas bagaimana cara China menyusun strategi bertahannya. Karena proses transisi dalam sepakbola sangat penting, membaca artikel sebelumnya yang lebih membahas tentang serangan China akan sangat membantu.

1. Pressing

Pressing yang dilakukan oleh China ketika kehilangan bola tidak terlalu ketat. Yang terlihat hanya dua gelandang bertahan dan satu striker-nya yang berusaha melakukan intercept dan pressing, berusaha mendelay counter attack Timnas. Sedangkan tiga gelandang serang dan dua fullback-nya langsung turun dan membentuk defensive block di area-nya sendiri. Mereka sangat berhati-hati ketika melakukan pressing di area lawan dan hanya melakukannya ketika melihat Timnas kurang bagus melakukan build-up serangan. Jika Timnas bisa menjaga superioritas di belakang, terutama jika tiga gelandang berada di depan dua bek tengah, China memilih bertahan di areanya sendiri daripada pressing ke depan.

2. Defensive Block

Ketika harus menyusun pertahanan di area sendiri, China tetap menggunakan skema 4-2-3-1 sama seperti saat menyerang. Backfour mengambil defensive line agak tinggi agar pemain di depannya bisa membendung serangan tepat di garis tengah tanpa menyisakan ruang yang lebar antara defender dan midfielder. Dua gelandang bertahan tidak jauh dari backfour mereka dan dua winger mencoba menutup pergerakan dua fullback lawan.

Di dalam video bisa di lihat tiga gelandang Timnas cukup nyaman memainkan bola di depan defensive block China ini. Timnas sendiri terkesan tidak terlalu tergesa untuk mengirim bola ke depan. Nyamannya Timnas memainkan bola di depan pertahanan China di dukung oleh pasifnya empat pemain terdepan mereka melakukan pressing. China memilih bentuk pertahanannya tetap terlihat compact daripada harus merebut kembali bola dengan cepat.

Terkait:  How The Engine Work? Indonesia U19 2013

China menggunakan defence seperti ini lebih sering di babak pertama ketika pertandingan belum berubah menjadi end-to-end di babak kedua. Timnas juga kesulitan membongkarnya sehingga hanya sedikit peluang yang terjadi di babak awal ini. Tapi jika di cermati lebih lanjut, ada sedikit lubang dari sistem bertahan China dan Timnas dua kali berhasil memanfaatkannya.

Dari dua gelandang bertahan yang di pakai, salah satunya terlihat lebih agresif dan seringkali naik melakukan pressing. Dia sering meninggalkan sendiri rekannya di depan backfour dan naik sejajar atau lebih naik dari tiga gelandang serang di depannya. Jika Timnas tetap bisa menjaga ball possession, pergerakan yang di lakukan gelandang bertahan China ini menghasilkan celah yang bisa dimanfaatkan untuk menusuk masuk dan selalu berhasil. Hanya sayang Timnas tidak sering mengeksploitasi celah itu. Celah ini juga yang menunjukkan kelemahan lebih besar di defence China di babak kedua.

3. Backfour Dan Gelandang Bertahan China Tidak Terkoordinasi

Penekanan yang dilakukan pelatih China, Bo Fu tentang defence sepertinya lebih dikonsentrasikan kepada zonal marking dan soliditas. Dari cara tiga gelandang serang tidak melakukan pressing, sudah menunjukkan hal itu. Juga jika dilihat dari backfour-nya yang berusaha rapat. Karena berusaha menjaga jarak diantara empat pemain belakang tidak terlalu jauh, China sangat tergantung dengan dua winger-nya untuk menutup defensive width di sistem ini. Jika sekali saja winger tidak dalam posisi bertahan, mudah sekali untuk menemukan ruang di kedua flank dari defence yang narrow ini.

China juga tidak menggunakan offside trap secara ekslusif di belakang. Mereka tidak berusaha menahan defensive line yang telah disusun dan cepat sekali untuk turun. Kelemahan dari pertahanan mereka yang tampak adalah buruknya koordinasi ketika transisi bergeser kebelakangnya defensive line dengan positioning dua gelandang bertahannya. Sering sekali double pivot China ini tidak awas ketika backfour-nya bergerak turun dan menghasilkan ruang luas diantara dua baris defence. Gol dari Boaz Salosa menunjukkan tidak ada pemain yang melindungi backfour ketika mereka terlanjur turun mengikuti movement Ahmad Bustomi.

Terkait:  Arsenal 1 - 0 Tottenham: Wenger Bisa Membuat Arsenal Main Beda Dan Menang

Tidak baiknya kerjasama backfour dan double pivot China bertambah buruk ketika di babak kedua Timnas memakai high up pressing dan bisa cepat menekan double pivot China saat mereka menguasai bola. Jika bola berhasil direbut kembali ketika masih di area China, Timnas langsung bisa melakukan break dan hanya berhadapan dengan satu lapis pertahanan. Hal ini berhubungan dengan artikel bagian dua tentang peran gelandang bertahan China.

Backfour China juga lembut untuk ukuran pemain belakang, mereka jarang sekali menempel ketat pemain lawan atau berusaha menjatuhkannya. Mungkin karena menggunakan zonal marking dan instruksi untuk tetap compact. Ketika Timnas memakai 4-3-3, outside forward terutama dari kiri, sering melakukan cut-in ke tengah. Movement ini seringkali sukses karena dilakukan ketika ada ruang di depan backfour. Menghadapi serangan model seperti ini, backfour China semakin narrow dan berusaha menutup ruang tembak di tengah. Hal patut yang disayangkan, pemain Timnas cukup sering memaksakan masuk atau menembak di area tengah yang sudah tertutup banyak pemain China. Padahal ketika mereka memanfaatkan lagi space di flank, peluang yang dihasilkan lebih menjanjikan.

Kesimpulan

Dari ketiga artikel ini, bisa terlihat jika Timnas mempunyai peluang jika ingin mengalahkan China di kandangnya, tentunya di luar masalah non teknis seperti cuaca atau teror pendukung tuan rumah. Beberapa sistem berbeda yang dipakai Timnas juga membantu melihat lebih jelas kelebihan dan kekurangan China.

Jika melihat titik sentral serangan dan pertahanan China ada pada kedua pivot-nya, high up pressing seperti yang dilakukan Timnas di babak kedua adalah cara yang paling efektif. Dengan formasi 4-3-3, dua gelandang melakukan marking terhadap double pivot China. Kondisi ini menyisakan situasi 5 vs 4 di belakang, tapi karena sistem permainan China dibangun berdasar kolektivitas, bukan dengan pace ataupun pemain yang bagus dalam situasi one-on-one, seharusnya Timnas masih bisa mengontrol jika bola berhasil tembus ke pertahanan.

Terkait:  Serigala Roma Siap Menerkam!

Jika Timnas tidak mau memakai high defensive line dan lebih memilih pertahanan yang lebih dalam, skema yang pas untuk menutup dua pivot China adalah 4-3-1-2 dengan gelandang serang dan satu striker melakukan man marking ketat kepada dua pemain China tersebut. Satu striker lagi mencoba menutup dua bek tengah China. Penting untuk menutup double pivot supplier bola buat fullback China ini untuk mengurangi banyaknya crossing yang tentu tidak ideal buat Timnas karena bertahan cukup dalam.

Beberapa berita menyebutkan jika Bo Fu melakukan seleksi beberapa pemain baru. Apakah akan merubah cara main China dan berbeda dari tiga artikel ini? akan menarik dinantikan karena akan memaksa banyak in game change tactics selama laga. Semoga Timnas bisa menang dan menjaga asa lolos ke putaran final AFC Asian Cup 2015.

Highlights

 

Apa Pendapatmu?